KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
137 Nervous



"Bulik ini sayurannya mau di simpan dimana?" tanya Keisya yang datang membawa sebaskom sayuran yang baru di petik di kebun belakang.


"Simpan saja di dipan nanti Bulik potong"


"Besok hari pernikahan mbak Khusnul ya Bulik?" tanya Keisya lagi


"Iya, mau ikut?"


"Kalau boleh, pengen lihat orang pengantin"


"Oh ya sudah ikut aja besok, nanti malam ayahmu juga datang besok kita pergi bersama"


"Yu Sri, ini Gun mau di mandikan sekarang? Bagus sama istrinya masih di rumah depan bantu masang peralatan sound" tanya bik asih yang datang sambil menggendong Gunawan cucu Bulik Sri


"Oh iya mandiin aja udah sore juga ini"


Keisya langsung melenggang pergi masuk ke kamar hendak mengambil handuk dan baju ganti, sementara Bulik Sri sibuk memasak dan bik asih memandikan Gunawan.


Keisya tidak sengaja melihat ke layar ponselnya yang tergeletak di atas kasur, gegas mengambilnya dan melihat beberapa chat dan panggilan masuk sejak siang tadi. memang sejak siang ia tidak memeriksa ponsel karena asik bermain dengan Gunawan lalu ikut Bulik Sri di kebun belakang.


Nama Kinara berderet beberapa panggilan masuk sejak siang serta chat dari Kinara. ada perasaan lega di hati Keisya saat membaca pesan dari kakak kembarnya.


"Maafkan aku kak, sudah menorehkan luka padamu atas permintaan ku yang mustahil" ucap Keisya dalam hati.


Angannya kembali pada saat baru pertama kali datang ke desa. saat bik Asih mengajaknya jogging menyusuri persawahan yang luas serta perkebunan sayur milik warga desa.


Flashback


Bik Asih mengajaknya mampir di sebuah rumah sederhana nan asri disana ia berkenalan dengan pemilik rumah yang memiliki anak kembar yang keduanya sudah berkeluarga semua. awalnya Keisya mengira jika saudara kembar itu memiliki satu suami yang sama namun angannya terpatahkan saat suami salah satu anak kembar pemilik rumah pulang dari pasar subuh.


Hati kecil Keisya langsung ciut seketika, dan ucapan tidak pantas terlontar dari bibirnya begitu saja.


"Kalian kembar tapi suami berbeda? bukankah kalian harus memiliki orang yang sama karena kalian kembar?"


Semua orang terdiam seketika mendengar ucapan aneh Keisya. raut wajah bik Asih pun langsung berubah datar menahan amarah karena merasa malu dengan ucapan Keisya.


Beruntung si pemilik rumah memaklumi kondisi Keisya dan mengerti setelah bik asih memberikan penjelasan.


Sepanjang jalan pulang bik Asih memberikan pengertian pada Keisya meski dengan ucapan sedikit menohok.


"Mereka tersinggung dengan ucapan nona tadi, kalau urusan materi seperti pakaian tas sepatu dan apalah itu silakan pake barang yang sama, tapi untuk pasangan hidup tidak. sejatinya semua manusia hidup berpasangan, jangan mengira nona itu kembar lalu semua hal harus sama. tidak sama sekali, jujur saja bibik malu dengan sikap nona yang tidak dewasa!"


Flashback off


Sejak saat itu Keisya perlahan menyadari kekeliruannya selama ini. meski mereka kembar menganggap semua hal harus selalu sama. nyatanya mereka tetap saja memiliki karakter yang berbeda.


Keisya segera mengambil handuk yang tersampir di belakang pintu kamar dan mengambil baju ganti di dalam lemari. lebih baik segera mandi agar pikiran lebih tenang.


****


Azka dan Kinara sampai di rumah saat sudah sore, berhubung mama dan papa pergi ke Jerman, di rumah hanya ada mereka berdua dan mbak Reni serta bik Siti. satpam dan para bodyguard yang bertugas tinggal di rumah belakang jika ingin beristirahat menunggu pergantian shift.


"Kamu kenapa sih dari tadi cemberut terus?" tanya Azka saat mereka sudah ada di kamar


"Nggak papa, lagi bete aja, kangen si kembar, kesana yuk nanti malam"


"Ah males ketemu orang udik, mending di rumah main PS lagian Reno sama Gugun mau dateng nginap disini nanti"


"Terserahlah up to you, gue mau ngecek laporan bulanan yang masuk dari kantor" ucap Kinara acuh meninggalkan sang suami.


Azka tercenung mendengar ucapan Kinara, laporan bulanan dari kantor? pikirnya.


"Kamu kerja yang?"


"Nggak!"


"Trus ngapain ngecek laporan segala"


"Hah? sejak kapan? bukannya masih di amanahin ke kak Revan?"


