
"Masih jauh ya om?" tanya Kinara yang mulai merasa lelah dan mengantuk.
"Perjalanan masih ada tiga sampai empat jam lagi, ini baru aja separuh perjalanan dek" jawab Fritz
"Tidur aja lagi sayang, sini" ucap Azka menarik tubuh Kinara dalam pangkuannya.
"Capek pengen rebahan" rengeknya seraya memegangi lengan kekar Azka
"Ini kan udah rebahan" ucap Azka
"Nggak nyaman" Azka memutar bola mata jengah mendengar ucapan Kinara. ada rasa heran dengan sikap Kinara barusan. apa iya yang dikatakan sepupunya itu benar? kalau pun benar sungguh tak di sangka secepat ini. ada rasa bahagia hadir di sudut hatinya bersamaan dengan senyum tipis terbit di bibirnya. ah semoga saja, aku jadi punya alasan untuk tidak kuliah di Amerika hihihi, batin Azka.
"Ngapain Lo senyum-senyum gitu?" Tanya Dokter Fritz yang duduk di kursi depan samping pak sopir yang mengemudi.
"Nggak papa, eh tadi yang Lo bilang beneran? singgah dulu gih ke apotek" ucap Azka malu-malu
"Hahaha, Lo penasaran juga ya, gue kira Lo nggak bakalan percaya hahaha" seloroh dokter Fritz
"Issh gue seriusan" mimik wajah Azka berubah serius
"Iya iya nanti singgah di rumah gue dulu sekalian gue mau ngecek pemasukan bulan ini"ucap dokter Fritz
Azka hanya mengangguk saja, sesekali ia melirik wajah manis sang istri yang tertidur pulas di pangkuannya. ada rasa bahagia membayangkan jika benar Kinara tengah hamil.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang sudah mulai sepi dan hanya ada beberapa kendaran roda dua atau roda empat yang lewat.
Kondisi cuaca juga cukup terik namun terasa sejuk dengan banyaknya pepohonan hijau di pinggir jalan. tak lama mereka sampai di sebuah rumah toko dengan papan nama Apotek Farah. rumah yang terletak tak jauh dengan tugu perbatasan antar kabupaten.
Mobil memasuki garasi setelah seorang satpam membukakan gerbang.
"Siang menjelang sore pak" sapa Satpam bername-tag Supri.
"Sore mau malam Pri" jawab Dokter Fritz tersenyum ramah.
"Kita udah sampai?" Azka bertanya dengan mimik heran karena perjalanan masih tiga jam lagi sesuai perkiraan.
"iya singgah dulu ishoma, istirahat sholat makan, ini rumah mertua gue, kebetulan istri gue juga baru pulang dari ngajar di pondok pesantren yang kita lewatin tadi" ujar dokter Fritz
"Oh gitu, tapi perjalanan ke rumah om Keenan masih lama kan ya?"
"Rumah papa masih tiga jam dari sini, kita masuk perbatasan kabupaten masih lewati hutan baru masuk ke pusat kabupaten nah dari situ kita belok arah ke perkampungan penduduk asli, daerah pegunungan di atas sana"
"Buset dah...mending gue batalin daripada engap gue di jalan" keluh Azka mendengar ucapan Dokter Fritz.
"Hahaha ini belom seberapa bro, siapin mental dulu, makanya gue ngajak Lo mampir dulu di rumah mertua gue biar istri Lo bisa istirahat nggak kecapean."
"Liburan pengen nya HEPI bang bukan kerja rodi, ini mah sampe pulang badan gue remuk semua"
"Hahaha, dah lah bangunin bini Lo"
Tak lama seorang pria paruh baya berpeci putih keluar dari arah pintu samping ruko yang ternyata bersambung dengan bangunan seperti rumah di bagian belakang.
"Loh nak Iz baru nyampe?" sapa pria tua yang tak lain adalah mertua Fritz.
"Iya bah," jawab Dokter Fritz seraya mencium punggung tangan beliau.
"Wah ajak masuk itu temennya"
"Itu sepupu saya Abah sama istrinya"
"Loh, masih muda ya, kayak si Rizal kalau Abah liat"
"Hehe emang baru lulus SMA bah"
"Hah, beneran kamu?"
"Yang di bilang om bule emang bener bah, kenalkan saya Azka sepupu jauh dokter Fritz" ucap Azka menyambut uluran tangan Abah Ramli
"Saya mertua nya dokter, ini istri nya ya?" tanya Abah Ramli melihat Kinara yang baru saja keluar dari mobil.
