KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
152 Rencana Perjodohan



Beberapa saat setelah kepergian Revan ke kantor polisi, tuan Wibowo dan besannya berjalan beriringan ke ruang kerja Kinara yang ada di lantai lima.


Saat berada di lorong ruang kerja Kinara, tuan Wibowo bertemu dengan ibu Fitri yang baru saja selesai berbicara di telepon dengan sang anak kembarnya.


Pakde Rowi melanjutkan langkah ke ruang kerja Kinara sedangkan tuan Wibowo mengajak Bu Fitri berbicara empat mata di dalam ruang direktur utama miliknya.


"Ada apa ya tuan, sepertinya ini darurat?" tanya Bu Fitri penasaran


"Tidak darurat juga, oh ya bagaimana kondisi kos-kosan yang di kelola Reno Bu?"


"Alhamdulillah penghuni nya full 25 pintu kos-kosan dan rencananya Reno hendak menambah satu atau dua unit lagi karena masih ada 20x20 meter tanah yang kosong di sebelah kos, hanya saja saya belum mengiyakan karena kedua adiknya belum ada waktu untuk di ajak rembukan"


"Hem begitu ya, ada tanah milik almarhum istri saya, dulu tanah itu sengketa bank karena pemilik aslinya tidak sanggup membayar, tanah itu istri saya yang tebus, saat saya kembalikan pada pemiliknya,justru mereka menolak karena tanah itu sudah di berikan pada anaknya yang meninggal beberapa bulan setelah penyitaan oleh pihak bank dan mereka memberikan tanah itu pada istri saya secara cuma-cuma"


"Lokasinya di mana pak?"


"Di daerah C dekat kampus ungu, sebenarnya sudah ada beberapa yang menawar dengan harga tinggi tapi saya tolak karena permintaan almarhum tanah itu jangan pernah di jual karena suatu saat akan berguna"


"Kapan-kapan ada waktu kita bisa melihatnya tuan, saya juga rencana ingin menambah cabang toko roti saya tapi masih bingung mencari lahan yang cocok dan strategis"


"Wah bagus itu Bu, kalau perlu di perbesar sekalian"


"Rencana saya begitu tuan, tapi Reno belum mengizinkan dengan alasan tunggu dia dan adik-adiknya bisa di lepas, maksudnya setelah mereka lulus"


"Hahaha itu yang saya suka dari anak anda Bu Fitri, dia tipe yang sangat bertanggung jawab pada keluarga, selain humble dan rendah hati, hanya saja omongannya kadang bikin geleng-geleng kepala, super pedas kalau lagi ngumpul sama anak-anak saya, tapi tetap ramah dan sopan "


"Begitulah Reno tuan, meskipun di kenal dingin sesama teman wanita, tapi dia tipe romantis dan setia"


"Hahaha, jadi bagaimana rencana kita menjodohkan Reno dan Keisya?"


"Saya serahkan pada anda saja tuan, saya tidak bisa memaksa Reno, terlebih lagi sejak kecil Reno terbiasa hidup tanpa sosok ayah, bahkan setelah saya menikah lagi, ia harus kehilangan lagi sosok ayah yang ngemong dengannya, saya pikir jika anda yang menyampaikan langsung pada Reno dia tidak akan bisa menolak, karena saya tahu dia sangat menghormati anda"


tuan Wibowo manggut-manggut mendengar penjelasan ibu Fitri tentang keputusannya menjodohkan Reno dan Keisya.


"Saya juga tidak memaksa Bu, semua terserah Keisya jika dia menolak itu haknya, saya hanya ingin menjalankan amanah almarhum jika kelak Keisya sudah kembali pada kami, kami harus mencarikan jodoh untuknya sama seperti Kinara dan Azka, namun setelah saya amati dari sekian banyak teman sosialita yang dimiliki almarhum, tidak satupun anaknya yang memenuhi kriteria yang istri saya inginkan, tapi saat saya melihat Reno, saya teringat dengan ucapan terakhir almarhum sebelum meninggal, saya harus menemui anda dan menjalin silaturahmi kembali"


"Benarkan tuan?"


"Ya, saat perpisahan SMP dulu pertama kali saya melihat lagi Reno yang sudah tumbuh menjadi remaja yang tangguh, padahal saat itu saya sedang ingin menjodohkan Kinara dengan anak salah satu kolega, tapi urung setelah pengacara saya membacakan sebuah wasiat saat Kinara berumur 17 tahun"


"Berarti tuan sempat terpikirkan untuk menjodohkan Kinara dan Reno saat itu?"


"Ya seperti itu tepatnya"


"Biarkan saja mereka menjalani untuk saat ini, sebagai orang tua saya tidak mau memaksakan kehendak pada anak tuan, kalaupun suatu saat mereka menemukan jodoh masing-masing meskipun sudah terikat pertunangan saya pikir, itu sudah bukan ranah saya juga untuk memaksakan pertunangan mereka tetap terjadi. mereka punya hak untuk memilih dengan siapa mereka ingin bahagia"


"Iya benar pendapat anda Bu Fitri saya setuju, tapi tidak ada salahnya jika kita menjodohkan mereka sekarang, saya hanya ingin ada yang menjaga Keisya, umur tidak ada yang tahu Bu, dan saya akan merasa menyesal sekali jika tidak menunaikan wasiat almarhum."


