
Iringan doa dan ucapan belasungkawa memenuhi ruangan berpetak yang tidak terlalu besar itu. para pelayat berdatangan bahkan dari pihak yayasan yang di miliki Kinara pun sengaja meliburkan semua kegiatan hari ini demi mengantar jenazah seorang anak berprestasi yang sudah mengharumkan nama sekolah dan yayasan tempatnya belajar.
Tangis haru memenuhi seluruh ruangan yang sudah sesak dengan para pelayat. siswa siswi dan para alumni pun berdatangan bahkan mereka yang sudah merantau jauh di luar pulau dan luar negeri pun ikut datang demi melihat untuk terakhir kalinya kepergian seorang gadis yang selalu mengharumkan nama sekolah mereka.
Ibu Nana pingsan di samping tubuh kaku sang anak. Riska dan Cici serta teman lainnya mengangkat tubuh renta itu ke dalam kamar untuk beristirahat. Diki dengan di temani tuan Anderson menyambut para pelayat yang terus menerus datang.
Sebuah mobil mewah hitam metalik datang dan berhenti tak jauh dari rumah duka. karena jejeran mobil yang terparkir begitu panjang sehingga mobil tidak bisa parkir tepat di depan rumah duka.
Dua orang anak remaja berpakaian lengkap dengan atribut melekat di tubuhnya. dari pakaian yang mereka pakai sudah bisa di kenali jika mereka tengah dalam masa pendidikan di kepolisian.
"Ayo cepetan jalan nya Aldo" teriak Ririn dengan berurai air mata. kedua anak remaja itu tidak lain adalah Aldo dan Ririn yang selama ini sedang menjalani pendidikan di kepolisian.
Aldo mengusap kasar sudut matanya yang berair dengan langkah cepat. kehilangan sahabat adalah hal menyakitkan baginya set lah kehilangan keluarga.
Nana bukan lagi orang lain baginya, sudah lebih dari 7 tahun mereka kenal sejak duduk di bangku SMP hingga saat ini.
Ririn dan Aldo meringsek kerumunan pelayat yang datang tanpa peduli tatapan mereka yang seolah heran.
"Nana.. kenapa Lo harus pergi Na?" teriak Ririn histeris di samping tubuh Nana yang terbujur kaku.
Aldo juga melakukan hal sama meski ia tidak sehisteris Ririn, ia menumpahkan tangisnya di samping Nana. ada kesedihan begitu mendalam dalam hatinya kala mengingat Nana pernah hampir mengorbankan nyawanya karena menyelamatkan nya dari jambret tujuh tahun lalu, saat itu mereka masih belum saling mengenal.
Fikar dan Reno datang memeluk Aldo dan Ririn mereka akhirnya menangis bersama. Cici, Riska tengah menemani ibu Nana yang masih pingsan. sedangkan Azka dan Kinara keduanya duduk tak jauh dari jenazah Nana. karena kondisi Kinara sedang hamil, Azka tak bisa meninggalkan Kinara sendiri.
Tak lama salah satu kerabat jauh Nana dari pihak ibu datang. mereka hanya dua orang kakak beradik dari kampung yang sangat jauh di luar pulau. semalam tuan Anderson memang sudah mengantisipasi hal ini dan meminta anak buahnya untuk mencari keberadaan keluarga ibu Nana yang tersisa. beruntung nasib baik menghampiri, salah satu anak dari sepupu ibunya ternyata masih ada yang hidup.
Rana-Rani mereka kembar tidak identik. salah satu dari mereka juga tengah membawa bayi yang berusia sekitar lima bulan. Rana-Rani tampak bingung saat tiba di tempat duka banyak orang yang tidak mereka kenali sama sekali, kecuali ibu Nana yang terbaring lemah di ranjang.
"I..ini bukde Halim?" tanya Rana pada mama Hanna yang menuntun mereka menemui ibu Nana.
"Iya ini keluarga kalian, sepupu dari ibu kalian" jawab mama Hanna karena semalam sudah mengetahui hal itu dari sang suami yang mengorek informasi dari ibu Nana.
"Kami hanya ingat fotonya saja Bu, satu tahun lalu sebelum meninggal ibu dan bapak pernah mengunjungi bukde Halim. sejak lahir kami tidak pernah keluar rumah apalagi keluar pulau" tutur Rani sembari menepuk-nepuk pantat sang bayi yang ada di gendongan nya.
"Oh iya, Bu Halim juga sudah cerita pada suami saya semalam makanya suami saya mengusahakan untuk menemukan kalian" ujar mama Hanna.
"Terimakasih sudah membawa kami kepada bukde, terimakasih sudah memenuhi wasiat bapak saya buk" ucap Rana dengan wajah memohon maaf
Raut wajah mama Hanna seketika berubah mendengar ucapan Rana tentang wasiat.
