KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
157 Keputusan Reno



Reno duduk bersandar di dinding kamarnya dengan wajah khas bangun tidur. semalam ia begadang menemani Hanan di kamar itu mengerjakan proposal proyek besar yang ditugaskan kak Revan padanya berhubung yang sedang memegang tugas meminta cuti melahirkan selama tiga bulan kedepan alhasil proyek yang bukan tanggung jawabnya jadi berpindah padanya.


"Kenapa malah Lo yang di tunjuk sih nan ini mah proyek skala besar apalagi kerjasama dengan pemerintah" ucap Reno malam tadi saat Hanan memintanya untuk membantu pekerjaan itu.


"Mau gimana lagi, mbak Cika minta cuti melahirkan selama tiga bulan, mas Bambang juga udah balik lagi, Daripada saya di pindah ke divisi lain mending gantiin mbak Cika berhubung asistennya juga mengundurkan diri ikut suaminya keluar negeri, alhasil saya lah di tunjuk jadi asisten nya mbak Cika sekarang." ucap Hanan panjang lebar.


Mereka mengerjakan proposal itu hingga pukul tiga dini hari, Hanan langsung kembali ke kamar kosnya begitu pekerjaan selesai, meninggalkan Reno yang sudah hanyut dalam mimpi panjangnya.


Reno melirik jam weker di atas nakas, dia mendesah pelan, semalam ia sempat meminta pendapat pada Hanan tentang perjodohan dan jawaban laki-laki itu membuatnya semakin sulit. "Terima saja lah Ren, ridho Allah ada pada ridho orang tua" ucap Hanan malam tadi.


ini sudah tiga hari semenjak tuan Wibowo datang kerumah waktu itu. hari ini juga ia harus memberikan jawabannya. dengan malas ia beranjak dari kasur empuk itu ke kamar mandi untuk menyegarkan diri.


kemarin sore ibunya sudah memberikan ultimatum jika menolak perjodohan lebih baik kos-kosan ini dijual dan Reno harus banting stir dari nol lagi tanpa bantuan ibunya.


"Setidaknya ini yang bisa kita berikan pada almarhumah Bu Amina Ren, sebagai balas Budi atas jasanya pada kita sampai detik ini" di bawah guyuran shower ucapan ibunya kemarin sore terngiang terus menerus bagai rekaman video yang di putar berulang kali.


"Apa gue harus ngomong ke Kinar dulu ya?" gumamnya di tengah guyuran air. "arrg lama-lama gue bisa gila". batinnya


Pukul 10 pagi Reno keluar dari rumah hendak ke kampus untuk mengambil nilai semester yang sudah tiga hari lalu keluar. Gugun sudah sejak seminggu ini aktif menghubunginya memberikan kabar seputar kegiatan kampus menjelang libur semester. meski Gugun beda jurusan dengannya tapi Gugun juga aktif di organisasi dan juga bergabung di tim volly putra.


Reno baru akan menemui Kinara di rumahnya setelah pulang dari kampus mengambil nilai dan melihat latihan anak-anak basket di GOR kampus. beberapa menit yang lalu sebelum keluar dari kamar Reno sudah memantapkan niat nya untuk menerima perjodohan dan untuk kedepannya biarlah waktu yang akan menjawab toh kalaupun suatu saat mereka akhirnya jadi menikah semoga saja saat itu ia dan Keisya sudah saling menerima satu sama lain dalam artian saling mencintai. bukankah cinta datang karena terbiasa bersama?.


Kinara sedang menyiapkan bingkisan yang akan di berikan pada anak-anak panti, saat ponselnya berdering. Azka sudah pergi ke kampus sejak pagi karena harus singgah ke stand warung mengecek persediaan bahan baku yang harus di beli.


Kinara menggeser layar ponselnya rupanya Reno telah menghubungi nya beberapa detik lalu. baru akan memanggil ulang, Reno sudah menghubungi nya kembali.


"Lo mau kesini? tumben udah lebih dari semingguan Lo nggak ada kabar"


"Mau ngomongin apa Ren? disini aja soalnya gue mau ke panti nanti siang mungkin sorean gue baru pulang"


"Ini acara tujuh bulanan gue, cuma bagi-bagi sedekah sama anak-anak panti, mertua gue lagi nggak ada soalnya"


"Ya udah gue tunggu kalau emang Lo mau dateng kerumah nanti bareng Azka aja dia lagi di warung tuh sampe sore"


Kinara mendesah pelan, baginya ini hal tersulit bukan hanya untuk nya tapi untuk Keisya juga Reno. kekhawatiran jika Reno menolak perjodohan ini juga menghantuinya selama beberapa hari, jika Reno menerima pun bagaimana dengan Keisya saat kondisi adik kembarnya itu masih belum stabil.


