KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
115 Penggalangan Dana



Setelah semalam berjuang untuk memenuhi keinginan Kinara yang minta aneh-aneh, pagi ini Azka akhirnya bangun kesiangan.


Setelah adegan muntah yang tidak berkesudahan, Kinara mau makan pisang ijo yang ia minta sebelumnya meski hanya satu sendok saja.


Setelah nya tragedi baru terjadi Kinara meminta bik Siti untuk memanggil anak dan menantunya untuk memasak Coto Makassar dirumah. kondisi sudah larut malam dengan banyak cara Azka merayu Kinara untuk menunda besok pagi tapi yang terjadi malah sebaliknya Kinara marah semakin menjadi-jadi, membuat Azka kelimpungan sendiri.


Pukul 01.00 dini hari Azka terpaksa membangunkan mama dan papa nya untuk memenuhi keinginan sang istri. beruntung mama belum menyentuh Coto Makassar pemberian Azka tadi, jadi masih bisa di hangatkan.


Setelah hangat Azka membawa ke hadapan sang isteri, bukannya malah senang justru Kinara muntah terus menerus hingga pukul 03.00 dini hari.


Mama dan papa sudah lelah menghadapi ibu hamil, karena rasa ngantuk yang begitu kuat akhirnya kedua pasutri usia lanjut itu tertidur di depan televisi di ruang keluarga.


Ayah Wibowo memilih kembali ke kamar tamu bersama Revan setelah melihat kondisi Kinara mulai stabil dan tertidur.


"Maafkan anak ayah ya, menyusahkan mu" ucap sang mertua pada Azka semalam.


"Nggak papa ayah, dia juga mengandung anak ku cucu ayah juga, mama sama papa selalu sigap kok, jangan khawatir" ucap Azka menenangkan mertuanya.


Keisya yang sejatinya merasa tidak tenang semalaman hanya bisa memejamkan mata namun tidak tidur, melihat bagaimana Azka begitu sabar menghadapi Kinara dan begitu besar rasa sayangnya pada sang istri membuat Keisya merasa semakin kagum pada sosok Kakak iparnya.


Namun lagi-lagi ia tepis rasa itu melihat kenyataan bahwa pria yang telah merebut hatinya adalah suami kakak kembarnya.


Kinara yang tidak terbiasa bangun siang hanya diam saja membiarkan sang suami tidur kembali setelah sholat subuh, sejatinya ia tidak bisa melihat Azka begitu kelelahan. makanya dia lebih memilih untuk membiarkan saja sang suami tidur hingga siang.


Sembari menunggu Azka bangun Kinara melihat jadwal mata kuliah hari ini beruntung ia dan Azka masuk di jam siang hingga sore jadi masih ada banyak waktu mengerjakan tugas kuliah yang belum selesai.


Di kehamilannya ini memang tidak terlalu membuatnya repot pagi hingga sore, hanya saat malam saja rasa mual itu terus menerus terjadi serat menginginkan banyak hal yang harus di turuti meski larut malam.


Terkadang ia sendiri pun merasa aneh, jika biasa wanita hamil muntah dan mual di pagi hari, justru ia mulai merasakan hal itu saat malam hari, dan saat Azka tidak ada di sampingnya.


Terbersit rasa kasihan dan rasa bersalah melihat perjuangan Azka menemaninya dan menuruti apapun keinginan nya meski itu mustahil, tapi ia bersyukur Azka selalu memperlakukan nya sangat lembut dan penuh kasih sayang.


Di tengah kekhusyukan nya mengerjakan. tugas mata kuliah yang belum selesai, konsentrasi nya harus terbagi karena ada panggilan dari ponselnya.


Kinara bingung antara menjawab atau tidak melihat not asing yang tertera di ponselnya. sudah dua kali panggilan itu tidak ia respon dan di panggilan terakhir mau tidak mau ia menjawabnya.


"Assalamualaikum halo...."


".........."


"Apa... innalilahi wa innailaihi rojiun"


"Iya, gue bangunin Azka dulu."


Kinara menutup sambungan telepon dan segera membangunkan Azka yang masih terlelap.


"Kenapa sih sayang, masih ngantuk, aku masuk mata kuliah siang"


"Kerumah sakit sekarang mas, Nana kritis di rumah sakit ayah sekarang"


"Astaghfirullah innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, ya udah aku mandi dulu, kamu siap-siap dulu sayang, emmuach" ucap Azka mencium kening sang istri sebelum beranjak dari ranjang.