"Wa..wasiat?" tanya mama Hanna terperangah.
"Tante" suara Riska dari arah pintu.
"Iya Ris?".
"Jenazah mau di mandikan dan di sholat kan, apa ibu belum sadar?" tanya Riska.
"Gini aja Ris, Bilang saja sama om di sana biar petugasnya saja yang mandikan dan kalau bisa salah satu dari Rana dan Rani juga bisa ikut memandikan, bagaimana?"ucap mama Hanna memberi usul.
"Oh iya Tan, saya bilang ke om dulu ya"
"Bayinya biar saya yang jaga ya, kalian bisa ikut memandikan jenazah almarhumah, berhubung bu Halim masih belum sadarkan diri, tidak baik juga terlalu lama dan harus segera di kuburkan" ujar mama Hanna kepada Rana-Rani.
Rana-Rani berpandangan sejenak lalu mengangguk bersamaan tanda setuju dengan usul mama Hanna. Bu Halim hanya memiliki Diki dan Nana saja saat ini, tetapi Tuhan masih sayang dengan Nana dan mengambilnya kembali ke haribaan NYA.
Melihat Bu Halim mengingatkan mama Hanna dengan kedua orang tuanya yang entah ada dimana saat ini, masih hidup kah atau sudah tiada karena sejak kecil ia hidup di panti asuhan dan sejak umur 10 tahun di asuh oleh paman dari suaminya yang seorang guru agama.
"Bu ini Bayu ditempatkan dimana ya?" tanya Rani pada mama Hanna
"Oh iya sini saya gendong saja, kalian pergi saja ke depan biar saya yang jaga bayinya, Ci kamu antar Rana-Rani ketemu om ya, tapi habis itu langsung kemari lagi, kalau bisa Kinara kamu ajak kesini juga ya mama kasihan di kelelahan" ucap mama panjang lebar pada Cici.
"Oke Mama" ucap Cici sembari turun dari pembaringan dan menuntun Rana-Rani menemui tuan Anderson.
Prosesi memandikan jenazah sudah ada petugas khusus yang di minta oleh tuan Anderson untuk memandikan jenazah Nana dengan usul dari aparat kompleks setempat. berhubung Nana dan ibunya adalah orang baru yang menempati komplek mereka.
Berita kematian Nana juga jadi buah bibir oleh warga kompleks karena baru beberapa Minggu rumah ini di tempati tapi sang anak sudah tiada. bahkan warga di hat terkejut lagi saat begitu banyaknya pelayat yang datang kerumah duka hingga memenuhi jalanan.
"Subhanallah amalan apa yang di buat oleh almarhum semasa hidupnya ya, hingga begitu banyaknya orang datang melayat bahkan dari mereka orang kaya semua." ucap salah satu warga yang melayat.
"Almarhum siswa berprestasi, anak saya satu sekolah dengan almarhum. almarhum juga aktif di semua organisasi sosial dan kemanusiaan kata anak saya, almarhum juga humble dan ramah orangnya sopan sekali." ujar seseibu yang ikut melayat.
"Subhanallah orang baik betul ya meski usianya masih sangat muda" sahut salah satu warga.
Setelah selesai proses memandikan jenazah langsung di kafani lalu di sholat kan di masjid kompleks dan setelahnya di makamkan.
Ibu Halim sadarkan diri setelah jenazah sudah di bawa ke pemakaman. Cici dengan sabar menuntun Bu Halim menuju ke pemakaman bersama mama Hanna, sedangkan bayi Bayu di jaga oleh Kinara dan Azka, selain mereka masih ada warga kompleks yang senagaja di panggil oleh pak RT dan Bu RT untuk membantu di rumah duka mempersiapkan tahlilan malam nanti.
"Nana..." teriak seseorang tak jauh dari tempat mobil yang akan Cici naiki ke pemakaman.
Mama Hanna menoleh melihat siapa yang memanggil Nana. wanita paruh baya itu tersenyum haru ternyata ancamannya berguna juga semalam. anak yang dia harapkan untuk pulang rupanya menepati janjinya.
"Beno?" Cici cukup terkejut melihat penampilan Beno yang sudah berubah drastis bahkan tubuh gembul nya juga sudah semakin susut.
"Nana mana ma?" tanya Beno dengan mata sembab.
"Sudah kamu masuk mobil cepetan, kita ke pemakaman" ujar mama Hanna.
Beno menurut apa yang mama Hanna perintah. mereka melaju menuju ke tempat peristirahatan terakhir almarhumah Nana.
Di sudut ruangan Kinara masih sesenggukan di temani oleh Azka dan bayi Bayu yang ada dalam gendongan sang suami.
"Selamat jalan sahabat terbaikku, Nana semoga Allah memberimu tempat yang terindah di sisiNYA. selamat jalan sayang, aku menyayangimu Nana selamanya" batin Kinara sedih