KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
163 Bertemu Lina si biang rusuh



Sampai di tempat acara ternyata suasana sangat ramai dan jalanan macet. karena lokasinya adalah perumahan padat penduduk sehingga tenda hajatan terpaksa mengambil separuh jalanan utama.


Azka dan Kinara turun dari mobil dengan wajah tegang, bukan karena grogi atau takut tapi karena merasa sesak dengan banyaknya kendaraan parkir di sisi jalan utama yang sempit.


Suasana cukup ramai, dan mereka melihat beberapa orang teman sekelas Azka yang juga baru datang dengan rombongan.


"Mas, panas mana gerah lagi pake baju begini, tau gitu tadi pakai gamis pesta daripada pakai seragam ginian, nggak betah mas" keluh Kinara


"Kipas kecil yang biasa kamu bawa adakan?" tanya balik Azka


"Ada di tas,masuk yuk ah..pengen duduk sakit lama-lama berdiri mas capek"


"Ya udah ayok"


Azka menggandeng tangan sang istri di lengannya dengan mesra, sesekali tersenyum pada para tamu yang juga baru datang bersama mereka dan masuk ke tempat acara beriringan dengan para tamu yang lain.


Setelah memberikan selamat pada kedua mempelai, Azka dan Kinara duduk di bangku tamu yang sudah tersedia.


Kinara asyik melirik kesana kemari melihat-lihat dekorasi pengantin yang menurutnya sederhana tapi berkesan elegan.


"Ini sih budgetnya sekitar 7-8 jutaan tapi kelihatan elegan, aku syuka" ucap Kinara


Azka menoleh dengan alis bertaut, lalu, "Emang kamu bisa nilai besaran budgetnya cuma modal lihat doang?" tanya azka


"Bisa lah, ini kan WO nya temen sekelas aku, si Ratu Sesil" jawab Kinara santai.


"Loh kok tau?"


"Ya tau lah, yang punya WO ngomong sendiri kok"


"Oh gitu, eh lihat sebelah sana sayang, itu bukannya Lina?" tanya azka menunjuk salah satu gadis yang mengenakan pakaian pramusaji sedang membagikan air minum.


"Oh iya, ternyata beneran udah berubah baguslah" ucap Kinara santai. Azka menaikkan sebelah alisnya tanda tidak mengerti sedang ekor matanya menangkap sosok Lina yang berjalan ke arah mereka membawa nampan berisi dua gelas es dawet segar. Kinara menunduk melihat ponselnya seolah tidak tahu jika Lina datang ke arah mereka.


"Permisi tuan, nyonya silakan di nikmati es dawet nya" ucap Lina sopan.


Kinara mendongak menatap Lina yang juga terkejut melihatnya. Kinara tersenyum tulus lalu mengambil dua cup es dawet dari atas nampan.


"Terimakasih Lina" ucap Kinara sopan


"Sama-sama nyonya, tuan" ucap Lina berbalik arah dengan hati yang tak karuan. ingatannya kembali pada beberapa bulan lalu saat Kinara menusuk tangannya dengan ujung pulpen, saat itulah timbal balik kehidupannya terjadi.


"Kamu kok cuek gitu, masih marah sama Lina?" tanya Azka sembari menyendokkan es dawet ke dalam mulutnya.


"Nggak lah, ngapain marah, profesional aja lah, dia kan lagi kerja masak iya mau gue ajakin ngobrol, itu sama aja pelanggaran, ntar bosnya marah kan kasihan " ujar Kinara. Azka menganggukkan kepala tanda mengerti ucapan sang isteri.


"Sayang, mau kue yang disana nggak, kayaknya enak tuh" tanya Azka menunjuk stand kue yang ada di sebelah stand makanan.


"Iya ambilin jangan banyak, dikit-dikit nggak papa hehehe" ucap Kinara meringis


"Dasar" cibir Azka seraya beranjak dari tempat duduknya.


Azka menghampiri stand kue dan mengambil piring dan garpu lalu memilih beberapa kue menaruhnya diatas piring.


"Ini kue paling enak tuan, spesial permintaan mempelai, silakan di coba sepertinya istri tuan juga akan menyukainya" ucap Lina yang berdiri di depan stand dan memperlihatkan beberapa kue yang bisa di nikmati tamu.


"Oke saya akan ambil tiga potong, terimakasih mbak Lina"


"Sama-sama tuan" Lina tersenyum hambar di depan pria yang dipanggil nya tuan, usia dua tahun di bawahnya tapi memiliki jiwa pemimpin dan ternyata seorang pewaris perusahaan asing ternama yang sudah berdiri di negara ini sejak lama. memiliki seorang istri cantik, tangguh dan kuat tapi selalu berpenampilan sederhana serta dermawan. Lina merasa bersalah di sudut hatinya pernah memperlakukan mereka dengan tingkah pongahnya. sampai hari ini pun ia masih belum berani untuk meminta maaf pada Kinara.


Setelah puas mengambil beberapa potong kue yang tersedia di stand, Azka tidak menyadari jika piringnya sudah penuh dengan berbagai macam kue, para tamu lain melihatnya dengan berbagai raut wajah heran, lucu, aneh dan sebagainya. Lina tersenyum melihat tingkah Azka yang seperti anak kecil membawa sepiring kue seperti orang kelaparan.