Kinara mengubungi teman-teman alumni lainnya untuk berkumpul di cafe seberang rumah sakit, demi mengumpulkan dana untuk membantu sahabat mereka yang tengah berjuang melawan sakit.


Sejak terakhir mereka liburan bersama di kediaman orang tua dokter Fritz, mereka memang sudah jarang berkomunikasi terutama dengan Riska dan Nana.


Mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing sehingga membuat mereka jarang berkomunikasi. terlebih lagi Beno yang sudah jauh keluar negeri sama sekali tidak pernah memberi kabar.


Satu jam kemudian mereka sudah berkumpul di cafe seberang rumah sakit, Reno, Fikar, Rangga, Riska yang datang dari kota asalnya dengan Nana, dan sahabat mereka yang lainnya dari kelas lain.


"Gimana ceritanya Nana bisa kritis begini, setau kita Nana dulu siswa paling energik banget di sekolah" tanya Bobi siswa dari XII IPA 2 dulu.


"Cerita nya panjang Bob, Kita juga udah lama banget nggak ketemu, sejak terakhir kali kita camping bareng" jawab Fikar.


"Emang dia punya penyakit yang nggak orang lain tahu selama ini?" sahut teman yang lain dari kelas IPS dulu.


"Diagnosa dokter dia kena serangan jantung mendadak" jawab Riska.


"Jadi bagaimana, kita kumpulin dana sesuai keikhlasan masing-masing buat bantu kebutuhan keluarganya selama dia di rawat di sini, bapaknya baru saja meninggal begitupun juga neneknya, dia hanya tinggal bertiga dengan ibu dan adik laki-lakinya yang masih SMA, usaha mereka juga tidak seperti dulu lagi semenjak bapaknya meninggal" ucap Kinara panjang lebar.


"Gue ada segini, ini gaji pertama gue jadi OB di bank swasta, tenang gue udah nyisihin buat keperluan insha Allah cukup" ucap Rendi sembari menyerahkan 10 lembar uang merah.


"Gila, Lo mau makan apa, sisa gaji cuma cukup buat makan seminggu Ren, belum lagi bayar kosan, uang ojek Lo gimana?" cecar Reno yang tahu betul berapa nominal gaji tetangga kosan nya itu.


"Nggak papa insha Allah cukup, gue kan masih ada kerja paruh waktu lagi kalau malam" sahut Rendi tenang, membuat teman yang lain merasa bersalah melihat jiwa sosial Rendi yang begitu besar, mereka sudah kenal bagaimana Rendi dulu di sekolah.


"Ini Lo ikhlas kan Ndi?" tanya Kinara


"Insha Allah, udah nggak usah khawatir" jawab Rendi tersenyum


"Oke gue terima ya, yang lain gimana?"


"Kirim no rekening Lo gue transfer sekarang" sahut teman alumni dari kelas IPS, Vita namanya.


"Udah gue kirim di grup" sahut Azka


"Oke gue tranfer sekarang"


"Gue juga"


Ada 30 orang alumni yang datang di cafe. mereka sangat antusias untuk mengumpulkan dana demi membantu teman seangkatan mereka yang tengah berjuang melawan sakit.


"Gue setuju, gimana kalau kita juga buat penggalangan dana di sekolah" usul Manan alumni dari IPS 3


"Setuju" jawab mereka semua serentak.


"Gimana kalau lo aja Kinar yang handle teman-teman buat ngadain penggalangan dana di sekolah" usul Vera


"No, nggak bisa" Sahut Azka tak terima


"Gue nanya Kinar, Napa Lo yang sewot?" ucap Vera ketus


"Karena gue suaminya" jawab Azka santai seraya memeluk Kinara dari samping


"What?"


"Apa?"


Hampir semua yang hadir tak percaya mendengar ucapan Azka. karena sampai hari ini memang kabar pernikahan mereka belum tersebar di kalangan teman-teman alumni dan adik kelas. hanya kelima sahabat dan beberapa orang guru saja yang tahu perihal pernikahan Azka dan Kinara.


"Ngimpi Lo bule?" sahut Robin dari kelas IPA 4


"Nggak, beneran kok dia suamiku" kali ini Kinara yang menjawab.


"Sejak kapan kalian nikah? kita Lulus baru lima bulan lalu say..." sahut Vera tak percaya


"Iya kok tiba-tiba udah nikah sih?" timpal Surya dari kelas IPS 2 yang memang sudah lama mengagumi Kinara.


