KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 33



Mentari pagi mulai menyapa di ufuk timur, titik-titik embun masih tersisa pada lembaran daun nun hijau dan kuning. Aku menarik nafas berkali-kali setelah berhenti beberapa menit lalu karena lelah.


Selepas subuh, mama Hanna mengajakku jogging katanya sudah lama nggak jogging karena sakit, padahal mah baru satu minggu ngadep kasur nggak ngapa-ngapain karena sakit.


"Kamu capek?" tanya mama Hanna saat aku berhenti dan duduk di sebuah bangku kayu di taman kompleks.


"Capek ma, ngos-ngosan ini, bubur langganan udah buka belum ma?" tanya ku


"Udah, sekalian kita singgah ke rumah si kembar" jawab mama memberi usul.


"Hayuk lah, aku juga udah rindu mereka ma"


Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke tempat bubur ayam langganan kami, baru setelahnya singgah ke rumah Mbak Kinar.


Mbak Kinar dan suami memang sudah pindah satu bulan lalu di rumah mereka yang tidak jauh dari rumah mama Hanna. dan sekarang mas Azka juga sudah memulai rencana pembangunan cafe, usaha barunya yang akan mulai di rintis tahun ini.


Si kembar juga sudah mulai belajar berdiri. usia mereka sudah sembilan bulan lebih. Si kembar lahir sebulan setelah acara pertunangan kami saat itu, dan tiga bulan kemudian hubungan kami berakhir. Itu artinya sudah enam bulan berlalu kisahku berakhir dengan mas Reno.


Masih tidak percaya jika aku mampu bertahan selama itu, menurut kak Fritz dokter yang menangani ku, aku sudah sembuh 85% sisanya tergantung Tuhan dan diriku sendiri katanya.


Hubungan ku dengan mas Hanan juga sudah samkin mencair tidak seperti sebelumnya yang sempat menjaga jarak. mas Hanan tetaplah mas Hanan yang sopan dan sangat menjaga marwah wanita.


Kini aku juga lebih agamis setelah beberapa bulan ini fokus untuk tetap mengaji dan belajar Al-Qur'an di dampingi mas Hanan. begitu kata mbak Kinar sih. padahal aku tidak merasa berubah sama sekali.


Bahkan kini aku juga sudah ambil bagian di butik untuk mendesain baju-baju yang akan kami jual dan pamerkan saat ada fashion show tertentu.


Kini mbak Kinar juga mengajariku strategi menjua pakaian jadi secara online dan tetap melayani pelanggan yang memesan baju langsung dari butik kami.


Satu dari banyak hal yang ku dapatkan sebagai pelajaran hidup setelah hubungan kami berakhir, jika kita tidak perlu memaksakan kehendak, karena semua urusan hidup manusia sudah ada yang menentukan bergantung bagaimana kita perbanyak bersyukur dan berusaha menjadi manusia yang baik.


Kini aku hanya belajar ikhlas menerima kisah kelam dan berdamai dengan masa lalu. meski memang ku akui perasaan ku masih saja berharap dia kembali meski sekedar meminta maaf. aku mengakui perasaan ku setelah beberapa kali aku mencoba menyakinkan diri ini jika itu hanyalah sebuah alasan palsu. tapi nyatanya aku tak bisa meski hanya sekedar membenci nya.


Setiap detik hanya doa terbaik untuk nya semoga bisa mendapatkan jodoh yang lebih baik dariku.


"Kei, kok ngelamun sih, mau pesen nggak?" tanya mama Hanna membuyarkan lamunanku saat kami sedang duduk di bangku yang ada di luar tenda penjual bubur ayam.


"Mama aja yang pesen, aku masih ngos-ngosan ini" ucapku berbohong sembari memijit kakiku yang terasa sedikit kram.


"Oke, kayak biasanya aja kan ya?" tanya mama Hanna lagi


"Hem" jawabku singkat. aku menunduk mencoba menetralisir perasaan ku yang tiba-tiba berubah saat mengingat mas Reno. apa kabar dengan nya disana? baik-baik saja kah kamu?