"Ck, yang pegang saham terbesar dan pemilik sah KSW group atas nama siapa sih??"


"Ya kamu sih, maksudnya kok nggak ada ngomong, malah aku nggak ngerti sama sekali"


"Ya jelas nggak ngerti lah, yang dulu masuk rumah sakit karena nekat bunuh diri siapa coba?"


Azka langsung tergagap mendengar ucapan menohok sang istri. sesaat kemudian ia menyengir karena malu.


"Hehehe, aku kelewat banyak informasi ternyata" ucapnya malu.


"Emang iya, dah ah mandi sana, aku kerja dulu"


"Ya udah jangan capek-capek, anak papa lama nggak di jenguk ini" ucap Azka mengusap perut istri nya


"His modus sana-sana"


Setelahnya Azka melenggang pergi masuk ke kamar mandi.


Kinara mengecek ponselnya terlebih dahulu dan membuka aplikasi chat hijau, hanya centang biru dari kontak Keisya. Kinara mendesah resah, ingin menghubungi sang ayah merasa tidak enak karena ayahnya dalam perjalanan kembali ke desa setelah dua hari lalu memberi kabar akan ke kota mengurus sertifikat tanah.


Sebenarnya ada keinginan Kinara untuk mengunjungi ayah dan adiknya, apalagi keluarga besar ayahnya yang sudah puluhan tahun tak pernah bertemu. tapi rasa takut jika Keisya tidak nyaman akan kedatangan nya masih terus menghantuinya, bahkan terkadang masih ada rasa takut di hatinya jika Keisya mengulang keinginannya lagi di depan keluarga besar sang ayah.


Bunyi notifikasi masuk, jari Kinara berhenti di satu nama yang baru saja mengirimkan pesan singkat.


"Rumah Sakit Citra Husada, Fikar kecelakaan" pesan dari Reno. Kinara langsung beranjak dari tempat duduk, ia berjalan ke kamar mandi yang berjarak lima langkah dari tempatnya duduk.


dor dor dor..


"Azka bukain pintunya" teriaknya karena suara keran air yang menyala terkadang membuat suara tidak terdengar jelas.


Dor dor dor


Untuk kesekian kalinya Kirana menggedor pintu dan tak lama terbuka.


"Apaan sih, gue lagi pup" sungut Azka di balik pintu yang sedikit terbuka. Kinara langsung menyodorkan ponselnya agar Azka lebih mudah membaca pesan dari Reno.


"Innalilahi iya gue kesana, kamu dirumah ya, aku mandi dulu" ucap azka kembali menutup pintu dan melanjutkan mandinya.


Kinara beringsut tangannya sibuk menscrol layar ponsel nya mencari nama teman-teman dan menghubungi nya.


"Arrgh Ririn sama Aldo nggak bisa di hubungi sih, mana Cici di pesantren jauh lagi, Beno apa lagi, mana kuota roaming ku udah habis arrgh" Kinara mengomel sendiri.


Sesaat kemudian Azka sudah keluar dan berganti pakaian. Azka berjalan menghampiri Kinara yang masih mengomel, dalam hati Azka sudah tahu apa yang di risaukan sang istri.


"Udah nanti gue hubungi mereka, kamu di rumah aja nggak usah kemana-mana udah malem juga kasihan anak kita" ucap Azka menenangkan Kinara seraya memeluknya dari belakang.


***


Keisya yang baru saja keluar dari kamar hendak membantu Bulik Sri di dapur setelah mandi, harus tersentak saat ada suara serak basah namun tegas dan lembut mengucap salam di depan pintu.


Keisya berjalan ke depan dan mempersilakan sang tamu masuk


"Sebentar ya saya panggil Bulik dulu, silahkan duduk dulu mas"


"Em nggak usah mbak, saya cuma di suruh nganter tonjo'an ini sama ummi, baru selesai pengajian tadi, karena Bulik nggak bisa datang ummi minta saya yang datang mengantar" ucap Hanan sembari menyodorkan satu set rantang berisi makanan dan lauk pauk.


"Terimakasih mas saya kasi ke Bulik dulu ya permisi" ucap Keisya sopan meninggalkan Hanan sendiri di ruang tamu.


Hanan menatap deretan foto di dinding ruang tamu yang tertata apik. ada foto dua anak balita kembar yang terpajang, sorot matanya menelisik foto lama itu yang sudah terlihat pudar warnanya.


"Eh Gus Hanan kok repot - repot bawain tonjo'an, lah Bulik tadi pulang udah di bawain sama tukang masaknya. makasih banyak ya Gus maaf ngerepotin" ucap Bulik Sri menaruh rantang di atas meja.


Hanan mengangguk sopan lalu berpamitan karena memang sudah tidak punya kepentingan apapun lagi kecuali mengantar tonjo'an. lagipula ia masih merasa nervous jika masuk kembali kerumah Bulik Sri.