"Iya istri saya, Kinara" ucap Azka memperkenalkan
"Kayak masih SMP ini mah wajah nya" ujar Abah tersenyum lucu
"Kita satu kelas bah baru lulus juga" ujar Azka
"Ckck anak jaman sekarang udah berani ya nikah muda hehehe"
"Hah??"
"Hehehehe" Azka dan Kinara hanya tersenyum kikuk mendengar kelakar Dokter Fritz.
Mereka masuk ke dalam rumah bersama Abah Ramli sedangkan Azka masuk ke sebuah ruangan yang penuh dengan berbagai macam jenis obat-obatan. berbincang dengan salah satu asisten apoteker yang ia tugaskan disini.
mengecek pemasukan dan pengeluaran bulanan.
Azka dan Kinara duduk lesehan di sebuah karpet bulu di ruang keluarga. Safira, istri dokter Fritz sengaja membawa mereka masuk ke ruang keluarga agar bisa beristirahat sembari menunggu kamar yang akan mereka tempati di bersihkan.
"Maaf mbak, kalau saya nggak sopan" ucap Kinara pada Safira yang menyuguhkan minuman dan camilan di atas meja.
"Oh iya, nda apa dek, anggap aja rumah sendiri"
"Em mbak pernah ngisi kajian di sebuah sekolah nggak?"
"Kajian?"
"Iya, kalau saya nggak salah ingat mbak kan yang ngisi tausiah ramadhan tahun lalu di sekolah saya?"
"Emm sekolah yang mana ya dek, saya nggak ingat maaf"
"SMA Harapan sekolah swasta milik konglomerat itu loh mbak"
"Oh yang itu, iya iya saya juga baru sekali ngisi pengajian disana, udah tahun lalu jadi agak lupa"
"Wah, mbak hebat ya masih muda udh jadi ustadzah hafal semua isi kitab kuning"
"Waduh jangan berlebihan lah dek, saya cuma manusia biasa nggak pintar-pintar amat juga kok cuma kebetulan saja itu"
"Iiih mbak kok merendah sekali, salut deh..aww"
"Paan sih?" Kinara melotot ketika Azka menyenggol lengannya.
"Yang sopan dikit lah, ini rumah orang bukan rumah kita" ujar Azka
"Idiih ngebalikin omongan gue"
"Mbak , Mas, silakan di nikmati, saya tinggal ke belakang dulu ya"
"Ii iya mbak silahkan" ucap Kinara
"Tuh kan orangnya pergi gara-gara kamu tuh"
"Kok gue?" Azka tak terima
"Iyalah siapa lagi kalau bukan Lo, coba Lo nggak negur gue tadi"
"Gue negur biar Lo sopan dikit lah, ini rumah orang jangan banyak nanya Mulu nggak enak tahu"
"Kok makin sewot sih Lo?"ucap Kinara tak terima
"Bukannya sewot, cuma ngingetin, kamu juga berubah nggak kayak biasanya"
"Lah tuh kan nuduh gue lagi" ucap Kinara dengan mata berair.
"Astaghfirullah..." Azka geleng kepala kemudian beralih mengelus dada melihat tingkah kenakan Kinara.
"Jangan bertengkar di sini dong, Sono di kamar" ujar dokter Fritz yang sudah nimbrung di antara mereka.
"Mas, kamar tamunya udah siap" ucap Safira sembari menyalami suaminya
"Oh iya makasih sayang, dah Sono bertengkarnya di kamar jangan di sini, ada anak kecil tuh nggak malu?" goda Dokter Fritz membuat Kinara dan Azka tersipu malu.
"Ra istirahat dulu gih, kita lanjutkan perjalanan besok pagi biar fresh" ucap dokter Fritz
"Tau gini tadi bawa ciki dikit aja huaaahaa"
"Iiish udah ah kita makan di jalan lagi besok. ku kenapa sih dari kemarin bawaannya bete Mulu Ra?"
"Nggak tahu mood gue kadang naik turun semingguan ini, mau datang bulan kali....ehh ini tanggal berapa??" Kinara sontak mengambil ponsel dan melihat tanggal yang tertera pada layar lcd ponselnya.
"Gawat, ini udah lewat sepuluh hari" ucapnya lirih.mendengar itu senyum Azka terbit dengan sendirinya meski ia sendiri belum yakin sepenuhnya. yah semoga saja"