Aku masuk ke tenda setelah mama Hanna memanggil ku karena pesanan sudah di meja. kami makan dengan lahap dan tanpa berbicara. tidak seperti biasanya. setelah makan mama memesankan bubur untuk anak dan menantunya juga asisten rumah tangga mereka.


"Buat cucu saya udah ada kan ya pak, ini semua berapa?" tanya mama Hanna.


"Seperti biasa nyonya" jawab si penjual


"Tunggu dulu, loh mama lupa nggak bawa dompet Kei, aduuh gimana ini mah??" ucap mama bingung merogoh semua saku baju dan celananya.


"Aku ada bawa uang ma, semua 60 ribu kan pak?" tanyaku.


"Iya nona"


"Kebetulan sekali saya bawa uang pas hehehe" ucapku meraih uang di saku celana dan memberikan pada si bapak penjual.


"Terimakasih nona, semoga sehat selalu" ucapnya


"iya amiiin"


Kami berlalu dari tenda berjalan beriringan menuju kerumah mbak Kinar. weekend begini biasanya mereka sedang liburan mini di taman belakang rumah mereka.


"Ma, kapan papa mau kembali ke Jerman?" tanyaku saat kami sudah hampir mendekati rumah mbak Kinar


"Minggu depan, mama ikut, kamu bisa sendirian di rumah cuma sama bik Siti, karena mbak Reni ikut mama ke Jerman" jawab mama


"Hem, mending aku ke rumah ayah di desa aja ma, nggak berani di rumah segede itu sendirian cuma sama bik Siti."


"Yakin? kalau mau setoran hafalan Al-Qur'an gimana?" tanya mama


"Nanti lah bisa di atur ma, lagian mas Hanan kan orangnya pengertian bin baik hati" jawabku terkesan melebihkan


"Ya udah gimana mau nya kamu aja, lah, mama disana juga nggak pasti kapan pulangnya karena sekalian mau jengukin bibi Kris yang sudah sepuh dan sakit-sakitan" terang mama


"Bibi Kris itu siapa ma?" tanyaku penasaran


"Neneknya dokter Fritz, baru aja mualaf setahun lalu" ucap mama Hanna


"Wow, subhanallah keluarga pak dokter rata-rata mualaf ya ma"


"Iya termasuk mama, Fritz itu masih keponakan dari saudara sepupu papa, mereka keluarga yang beragam tapi tetap akur, tidak membedakan agama, saling menghargai sesama saudara karena mertua mama orang asli Indonesia dan Islam menikah dengan wanita Jerman yang beragama Kristen dan kemudian mualaf."


"Ooh gitu, kita sudah sampai ma, tapi kok sepi ya, assalamualaikum " ucapku di depan pintu gerbang yang tertutup rapat


"lah iya tumbenan mereka jam segini udah sepi aja, telfon dulu" sahut mama serta meraih ponsel dari saku bajunya.


"Assalamualaikum kamu dimana?"


"Lah mama udah dirumah kamu malah kamu kerumah mama sih, kenapa nggak ngomong kelean?"


"Ya udah tunggu di situ, mama pulang udah terlanjur bawa bubur juga"


"Oke"


Tut sambungan telepon terputus dan wajah mama terlihat kesal.


"Kenapa ma?" tanyaku


"Mereka sudah dirumah dari tadi ternyata, dah yuk pulang kesel mama kalau begini" ucapnya menarik tanganku


aku hanya tersenyum saja melihat yang mama yang kekanakan benar-benar lucu. meski sudah usia hampir setengah abad, mama Hanna masih terlihat muda dan segar.


"pelan dong ma, lagian nggak jauh juga" ucapku


"Keburu dingin buburnya kei"


"kan masih bisa di angetin di rumah ma, udah ah pelan aja, mama nanti sakit lagi loh"


"Hem" ucapnya mama pada akhirnya.


jarak rumah mama Hanna dan mas Azka memang hanya terpisah enak rumah saja. tapi begitulah terkadang mama juga sering kesal kalau lagi pengen ngumpul sama cucunya malah nggak ketemu di jalan. padahal tujuan mereka sama. hahaha