
Azka tiba dirumah pukul 22.15 malam. Hari ini cafetaria milik bos bengkel sedang di gunakan untuk event ulang tahun salah satu anak pengusaha properti terkenal di kota. Lumayan menguras tenaganya sejak siang tadi sepulang sekolah.
Rumah terlihat sepi karna semua pergi kerumah kakek. Karna nenek ngotot ingin melihat para cicitnya dan tidak mau datang menemui sendiri. Mau tidak mau papa, mama serta Kak Sean, Kak Rania dan si kembar mengunjungi rumah nenek selama seminggu. Hanya mereka berdua di rumah bersama beberapa asisten dan bodyguard yang sudah di beri tugas papa.
Kinara sudah terlelap dalam mimpi indahnya. Azka segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Azka merebahkan tubuhnya di samping Kinara setelah mandi dan sholat isya yang tertunda. Tangannya terulur membelai rambut hitam Kinara yang sudah membuatnya candu selama hampir empat bulan mereka menikah. Setiap malam diam-diam Azka selalu mencium aroma rambut itu hingga membuatnya tertidur lelap.
"Papa gak salah jodohin kamu buat aku Ra..kamu udah bikin duniaku jungkir balik meski mungkin hanya aku yang merasakan itu." batinnya dalam hati. Miris kan?
🌷🌷🌷
"Eummhh.. "lenguh Kinara saat ia sudah terjaga dari mimpinya karna mendengar suara Adzan subuh.
Ia melihat sebuah tangan kekar putih melingkari perutnya sangat erat. Ia segera berbalik, terlihat Azka masih terlelap dengan dengkuran halus. Nafasnya yang teratur berembus menyapa wajahnya.
Kinara tersenyum entah mengapa ia merasa nyaman dengan posisi mereka saat ini. Tak mau berlama-lama ia segera membangunkan Azka untuk sholat jamaah subuh.
"Kamu mandi duluan. Aku masih ngantuk 15 menit aja."
"Ya udah aku mandi dulu". Kinara segera menuju kamar mandi. Azka masih dengan posisinya memeluk guling. Karna guling bernyawa yang ia peluk semalam sedang mandi.
15 menit kemudian Kinara sudah selesai membersihkan diri. Azka masih terlelap di kasur.
"Bangun mandi sholat subuh jamaah." ucap Kinara menggoyang lengan sang suami.
"Iya.." jawab Azka segera berjalan menuju kamar mandi.
Setelah sholat subuh Kinara langsung ke dapur membantu mbak Rita dan beberapa asisten menyiapkan sarapan. Setelah selesai ia segera masuk ke kamar berganti baju dan menyiapkan keperluan sekolahnya.
Saat hendak mengambil charger laptop di dalam laci ia tak sengaja menjatuhkan sebuah benda kelantai. Benda itu tersangkut kabel charger.
Ia melihat benda itu terkejut. Sebuah kemasan bergambar sepasang pasutri apalagi kalau bukan ******.
"Maaass.."
Azka yang masih di ruang ganti segera keluar mendengar suara Kinara setengah berteriak.
"Apa?"
"Nih apa an kok ada di laci?" tanyanya seraya menunjukkan benda yang tergeletak di lantai
Azka yang melihat itupun ikut terkejut. "Busyet dah pasti kerjaan papa ini." ia segera mengambil benda itu dan menyimpannya di dalam kotak di lemari pakaiannya.
Wajah Kinara memerah seperti tomat. Ia tahu benda apa itu.Membayangkan saja sudah membuat perutnya mual apalagi harus melakukannya?!
"Oh No! Kenapa pikiranku ngeres sih?" batin Kinara menahan rona merah di wajahnya. Buru-buru ia menyambar tas dan segera turun untuk sarapan. Azka tahu jika Kinara salah tingkah dan merasa malu. Ia bisa memaklumi itu. Papa memang suka banget iseng begitu pikirnya.
"Dasi kamu mana?" tanya Kinara saat mereka sudah di dalam mobil.
"Aduh kelupaan. Hehe bentar aku ambil dulu."
"Gak usah biar aku aja."
Kinara segera masuk ke dalam rumah untuk mengambil dasi. Setelah itu ia segera ke mobil.
"Nih pake dulu."
Azka segera memakai dasi namun tiba-tiba ponselnya berdering. Fikar menelponnya. Ia segera mengangkat telfon.
Tanpa aba-aba Kinara langsung merubah posisi menghadap Azka dan memakaikan dasinya. Azka menatap intens Kinara sedangkan fikar di seberang telfon tak ia hiraukan.
Pandangannya jatuh pada bibir ranum milik Kinara. Ia menelan salivanya. Namun Segera ia mengalihkan pandangannya.
"Ya udah Kar gue nyetir nih gak konsen sampai ketemu di sekolah."
Ia segera mematikan sambungan telpon.
Sepanjang jalan mereka hanya diam membisu tak ada yang memulai percakapan. Seperti biasa ia menurunkan Kinara di depan halte.
Kinara keluar dari mobil. Azka segera melajukan mobilnya memasuki halaman sekolah.
"Masih naik bis ya?" tanya Rangga yang sudah mensejajarkan motornya di samping Kinara
"Ehh i-iya Rangga." jawab Kinara gugup.
"Ayok naik dari pada jalan kaki" tawar Rangga
"Gak usah. makasih Rangga lagian udah dekat kan."
