KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
151 Ceramah Singkat



Tuan Wibowo keluar dari IGD dengan raut sedih, rasa bersalah tercetak jelas di wajahnya. andai saja saat itu ia membawa Keisya ikut bersamanya, andai saja ia lebih mendengarkan saran dari pak kyai Rohmat, mungkin saja kejadiannya tidak seperti ini.


tuan Wibowo duduk di kursi tunggu bersama besannya, Lutfiah dan ibunya sedang menemui Kinara di ruang kerjanya, Revan masih menemui dokter Djafri, hanya tersisa Reno dan Hanan serta dua orang bodyguard.


",Jeff" panggil nya pada salah satu bodyguard


"Saya tuan"


"Siapa yang mengurus kasus ini di kantor polisi?"


",Tuan Denias tadi sudah memberikan kabar tuan, sedang di proses, beliau langsung ke TKP dan sekarang sedang di kantor polisi."


"Apa sudah tahu siapa pelakunya?"


"Pelaku langsung menyerahkan diri tuan, sepertinya ini tidak di sengaja oleh pelaku, bisa jadi ada insiden sebelumnya yang di alami oleh pelaku tapi tidak di sadarinya "


"Maksud kamu ada yang ingin mencelakai pelaku begitu?"


"Seperti nya begitu tuan, karena pelaku dalam keadaan baik-baik saat berkendara, sampai di kilometer 60 ia baru menambah kecepatan, namun aneh saat akan menginjak rem ternyata rem blong, begitu penjelasannya tadi tuan"


"Baik, kau selidiki lagi, saya tunggu informasi nya, malam ini perketat penjagaan jangan sampai kecolongan, masih ada musuh yang diam-diam ingin menghancurkan kita dari segala arah"


"Baik tuan"


"Pak sebaiknya istirahat saja dulu, biar anak-anak saya dan Lutfiah yang menjaganya, apalagi kondisi kesehatan sampean juga harus di jaga" ucap pakde Rowi setelahnya.


"Saya masih khawatir pak, seandainya saja saya menuruti saran pak kyai Rohmat sebelum kembali ke kota, Keisya tidak akan seperti ini lagi, dia masih sakit tapi aku menambah lagi sakitnya"


"Istighfar pak, itu sudah jalannya yang maha kuasa, itu takdir, wes to nggak usah merasa bersalah begitu, semoga Gusti Allah memberikan berkah untuk Keisya bisa sadar kembali"


Revan berjalan tergesa ke arah dimana kedua orang pria paruh baya itu duduk bercengkerama, raut wajahnya gelisah.


"Ayah, aku harus ke kantor polisi untuk memastikan pelaku tadi" ucap Revan saat sudah tiba di depan sang ayah


"Bagaimana dengan Keisya? apa yang terjadi Van?"


"Keisya masih koma, kita hanya menunggu keajaiban ayah, semoga semua baik-baik saja, om Denias memintaku ke kantor polisi sekarang "


"Apa yang terjadi Van?"


"Pelaku sudah menyerahkan diri, tapi dia juga ingin melaporkan kejanggalan yang dia alami hingga menyebabkan kecelakaan, meskipun dia juga terluka tapi satu orang anggota yang bersamanya juga terluka parah dan sekarang di bawa di rumah sakit polri"


"Apa maksudmu ada yang sengaja ingin mencelakai pelakunya juga?"


"Bisa jadi begitu, saat Jeff tiba di TKP mereka sudah di bawa lebih dulu ke rumah sakit polri"


"Pergilah, sepertinya sekarang ayah harus menambah satu atau dua orang lagi bodyguard khusus untuk Keisya"


"Terserah ayah saja, Revan mendukung, seperti nya ayah sudah punya calon untuk Keisya"


"Ahha entahlah, belum di bicarakan "


"baik lah aku pergi dulu ayah"


Setelah kepergian Revan, tuan Wibowo dan besannya pergi ke ruang kerja Kinara demi melihat kondisi sang anak. Reno dan Hanan serta bodyguard tetap berada di depan IGD untuk berjaga-jaga.


Tepat sesudah sholat Maghrib, pakde Rowi dan istrinya pamit pulang, begitu juga Lutfiah yang sudah di amanahi oleh Revan untuk pulang menjaga ibu Ratih bergantian dengan Mala yang harus masuk kantor. hanya Kinara dan Azka yang tetap tinggal di rumah sakit.


