
"Selamat ya tuan, nyonya hamil lagi" ucap dokter Siska setelah memeriksa kondisi Keisya.
"Alhamdulillah terimakasih dok" kata Hanan dengan wajah bahagia.
Keisya yang terbaring lemah di brankar hanya diam saja sejak tadi. Entah kenapa kehamilannya kali ini justru tidak membuat nya bahagia. Ia hanya bisa mendesah berat berkali-kali mencoba menetralisir perasaan kacaunya.
Sejak membaca surat undangan dari Reno kemarin hatinya memang tidak pernah tenang. Keisya sadar sikapnya memang salah tapi ia juga tak bisa menampik jika hatinya juga hancur berkeping-keping.
Hanan memapahnya untuk turun dari brankar dan duduk di kursi untuk mendengarkan penjelasan dari dokter Siska.
"Sudah berapa Minggu dok?" tanya Keisya dengan suara lemah.
"Usia enam Minggu nona, saya resepkan obat mual dan muntah, saya rasa nggak perlu mengulangi lagi ucapan saya di kehamilan sebelumnya karena dua kehamilan sebelumnya sudah mengalami banyak hal, jadi untuk kehamilan kali ini, saya sarankan nona untuk istirahat total dirumah, kurangi aktivitas fisik berlebihan, jangan banyak pikiran" ucap dokter Siska memberi nasihat.
"Baik dok terimakasih" ucap Keisya pelan kemudian menatap Hanan dengan senyum lembut.
"Kita pulang?" tanya Hanan mengusap pundak Keisya
"Iya" jawab Keisya.
"Ini resepnya tuan muda, silakan ke loket obat" ucap dokter Siska memberikan resep kepada Hanan.
Setelah menerima resep Hanan memanggil mbok Iyah yang juga ia ajak untuk menemani Keisya ke dokter.
"Ke mobil duluan, aku tebus obatnya dulu" ucap Hanan pada mbok Iyah
"Baik tuan" ucap mbok Iyah sembari menuntun Keisya berjalan ke arah parkiran.
Hanan berjalan ke arah loket untuk menebus obat yang di resepkan dokter Siska.
"Mbok belikan air minum saya tunggu disini ya" ucap Keisya memilih duduk di kursi tunggu pasien didepan UGD.
"Nggak apa-apa saya tinggal ke sana sebentar?" tanya mbok Iyah menunjuk ke arah mini market di seberang rumah sakit.
"Iya, mbok kesana dulu, saya sudah haus sekali" ucap Keisya meyakinkan mbok Iyah pembantu setianya selama ini.
"Baik nyonya" ucap mbok Iyah pergi.
Keisya duduk dengan tatapan sendu menatap ke hamparan mobil yang terparkir di lobi depan rumah sakit.
"Keisya?" sebuah suara memanggil nya dengan lembut.
Suara yang pernah menjadi cerita di masa lalunya, suara yang sangat ia kenali bahkan ia kenang hingga saat ini.
Keisya menoleh ke arah sumber suara dan menatap lekat wajah wanita paruh baya itu dengan tatapan sendu.
Tanpa sadar air mata itu menetes seiring pelukan hangat menyapa tubuh ringkih nya.
"Ibu kangen kei, kamu kok pucat? Sakit apa Hem?" tanya wanita paruh baya itu mengusap lembut pipi Keisya menghapus air mata wanita yang pernah menjadi calon istri anaknya di masa lalu.
Keisya sudah tak mampu berucap apapun ia hanya menangis tergugu di depan Bu Fitri tanpa sepatah katapun mampu terucap. Biarlah tangis nya menjadi jawaban mewakili isi hatinya selama ini.
"Maafkan ibu, maafkan anak ibu, ibu tahu semuanya, ibu tahu, tapi kita tetap tidak bisa menolak takdir nak, kamu harus tetap bahagia dengan keluarga mu dan hidup dengan baik, anak ibu sudah bahagia dengan pilihannya, ibu juga bahagia lihat hidup kamu bahagia dengan keluarga mu" ucap Bu Fitri terbata dengan tangis tertahan.
Keisya hanya bisa memeluk erat Bu Fitri dan menangis tergugu di pelukan wanita paruh baya itu tanpa peduli apapun lagi. Ia hanya ingin melepaskan beban berat yang selama ini ia bawa sendirian, mencoba menyembuhkannya sendirian tanpa siapapun yang tahu kecuali dirinya dan Tuhan lah yang tahu.
Di sudut lorong Hanan hanya bisa diam memandang dua sosok wanita yang saling melepaskan rindu itu. Ia tahu betul bagaimana rasa sayang Keisya pada Bu Fitri.
Sakit?
Tentu sakit, Keisya tak pernah sekalipun seperti itu di depan ibunya, meski Keisya selalu bersikap sopan dan melayani orang tuanya dengan sangat baik. Tapi pemandangan hari ini bisa menyentil sudut hatinya.
Cemburu?