"Ya udah aku temenin jalan boleh kan?"
"Ekhm gimana kabar Ayah kamu?"
"Alhamdulillah Ayah sehat walafiat."
"Titip salam ya"
"Insha Allah".
"Dah aku duluan ya nanti ada yang cemburu liat aku jalan bareng kamu."
"Iya ".
"Maksud dia apa sih? Apa jangan-jangan kemarin?? Arrgh gimana ini? Batin Kinara gusar mengingat kejadian kemarin saat Rangga datang kerumah mengantar paket pesanan mama.
"Wooiii... ngelamun aja lo" sapa Riska yang tiba-tiba sudah berjalan di sampingnya.
"Ngagetin aja sih.. tugas Kimia udah selesai?"
"Udah dong gue kan anak cerdas..."sahut Riska
"Cerdas nyontek 🤣🤣🤣🤣" timpal Cici yang sudah nimbrung aja di antara mereka.
"Ishhh nih nyai main nyolot aja.." Riska menimpuk Cici dengan buku paketnya.
"Biariiinn kan gue cenayan idup..kemana aja dimana saja ada aja bisaa aja.... ehhh gue punya gosip baru..."
"Apaan?" sahut Riska. Kinara yang mendengar celotehan keduanya memutar bola mata malas.
"Pak Fahri mau nikah bulan depan dan lo tau gak calon bininya itu sepupu jauh gue dari mama.."
"Eehh beneran lu?? yaaahh pupus sudah harapan ku jadi permaisuri arjuna sekolah...." celoteh Riska..
"Hueeeekkk ge-deg gue dengernya...ketinggian ngimpi lo..." sahut Cici
"Permisi..." sapa seseorang yang melewati mereka
"Silakan Pa.....eehhh..??" ucapan Riska terpotong
Rupanya pak Fahri yang melewati mereka. membuat Riska dan Cici langsung pias. Kinara yang melihat raut wajah kedua sahabatnya hanya bisa menahan tawa..
"Eehh orangnya denger yang kita omongin gak ya??" duhh malu gue.. " Ucap Riska menyenggol lengan Cici. "Lu sihh duluan Ci..."
"Ehh?? kok nyalahin gue?"
"Udah udah... buruan masuk kelas jamnya Pak Giman nih, tugas matematika kalian emang udah selesai??"tegur Kinara
"Oh nooooo...." teriak Cici dan Riska
"Xixixixi..." Kinara tertawa melihat tingkah mereka berdua.
🌷🌷🌷
"Kerjaan yang gue kasih ke lo udah beres kan Do?" tanya Azka pada pria di sampingnya. Smaat ini mereka ada di rooftop berdua tanpa yang lain.
"Beres, sisanya si mbah aja yang urus. Sebenernya lu itu anak sultan ato mafia sih?" tanya Aldo di sela-sela menyesap minuman kalengnya. Azka tersenyum smirk mendapat pertanyaan seperti itu. "Menurut lo?" tanya nya balik
"Tengah-tengahnya sih." jawab Aldo asal. Ia nampak berfikir sebelum meneruskan ucapannya. "Kadang gua gak ngerti sih hubungan keluarga lo sama Kinara, kadang gua ngerasa kasihan sama si Kinar jadi bahan rebutan para penguasa. Emang apa sih istimewanya dia?" ujar Aldo santai
Azka tersenyum sebelum menjawab ia menarik nafas panjang. "Semua karna dendam masa lalu yang buat kita seperti ini. Kinara gak tau apa-apa karna memang mereka merahasiakan darinya. Semua itu demi kebaikan Kinar juga. Suatu saat lo bakal tau semuanya. Yang penting sekarang lo lakuin tugas lo sampe tuntas. Ok bray!" papar Azka seraya beranjak meninggalkan Aldo menuju ke kelas. Aldo segera menyusulnya kemudian.
"Holang kaya mah mau apa aja bisa ae...."batin Aldo.
flashback
Saat Aldo dkk menjenguk Kinara di rumah sakit, mereka tanpa sengaja melihat seorang suster yang mondar mandir di depan kamar rawat Kinara saat Aldo hendak kembali mengambil peci yang tertinggal di tasnya. entah panggilan alam atau panggilan jiwa detektif nya Aldo bersembunyi di salah satu sudut lorong tak jauh dari kamar rawat Kinara.
Ia langsung menghubungi fikar seraya memerhatikan gerak gerik suster tadi. saat suster tersebut sudah masuk ke dalam kamar, Fikar datang dan mencoba mengintip dari balik pintu yang ia buka perlahan. sedang Aldo masih tetap di posisinya.
beberapa saat kemudian suster tersebut keluar bersamaan dengan Azka yang baru tiba dari mushola. Aldo mengikuti hingga suster tadi masuk ke salah satu ruang tak terpakai di belakang rumah sakit. disana lah Aldo mengetahui semuanya. Dia dan Fikar baru memberitahu Azka setelah mereka berhasil memergoki suster tersebut.
Azka geram lalu menghubungi Nenek Handoko dan meminta Aldo membereskan kekacauan yang di buat oleh suster gadungan yang tak lain adalah sepupu tirinya.
Flashback Off.
Nb.
maapin ye makin membingungkan ceritanya .. makin bingung makin banyak kejutannya.