
flashback satu bulan yang lalu
"Pak ini berkas para pelamar yang akan interview siang ini."
"Terimakasih"
Pak Anderson membaca satu persatu berkas yang di berikan Yusuf.
"Suf, ini gak salah? pendidikan terakhir smp?"
"Maaf pak, saya belum sempat untuk memeriksa karna baru pagi tadi pihak HRD memberikan pada saya."
"Baiklah mari kita laksanakan interview nya setelah jam istirahat karna saya harus bertemu investor dari Jepang sekarang."
Setelah jam istirahat Pak Anderson melaksanakan interview di dampingi pihak HRD dan beberapa orang kepercayaan beliau. namun di penghujung interview, salah satu peserta datang terlambat.
"Nama kamu Riko, apa itu benar?" tanya pihak HRD.
"Benar pak"
"Pekerjaan sebelumnya hanya serabutan dengan gaji tidak menentu bahkan sering tidak di gaji?"
"Be..benar pak"
"Lalu apa yang menjadi motivasi kamu melamar kerja di perusahaan kami?"
"Mau nyenengin emak"
"Dengan tidak ada pengalaman apapun, kamu yakin akan di terima di sini?"
"Yakin pak!"( menunduk dengan tersenyum smirk)
"Hem sepertinya kamu orang yang optimis ya. baiklah kami akan mendiskusikan ini, kamu boleh pulang dan tunggu kabar dari pihak kami"
"Baik pak, saya permisi"
Saat ini pak Anderson dan tim interview berdiskusi untuk memutuskan siapa yang akan di terima sebagai karyawan.
"Apa anda yakin menerima Riko pak?" tanya pihak HRD
"Berikan saja posisi yang paling rendah dulu karna saya ingin melihat kinerjanya. bagaimana dengan posisi OB menurut kalian?"
"Keputusan kami serahkan kepada anda Pak!"
"Baiklah, berikan dia posisi itu tapi tetap dengan pengawasan kalian selama 3 bulan masa percobaan."
"Baik pak kami akan segera menghubungi pihak Riko"
"Ingat! untuk pengganti sementara sekretaris bagian accounting yang cuti melahirkan, tolong di isi dengan orang yang benar-benar kompeten dan jujur."
"Baik pak!"
Seminggu kemudian Riko mendapat telfon kalau dirinya di terima bekerja sebagai OB. Dia tersenyum smirk setelah menutup telepon lalu sejurus kemudian ia memandang sebuah foto "Kapan aku bisa menemukan mu gadis kecil?"gumamnya
flashback end.
Pak Denis masih termenung di kursi kebesarannya. Entah sudah berapa gelas kopi ia sesap sejak semalam setelah mendapat kabar bahwa data & sistem perusahaan mereka telah di retas. Kabar ini tentu sangat mengejutkan untuknya, pasalnya hanya orang dalam dan punya pengaruh besar yang bisa masuk ke ruang sistem perusahaan.
Tit sebuah pesan Email masuk ke ponsel nya. Pak Denis segera meraih dan membuka isi email, rupanya pesan dari adik iparnya, ayah si kembar Kinara dan Keisya. Pak Wibowo rupanya memutuskan untuk kembali setelah 4 bulan tak ada kabar. Bukan tak sengaja, itu memang rencana yang di buat mereka bertiga untuk mengelabui musuh.
Pak Denis langsung menghubungi Anderson untuk menyampaikan berita baik ini. Dan setelah itu ia memutuskan keluar dari ruang kerjanya untuk melihat keadaan sang ponakan yang tidak di temuinya sejak kemarin.
"Gimana kondisinya mbak? Ada perkembangan?"tanya nya pada sang asisten saat tiba di kamar Keisya.
"Baru selesai sarapan dan minum obat pak, alhamdulillah semalam dia gak ngigo lagi. Hanya saja beberapa kali terbangun minta di bikinin teh anget dan langsung habis di minum." papar si mbak.
"Baik pak"
🍂🍂
Setelah pulang latihan di teater, Kinara mengajak Aldo ke pantai untuk sekedar melepas penat. Ia memang sangat menyukai pantai sejak kecil, itulah sebabnya dulu mendiang ibunya selalu mengajaknya ke pantai setiap liburan.
"Kenapa sih lu suka banget pantai?"
"Karna kita bisa liat bentuk bumi itu bundar!"
"Itu mah gue tau, maksud gue bukan itu!"
"Karna senang aja liat ciptaan Tuhan!"
"Emm Ra..aku boleh ngomong?"
Kinara menoleh menaikkan kedua alisnya pertanda bertanya.
