KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
160 Seleksi Baju Bayi



"Nggak usah sebanyak ini sayang, nanti mereka bakalan gede nggak mungkin kecil terus, mending beli yang ukurannya gede sekalian biar bisa lama make nya." ujar Azka sekali lagi.


"Ckck mas iih gitu, bayi itu butuh banyak baju ganti mas, apalagi mereka kembar, jadi harus punya stok banyak sekalian biar nggak ribet nantinya"


"Umur sebulan udah pada sempit bajunya sayang kalau beli yang ukuran pas gitu," ucap Azka kesal


"Issh kamu tuh mas, nyenengin aku bisa nggak sih? nanti kalau sempit beli lagi lah" Kinara berkilah


"Itu namanya pemborosan, kalau udah nggak kepake mau di apain lagi itu baju-baju nya? di buang? di sedekahin? sedekah lebih baik kalau ngasih baju baru bukan baju bekas" sanggah Azka.


Pegawai toko yang sejak tadi memperhatikan perdebatan mereka akhirnya duduk di kursi kecil diantara pakaian bayi yang terpajang rapi, menutup telinga dengan kedua tangannya dan mata terpejam. kesal? tentu saja. baru kali ini ia bertemu pelanggan orang kaya tapi banyak ngeyelan nya. huh.


Salah satu pegawai yang baru datang membawa makanan dari arah belakang mencolek punggung temannya yang duduk lesu di kursi kecil dan menyerahkan bungkusan nasi serta air mineral. Pegawai itu datang menghampiri Kinara dan Azka yang masih terus berdebat sejak tadi. bahkan beberapa pengunjung lain juga memperhatikan perdebatan mereka.


"Pokok nya beli dua lusin mas, nggak cukup kalau cuma beberapa lembar doang"


"Iya beli tapi yang agak besaran ukurannya sayang, kita nggak tahu berapa berat badan bayi setelah lahir, mending beli yang besaran ukurannya biar bisa di pake lama"


"Pokoknya yang ini mas"


"Aduh...mbak ada nggak ukuran yang agak gedean dikit tanggung banget kalau sebulan di pake udah sempit" tanya Azka pada pegawai yang berdiri menghadap nya.


"Mari pak saya tunjukan koleksi baju bayi kami mulai dari usia 0-5 tahun, bapak bisa bebas memilih ukurannya, semoga bapak tertarik" jawab pegawai itu ramah seraya mengajak Azka masuk lebih ke dalam gerainya.


Kinara mengikuti langkah Azka dengan mulut mengerucut. ia sempat melirik pegawai yang tadi melayaninya sedang meminum air mineral langsung dari botolnya di pojokan antara pakaian bayi yang terpajang. tiba-tiba Kinara merasa bersalah atas perdebatan nya tadi dengan Azka.


"Kasihan sekali dia, kelaparan dan kehausan seperti nya," batinnya memandang sekilas pegawai tadi yang sedang menutup botol minumnya.


Azka tiba di dalam gerai yang masih satu unit dengan toko baju ini hanya terpisah dengan pintu kaca saja. Kinara berdecak kagum saat sudah masuk ke dalam dan langsung berkeliling melihat berbagai jenis pakaian bayi.


"Ini khusus pelanggan VIP pak, toko kami memang menyediakan baju bayi dan anak-anak semua usia, silakan bapak lihat-lihat terlebih dahulu" ucap pegawai tadi.


Azka memandang sekeliling hanya ada dua pegawai di dalam 1 orang di kasir dan seorang lagi menata pakaian, dan satu yang sedang berdiri di sampingnya.


"Bedanya di luar dan di dalam apa mbak?"


"Dari produk dan harga sama saja pak tidak ada bedanya, hanya saja kami memang menyediakan ruangan khusus agar tidak berdesakan dengan pembeli lain, terutama ibu hamil dan membawa bayi kami sengaja menyediakan tempat khusus ini agar merasa nyaman"


Azka mengangguk mendengarkan penjelasan pegawai tadi. lalu, "Yang tadi itu pegawai baru?" tanyanya


"Iya pak, baru dua hari bekerja di sini"


"Saya suka konsepnya toko ini, mengutamakan kenyamanan pelanggan, apa ada batasan bagi pembeli yang masuk disini?"


"Tidak ada batasan pak, ini memang ruangan khusus didesain untuk ibu hamil dan menyusui jika sewaktu-waktu ingin duduk sejenak atau bayinya rewel kami sudah menyediakan tempat di pojok ruangan sana" jelas pegawai tadi.


"Wah wah bagus juga idenya, pemilik nya pasti sudah berpengalaman, baiklah saya akan menemani istri saya melihat dan memilih baju"


"Baik pak silakan"


Azka berkeliling melihat baju-baju bayi yang sudah tertata rapi di rak.


"Sayang kamu capek?" tanya Azka saat melihat Kinara mengusap keringat di dahinya padahal ini ruangan ber-AC.


