KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
94 Teman Baru Keisya



Hari ini sesuai rencana mereka semua bertandang ke yayasan panti asuhan untuk mengadakan syukuran.


Kinara yang paling antusias diantara mereka karena sejak kecil memang sang ibu selalu membawanya ke panti setiap weekend, dan Kinara memang penyuka anak kecil.


Itu sebabnya setiap kali bertandang ke rumah sakit ia selalu menghabiskan waktunya di bangsal anak terutama anak-anak penderita kanker dan penyakit berbahaya lainnya.


"Jim, nggak salah kamu menerima permintaan Amina untuk menjodohkan mereka dulu" ucap kakek Handoko yang melihat Kinara nampak akrab dengan anak-anak panti.


"Iya Pak, itu juga saran dari bapak waktu itu kan, mungkin jika aku menolak waktu itu saat ini yang ada hanya rasa bersalah saja pada mendiang Amina." ujar tuan Anderson.


"Papa sudah tahu banyak tentang keluarga Amina, Almarhum pak Henry orang yang sangat berjasa pada bapak, dia satu-satunya orang yang berani berkorban banyak pada bapak saat usaha properti yang bapak rintis jatuh bangkrut" Kenang tuan besar Handoko


"Bukan hanya itu saja Jim, dia rela mengorbankan dirinya untuk di benci keluarga demi menyelamatkan keluarganya sendiri, bapak saksi hidup yang ia jalani saat di paksa untuk menikahi putri saudagar kaya saat itu, bahkan ia di ancam dengan taruhan nyawa anak istrinya jika tidak menuruti kemauan sang saudagar. setiap hari ia menangis merindukan anak istrinya di kampung."


"Apa bapak tahu soal Amira waktu itu?"


"Aku tahu dari Henry jika anaknya datang ke kota mencarinya dan mereka sudah bertemu, waktu itu bapak ingin menemuinya namun karena kondisi perusahaan dan bapak harus bolak-balik ke Jerman jadi bapak tidak bisa menemui nya"


"Setelah menerima permintaan Amina waktu itu, almarhum sempat meminta satu hal padaku pak"


"Apa itu?"


"Amina ingin jika kelak Keisya sudah kembali, kita harus mencarikan dia jodoh dan semua aset peninggalan almarhum akan di bagi dua Kinara dan Keisya sudah mendapatkan bagiannya masing-masing, dan bagi siapa yang pertama kali menikah dan memberikan cucu, mereka yang berhak atas harta rahasia yang Amina miliki" ujar tuan Anderson


"Harta rahasia??" tanya tuan Handoko terkejut


"Iya, aku tak tahu pak, karena hanya orang kepercayaan Amina saja yang tahu"


"Jangan terlalu ikut campur, bapak tahu siapa orang kepercayaan Amina, jika sudah waktunya orang itu sendiri yang akan datang pada Kinara" ucap tuan Handoko dengan tatapan tak beralih pada seorang wanita paruh baya yang memiliki wajah hampir mirip dengan mendiang Amina.


"Bapak tahu?"


"Ya, aku tahu siapa orangnya, dia orang yang sangat berkompeten dan punya komitmen, jujur dan berdedikasi tinggi." ucap tuan Handoko


"Bagaimana bapak tahu?"


"Karena bapak mengenalnya sejak lama tidak salah jika Amina begitu percaya padanya"


"Baiklah, kita turuti saran bapak"


"Bagaimana dengan Anthony?" tanya tuan Handoko


"Sudah dua bulan sejak di pengasingan aku tak lagi mendengar kabar tentangnya, mungkin Amira dan suaminya tahu"


"Semoga saja dengan berada di sana mampu membuat nya menyadari kesalahannya selama ini, ku dengar jika tempat itu terpencil dan hanya ada beberapa penduduk saja tinggal tapi tidak menetap disana"


"Entahlah, semenjak Amira kembali, semua terasa ringan saja jadi aku tidak terlalu memikirkan nya."


"Ayo kita kesana pa, sepertinya sudah akan di mulai"


Kedua pria beda usia itu berjalan beriringan menuju ke barisan kursi paling depan yang di sediakan khusus untuk tamu.


Keisya tak pernah lepas memandang Azka dan Kinara yang selalu tersenyum bahagia. rasa itu ternyata semakin membuatnya tersiksa melihat kemesraan pasangan muda itu.


lain hal dengan Alexa yang dengan pedenya tanpa malu-malu selalu mengekor kemanapun Azka dan Kinara pergi. ada buncahan dalam dadanya yang ingin meledak saat itu juga, ia masih tidak terima jika sepupu tirinya itu memiliki kebahagiaannya sendiri.


"Alexa, bisakah kau diam dan kembali ada tempatmu?" tegur Azka karena sudah merasa jengah dengan segala perhatian yang di berikan Alexa.


"A..aku..aku..."


"Tak perlu repot-repot Alexa, biar aku saja yang membantu membagikan bingkisan ini pada anak-anak, kau istirahat sajalah" ujar Kinara dengan sengaja.


"Kau.." desis Alexa yang tidak terima dengan ucapan Kinara yang seolah mengusir nya.