"Betul juga tuan, baiklah kita jodohkan saja mereka, tapi jika suatu saat mereka memutuskan sesuatu dalam hidup mereka, kita hanya bisa pasrah saja dan harus legowo"


"Betul, Bu, saya akan berbicara secara langsung dengan Reno jika kondisi Keisya sudah membaik, dan saya pikir saya juga perlu mendiskusikan ini dengan kedua anak saya yang lain"


"Baik pak saya setuju, dan saya harus pamit karena Arkan sudah menjemput saya sejak setengah jam lalu tuan, saya harus pulang"


"Oh iya silakan Bu, terimakasih atas waktunya, lain waktu saya akan memberikan kabar"


"Baik tuan saya tunggu."


Tuan Wibowo akhirnya kembali berkutat dengan beberapa map yang ada di laci meja kerjanya. meskipun sebagai pemilik sekaligus direktur utama rumah sakit Citra Husada, tapi tuan Wibowo tetap profesional dengan tanggung jawab yang di bebankan padanya. meski hany beberapa kali sambang dalam satu bulan, tuan Wibowo tetap teliti dengan keadaan rumah sakit yang ia tangani. meskipun Kinara juga sudah turut andil tapi tetap saja ia tak mau terlalu membebani anaknya dengan banyak tanggung jawab.


***


tadi laki-laki itu pamit akan menemui ibunya di ruang kerja Kinara karena Arkan sang adik sudah menunggu di parkiran untuk membawa ibunya pulang.


"Nggak papa, kita cari makan dulu yuk, gue laper nan,tadi di pesta belum sempet makan gue".


"Yuk ah, aku juga lapar, mas Jeff saya sama Reno pergi dulu ya mau ngisi Jawa tengah, mau di beliin apa?" tanya Hanan pada bodyguard yang berdiri di depan pintu IGD.


"Silakan mas, terserah lah yang penting perut kenyang, ini udah mau Maghrib sholat sekalian di mushola" ujar Jeff berbinar kala mendapatkan penawaran khusus untuk mengisi perutnya yang memang sudah lapar sejak siang tadi.


"Oke, tapi harus di makan ya" Ujar Hanan


"Siap mas, terimakasih sebelumnya"


"Oke sama-sama"


Hanan menyusul langkah Reno yang semakin menjauh, terbersit tanya di benaknya ada apa dengan Reno, baru saja ia pamit hendak menemui ibunya, sekarang wajahnya malah kuyu kayak kanebo kering. pikirnya.


"Ren, kamu baik-baik saja kan?" tanya Hanan saat langkahnya sudah sejajar dengan Reno


"Hem, mau sholat dulu apa makan dulu?" tanya Reno mengentikan langkahnya tiba-tiba membuat Hanan yang berjalan di sampingnya menoleh sejenak.


"Udah bunyi tarhim, nunggu sholat dulu, apa perutmu sanggup?" tanya Hanan balik


"Gue nggak laper sih sebenarnya, tapi lagi kesel aja"


"Lah, kok gitu sih Ren, kasian bang Jeff Lo sama temennya mereka kayaknya nahan lapar dari siang" protes Hanan


"iya, ntar kita cariin makanan, sholat dulu lah, biar kesel gue ilang" sahut Reno


"Ya udah yuk" Hanan menggandeng lengannya menuju ke mushola rumah sakit.


"Jangan gitu lah Nan, malu gue ntar dikira kita pasangan gay" kata Reno melihat Hanan dengan entengnya menggamit lengannya.


"Lah dalah" sungut Hanan melepas pegangan tangan nya .


Tak tahu saja Reno tadi sempat mencuri dengar tanpa sengaja pembicaraan ibunya dengan tuan Wibowo tentang rencana menjodohkan nya dengan Keisya. obrolan kedua orang tua tadi mengganggu pikirannya kali ini. teringat apa yang pernah ia ucapkan di depan ibunya sebulan lalu saat bertanya tentang Keisya padanya.


"Arrghh kenapa sih ibu harus nekat jodoh-jodohin gue sama Keisya, tipe gue juga bukan, mending Kinara lah kemana-mana, tapi sayang udah kagak bisa gue ambil, udah jadi milik orang lain hikkss" keluh batin nya.


"Woi mas, kalau marah sama pacarnya jangan main lempar orang sembarangan dong" teriak cewek bertubuh tinggi berdiri tak jauh dari nya dengan wajah kesal memerah menahan amarah. gadis itu menunjuk Reno dengan salah satu jari telunjuk nya.


Hanan yang sudah berjalan sedikit menjauh dari Reno akhirnya berjingkat saat mendengar teriakan wanita itu, menoleh kebelakang dan benar saja Reno tengah mendapatkan tatapan mengintimidasi dari seorang gadis berambut panjang yang di kuncir kuda.


Reno jalan sembari melamun, hingga tak sadar ia terus menendang batu yang ia pijak. pikirannya benar-benar kalut.


"Kenapa sih Ren? kamu apain anak orang?" tanya Hanan yang datang menghampiri nya dengan wajah heran.


"Gue nggak sadar udah nendang batu dan kena kakinya itu cewek hehehe, nggak sengaja" Reno terkekeh


"Ya elah, lagian kenapa sih melamun dari tadi, ya udah sana minta maaf" titah Hanan langsung di angguki Reno


"Maaf dek tapi tadi nggak sengaja, saya benar-benar minta maaf, apa ada yang terluka?"


"Hiishh AU ah.. orang nggak jelas" sungut gadis itu berlalu pergi. membuat Reno merasa tak di hargai sama sekali


"Dasar cewek nggak jelas" cibirnya


"Udah, siapa tahu jodohmu, Jangan ngumpatin anak orang" tegur Hanan menepuk pundaknya.


Reno dan Hanan melanjutkan langkah ke mushola dengan pikiran masing-masing yang entah bercabang kemana-mana.