
Bugh
Bugh
Bugh
"Stop mas, udah" Lutfiah menahan tubuh Revan yang hendak melayangkan kembali pukulan ke wajah Reno.
Reno terduduk di lantai marmer dengan tangis tertahan dan perasaan bersalah begitu dalam.
Sejak check out dari penginapan Reno langsung menuju kerumah Revan untuk meminta maaf dan mengatakan jika pernikahan nya dengan Keisya batal.
Baru sampai Revan langsung menghadiahi nya beberapa kali pukulan di wajah dan tubuhnya. Reno hanya diam tanpa berniat mau melawan karena memang ia menyadari jika itu kesalahannya. ia pun sudah berjanji pada Keisya jika akan menanggung semua akibat dari kesalahannya membatalkan pernikahan mereka secara sepihak.
"Brengsek Lo, dari awal udah gue bilang, kalau memang Lo nggak mau nurutin permintaan ayah, nggak usah Lo terima" teriak Revan kalap berusaha melepaskan pelukan Lutfiah di tubuhnya.
"Stop mas" bentak Lutfiah akhirnya karena kesal "Istighfar mas" ucap Lutfiah dengan wajah memohon. Revan langsung terdiam begitu manik matanya bersibobrok dengan Lutfiah yang menatapnya tajam.
Lutfiah menarik lengan suaminya secara paksa dan mendudukkan di sofa. Revan menghela nafas berat mencoba mengatur ritme emosinya yang naik turun. seorang asisten datang membawakan segelas air putih pada Lutfiah.
"Diminum mas, urusan Reno biar aku yang urus mas masuk ke kamar aja" titah Lutfiah dengan tegas. lalu meninggalkan Revan sendiri di ruang tamu sedang ia menghampiri Reno yang masih terduduk di lantai teras dengan seorang asisten yang ia minta membawa makanan dan minuman untuk Reno.
"Ren, ayo berdiri" Lutfiah membantu Reno berdiri dan mendudukkan di kursi teras.
"Nyonya ini makanan nya saya simpan disini saja ya" ucap asisten Lutfiah
"Iya mbak, makasih ya" asisten itu langsung pergi setelah menyimpan makanan dia atau meja kecil di samping Reno duduk.
"Makan dulu Ren, kamu belum sarapan kan? ini masih pagi sekali kamu datang kesini" ucap Lutfiah lembut membuat Reno semakin tak kuasa menahan tangisnya.
Lutfiah membiarkan Reno menangis melepas beban hatinya. ia tetap duduk menemani sembari memainkan ponselnya. bahkan saat Revan sudah pergi ke kantor lewat pintu samping pun ia tetap tidak meninggalkan Reno, ia tahu saat sedang marah Revan tidak bisa di ajak bicara meskipun dengan ucapan lembut sekalipun.
"Ren, makan dulu udah hampir dingin tuh nasinya" tegur Lutfiah saat melihat Reno terdiam. tangisnya sudah berhenti.
"Makasih mbak, kenapa harus repot-repot?" ucap Revan pelan.
"Cepat di makan, masak iya saya mau suapin kamu, kan nggak mungkin hehee" celoteh Lutfiah membuat Reno semakin sungkan.
"Ini saya makan mbak?" tanya Reno menunjuk pada sebuah piring dengan nasi dan beberapa lauk serta sayur di atasnya.
"Iya Ren, daritadi juga di bilangin kan? cepetan makan, mbak ada kelas pagi di kampus" ucap Lutfiah tersenyum simpul.
Reno mengambil piring dengan perasaan tak menentu, beruntung banget dapet istri sabar dan pengertian kayak gini. batin Reno menatap nanar piring di tangannya.
"Udah mbak, makasih banyak ya, maafkan kesalahan ku mbak udah bikin keributan pagi-pagi" ucap Reno setelah menghabiskan sarapannya.
Lutfiah berkali-kali meraup udara secara rakus, mencoba menata hatinya sebaik mungkin agar tidak membuat Reno semakin tertekan.
"Mbak nggak tahu pasti permasalahan kalian Ren, mbak juga nggak terlalu dekat dengan Keisya, sebenarnya ada apa, mbak pengen tahu kalau boleh" tanya Lutfiah lembut.
"Aku memang membatalkan pernikahan kami mbak, aku nggak sanggup jika harus meneruskan pernikahan ini dalam keadaan terpaksa, bukan hanya aku sendiri yang tersiksa tapi aku takut justru Keisya juga tersiksa dengan sikapku atau sebaliknya" terang Reno
"Hanya itu? atau masih ada hal lain yang mengganjal di hati kamu, atau memang sudah ada nama wanita lain yang tersimpan rapat sejak lama?" cecar Lutfiah membuat Reno semakin salah tingkah.
Lutfiah melihat gelagat Reno dari sudut matanya, sebagai seorang dosen tentunya ia faham betul bagaimana menghadapi banyak karakter yang berbeda-beda ia temui setiap hari, beruntung ia pernah mengambil jurusan psikologi sehingga memudahkan nya dalam membaca karakter seseorang.
"Kenapa diam Ren? apa pertanyaan mbak ada yang salah?" tanya Lutfiah lagi
"Kenapa nggak ngomong dari awal kalau memang kamu sudah memiliki pilihan Ren, kenapa harus menerima permintaan ayah mertua ku jika memang kamu berat melepaskan yang lain?" kata Lutfiah bijak.
"Saya nggak lagi terikat hubungan apapun mbak"
"Kalau memang tidak lalu?"