"Ngomong aja kali gak perlu pamit"
" Emm Kayaknya semua video dan bukti percakapan yang kita temuin di galeri memang sengaja di rekam oleh ibumu sebagai bukti. Aku udah buka semuanya dan ada satu lagi percakapan yang di rekam beberapa jam sebelum ibumu meninggal." ujar Aldo
"Tunggu...benda yang kita temuin gak kamu simpen lagi?" tanya Kinara menyelidik
"Gak hehehe" Aldo nyengir kuda
"Untuk sementara kita simpen dulu gue gak mau nambah beban papa dan ayah. Gue masih gak tahu harus ngomong ini ke Azka pa enggak karna sampai saat ini......(Kinara menjeda) gue gak tau gimana harus ngadepin dia setelah waktu itu....." Kinara menunduk menghapus bulir air mata yang jatuh.
"Udahlah Ra. .gua tau yang lo rasain, gua juga bingung plus sebel sama sikapnya yang kadang gak bisa di tebak".
"Gue..gu.. Gue gak peduli masa lalu dia di sana. gimana kehidupannya sebelum ketemu gue. Yang bikin gue berat apa gue bisa lanjutin pernikahan ini kedepannya kalau kondisi keluarga gue sendiri gak tau arahnya kemana. Gue berusaha tegar buat bisa ngelupain apa yang gue liat 3 tahun lalu, gue berusaha untuk bisa memaafkan pembunuh ibu meski dalam hati gue pengen nuntut dia lebih tapi gue gak punya kuasa apa-apa Do..gue pencundang Do!" rintihnya sesak menghapus lelehan air matanya yang turun makin deras.
"Gue yakin lo bisa Ra, lo itu cewek tegar gak semua orang bisa setegar dan sekuat lo nyimpen luka itu sendirian. Masih ada gue yang siap jadi tameng kalau lo butuh sandaran" ucap Aldo polos lalu menepuk mulutnya dengan tangan sendiri "bego bego lo ngomong apa sih bego lu udah punya Ririn bego," batinnya.
Kinara memandang hamparan air laut di depannya tanpa peduli tetesan air mata yang terus jatuh membasahi pipinya. Beberapa hari ini hanya disini lah tempatnya menenangkan diri sepulang sekolah. Meski terik matahari bagitu menyengat namun tak berarti apa-apa dengan semua perih yang ia rasakan saat ini. Semua kenyataan pahit akan kebenaran yang satu-persatu terkuak membuatnya semakin tertekan. Terlebih hubungannya dengan Azka yang sempat membaik kini harus terlibat perselisihan lagi bahkan sudah seminggu ia dan Azka tidak saling menyapa walaupun notabene mereka juga berada dalam kelas yang sama.
Aldo menatap kasihan pada sahabat sejak smp-nya ini. Gadis itu memang ibarat berlian, bukan hanya secara fisik namun tindak tanduk gadis itu memang membuat banyak orang selalu merasa nyaman berada dekat dengannya. Namun tidak semua orang tahu apa yang gadis itu rasakan. Kinara terlalu kuat untuk menyimpan semua lukanya sejak 3 tahun lalu. Tawa yang selalu ia tampakkan pada semua orang rupanya tak mampu membuat hati dan jiwa rapuhnya sembuh begitu saja.
"Ra pulang yuk, gua takut...!" Ajak Aldo seraya memutar bola matanya ke semua arah untuk memastikan mereka aman saat ini pasalnya sudah beberapa hari ia merasa di buntuti setiap kali mereka pergi bersama.
"Lo laper? Yuk makan gue juga laper, kita ke tangkringan yang biasa aja yuk.. Lama gak kesana kangen gue sama mbak Nori hehe" balas Kinar seraya beranjak menuju ke tempat mobil mereka di parkir. Aldo mengkutinya di belakang seraya memegang tas punggung Kinara sedang matanya awas melihat ke semua arah pantai.
"Apaan sih Do pegang tas gue? Kenapa muka lo pucet sih?" cerocos Kinara menoleh ke belakang. Aldo tidak menanggapinya malahan beralih memegang lengan gadis itu yang tertutup cardigan panjang yang sengaja Kinar pakai menutup bagian depan tubuhnya.
"Cepetan masuk!" titahnya pada Kinar
"Lo kenapa sih Do daritadi pucet banget kek orang abis kejar maling?" omel Kinar.
"Udah diem kita langsung pulang kerumah, bos papa nyuruh gue ke kantor sekarang soalnya!" ucap Aldo
"Tumbenan papa nyuruh lo ke kantor? Lo kenapa sih? Nyetir yang bener dong!"
"Bisa diem gak sih Ra! Lu liat tuh motor di belakang dari kemaren ngikutin kita mulu. Lo gak ngerasa apa kalau kita di buntuti terus?"
Kinara menoleh ke belakang dan benar seperti yang di katakan Aldo Pria yang mengendarai motor itu pria yang ia lihat di pantai juga 2 hari lalu saat mereka pulang sore hari.
"Bukannya itu mas-mas yang ku lihat tempo hari di sini, jaket sama motornya sama." batin Kinara mengingat.
Salah satu tangan Aldo sibuk mengetik sesuatu diponselnya sedang satunya tengah sibuk menyetir.
"ALDOOOO AWAAAAASS...!!"
CIIIIIITT BRAAAAAKKK