KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 117



Reno tengah bersiap di kamar merapikan kaos abu-abu yang ia pakai di padu dengan celana jeans panjang.


Setelah merasa siap Reno langsung menyambar kunci mobil di atas nakas. begitu sampai di depan pintu rumah ia berpapasan dengan Andin yang baru saja datang di antar oleh Cintya.


"Lah, aku mau jemput kesana malah kamu anterin kesini sin?" tanya Reno pada adik iparnya


"Kata Dimas suruh anter kesini karena Dimas mau pergi duluan, ibu lagi kerumah tetangga sebelah lagi khitanan" ucap Cintya dengan raut bersalah.


"Astaga, kenapa kamu ijinin ibu keluar rumah? Siapa yang nemenin disana? baru aja siang tadi pulang dari rumah sakit" omel Reno


"Abis ibu maksa mas, kita udah ngelarang tapi ibu masih kekeh, ya udah mas Arkan yang nemenin kesana, aku harus pulang cepat" ucap Cintya berlalu meninggalkan Reno dan Andin di depan teras.


Andin yang melihat interaksi Reno dan Cintya hanya menghela nafas panjang.


"Mas, harusnya nggak usah negur Cintya kayak gitu, dia udah berusaha menjadi lebih baik loh buat adik dan ibu kamu, kasihan dia cuma punya bapak yang sakit-sakitan juga, aku pikir mas juga tahu itu" ucap Andin menasehati Reno.


"Terimakasih nasihat nya, ayo kita pergi" ajak Reno mendahului Andin.


Andin hanya menurut dan mengikuti langkah panjang Reno masuk ke dalam mobil.


"Kita mau kemana sih mas?" tanya Andin begitu mereka sudah ada di perjalanan


"Aku juga nggak tahu, makanya aku ngajak kamu dan minta kamu pakai cincin pertunangan kita, aku juga minta Dimas sama pengawal buat kesana duluan lihat situasi, siapa tahu ada musuh yang diam-diam mau berbuat nggak baik ke kita" ucap Reno


"Kamu yang ngajak kok malah kamu yang nggak tahu gimana sih mas?" tanya Andin tidak mengerti


"Aku emang nggak tahu, di undangan tidak ada nama pengirimnya ndin, aku takut aja ada apa-apa" ucap Reno


"Huh semoga aja nggak kenapa-kenapa mas"


"Amiiin, kita udah sampai" ucap Reno berhenti di tempat parkir


"Ini? ini restoran bintang lima mas, apa yang ngundang kamu bos atau apa gitu?" tanya Andin terkejut saat tiba di pelataran restoran


"Udah turun aja, kita masuk berdoa dulu semoga nggak kenapa-kenapa, itu wajah kamu bisa nggak pakai masker? Protokol kesehatan, aku nggak mau ada yang lihat wajah kamu, apalagi kamu memang yang ngundang aku ini bos sebuah perusahaan besar" ucap Reno pada Andin.


Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam Restoran, setelah meminta konfirmasi pada resepsionis dengan menyerahkan undangan yang ia dapat pagi tadi, Reno di tuntun menuju ke sebuah ruangan VIP.


Sampai di sana, justru Reno dan Andin terkejut karena sang pengundang belum ada dan kemungkinan sedikit terlambat datang.


Meski sedikit kesal dan merasa seolah di kerjai oleh orang tak di kenal, Reno tetap berusaha tenang sampai orang tersebut datang.


Andin yang duduk di sebelah Reno hanya diam sambil menatap layar ponselnya karena merasa jenuh dengan jamuan makan malam yang menurutnya hanya bercanda.


Selang dua puluh menit kemudian, seorang waiters masuk dengan seorang pria di belakangnya dan mempersilahkan duduk.


Reno sedikit merasa kesal dengan laki-laki di depannya, kenapa harus capek-capek membuat undangan makan malam segala kalau hanya ingin menemuinya.


Reno sudah menduga apa yang melatarbelakangi pria di depannya itu memberinya undangan makan malam tanpa nama pengirim.


"Apa kabar mas Reno?" tanya pria yang tak lain adalah Hanan


"Ah jangan terlalu berlebihan mas Reno" ucap Hanan merendah


"Oh iya kenalin ini calon istri saya tuan Hanan, kamu akan menikah dua bulan lagi" ucap Reno memperkenalkan Andin pada Hanan.


Hanan terkejut, ia tak menyangka kalau Reno belum menikah.


