
Semilir angin laut senja menerpa wajah cantik gadis berjilbab putih itu, Sweeter mocca kesayangannya masih setia menyelimuti tubuh rampingnya menutupi seragam putih abu-abu yang ia kenakan.matanya menatap sendu hamparan laut biru, deru ombak yang saling menyahut tak mampu mengindahkan beban berat yang ada di benak gadis itu.
"Minum dulu Ra.." Aldo menyerahkan sekaleng minuman dingin, Kinar menerimanya.
"Gue gak sanggup!" ucapnya lirih menunduk menyembunyikan air mata yang luruh.
"Tuhan gak akan ngasih ujian melebihi batas kemampuan hambanya, lo pasti bisa ngelewatin...." Ucapannya terpotong karna ponselnya berdering.
"Ra kita pulang, perintah bos papa!" ucap Aldo setelah menjawab panggilan. Kinara mengangguk lalu meraih tas punggungnya. "Ayok" ajaknya.
"Kalian darimana saja kenapa selama beberapa hari papa perhatikan kalian selalu pulang menjelang malam." tanya papa tanpa babibu saat mereka sudah tiba di rumah. Aldo sengaja mengantarnya sampai ke dalam rumah karna papa sendiri yang memintanya.
"Itu bos........" Aldo berhenti karna di sela oleh Kinar
"Ada praktek pementasan seni pa jadi pulang sekolah aku latihan dulu, Aldo sengaja aku minta nunggu sampai selesai." ucap Kinar
"Trus Azka?"
"Kerja pa" jawab Kinar
"Ya sudah, Aldo kamu boleh pulang"
"Baik bos"
Kinara menelan ludah ada perasaan lega sekaligus khawatir dengan tatapan tajam papa mertuanya waktu mereka baru tiba. Ia melangkah menaiki tangga menuju kamarnya namun langkahnya terhenti kala papa melontarkan pertanyaan tanpa ia duga.
"Kalian berdua enggak ada masalah kan?". Kinara menoleh, tenggorokannya terasa tercekat. Susah payah ia menelan ludah.
"Enggak ada kok pa, karna jarak ke sekolah dan tempat kerjanya deket, Lagipula sekarang udah mendekati UAS dan banyak tugas yang harus di kerjain jadi buat hemat waktu aja Azka mutusin tinggal di apartemen." ujar Kinara berasalan
"Hemm ya udah kalau ada apa-apa jangan sungkan sama papa ya nak!"
"Baik pa" Kinara mengangguk dan membiarkan pria paruh baya itu pergi. Ada perasaan lega dalam hatinya setidaknya untuk saat ini.
Setiba di kamar ia segera membersihkan diri.
"Hmm mau sampai kapan kayak gini? Ayah, Kakak kenapa kalian seolah menghilang? Kalian apa kabar disana?" Ucapnya seraya memandang foto diatas nakas samping tempat tidurnya.
Tok tok
Kinara segera membuka pintu saat mendengar ketukan. rupanya mama Hanna datang menemuinya.
"Masuk ma"
"Kamu enggak sibuk kan sayang? ini mama bawain setelan gamis dari temen pengajian mama, kayaknya kamu cocok jadi mama beliin deh. "
"Wiih mama...aku gak minta loh!"
"Kan mama yang mau..udah di coba dulu aja sapa tau pas!"
"Ntar aja deh ma..oya gimana kondisi butik mama? aku denger mau adain anniversary pertama ya?"
"Iya nih, makanya mama super sibuk nyiapin ini itu belum lagi pesanan gaun pesta dan pengantin lagi banyak. kayaknya lagi musim orang nikah hehehe"
"Ohhh jadi mama sengaja beli setelan buat aku pakai pas anniversary nanti?"
"Hehehe pinter kamu ya..." ujar mama seraya menoel hidung mancung Kinara.
"Iiihh mama deh.."
"oh ya..em mama boleh nanya?"
"Apa ma?"
"Kalian baik-baik aja kan? maksud mama kamu sama Azka.... gak ada yang kalian sembunyiin dari mama kan?"tanya mama perlahan
Kinara menghela nafas mencoba mencari alasan tepat untuk tidak membuat mertuanya khawatir.
"Kita baik-baik aja kok ma, lagian sekolah lagi sibuk-sibuknya banyak kegiatan dan gak lama lagi Ujian. Azka emang sengaja tinggal di apartemen biar deket sama sekolah dan bengkel. kalo tinggal disini kan jarak sekolah dan bengkel jauh, jadi biar lebih hemat waktu aja gitu"
"Hmm bener kan kalian baik-baik aja?"
"Iya ma..percaya deh!"
"Iya mama percaya.. ya sudah mama mau masak untuk makan malam nanti."
"Boleh deh".