"Saya memang mencintai orang lain sejak lama"
"Lalu kamu bertahan dengan ketidakpastian yang justru membuat mu menyakiti wanita lain dan keluarganya?"
"Bukan gitu mbak"
"Trus maksud kamu gimana? tolong jelaskan secara detail"
"Aku memang mencintai wanita lain, tapi wanita itu sudah memiliki kebahagiaannya sendiri"
"Sudah jelaskan? jadi untuk apa kamu menyakiti diri sendiri hanya karena mencintai orang yang jelas-jelas nggak memilih kamu, kamu rela pertahankan perasaan kamu tapi mengorbankan perasaan wanita lain dan keluarganya Ren" kata Lutfiah membuat Reno bungkam seketika.
"Siapa wanita itu kalau boleh mbak tahu, tenang nggak usah takut, aku bukan orang yang frontal membuka aib orang lain, percaya lah" desak Lutfiah.
"Kinara mbak" ucap Reno semakin menunduk karena rasa bersalah nya.
Deg
Lutfiah terdiam begitu nama adik iparnya di sebut. bukan hal tabu lagi baginya jika Kinara memang banyak yang menyukai, dia pun sebagai seorang kakak ipar kagum dengan kepribadian Kinara yang santun dan lembut tapi tegas.
"Dan kamu masih berharap kalau adik iparku akan melihat mu sebagai seorang pria?" tanya Lutfiah memandang lekat Reno yang menunduk sejak tadi.
"Nggak mbak"
"Apa kamu mau merusak kebahagiaan adik iparku dengan keluarga kecilnya?"
"Nggak mbak"
"Apa kamu tahu, jika kamu di posisi Azka apa yang akan kamu lakukan jika sahabat mu merusak kebahagiaan yang dia miliki?"
"Aku...aku nggak terima mbak"
"Dan mau sampai kapan kamu mengharapkan sesuatu yang memang di takdirkan bukan untuk mu?"
"Aku nggak tahu mbak"
"Oke, sekarang semua sudah terjadi, mbak nggak bisa memaksakan perasaan seseorang Ren, setidaknya berpikirlah rasional, Kinara dan Keisya meskipun mereka kembar tetap saja mereka adalah dua orang yang berbeda. kamu boleh mencintai Kinara, Tapi lihatlah Kinara sudah bahagia dengan kehidupannya, apa kamu tega menghancurkan kebahagiaan nya demi egomu? lalu Keisya yang punya trauma mental sejak kecil, hidup mereka berdua jauh berbeda Ren, Kinara dengan segala perhatian orang tua dan keluarga membuat nya tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan kuat mental sedangkan Keisya, sejak kecil sudah mengalami pengrusakan mental secara perlahan hingga belasan tahun, Kinara hidup dengan kasih sayang ayah dan ibu, sedangkan Keisya tumbuh di lingkungan yang tidak potensial dengan banyaknya ancaman yang ia terima, apa kamu masih mau mementingkan egomu? kamu pikir Kinara nggak tertekan saat pertama kali tahu mereka di jodohkan? Kinara menikah pun dengan terpaksa begitu juga Azka Ren, mereka berdua terpaksa. dan kalau sekarang mereka bahagia itu karena doa dan dukungan orang tua, peran kami sebagai orang tua, dan keikhlasan mereka berdua menerima takdir, hingga pada akhirnya tuhan bukakan pintu hati mereka berdua untuk saling mengasihi dan menyayangi sampai lahir si kembar Keenan dan Keana, untuk Keisya, dia sudah banyak berubah setelah mondok Ren, kamu pikir Keisya berubah karena siapa? karena kami sebagai keluarga, sebagi orang tua dan sebagi teman untuknya, kami ingin Keisya sembuh dan Tuhan kabulkan, lalu sekarang kamu hancurkan harapannya padamu dengan egomu sendiri, dan lihatlah semalam ayah mertua harus di rawat di rumah sakit begitu mendengar keputusan mu membatalkan pernikahan kalian, dan bagaimana dengan ibumu, masih tega kamu menyakiti nya yang begitu menyayangi Keisya seperti anaknya sendiri?"
Kekesalan Lutfiah akhirnya terluapkan semua, betapa tidak selama ini ia hanya diam saja menyimak setiap masalah yang di hadapi keluarga suaminya. Lutfiah mendesah mengatur nafasnya yang tersengal karena berbicara panjang lebar sejak tadi dengan emosi memuncak.
"Sekarang temui ibumu, nggak perlu kamu temui ayah mertua ku, pergilah sejauh mungkin jangan tampakkan dirimu pada keluarga kami lagi, kamu tahu sendiri kan bagaimana Revan, dia tidak akan pernah lagi memaafkan mu jika masih berkeliaran disini. suatu saat jika kamu menyesali keputusan mu hari ini, datanglah dengan hati yang baru, minta maaflah dengan tulus pada Revan dan ayah mertua ku juga keluarga kami terutama Keisya, keadaan masih panas dan genting Ren, cobalah untuk mengerti, ibu mu pasti mengkhawatirkan mu, pergilah temui beliau di rumah sakit, semalam aku sudah bertemu Dimas dan Arkan, mereka menunggu mu, pergilah selesaikan masalah mu dengan mereka" terang Lutfiah memberikan nasihat.
"Maafkan aku mbak, tapi bisakah aku meminta tolong satu hal?"
"Apa, katakan saja"
"Uruskan surat pindahku ke Kalimantan tanpa sepengetahuan siapapun termasuk Azka dan Kinara serta keluarga dan semua teman sekelas ku di kampus"
"Apa?" Lutfiah langsung menoleh ke arah Reno dengan tatapan tidak percaya.