"Astaghfirullah ini mau makan apa ngerampok mas?" tanya Kinara yang melihat tumpukan kue di piring dengan berbagai rasa dan nama.


"Hehehe, abis semuanya keliatan enak, biar di dedek bayi juga kenyang sayang" ucap Azka terkekeh. tamu yang duduk di sebelah Kinara terkikik geli melihat tingkah mereka.


"Itu tandanya suami sayang anak istri mbak, hihihi kalau nggak abis bawa pulang aja" seru seorang ibu yang duduk di samping Kinara.


"Hehe ibu mau? kita makannya barengan ya Bu, mana bisa saya abisin semua, ibu yang di sebelah sana juga kalau mau silakan ambil, nanti kalau habis biar suami saya ambilin lagi, mumpung kita makan gratis disini xixixixi" Kinara terkikik geli dengan ucapan nya sendiri. Azka hanya memutar bola mata jengah.


"Beneran mbak? ya udah saya ambil yang ini ya"


Akhirnya obrolan Kinara dan ibu-ibu yang duduk di samping kanannya terus berlanjut hingga kue di piring sudah tandas tak bersisa.


"Loh kue nya abis Bu, hihihi ternyata kita kuat makan juga ya hihihi" seru Kinara


"Iya nggak kerasa kita ngobrol ngalor-ngidul sampai kue habis nggak tahu kikikikik" mereka berdua terkikik bersama.


Azka yang sudah merasa jengah sejak tadi hanya diam sembari memainkan ponselnya. sepiring nasi dan rendang sudah habis sejak tadi, bahkan es dawet pun Azka sudah menambah hingga tiga cup untuk mengusir bosan karena diabaikan oleh istrinya yang asyik memakan kue tanpa mau berbagi padanya, menawarkan saja tidak, justru barisan ibu-ibu tamu yang di tawarin.


"Mas, pulang yuk udah siang juga nanti singgah di masjid sholat dhuhur" ucap Kinara seraya memeriksa tasnya. barusan ibu-ibu tamu tadi juga sudah pamit pulang terlebih dahulu sesaat setelah kue di piring nya habis.


"Hem" Azka berdehem.


"Hei, yok pulang, udah jam dua belas lewat sepuluh menit, udahbmasuk sholat dhuhur"


"Iya ayok" ucap Kinara beranjak dari kursi dan berjalan mengitari barisan kursi lain, Kinara mengikuti langkahnya di belakang.


"Udah kenyang anak-anak papa?" tanya Azka mengusap perut Kinara


"Iish paan sih, di depan umum mas, banyak orang liat" bisik Kinara malu.


"Biarin, makan kue enak aja suami nggak di tawarin"


"Ha? astaghfirullah maapin lah terlanjur asyik sama barisan ibu-ibu tamu jadi lupa hehehehe"


"Hehehe" ucap Azka mencibir seraya membukakan pintu mobil untuk Kinara.


"Permisi tuan, nyonya" sebuah suara membuat mereka menoleh


"Lina?" ucap Azka dan Kinara bersamaan


"em..ini tolong di bawa bingkisan kue dari pengantin tuan" ucap Lina menyodorkan dua kotak kue pada Kinara dan Azka.


"Loh, perasaan tadi tamu yang lain nggak ad ayang bawa oleh-oleh mbak Lina" ucap Azka sopan


"Ini khusus dari pengantin untuk tuan dan nyonya" Lina memang tidak berbohong soal itu.


"Beneran?" tanya Kinara kurang yakin


"Iya nyonya" ucap Lina menatap lekat wajah ayu Kinara


"Buat mbak Lina aja ya, tadi istri saya sudah habisin sepiring kue bersama ibu-ibu tamu berkat mbak Lina juga, lebih baik ini buat orang tua dan adik-adiknya mbak Lina di rumah" ucap Azka tersenyum menyodor kembali kue pada Lina.


Di luar dugaan dan prediksi Lina, ternyata Azka dan Kinara justru menolak kue itu dan malah memberikan padanya untuk oleh-oleh. harus dengan cara apalagi Lina berucap, sikap sopan dan menghargai yang mereka tunjukkan membuat Lina sudah mati gaya apalagi akan berbicara seolah sudah mati rasa lidahnya.


"Ben...beneran tuan, tapi nanti pengantin nya marah, saya yang di marahi bos" ucap Lina menunduk


"Bos kamu urusan istri saya mbak Lina, nggak usah takut, nanti saya yang bicara sama pengantin, kami teman sekelas jangan kuatir mbak" ucap Azka sopan.


"Terima aja mbak Lina" ucap Kinara lembut


"Terimakasih nyonya"


"Jangan panggil nyonya, saya dua tahun lebih muda dari mbak Lina, panggil Kinara aja mbak kita kan teman" ucap Kinara tersenyum


Lagi-lagi Lina terkejut mendengar ucapan Kinara yang begitu merendah. Lina benar-benar terpukau oleh sikap sopan suami istri di depannya.


"Terimakasih, terimakasih, maaf sudah pernah berbuat salah dengan kalian, maafkan saya"


"Kami sudah memaafkan mbak Lina, nggak usah di bahas lagi yang sudah berlalu jadikan pelajaran, kami pamit ya udah waktunya sholat dhuhur"


"Iya silakan"


.............>


Yang nggak ngeh soal Lina si biang rusuh, silakan baca bab 136 tukang rusuh I.


selamat membaca.🥰🥰