"Dari setahun lalu" ucap Reno kali ini


"Apa?" teman yang lain tak percaya


"Jangan bohong deh, nggak Hamidin kan Ra?" tukas Eric alumni yang terkenal playboy di sekolah


Plak


"Hati-hati kalo ngomong gandos, gue saksi pernikahan mereka, pak Budi dan guru lainnya juga jadi saksi jangan asal ngomong Lo" sahut Riska tak terima sahabatnya di katakan Hamidin oleh Eric.


"Eh udah udah... gue udah tahu kalau mereka itu sudah menikah bahkan bokap gue di undang pas akad nikah setahun lalu" sahut Albi alumni dari IPS 1.


"Lo tau?" tanya Eric


"Secara bokap gue manajer di rumah sakitnya Kinara"


"Apa?" semua serentak terkejut


"Lo sebenarnya anak siapa sih Ra?" tanya alumni yang lain karena selama ini mereka nggak pernah mengenal Kinara lebih dekat, mereka hanya tahu Kinara siswa berbakat itu saja tapi mereka tidak tahu menahu jika sekolah dan rumah sakit yang ada di seberang jalan adalah milik Kinara.


"Jawab dong, Lo anak sultan?" cecar Eric yang memang di kenal to the point.


"Bukan punya gue, tapi punya orang tua kami" jawab Kinara menunduk malu karena akhirnya identitas yang selama ini ia simpan rapat akhirnya terbongkar juga.


"Eit, Lo anaknya pemilik yayasan sekolah kita?" cecar Eric tak percaya


"Iya, gue anaknya"


"Buset, kenapa kita semua nggak tahu guys, ternyata primadona sekolah kita selama ini pemilik sebenarnya" Eric menggeleng tak percaya. teman alumni yang lain pun tidak kalah terkejut mendengar kenyataan tentang Kinara yang notabene pemilik sah sekolah tempat mereka belajar dulu.


Selama ini yang mereka tahu Kinara anak yang berbakat dan sederhana tidak pernah mereka melihat Kinara berperilaku tidak sopan pada sesama teman atau bahkan guru. di balik penampilan sederhana yang melekat padanya membuat semua alumni yang hadir merasa seperti di tampar.


Kinara yang anak orang kaya saja mampu bersikap sederhana sedangkan mereka masih meminta ini itu pada orang tua yang juga bekerja di perusahaan milik Kinara.


"Udah...nggak usah di bahas lagi, kita ngumpul disini buat ngumpulin dana untuk teman kita Nana, kalau boleh usul biar gue aja yang handle teman-teman alumni buat penggalangan dana di sekolah" sahut Rangga yang sejak tadi diam saja tidak bersuara. semua mengangguk tanpa paksaan karena sebagian teman-teman mereka sudah mengenal siapa Rangga sejak SMP. kecuali mereka yang berasal dari SMP lain mungkin di SMA tidak terlalu mengenal siapa Rangga.


"Gue setuju" Sahut Eric, " Nih Ra gue Transfer semua tabungan gue selama sebulan buat Nana" tambahnya seraya menampilkan layar bukti transaksi transfer pada Kinara.


"Makasih Eric, tapi buat makan Lo gimana?" tanya Kinara yang memang tahu pekerjaan asli Eric sebagai DJ.


"Tenang, gue masih ada simpanan lain kok, kalau siang gue kerja di kafe di jalan Angkasa Raya no 15. Deket kosan" ucapnya pelan sarat makna.


"Lo kerja di tempat bos gue dulu?" tanya Azka. Eric mendongak


"Lo pernah kerja di sana?"


"Iya paruh waktu, selama gue pindah kesini dan nikahin Kinara"


"Oh jadi karyawan kesayangan yang selalu di ceritakan Bu Faiz itu Lo bule?"


"Aiishh bisa aja Lo"


"Lo anak pemilik Eins Corp kan?"


"Kok Lo tahu?"


"Sobri kakak gue kerja disana"


"Ooh mas Sobri, iya gue kenal" akhirnya Azka dan Eric larut dalam perbincangan seputar pekerjaan yang mereka lakoni dan keluarga mereka.


Setelah mengambil kata sepakat untuk rencana penggalangan dana, mereka akhirnya bubar dan kembali ke habitat masing-masing. berhubung hari sudah semakin siang dan waktu Kinara dan Azka masuk jadwal kuliah, akhinya mereka pun bertolak ke kampus dan akan kembali ke rumah sakit setelah perkuliahan selesai.


Riska kembali kerumah sakit menemani ibu Nana karena dari kampung memang hanya dia saja yang datang bersama Nana dan ibunya. sedangkan adik laki-laki Nana masih tinggal di kampung karena harus menjaga toko dan sekolah.