
Seminggu berlalu, kini pak Rowi sudah di perbolehkan pulang dan masih harus menjalani rawat jalan demi memastikan kondisinya benar-benar pulih, terlebih benturan di kepala nya yang membuatnya pendarahan meski tidak terlalu parah.
Pak Wibowo, tuan Anderson dan keluarga yang lainnya sudah mengunjungi beliau beberapa hari yang lalu. dalam hidupnya tak pernah terpikirkan jika ia akan berbesanan dengan orang kaya di negeri ini, apalah daya dia hanya orang biasa, mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi pun tak pernah terbersit dalam pikirannya. semua ia syukuri bahkan memiliki seorang putri yang begitu mandiri dan penuh tanggung jawab terkadang membuat hatinya menangis karena rasa bersalahnya pada sang anak yang belum bisa memberikan hal baik seperti orang tua lainnya.
Sejak kedatangan Kinara dirumah sakit satu Minggu yang lalu, Vivi pada akhirnya mengatakan hal yang ia ketahui dari Kinara pada Revan, meski ia sedikit ragu. dengan lembut Vivi menyampaikan kegelisahannya selama seminggu ini.
"Benar Kinara ngomong gitu Vi?" tanya Revan yang tidak percaya dengan ucapan Vivi
"Bener mas, seperti nya memang dia tahu kalau mas bukan saudara kandung nya, tapi memilih diam supaya mas nggak merasa terluka, bisa jadi apa yang aku pikirkan ini benar adanya, buktinya sampai sekarang baik ayah maupun Kinara nggak pernah ngebandingin kamu kan mas?"
"Hem, kalau memang benar begitu, kenapa selama ini mereka diam seolah nggak pernah mempermasalahkan statusku dalam keluarga, aku jadi merasa berhutang budi pada mereka Vi" ucap Revan sendu.
"Sudahlah mas, yang penting sekarang kita tunggu saja hasil tes DNA yang akan Beni bawa. kalau memang benar dia ibu kandungmu, kita jemput dia sama-sama"
"Aku harus berterimakasih pada Mala, jika benar itu ibu kandungku, aku akan merawat mereka berdua dengan hidup bersama ku"
"Iya mas, tenang ya, kita lihat bapak dulu udah selesai belum kontrol nya"
Lain hal dengan seorang wanita yang kini duduk di kubikel berhadapan dengan komputer, pikirannya tak pernah tenang selama seminggu ini, semenjak ia tahu jika bos besarnya tengah mencari ibu kandung nya, dan itu adalah ibu yang ia rawat selama ini.
Ada ketakutan besar dalam hidupnya, jika hasil tes DNA benar-benar positif ibunya adalah ibu kandung bos pemilik perusahaan tempatnya bekerja, maka dengan siapa lagi dia akan hidup? hanya ibunya kini yang ia miliki di dunia meski dengan keterbatasan fisik dan mental yang dimiliki ibunya, tapi kasih sayangnya pada wanita paruh baya itu benar-benar tulus.
"Woooi ngelamun mulu nih" tegur Alex menepuk pundak Mala. Alex merupakan karyawan dari bagian keuangan.
"Astaghfirullah pak Alex ngagetin aja" ucap Mala seraya mengelus dada.
"Abis dari tadi gue panggil nggak denger, ngelamunin apa sih siang bolong gini, entar kesambet setan ganteng loh hihihi"
"Haha pak Alex ngadi-ngadi, ada apa ya pak?"
"Mau nyerahin ini laporan keuangan bulan lalu sama bulan ini udah gue rekap sesuai yang di minta pak bos"
"Oh, ya udah makasih ya, nanti aku sampaikan sama bos kalau udah datang"
"Lah emang kemana bos?"
"Jemput calon mertuanya pulang dari rumah sakit"
"Eits, pak bos udah mau nikah?"
"Lah iya, pak Alex nggak tahu?"
"Enggak, kirain bos jomblo abadi yang nggak laku hehe"
"Jangan sembarangan kalau ngomong dong"
"Lah emang kok, Lo nggak tahu ya bos muda itu di kenal dingin, jutek sama lawan jenis"
"Jangan gosip, entar bos denger bisa marah"
"Saya udah dengar" ucap Revan tak jauh dari mereka. Mala dan Alex sontak menoleh ke arah sumber suara. ahh apes banget niat ngegosip gagal maning, yang di gosipin ternyata denger.
"Ehh ba...bapak maaf" ucap Alex dengan suara bergetar
"Kamu selain cerdas di bidang akademik ternyata cerdas juga di bidang ngegosip hahaha, tunggu aja surat undangan saya Lex, mana laporan keuangan yang saya minta?"
"Sudah ada saya terima pak, ini laporan nya" ucap Mala menyerahkan map biru pada Revan.
"Makasih, ya udah sana kerja lagi, kalau masih ngegosip saya nikahin kalian berdua sekarang juga"
"What?" ucap Alex dan Mala bersamaan. Alex langsung kabur begitu matanya bersibobrok dengan Mala. jiwa keponya entah kenapa hilang begitu saja saat melihat mata hazel milik Mala.
Revan baru saja sampai di kantor setelah mengantar calon mertuanya pulang kerumah. memang benar selama ini ia dikenal dingin dengan siapapun, meski di luar pekerjaan ia terlihat humble, tapi untuk urusan percintaan dia memang tipe yang tidak suka mengumbar urusan asmara kepada siapapun.