"Aku pegal mas, mau duduk"


"Ya udah duduk disana aja ya, biar mas yang milih-milih bajunya"


"Iya deh terserah mas aja, coba daritadi begini aku nggak ngerasa capek mas"


"Udah nggak usah mengeluh, kita nggak salah masuk toko, pegawainya tadi memang sudah ngasih penjelasan memang ruangan ini di desain khusus untuk ibu hamil"


"Oh pantesan pas masuk berasa kayak di cafe, ada tempat rehat yang sistemnya indoor tapi kayak outdoor bisa lihat jalanan yang rame"


"Hahah ya udah duduk dulu ya, mas yang keliling biar pegawai tadi yang bantu mas nyariin baju"


"Oh emang boleh?" tanya Kinara dengan senang hati


"Boleh Bu, kami menyediakan khusus untuk ibu hamil jika merasa kelelahan"


"Oh ya udah air mineral aja ya mbak, terimakasih loh"


"Sama-sama buk"


Azka tersenyum dan merasa lega, hari ini memang benar-benar beruntung, mereka tidak salah masuk toko berkat rekomendasi dari salah satu teman sekelasnya di kampus yang juga seorang ibu hamil memberitahunya tentang toko khusus baju bayi yang baru saja grand opening lima hari lalu. meski terkesan masih sepi pengunjung rupanya pelayanan disini benar-benar memuaskan pelanggan.


Azka sibuk berkeliling memilih baju-baju yang menurutnya bagus dan bisa dipakai dalam waktu lama. "Kebesaran nggak apa-apa mereka juga nggak selamanya jadi bayi" gumamnya. satu tangannya sibuk menekan tombol panggil yang sejak tadi tidak mendapatkan respon.


"His kemana aja sih Lo, bisa datang ke gerai baby rainbow di jalan kasuari no 17?" tanyanya saat panggilan sudah tersambung.


"Oke gue tunggu sekarang nggak pake lama"


"Kebiasaan banget kalau di telpon selalunya begitu" gerutunya saat sambungan telepon sudah terputus.


Azka kembali memilih baju dan mengambil beberapa lusin untuk persediaan jangka panjang bahkan ia memanggil pegawai yang sedang menata baju bayi di rak dan memintanya untuk membantu memilihkan baju.


"Istrinya tidur kayaknya itu pak, biar ini saya bawa saja pak, masukin di stroller saja, nanti saya yang bawa ke kasir, kasihan ibunya pak kepalanya tengklek itu, pegal nanti, di tolongin dulu pak" ujar pegawai tadi


"Oke terimakasih ya mbak, ini saya belum selesai milihnya ya, saya tolongin Istri saya dulu"


"Baik pak"


Sementara itu Reno yang baru saja keluar dari rumah ibunya hendak ke rumah kos akhirnya batal dan harus berbalik arah ke tempat dimana Azka berada. beberapa menit lalu Azka kembali menghubungi nya untuk menjemput di jalan kasuari. sopir yang mengantar mereka harus mengantar Keisya ke butik untuk mengambil baju pertunangan mereka.


Reno membelah jalanan keluar dari gang rumah ibunya. sepanjang jalan pikirannya benar-benar kacau, semenjak ia menyetujui pertunangannya dengan Keisya, Reno seolah punya tanggung jawab lebih kali ini yang ia pikul di pundaknya.


Berkali-kali ia menghela nafas panjang, bayangan tanggung jawab yang akan ia pukul selama empat tahun sebelum mereka menikah benar-benar hal baru baginya.


Sampai di tempat tujuan Reno memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam toko sembari menenteng tas ranselnya di pundak dan melihat layar ponselnya.


Brak


Bugh


"Auuh sakiiit" lirih seorang wanita yang tanpa sengaja di tabraknya jatuh tersungkur di lantai.


"Maaf mbak, maaf saya nggak sengaja tadi lagi mau jawab telpon, maaf mbak" ucap Reno mengulurkan tangannya hendak menolong wanita itu.


Wanita itu meraih tangannya dan berdiri sembari memegang kepalanya yang sakit terantuk dinding dan sempat terbentur sudut besi rak kecil tempat penyimpanan berbagai macam sepatu bayi.


"Maaf mbak, saya akan tanggung jawab atas lukanya" ucap Reno lagi hendak memandang wajah wanita yang menunduk itu.


Reno memundurkan langkahnya saat wanita itu dirasanya sudah sedikit merubah posisi berdirinya. wanita itu menoleh dan melotot seketika saat melihat Reno.


"Lo lagi" bentaknya, beruntung pengunjung sudah pulang tersisa pengunjung VIP yang tadi dibawa temannya masuk ke dalam gerai.


"Lo?" ucap Reno mencoba mengingat ingat gadis yang di depannya. Reno langsung mencibir saat sudah mengingat gadis itu.


"Ini udah ketiga kalinya Lo bikin masalah sama gue, Lo lemparin gue batu,ngotorin baju gue pake genangan air yang becek, sekarang Lo nabrakin gue ke dinding, sebenernya gue salah apa sih sama Lo Hah?" ucapnya lantang karena saking kesalnya melihat wajah Reno yang sudah ketiga kalinya membuatnya apes.


"Ya maaf gue nggak sengaja, bener nggak sengaja, gue bakal tanggung jawab"


"Andin ada apa sih, jangan bikin malu" ucap salah satu pegawai yang tadi mengantar Azka masuk ke dalam gerai. wanita itu langsung memeluk gadis bernama Andin dan mengajaknya masuk keruang pegawai.


"Reno?" panggil Azka di depan pintu ruangan


Perhatian Reno teralihkan pada panggilan Azka di balik pintu. Reno langsung berjalan menemui sahabatnya dan masuk ke dalam gerai dengan wajah yang datar.