"Calon? Bukannya mas Reno sudah menikah ya sejak lama? Sepertinya lebih duluan mas Reno daripada saya" ucap Hanan tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Siapa yang bilang? Saya belum pernah menikah dengan siapapun, hanya pernah hampir menikah sebelas tahun lalu, Karena bukan jodoh" ucap Reno tersenyum smirk


"Ah hehe ya ya saya ingat, jadi selama ini kesibukannya apa mas Reno?" tanya Hanan mengalihkan pembicaraan


"Sibuk melebarkan sayap di dunia bisnis, dan sibuk mempersiapkan suatu hal untuk calok istri saya ini" ucap Reno tertawa pelan sembari menatap Andin yang terlihat kaku di antara dua pria yang ada di hadapannya ini.


Merasa seperti ada yang ingin mereka bicarakan, Andin pamit ke toilet karena merasa tak ingin ikut campur terlalu jauh urusan Reno.


Meski hatinya di landa rasa penasaran, tapi Andin tetap kekeuh untuk tidak ikut campur lebih dulu.


Setelah Andin pamit, baik Reno maupun Hanan terlihat saling diam dan tak ada yang mau memulai pembicaraan.


"Tuan Hanan maaf ya, kalau boleh bertanya apa maksud anda mengirim undangan tanpa nama pengirim?" tanya Reno


"Maafkan saya mas Reno, sekiranya itu menyakiti sampean, saya benar-benar minta maaf, dan saya sejujurnya terkejut kalau ternyata mas Reno belum menikah" ucap Hanan


"Urusannya dengan anda saya sudah menikah atau belum apa ya?" pancing Reno yang merasa sudah mulai kesal.


"Ya memang buka ranah saya mas Reno, tapi ini menyangkut keutuhan suatu hubungan" ucap Hanan mengatur setiap katanya.


"Suatu hubungan bagaimana? Saya nggak ngerti" pancing Reno


"Maaf mas Reno, apa beberapa waktu lalu pernah bertemu istri saya di rumah sakit?" tanya Hanan tanpa basa-basi


"Istri tuan? Nyonya Keisya mantan calon istri saya dulu maksudnya tuan?" tanya Reno kesal.


Hanan mulai tersulut emosi tapi tetap berusaha tenang melihat sikap angkuh Reno sekarang.


"Iya benar" jawab Hanan tegas.


"Maaf tuan Hanan yang terhormat, saya sudah tidak lagi mengingat apapun tentang istri anda sejak saya memutuskan untuk meninggalkan nya sebelas tahun lalu, dan apa urusannya dengan saya saat ini? Saya sudah tidak memiliki urusan apapun dengan istri anda ,hanya ibu saya saja yang masih memiliki hutang budi banyak pada keluarganya, itu saja" ucap Reno tegas meskipun sakit saat ia berucap demikian.


Tak dapat ia bohongi jika hatinya masih merindukan Keisya, wanita pertama yang mampu mengusik hatinya hingga hari ini. tapi kali ini demi menjaga kewarasan hati dan pikirannya, ia harus bisa bersikap tegas untuk dirinya sendiri juga keluarga Keisya.


"Maaf kan saya mas Reno, mas tahu Keisya berubah setelah bertemu dengan sampean di rumah sakit waktu itu, Keisya bahkan memaksa dokter Fritz untuk meminta bertemu dengan sampean, saya tahu mungkin memang selama ini saya memaksakan kehendak karena rasa cinta saya pada nya sejak melihatnya pertama kali, dan saya pikir setelah kami menikah dan memiliki dua orang anak, Keisya bisa menerima saya sepenuhnya, rupanya tidak, selama ini hanya mas Reno saja yang masih ia ingat, saat melihatnya begitu tertekan karena ingin bertemu dengan sampean, saya semakin merasa bersalah telah mengambil paksa hati yang memang bukan untuk saya miliki, dan kali ini saya meminta pada mas Reno untuk memenuhi keinginannya sekali ini saja, saya tidak mau melihat nya sakit hanya karena ingin bertemu dengan sampean." ucap Hanan meyakinkan Reno meskipun hatinya merasa sakit yang tak berperi.


Reni terdiam karena tak tahu harus berkata apa, ia juga merindukan Keisya tapi sudah tak mungkin untuk bisa memiliki wanita itu dalam hidupnya.


Kebahagiaan Keisya ada pada Hanan yang begitu tulus mencintai nya tanpa cela. Itu yang Reno lihat dari Hanan. Rasa cinta dan kasih sayang yang tulus dan ikhlas.


"Maafkan saya tuan, saya tidak mau menemui Keisya, saya harus menjaga perasaan calon istri saya, sampaikan saja maaf saya untuknya, tapi untuk bertemu lagi, maaf saya tidak bisa" ucap Reno tegas lalu berdiri dan pamit pada Hanan yang justru terbengong dengan respon Reno terhadapnya.