Revan merebahkan tubuhnya di atas sofa, padatnya jadwal dalam seminggu ini benar-benar membuatnya tidak punya waktu untuk beristirahat dengan tenang. Revan memejamkan mata hingga terlelap di sofa.
"Loh Mala, bos kamu belum pulang? tanya Beni yang datang menenteng tas kerja.
"Dari siang belum keluar sama sekali tuan"
"Kamu udah mau pulang?"
"Sebenarnya iya tuan ini sudah jam pulang saya, tapi tuan bos belum keluar sejak siang jadi saya menunggu saja dulu"
"Oh ya udah sekalian kita masuk ke dalam ada yang perlu kita obrolin"
Mendengar ucapan Beni, Mala sudah menduga apa yang akan mereka bicarakan. ingin menolak tapi tidak kuasa, ia sendiri belum sanggup jika mendengar kenyataan yang akan terjadi nanti.
"Loh ayok" ucap Beni sedikit memaksa.
"Ba...baik tuan"Mala mengekor langkah beni di depannya
"Ckck bener-bener nih anak, nggak di rumah nggak di kantor kelakukan nya gini amat, Van bangun Van" Beni mengguncang tubuh Revan yang tertidur lelap layaknya orang mati.
"Eugh...gue capek banget" ucap Revan dengan mata terpejam
"Eh bangun sat, hasil tes udah gue ambil"
"Simpen aja di meja"
"Ck, woi nggak malu Lo ada Mala disini, bangun ah cepetan"
"Ck, bawel Lo kayak emak-emak kompleks" Revan bangun dan membenarkan posisinya.
"Mau liat hasil tes nggak sih, cuci muka sono"
Revan berlalu ke kamar mandi untuk mencuci muka.
"Mala kenapa belum pulang, ini udah waktu pulang loh siapa yang jagain ibu di rumah sakit?" tanya Revan
"Maaf tuan...."
"Gue yang ngajakin dia masuk, supaya tahu hasil t s DNA nya juga, ini Lo buka" ucap Beni sengaja memotong ucapan Mala.
Perlahan Revan meraih amplop berlogo rumah sakit itu, di bukanya dengan hati berdebar-debar.
"99,99%" ucapnya lirih dengan deraian air mata yang mengalir deras di kedua pipinya. begitupun dengan Mala, begitu mendengar hasil tes DNA hatinya serasa hancur berkeping-keping, apa yang ia khawatir kan benar-benar terjadi. ia kini kehilangan harta paling berharga dalam hidupnya.
Mala langsung berlari keluar dari ruangan namun Beni yang bisa menguasai keadaan langsung mengejarnya.
"Mala, jangan pergi kita perlu bicara"
"Biarkan saya pergi pak,"
"Please Mala, dengerin dulu sampai selesai, ada yang mau aku omongin sama kamu, please saya mohon, ini demi kamu dan ibu kamu oke"
"Nggak pak, lebih baik saya pergi, ibu sudah menemukan anaknya yang selama ini hilang"
"Please Mala kita masuk"ucap Beni sedikit memaksa menyeret Mala masuk kembali ke ruangan.
"Mala, " ucap Revan seraya mengusap sisa air mata di pipinya
"Terimakasih sudah merawat ibuku selama ini, mulai saat ini tinggallah bersamaku, aku sudah menyiapkan rumah untuk mu dan ibu" ucap Revan
Mala mendongak menatap tidak percaya pada Revan, apa yang ia takutkan ternyata tidak terjadi, tapi apakah masih pantas jika ia tinggal seatap dengan bos nya?
"Mala, kami sudah membicarakan ini sebelumnya, jika hasil tes itu positif maka Revan akan mengambil alih tanggung jawab,kalian akan tinggal serumah, agar Revan bisa merawat ibunya juga" ucap Beni memberi pengertian
"Tap...tapi pak, apakah masih pantas saya tinggal dengan bos saya sendiri, apa kata orang nantinya?"
"Kalian tinggal di rumah yang sudah Revan sediakan untuk kalian tempati, untuk sementara sampai setelah menikah Revan baru akan pindah ke rumah kalian"
"Tapi pak, apa itu tidak merepotkan?"
"Untuk apa merepotkan, toh untuk orang tua tidak ada yang perlu di pertimbangkan, izinkan Revan merawat ibunya Mala, kau pun juga akan tetap bersama ibu, jangan berfikir jika Revan akan merebutnya darimu, itu tidak akan mungkin" ucap Beni meyakinkan
"Maaf pak, saat ini hanya ibu saja yang saya miliki"
"Saya mengerti, kamu sudah saya anggap adikku sendiri Mala, justru aku berhutang budi padamu karena telah merawat ibuku selama ini" ucap Revan.
"Apa kau juga berencana untuk menikahkannya bersama dengan mu nanti, jadi kalian akan menjadi pengantin kembar hahaha"
plak
"Hahahaha" Beni tertawa keras
"Kita jemput ibu sekarang, aku sudah tak sabar untuk memeluknya"
"Hahahaha"
"Bisa diem nggak sih?" tegur Revan merasa jengah karena sejak tadi Beni menertawai nya.
"Pak Beni juga ikut kan?"tanya Mala
"Sudah pasti aku ikut, baiklah ayo kita pergi"
Mereka bertiga akhirnya pergi ke rumah sakit bersama.
\=\=> Selamat ya bang Revan udah ketemu ibu kandungnya 🥰🥰🤩🤩