
Revan dan Azka tersenyum puas saat melihat hasil kerja keras mereka menyambut para tamu yang banyak hingga pelataran tetangga terpaksa jadi lahan parkir sementara.
"Nggak salah punya tetangga anak pendaki punya persiapan tenda banyak hihihi" celoteh Revan karena berhasil meminjam tenda darurat dari tetangga sebelah yang memang anak pendaki dan juga punya usaha kuliner.
"Abis Reno nggak ngomong sih bawa tamu sekompleks" sahut Azka tertawa ringan.
"Makasih ya Ndi, udah minjemin tenda darurat, tenang aja uang pesangon saya ganti nanti" ucap Revan pada Andi yang sedang menata kursi
"Ok sip mas, ya udah aku balik abis ini ya, mau nganterin mama ke dokter"
"oke, sekali lagi makasih banyak ya Ndi"
"Yuhu"
setelah Andi pergi, Revan dan Azka kembali ke dalam, para tamu sudah nyaman di tempat duduk mereka masing-masing dibawah naungan tenda darurat yang sebagian dari mereka juga ikut membantu memasang.
acara lamaran sedang berlangsung, ibu Fitri menyerahkan kotak. beludru berwarna merah pada Keisya dan Reno untuk saling memasangkan di jari masing-masing.
Tuan Wibowo tersenyum sembari menghapus jejak air mata di sudut matanya yang sejak tadi tidak berhenti mengalir, tangis bahagia karena sudah menjalankan amanah mendiang sang istri membawa kembali Keisya dan mencarikan untuk jodoh putri mereka.
Kinara menangis dalam pelukan Azka karena tidak dapat menyembunyikan rasa bahagia sekaligus sedih yang dia rasakan melihat dua insan di hadapan nya yang tengah saling memasangkan cincin pertunangan.
Wajah kaku Reno dan senyum Keisya yang terus mengembang sejak tadi. Kinara tahu di balik senyum Keisya ada rasa kesepian dan ingin perhatian yang lebih dan itu sudah terwujud berkat ibu Fitri yang sangat menjaga dan menyayangi nya sejak di rumah sakit.
Reno tersenyum kikuk saat kameramen memberi pengarahan untuk di potret. ekor matanya memandang Kinara dan Azka sekilas lalu fokus pada Keisya sesuai arahan sang kameramen.
Setelah beberapa jepretan, Reno terlihat meraup udara sangat rakus dan membuangnya perlahan. seharusnya dia bahagia layaknya pertunangan orang kebanyakan. harusnya ia tersenyum sumringah tanpa beban saat ini. tapi jauh di dasar hatinya ia belum bisa sepenuhnya menerima keadaan.
Reno berjalan ke arah pegawai wo yang bertugas memberikan minuman pada para tamu, meminta segelas sirup melon kesukaan nya. Reno duduk di samping Kriting yang asyik dengan telpon genggamnya.
"Lah, ngapa Lo disini men?" kriting menyulut pinggang Reno dengan keras.
"Auh sakit Ting, Lo apaan sih?" ucap Reno spontan. sebagian tamu menoleh pada mereka berdua. Reno melotot ke arah Kriting begitu pula sebaliknya.
Plak
Azka datang menepuk pundak Reno sedikit keras. lalu berbisik, "Lo nggak kasian Keisya? Lo pergi apa gue tarik heh?"
Reno menghela nafas berat, Azka sudah mengancamnya itu artinya alarm bahaya akan datang, bisa jadi ibunya juga ikut menceramahi nya nanti di belakang layar.
"Gue mau duduk minum dulu, dari rumah sampai disini udah dua jam lebih, Lo sadar nggak sih gue kehausan daritadi, udah gue kasi kode Lo nggak peka" ucap Reno pelan seraya menunduk hormat pada seseorang yang sedang melihat nya. pria tua itu tersenyum padanya membuat Reno salah tingkah.
"Cepet di abisin bego" bisik Azka kesal karena Reno sengaja membuatnya berlama-lama duduk di antara tamu. khawatir tamu akan mendengarkan percakapan mereka.
