
"Gue cuma mau nyerahin ini, punya Kinar ketinggalan di tas gue" ucap Aldo menyerahkan paperbag berisi sandal dan cardigan.
"Kenapa harus gue, kan deketnya sama lo, yang perhatian kan juga lo bukan gue" ucap Azka ketus
"Apaan sih, apa maksud lo ngomong gitu Ka" Aldo sedikit terpancing namun berusaha ia tahan.
"Ck basi lo" ucap Azka lagi
"Lo marah sama gue, apaan coba?" Sarkas Aldo
"Pikir sendiri pake otak" sahut Azka
Bugh
Prang
"Auh" Azka menahan beban tubuhnya dengan bertumpu pada meja kecil di sampung tangga hingga vas bunga menjadi korban jatuh ke lantai.
"Aldo stop" teriak Reno yang baru saja keluar kamar hendak mengambil air minum di dapur.
Reno langsung menahan Aldo yang akan melayangkan pukulan lagi pada Azka.
"Udah" Reno membentak Aldo
"Apaan sih ribut-ribut" Beno keluar dari kamar karna mendengar kegaduhan di depan pintu kamarnya. "Busyet Azka..." teriaknya saat menyadari sudut bibir Azka berdarah.
"Mau lo apa sih?" sarkas Aldo yang masih tak terima dengan sikap Azka
"Kalo emang gue ada salah harusnya lo ngomong baik-baik, nggak gini juga cara lo njir" lanjutnya dengan nada sedikit merendah
"Persetan" Azka melepas paksa tangan Beno yang mencekalnya, lalu beranjak naik ke lantai dua.
"Dasar psikopat" umpat Aldo
"Ck, udah " tegur Reno memapah Aldo duduk di sofa.
"Lagian apa lagi sih di ributin?" tanya Beno berkacak pinggang
"Gue cuma mau nyerahin ini doang punya Kinar ketinggalan di tas gue. dianya nyolot duluan" ucap Aldo
"Gue nggak tahu ya masalah kalian apa sebelum pulang, gue nggak mau ngejudge apa yang nggak gue tahu, kalau lo mau cerita sih" timpal Reno
"Harusnya gue yang nanya, gue aja nggak tau apa masalah dia Ren" sahut Aldo
"Trus muka lo kusut pulang kerumah tadi kenapa? berantem lagi sama Ririn?" tanya Reno
"Nggak"
"Trus?" sahut Beno
"Ya nggak papa, emang lagi capek aja gua!" sanggah Aldo
"Beneran?" tanya Reno
"Suwer deer der der"
"Trus kenapa bisa barang si Kinar ada sama lo?" Beno bertanya penasaran
"Dia nitip tadi suruh gue bawain pas di mall"
"Jadi tadi siang lo hang out sama Kinar?"
"Hu'um"
"Gue tahu jawabannya" ucap Beno seraya memijit pelipisnya
"Apaan?" Kini Reno yang penasaran
"Menurut analisa gue ya, Azka cemburu sama lo!" ucap Beno
"Hah?
"Gue?
"kok?"
"Hem, hem kayaknya gue tahu juga deh" sahut Reno
"Lo pada nuduh gue?" Aldo cemberut
"Gini, soalnya tadi siang bos mama nelpon minta Azka ambilin barang di tempat langganannya, kebetulan pas lagi ngadain event di mall jadi bos mama minta Azka kesana sekalian" ucap Beno
"Emang kalian nggak ketemu Azka?" Tanya nya kemudian.
"Nggak ada tuh" Aldo geleng kepala
"Lagian ngapain juga cemburu sama gue, dari awal kan bukan mau gue jadi sopir pribadinya Kinar. gue kerja men bukan mau mainin hati orang" Sungut Aldo kemudian berlalu meninggalkan kedua sahabatnya yang terkejut mendengar ucapannya.
"Apa lo juga?" sarkas Aldo pada Fikar yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.
"Hah?" Fikar melongo hingga tubuh Aldo hilang di balik pintu
"Keselek telor kali ya,?"batin Fikar heran kemudian melanjutkan langkah, saat melewati ruang tamu ia melihat kedua sahabatnya terduduk lesu.