Ya Hanan cemburu dengan keakraban dan bentuk kasih sayang dua wanita itu. Kasih sayang tanpa batas, tak akan ada satupun yang mampu mengusik kerinduan hati mereka selama ini. Keisya benar-benar pandai menyimpan luka nya tanpa seorang pun yang tahu, Keisya pandai menyimpan rasa rindunya pada almarhum ibunya tanpa ia tahu, dan hal itu yang tak pernah ia dapatkan apalagi ia lihat dari sosok istrinya pada ibu mertuanya.
Hanan hanya bisa menahan sedih dan sakit, meski air mata sejak tadi ingin keluar tapi sekuat hati ia tetap menunjukkan ketegaran.
Ia tak mau menyakiti dua wanita itu, karena bagaimanapun mereka sudah saling mengenal jauh sebelum ia bertemu dengan Keisya.
Sangat tak bermoral jika ia memisahkan mereka yang sedang meluapkan rasa rindunya.
Mbok Iyah berdiri tak jauh dari Keisya dan Bu Fitri, wanita tua itu tahu betul siapa Bu Fitri, karena dulu ia sering kali bertemu dengan mantan asisten pribadi anak dan menantu dari tuan besar nya atau majikannya, tuan Henry Wiraatmadja.
Mbok Iyah baru bekerja kembali pada keluarga itu saat Kinara melahirkan anak pertamanya Keenan dan Keana dulu, dan baru bekerja dengan Keisya saat Keisya dan Hanan sudah menikah dan memilih tinggal terpisah dengan keluarga.
Mbok Iyah tahu betul apa yang terjadi pada keluarga majikannya, meskipun sempat di pulangkan beberapa puluh tahun lalu bersama semua anak buah dan pekerja di rumah lama tuan Wibowo saat Kinara sudah menikah dan tuan Wibowo pergi ke luar negeri untuk berobat.
Mbok Iyah dan anak buah yang lain tetap bekerja pada keluarga besar tuan Wibowo meskipun tidak berada dalam satu rumah. Mereka tetap bisa bekerja dari desa mereka masing-masing sesuai dengan tugas yang sudah mereka emban sebelum meninggalkan kota dan kembali ke desa asal mereka.
Mbok Iyah tak lupa mengambil ponsel dan memotretnya lalu mengirimkan pada tuan besar nya. Tuan Wibowo pasti senang dengan foto yang ia kirim. karena sejak lama keinginan tuan Wibowo hanya satu yakni ingin sekali keluarga nya dan keluarga Reno hidup rukun kembali seperti dahulu, tidak sedingin dan sebeku ini setelah kegagalan anak mereka menuju bahtera rumah tangga sebelas tahun lalu.
"Maafkan ibu, maafkan Reno, tidak ada yang salah di antara kalian, takdir yang membuat kalian berpisah, hiduplah bahagia dengan keluarga mu nak, jangan bebani hati mu dengan masa lalu, ingatlah ada yang selalu setia menemani mu hingga saat ini, itulah yang harus kamu utamakan, suami dan anak-anak mu, Reno sudah bahagia dengan pilihannya, kamu pun harus bahagia dengan keluarga mu, dengar ibu?" ucap Bu Fitri mengusap air mata di pipi Keisya. Keisya hanya mengangguk samar sembari menatap wanita paruh baya yang sangat ia sayangi itu.
"Bu, ayo kita pergi, Andin sudah menunggu" ucap Reno datang menghampiri ibunya yang memeluk Keisya. Bukan tak tahu, sejak tadi Reno tahu apa yang terjadi antara ibunya dan Keisya.
Tak ada lagi yang perlu di salahkan, andai Keisya masih sendiri, andai ia juga masih sendiri, ingin rasanya ia luapkan rasa rindunya pada wanita yang mengisi hatinya selama ini. nasi sudah menjadi bubur. Mereka bukanlah takdir.
Ada nyeri dalam hati Reno saat matanya bertatap dengan manik mata Keisya. Sejujurnya ia pun rindu. Ingin rasanya ia memeluk wanita di pelukan ibunya andai ia tak ingat status mereka saat ini.
"Kei, maafkan aku" ucap Reno setelah sekian menit diam.
Baik Keisya dan Bu Fitri sama-sama mendongak menatap Reno yang menunduk dan mengusap sudut matanya.
Bu Fitri bangkit dan mengusap punggung sang anak. Reno menatap ibunya, lalu memandang Keisya dan mengulurkan tangannya.
"Maafkan aku kei" ucap Reno setelah Keisya menyambut uluran tangannya.
Keisya berdiri dan mengangguk tanpa bisa menahan air matanya lagi. Tangannya masih memegang erat jari-jemari Reno.
"Sayang, kita pulang" suara Hanan membuat Keisya melepaskan genggaman tangannya.
ada rasa canggung di antara mereka berempat,tak lama Bu Fitri langsung pamit dan menggamit lengan anaknya untuk pulang.
Keisya hanya diam saat lengan kekar suaminya memeluk dan menuntunnya untuk pulang.
Hanan tahu, tak ada alasan untuk bisa marah.