"Eh disini rupanya kirain Lo pada pulang" ucap Reno yang datang membawa sekantong makanan di ikuti Hanan di belakangnya.


"Eh, repot amat Lo Ren, siapa yang nyuruh?" tanya Kinara


"Calon mertua gue" jawab Reno sekenanya


"He? calon mertua?" kini Azka yang mengeryit mendengar ucapan Reno


"Hahahaha percaya aja Lo" Reno tertawa usil melihat raut wajah kedua sahabatnya.


"Ah kirain, kalau sampe Lo bisa dapetin cewek di kampus bakal gue kasih hadiah" ujar Azka di ikuti tawa oleh Kinara dan Hanan


"Wuiih beneran?" tanya Reno sumringah


"Lo beneran gue, asal Lo bisa dapetin cewek yang setia kayak kak Revan sampai pelaminan" Azka berujar


"Hah, susah, lagian gue udah dapet jodoh dari emak gue kok hahahaha"


"Hallah hoax Mulu Lo dari dulu" Kinara menimpali


"Eh gue beneran, udah di jodohin sama emak gue" sahut Reno


"Preet kagak percaya gue " kata Azka sembari membuka kotak bungkusan martabak manis yang di sodorkan Hanan padanya.


"Ya udah tunggu aja tanggal mainnya " Reno menjejali mulutnya dengan onde-onde yang baru di belinya tadi.


"Mas Hanan nggak makan?" tanya Kinara melihat Hanan duduk sambil bermain ponsel


"Eh iya sudah tadi di warung bakso sama Reno nona"


"Jangan panggil nona kalau kita lagi berempat gini, nggak ada orang tua" tegur Reno yang kesal dengan Hanan yang selalu bersikap santun.


"I..iya Ren, nggak biasa soalnya karena udah kebiasaan"


"Ya sekarang dibiasakan panggil nama aja kalau lagi bareng gini nan, kita yang harusnya manggil Lo mas atau kakak karena Lo paling tua diantara kita" Ujar Reno berapi-api


"emm gitu ya," Hanan tersenyum kikuk seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Udah, nggak usah nge-gas juga lah Ren, namanya juga belum terbiasa, lingkungan mas Hanan sama lingkungan kita beda jauh, kalau mas Hanan besar dengan lingkungan pesantren dan keluarga yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan agama serta tingkah laku, sedangkan kita besar di lingkungan milenial" tutur Kinara


"Lagian jangan maksain orang lain untuk mengikuti budaya dan tradisi serta kebiasaan kita, itu nggak baik, terserah mas Hanan lah mau manggil nona, tuan atau apalah senyaman dia aja" lanjutnya lagi membuat ketiga pria di dalam ruangan itu diam seketika mendengar ceramah singkat orang nomor wahid disini.


"Hormati budaya dan kebiasaan orang lain, dari mereka kita bisa belajar saling menghargai, kalau anda sopan mereka juga segan, sikap orang lain pada kita tergantung bagaimana sikap kita pada mereka, ngerti kalian?" ucap Kinara sedikit memberikan gertakan pada ketiga pria itu


"Iya sayang, terimakasih sudah mengingatkan" ucap Azka tersenyum seraya mengusap lembut tangan Kinara


"Maaf Ra, hehehe" Reno berucap sembari menatap Hanan yang tersenyum tipis padanya. Reno melotot seolah menyalahkan Hanan atas ceramah singkat Kinara.


"Iya, yang penting jangan di ulangi, mas Hanan maaf ya kalau sekiranya ada perkataan saya yang menyinggung, mau panggil kami apapun senyaman mas Hanan saja"


"I...iya Ra, nggak papa, saya juga belum terbiasa dengan kehidupan metropolitan, maaf sekiranya sikap saya membuat kalian tidak nyaman" ucap Hanan merasa bersalah


"Nggak papa mas Hanan, kita juga masih harus banyak belajar dari sampean" kata Azka bijak.


Ke empatnya akhirnya tertawa lepas setelah Reno tanpa sadar menumpahkan onde-onde dari plastik pembungkus nya karena salah menarik salah satu pengait plastik.