"Woiii...lagi pada pms?" tegur Fikar sembari duduk di tengah antara Beno dan Reno. dua sejoli beda gender itu hanya diam tanpa berminat untuk merespon.
plak
plak
"Sakit ogeb" teriak Reno dan Beno bersamaan karna Fikar menyentil dahi mereka cukup keras
"Lagian muka di tekuk, ditanya bengong, lo pada pms hah?" oceh Fikar
"Au ah" ucap Beno beranjak meninggalkan mereka,
Fikar semakin bingung. "Ini gue yang salah makan atau mereka yang salah minum air?" tanyanya dalam hati.
"Ngapa sih?" tanya nya pada Reno yang masih asik memijat pelipisnya.
"Lo kemana tadi, masa temen berantem lo nggak denger?" Reno balik bertanya.
"Hah? siapa lagi berantem?" tanya Fikar bingung.
"Bos sama asisten" jawab Reno
"Apa lagi, yang kemarin-kemarin emang kurang puas?" oceh Fikar seraya merebahkan tubuhnya di sofa.
"Ck, emang paha gue bantal, pala lo berat anying" Reno mengomel karna Fikar dengan seenak jidatnya memakai jasa pahanya sebagai bantal.
"Ck latihan sebelum dapat pacar" sahut Fikar santai tak berniat memindahkan kepalanya.
"Aiish sakit njir"
"Ahh rempong amat lo jadi cowok, nggak ada romantis-romantisnya."
"Lo kira paha gue bantal gratis, kebiasaan lo"
"Makanya jadi cowok jangan jutek-jutek amat, biar dapet pacar"
"Yang ngomong aja belon dapet, sok banget ngatain gue"
"Ye gue kan presiden jomblo sampe dapat yang halal wleeek" sahut Fikar
"Prinsip men prinshiip" sahut Fikar menekan ucapannya.
"Makan tuh prinsip, gue doain jatuh cinta beneran sama musuh bebuyutan lo wlekk🤪"
"Sampe nggak bisa move on wleek🤪" ejek Reno
"Doa lo jelek amat njir, sekali nggak ya tetep nggak!"
Brak
Prang
Kluntang
Reno dan Fikar saling memandang kemudian keduanya langsung beranjak ke tempat sumber suara di susul Beno yang juga terkejut.
"Azka buka pintu nya"
Dor dor dor dor dor
"Azkaaa buka atau gue dobrak nih?"
"Minggir" seru Aldo pada kedua sahabatnya.
Aldo memasang ancang-ancang lalu mendobrak pintu dengan tenaga nya
Brak
"Azkaa"
"Astaghfirullah"
"Bangun Azka"
"Ben, lo siapin mobil" titah Aldo
"Lo pada angkat dia bawa ke mobil, gue telpon bos papa"
Beno berlari turun dan menyiapkan mobil kebetulan mobil yang biasa ia tumpangi belum masuk ke garasi, Fikar dan Reno mengangkat tubuh lemah Azka yang mengeluarkan busa.
Beno segera melajukan mobil menuju kerumah sakit terdekat, Aldo menyusul kemudian setelah menghubungi sang bos.
Begitu sampai Azka langsung di tangani oleh dokter Hermawan. keempat sahabat itu menunggu dengan cemas di depan IGD.
Tak lama kemudian tuan Anderson dan mama Hanna tiba.
"Gimana sama Azka?" tanya Mama Hanna cemas.
"Tenang dulu tan, Insha Allah Azka baik-baik aja" ucap Aldo
Ada gurat sedih, sesal bercampur dari raut wajah kedua orang tua Azka, Aldo menyadari itu, entah apa yang ia tidak ketahui dari keluarga ini, perasaannya mengatakan ada sesuatu yang memang mereka rahasiakan, bukan tidak mungkin Azka hampir nekat mengakhiri hidupnya dengan cara seperti ini.
Terlebih sebelum ini terjadi, sosok tamu yang datang kerumah sore tadi juga jadi pertanyaan di benak Aldo, karna tidak biasa nya Azka memanggil teman kerumah selain teman kerjanya di kafe dan bengkel,apalagi sampai berbicara secara pribadi.