"Disini kau rupanya, jangan kira aku terlambat kau akan seenaknya berbuat yang tidak sepatutnya" ucapan sarkas dari Varo membuat Alexa diam bagai kerbau yang di cucuk hidungnya. Alexa mengikuti langkah lebar suaminya itu dengan perasaan kesal.


Chyntia yang melihat sikap Alexa hanya geleng-geleng kepala. "Sampai kapan tuh anak pungut sadar diri, nggak emaknya nggak anaknya sama aja". ocehnya. Amelia yang ada di sampingnya menyenggol lengannya agar diam.


Di penghujung acara ada satu orang tamu yang berkunjung ke panti dan terkejut saat melihat banyaknya orang dan ia mengenali beberapa diantara mereka.


"Loh, itu Rangga kan mas?" tanya Kinara pada Azka yang sedang membagikan bingkisan.


"Itu yang di luar pagar, kayaknya mau masuk" ucap Kinara seraya menunjuk ke arah pagar Azka mengikuti arah telunjuk Kinara.


"Mas panggilin ya ajak masuk" ucap Kinara. Azka hanya diam karena masih menyimpan cemburu tapi tetap melakukan apa yang Kinara pinta.


"Eh, masuk yuk, ngapain di depan gerbang?" ucap Azka sedikit canggung


"E..em sebenarnya gue..mau nganterin paket atas nama Bu Airin, tapi karena banyak orang gue malu mau masuk" jawab Rangga


"Ya udah masuk aja, orangnya ada di dalem, sekalian kita makan siang, ini udah tengah hati loh"


"Tapi...."


"Udah nggak usah banyak mikir, gue yang di marahin bini kalau Lo nggak mau masuk" ucapan Azka sontak membuat Rangga melongo.


"Nggak usah lah, malu gue, disana orang besar semua, gue kan cuma kurir Ka, ini gue titipin sama Lo aja gimana?" tawar Rangga.


"Nggak, bukan tanggung jawab gue, udah buruan, keburu mantan Lo marah sama gue" ucap Azka sedikit ketus membuat Rangga akhirnya mengalah meski dirinya merasa minder.


"Bu Airin ada yang nyari nih" ucap Azka saat sudah masuk di dalam aula


"Siapa?" tanya wanita paruh baya berhijab besar yang masih terlihat muda meski usia sudah setengah abad.


"Maaf Bu saya mau anterin paket atas nama Bu Airin" ucap Rangga memberikan bingkisan paket


"Ooh, kamu pasti Rangga ya, sini gabung sekalian sama yang lain, makan dulu ya baru pulang" ucap Bu Airin


"Maaf Bu saya harus antar paket lagi, lain kali saja" tolak Rangga halus


"Eh Rangga sini gabung, kita makan siang dulu bareng yang lain" ucap Kinara yang datang menghampiri. Rangga tersenyum ramah, masih ada kerinduan pada wanita di hadapannya kini, meski kini bukan lagi miliknya.


"Makasih Ra, tapi aku harus nganter paket lagi maaf ya..."


"Kakak, ayo ke mushola" suara Keisya yang datang menghampiri mereka, Rangga terkejut melihat gadis yang memiliki wajah sama dengan Kinara.


"Kenalin ini Adik kembar ku Keisya" ucap Kinara memperkenalkan Keisya pada Rangga.


"Hei, bengong di salamin tuh sama adik ipar gue" tegur Azka


"E .eeh a..aku Rangga temen nya Kinara" ucap Rangga gugup


"Temen rasa mantan" sahut Azka. Kinara yang berada di sampingnya langsung menghadiahi sebuah cubitan di pinggang Azka.


"Sakit sayang, hamil sensi amat sih" ucap Azka. Rangga dan Keisya tersenyum melihat tingkah kedua pasutri. senyum yang memiliki arti berbeda.


"Kei, ajak temen kakak makan siang dulu ya kasian dia ngurir dari pagi belum sempat makan," ucap Kinara seraya berlalu menarik lengan Azka secara paksa.


Kini hanya tinggal Rangga dan Keisya saja yang melihat kepergian mereka. Rangga melihat sorot mata Keisya yang tak beralih pada Azka.


"Mbak, maaf saya pamit ya" ucap Rangga sopan


"E..eh jangan makan siang dulu ya, nanti kakak marah kalau kamu nggak makan dulu"


"nggak papa, salam saja buat mereka, sampaikan ucapan selamat atas kehamilannya Kinara ya"


"E ..em iya tapi makan dulu ya, saya ambilin mau?"


"Eh nggak usah mbak, jadi nggak enak"


"Nanti kakak marah loh, kakak itu baik nanti kalau marah nggak baik lagi"


"Ii..iya udah deh ayok" Rangga mengikuti langkah Keisya menuju meja prasmanan.


"Rena Keisya sama siapa itu?" tanya tuan Wibowo yang melihat anaknya bersama seorang pria muda mengambil makanan.


"Ooh itu temennya nona muda tuan, katanya temen sekelas nya, tadi dateng nganterin paketnya Bu Airin" jawab Rena yang memang sudah tahu dari Kinara beberapa saat lalu.


"Oh ya sudah, perhatikan Keisya ya saya ke mushola dulu"


" Baik tuan"