Dulu ia berharap cukup hanya dirinya saja yang menerima perjodohan, walau tak dapat di pungkiri akhirnya mereka tetap bersama hingga saat ini menanti buah hati yang akan hadir di tengah mereka.


Pagi tadi ayahnya sudah memberikan kabar jika Keisya sudah membaik hanya menunggu luka di tubuhnya mengering dan beruntung luka dalam yang di alami Keisya tidak terlalu parah. bahkan dokter sudah menganjurkan untuk melakukan terapi.


Selepas magrib Azka dan Reno sudah tiba di rumah. Reno kali ini lebih banyak diam tidak seperti biasanya yang selalu berceloteh kesana kemari. bahkan Azka yang lebih mendominasi percakapan mereka kali ini.


"Ren, Lo kemana aja selama semingguan lebih Hem?" tanya Azka


"Cuma ke kampus, kadang juga latihan sama anak-anak basecamp sampai malam soalnya mau ada turnamen sebulan lagi kerjasama dengan dinas pendidikan dan olahraga" jawab Reno sesantai mungkin


"Gitu, kirain ada apa tumbenan Lo nggak ngumpul, bahkan gue takut Lo bakal resign jadi sopir" tukas Kinara


"Hehe ya nggak lah, ini mah kerjaan sampingan gue, ya berat lah mau resign, karena lo kan juga nggak kemana-mana jadi gue kasih jatah ke pak Puji makanya selama semingguan ini pak Puji yang nyopirin kalian" ucap Reno


"Lo ada masalah ya?" tanya Azka spontan


"Namanya juga hidup Ka, mesti adalah" jawab Reno


"Ehkm" Kinara berdehem memandang sahabat dan suaminya bergantian. sorot matanya bertemu dengan Azka yang memberinya kode. lalu, "Ren gue udah tahu, maaf kalau lancang, gue tahu ini berat, gue juga nggak meminta banyak sama Lo, gue juga berharap cukup gue sama Azka yang ngerasain, tapi lingkaran takdir ini siapa yang bakal tahu, apapun keputusan Lo, gue sama Azka tetap mendukung, gue nggak mau maksa Lo harus menuruti kemauan ayah gue, Lo juga berhak memilih jalan hidup Lo sendiri, gue nggak mau Lo terpaksa karena balas Budi, jujur gue nggak mau kalau sampai itu terjadi, buat gue Lo tetap saudara, dari kecil kita udah sering bareng Ren, gue tahu Lo gimana, ibu Lo juga sayang banget sama gue, kalau memang ini jalan takdir Lo sama adik gue, insha Allah semua akan baik-baik saja, tapi jika suatu saat kalian harus memilih jalan masing-masing gue minta dan berharap nggk ada dendam yang tertinggal di hati kita, gue mau denger keputusan Lo sebelum ketemu ayah" ucap Kinara panjang lebar dengan air mata yang sudah mengambang


Reno sejak tadi tertunduk dan mengusap sudut matanya yang juga berair. jujur saja ini hal terberat baginya, ini kali ketiga dia menangis setelah kehilangan kedua orang yang di sayanginya dalam hidup, almarhum ayah kandungnya dan juga bapak sambungnya.


Azka berdiri dan berpindah tempat duduk di samping Reno. memeluk erat pundak sahabatnya itu untuk menguatkan agar bebannya terasa ringan. pelukan sebagai seorang sahabat rasa saudara.


"Gue Nerima Ra, gue terima perjodohan ini, gue nggak bisa janjiin apapun, tapi gue akan tetap bertanggung jawab sama Keisya nantinya entah suatu saat kami tetap bersama sampai menua atau hanya berhenti di persimpangan, gue bakal terima apapun yang terjadi kedepannya" ucap Reno tegas menatap manik mata Kinara


Azka dan kinara saling pandang, mereka tidak menyangka Reno seberani itu mengambil keputusan. keduanya tersenyum. Azka memeluk erat dan menepuk-nepuk punggung sahabatnya.


"Terimakasih Ren" ucap Kinara senang.