"Iya bentar bego, leher gue bukan leher jerapah, sabaran dikit napa sih?" bisik Reno
Kriting yang duduk di sisi kanan Reno hanya memutar bola mata malas mendengar obrolan kedua sahabat itu.
Plak
Azka menoyor Kriting dari belakang karena tangan kanannya berada di atas kursi antara Reno dan Kriting.
"Gila Lo bule, main pukul aja, minta maaf dong Lo" sahut kriting tak terima.
"Diem Lo" Ucap Azka dan di saat bersamaan Reno berdiri dan meninggalkan mereka berdua. Reno menghampiri Kinara yang masih bercakap dengan beberapa tamu penting.
Tanpa di sadari Reno dan Kinara, Azka dan Kriting terlibat aksi adu kekuatan mata dan tangan, saling melotot dan saling memukul sesekali mereka terkikik sendiri dengan ulah mereka.
"Sadarkanlah dua manusia minus ini," ucap salah satu tamu yang mengenali mereka berdua.
Kriting mendongak, menatap siapa yang tengah mengomel padanya dan Azka.
"Eh mbak Arum, hehehe maap" ucap Kriting menggaruk tengkuknya. Yang di panggil Arum langsung melengos pergi dengan kepala di gelengkan.
Reno menghampiri Keisya yang duduk di samping ibunya yang sedang berbincang dengan Tante Ratih dan seorang wanita paruh baya berjilbab besar memakai kacamata, bersuara lembut namun tegas dan kharismatik. Bu Nyai Afifah tersenyum pada Reno saat Reno menghampiri beliau untuk mencium tangan nya.
Bu nyai Afifah memberikan sedikit wejangan pada Reno tentang rumah tangga, "Kalau sudah nikah jadi suami yang baik yang santun dan sayang pada istri dan anakmu kelak, tanggung jawab ayah mertuamu sudah berpindah padamu nantinya" petuah Bu Nyai Afifah.
"Mohon doanya Bu Nyai"
"Insha Allah nak, semoga yang maha kuasa selalu melimpahkan kasih sayang padamu dan keluarga mu"
"Amiiin terimakasih Bu Nyai sudah berkenan hadir"
"Harus itu sudah di undang makan enak kok nggak datang, gratis pisan hehehe" kelakar Bu Nyai menanggapi Reno.
Reno ikut tersenyum, Tante Ratih dan ibunya justru tertawa dengan kelakar Bu Nyai yang terlihat tegas tapi humble itu.
Keisya menatap Reno sekilas, mencoba meyakinkan dirinya bahwa inilah pilihan yang tepat baginya, sama halnya dengan saudara kembarnya. pada akhirnya mereka saling mencintai dan menerima satu sama lain. begitulah harapan Keisya saat ini. dan saat netra nya tanpa sengaja menatap sang kakak ipar sedang bercanda dengan seorang temannya, hati kecil Keisya berdesir, ada rasa bersalah juga rasa bangga karena bisa ada di posisi yang juga sama seperti Azka dan Kinara dahulu.
"Mas, mau makan sesuatu?" tanya Keisya pada Reno yang duduk di sampingnya namun masih berjarak.
Reno menoleh tanpa mau menanggapi, tapi sedetik kemudian dia berucap. "Aku nggak mau apapun, kamu ambil aja kalau ada mau di makan". ucapnya terkesan menjaga jarak. Reno tidak sadar jika ibunya sedikit kesal saat mendengar ucapannya barusan pada Keisya.
Keisya beringsut maju berjalan ke arah stand makanan dan kue yang di sediakan. memilih cake yang ia inginkan. dan saat matanya tertuju pada satu gelas dengan isian berwarna hijau, ia langsung mengambilnya. ia ingat jika Bu Fitri pernah mengatakan kalau Reno sangat menyukai sirup beraroma melon.
setelah puas dengan menu pilihannya, Keisya kembali menghampiri Reno yang sudah pindah duduk di bangku khusus untuk mereka berdua.
" Mas ini minumnya" ucap Keisya memberikan gelas berisi sirup melon pada Reno yang tengah menatap ponselnya.
"Simpen aja di sini, kamu cepetan makan, kalau lapar aku nggak bertanggung jawab" ucap Reno sedikit ketus tanpa menyadari jika itu sangat menyakiti hati Keisya.