"Kinar nggak ikut tan?" tanya Beno yang menyadari ketidak hadiran istri sahabatnya itu.
"Mama nggak tega bangunin, besok pagi aja mama ngomong sama Kinara pelan-pelan" jawab mama Hanna dengan berurai air mata.
Tuan Anderson sejak datang hanya diam seribu bahasa, ada kesedihan dan penyesalan mendalam dalam diri pria bercucu itu.
Setelah lama menunggu akhirnya dokter Hermawan keluar dari IGD.
"Gimana Azka Wan?" tanya mama Hanna
"Alhamdulillah Azka baik-baik saja, untung cepat di bawa, lambat sedikit saja nyawa nya tidak tertolong"ucap Dokter Hermawan
"Mas Anderson bisa kita bicara di ruangan saya?" tanya nya lagi, Tuan Anderson hanya mengangguk dengan sorot mata sayu.
"Mbak Hanna silakan kalau mau bertemu Azka tapi tolong jangan bahas apapun yang bisa mengguncang jiwa nya" ucap Dokter Hermawan sesaat sebelum melangkah meninggalkan IGD.
Tuan Anderson mengikuti langkah kaki pria di depannya, ada rasa penyesalan yang dalam hinggap di hatinya, sekelumit masa lalu hadir begitu saja dalam benaknya tanpa dirasa airmata itu menetes begitu saja.
"Silakan mas" ucap Dokter Hermawan mempersilakan duduk lalu beralih mengambil air mineral di dalam kulkas yang memang ia sediakan dalam ruangannya.
"Minum dulu mas" Dokter Hermawan memberikan air mineral itu pada tuan Anderson.
"Ini salahku" ucap Tuan Anderson saat sudah merasa tenang.
"Mas, ini hanya analisaku saja, maaf apa Azka punya trauma?"tanya dokter Hermawan hati-hati
"Iya, semua salah ku, dulu aku terlalu sibuk mengurus perusahaan yang baru saja berdiri lalu perusahaan ayah yang hampir bangkrut sampai aku tidak memperhatikan keluargaku sendiri. Andai saat itu Sean tidak datang cepat mungkin istri dan kedua anakku yang masih kecil sudah tiada.
"Hanna di rumah bersama Azka dan Rafka yang baru saja ulang tahun sehari sebelum kejadian itu. saat itu Sean baru saja keluar rumah untuk pergi latihan beladiri. Seseorang masuk dari celah pagar rumah ku dan aku tak tahu sejak kapan ada salah satu pagar rumahku yang rusak di area samping. Saat itulah kejadian menyakitkan itu terjadi, istriku hampir saja di perkosa, Rafka yang saat itu menyusu menangis kencang, dengan teganya pria itu mendorong box tidur Rafka hingga anak sekecil itu terlempar tepat saat Azka membuka pintu. Azka berteriak langsung menggendong adiknya dan berlari keluar saat itulah Sean datang kembali hendak mengambil sabuknya yang tertinggal.
" Sean menghajar dan mematikan saraf pria kejam itu membabi buta. saat itu lah tetangga datang menolong dan membawa Azka serta Rafka ke rumah sakit. Rafka koma selama 6 bulan sampai akhirnya Allah swt memanggilnya berpulang. Istriku trauma selama bertahun-tahun hingga ia sembuh dengan bantuan adik sepupu ku Dr.Fritz.
"Sejak saat itu Azka menjadi pendiam, murung, marah tanpa sebab, selalu melempar apa saja untuk melampiaskan kekesalannya, bahkan ini sudah kesekian kalinya ia mencoba untuk bunuh diri. kematian Rafka menjadi pukulan terberat untuk nya.
"Dia paling benci jika ada yang mendekati orang yang di sayanginya. siapapun mereka terlebih jika itu orang asing, hal itulah yang membuatnya menjadi over posessive bahkan pada mama nya sendiri. ia takut akan kehilangan lagi seperti Rafka meninggalkannya.