❤❤
Malam itu di sebuah kafe tampak 2 orang seusia sedang ngobrol santai seraya menyesap minuman yang ada di depan mereka.
Yah Azka sengaja memanggil Beno ke kafe setelah semua pelanggan pulang dan berhubung semua menu yang tersedia juga sudah habis sejak pukul 9 malam,mau tidak mau kafe harus tutup lebih cepat dari biasanya.
"Jadi lo ngerasa di buntuti udah semingguan tiap pulang kerja? salah satu alasan lo selain berantem ma bini, lo juga mau ngilangin jejak jadi lo putusin tinggal di apart? Papa lo tau gak soal ini?" tanya Beno setelah menyesap kopi hitam miliknya
"Iya itu alasan gue..papa gak tau soal ini, jujur gua sebenernya khawatir sama Kinar, gua masih takut kalau dia hilang lagi kayak waktu itu,lo tau kan gimana ketatnya rumah ayah di jaga tiap hari buat ngintilin dedemitnya Anthony!" jawab Azka sembari mematikan puntung rokoknya.
"Dan kalian harus terlibat dengan masalah orang tua di usia yang sebegini mudanya. Gua heran kenapa sih bini lo jadi rebutan?"
"Karna dia satu-satunya berlian berharga di keluarga gue dan keluarganya. Lo tau hampir semua aset perusahaan ayah dan papa atas nama Kinar."
"Dan Kinar tau semua itu?"
"Dia gak tau apa-apa karna orang tua merahasiakan."
"Jadi apa yang bisa gue bantu?"
"Bisa lo pasang pengintai di mobil dan motor gue? Plus lu ubah cctv di apartemen gue. Karna gue cek 3 hari lalu ada orang yang sempet lalu lalang di depan pintu apartemen gue"
"Ok.. Emm gue denger perusahaan papa lo baru merekrut karyawan baru bagian OB?"
"Iya tapi gua gak ikut campur soal itu. Kenapa emang?"
"Mau ngelamar juga tapi telat hehe"
"Bisa aja lo... Duit dari Om Rudi gak cukup buat ngisi perut lo heh?"
"Busyet... Buat nambah tabungan kuliah di Oxford xixixi"
"Hahahaaa ngimpi lo!! otak pas-pasan mau ke Oxford".
"Ngeremehin gue lo...kalo sampe gue keterima di Oxford, lo orang pertama yang bakal gue temuin setelah lulus!"
"Gue pegang omongan lo! awas aja kalo ternyata gue orang ke sekian yang lo temui dan satu lagi lo pulang ke tanah air harus bawa bini."
"Siapa takut...🤪🤪"
"Hahahahhahaahhahahhaa 🤣🤣🤣"keduanya tertawa lepas.
"Dah yuk cabut." ajak Azka seraya meraih kunci mobil dan menutup kafe.
Mereka segera pergi meninggalkan kafe setelah Beno menghabiskan kopi hitamnya. kali ini mereka menuju ke apartemen Azka sesuai perjanjian yang mereka buat kalau Beno akan tinggal bersamanya di apartemen untuk sementara.
Pak Anderson dan Bambang masih betah berada di ruangan berukuran 5x5 meter yang di dominasi warna putih dengan 3 garis melintang warna hitam di sekeliling ruangan.
"Bullshit kau Anthony..." geram Pak Anderson melempar pena hitam mahal miliknya ke sembarang arah. Bambang yang melihat sikap tak biasa bos nya hanya bisa menghela nafas kasar. Pasalnya data dan sistem perusahaan Eins Corp dan Ksw Group telah di retas dan fakta itu baru ia dapati pagi tadi. Entah siapa yang berani melakukannya dan memasukkan penyusup ke dalam perusahaan ini.
"Ada perkembangan?"tanya Bambang pada orang di seberang telpon
"........."
"Karyawan baru? Maksud lo si OB yang nganterin kopi pesanan gue??" Bambang terkejut.
"........."
"Arrgh...kenapa gue gak nyadar sih?? Lo bawa barang bukti itu sekarang sekalian lo bawa data diri si OB gila itu!" titah Bambang lalu mematikan sambungan dan menghentakkan mouse kasar.
"Ada apa bang? Kenapa dengan OB baru?"tanya pak Anderson melihat air muka anak buahnya yang merah padam.
"Kita selidiki si OB sepertinya dia sengaja di bayar seseorang untuk masuk kesini dan meretas sistem kita bos!"
"Maksud kamu..... Anak magang yang baru saya terima sebulan lalu? Si.. Siapa namanya...." tanya Pak anderson mengingat seraya membuka pesan di ponselnya.
"Riko" jawab Bambang singkat. Pak Anderson mengangguk
"Kamu urus si Riko sekarang kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan, saya urus Azka dulu karna sepertinya ada yang membuntutinya sejak seminggu ini."
"Baik Bos!"