"Bukan itu saja Kinara dan Azka sering perang dingin karna sikap posessive Azka yang tiba-tiba marah tidak jelas. Azka itu sulit untuk mengungkapkan isi hatinya secara frontal ia lebih agresif dengan sikapnya yang over posessive tidak jelas."
"Kalau boleh tahu siapa pria bejat itu mas?"
"Anthony"
"Ap..APA." Dr.Hermawan shock mendengar ucapan tuan Anderson.
"Ada bekas luka di leher Anthony itu ulah Sean, kedua kaki Anthony lumpuh karna Sean yang mematikan sarafnya, itulah kenapa sejak kembali kesini Anthony tak pernah menunjukkan batang hidungnya, bahkan ia hanya menyuruh kaki tangannya melakukan semua kelicikannya."
"Anthony mengincar Azka untuk memancing Sean keluar, karna ia masih dendam karna ulah Sean yang mematikan saraf tubuhnya.tapi satu hal yang tidak dia ketahui jika mereka adalah anakku. karna sejak kejadian itu aku menutup semua akses tentangku dan keluargaku, yang Anthony tahu jika aku adalah seorang duda".
"Kenapa aku baru tahu soal ini mas?"
"Apa mas Wibowo, Mas Denis juga tahu soal ini?"
"Tidak" tuan Anderson menggeleng
"Akhh aku pusing kenapa kayak benang kusut" dr.Hermawan mendesah "apa yang sebenarnya Anthony inginkan kenapa bagitu banyak ia melukai orang yang tidak bersalah" keluh nya kemudian
"Apa mas berniat menceritakan ini juga pada mas Wibowo dan Mas Denis?"
"Sudah seharusnya aku menceritakan ini sejak awal namun aku tidak mau menambah beban kedua kakakmu serta anak dan menantuku. tapi karna ini sudah terjadi mau tidak mau mereka pun harus tahu."
"Kupikir dengan menikahkan mereka bisa membuat mereka saling melengkapi, ternyata justru sama-sama tertekan. keponakan ku itu orang sabar mas, nggak neko-neko tapi sekali dia marah nggak ada yang bisa balikin mood nya kecuali almarhumah mba Amina. Aku dengar Kinara pernah marah sama Aldo dan Azka beberapa waktu lalu apa itu benar mas?" ucap dokter Hermawan.
"Iya benar itu juga karna sikap Azka yang tidak bisa menahan egonya, aku sudah berulang kali menegurnya untuk tidak gegabah ambil tindakan tapi ya begitulah dia,egonya lebih mendominasi, itulah kenapa aku memanggil Fritz kembali kesini hanya untuk kesembuhan Azka. aku sadar jauh dalam lubuk hatinya masih menyimpan dendam pada Anthony dan ingin membalaskan kematian Rafka yang belum bisa dia terima hingga detik ini" pak Anderson mendesah.
"Kurasa satu-satunya obat depresi yang di alami Azka, hanya dengan mendekatkan nya dengan Kinara tidak malah pisah rumah seperti ini, kalau menurut aku sih mas. tapi ya itu lagi konsekuensinya Kinara dalam bahaya apalagi Azka juga sudah di incar Anthony."
"Aku akan bicarakan ini pada kedua kakak mu besok. apa Azka masih bisa mengikuti ujian nasional?"
"Bisa jika kondisinya pulih lebih cepat, tapi harus tetap dalam pengawasan kami, dan yang paling penting untuk saat ini jangan menambah beban pikiran nya mas, aku khawatir dia nekat bunuh diri lagi. saya punya solusi kalau mas mau"
"Apa?"
"Azka untuk sementara tinggal dengan saya. akan saya coba untuk melakukan pendekatan secara privasi supaya dia mau untuk berbagi masalahnya denganku perlahan tapi tetap dengan pengawasan dokter Fritz tentunya. aku hanya khawatir jika ini tidak di atasi kelak akan berpengaruh pada Kinara dan juga anak-anak mereka kelak."
"Baiklah aku setuju, besok kita bicarakan ini dengan kedua kakakmu. aku akan membesuk Azka dulu."
"Baiklah mas."