
"Hai ndin, ada apa kesini?" tanya Reno begitu ia sudah ada di teras.
"Eh iya, ini aku mau anterin undangan dari sepupu ku yang kita pernah datang kerumahnya waktu itu"
"Oh, iya, kenapa bukan anggota nya aja yang anter, kenapa malah kamu?" tanya Reno membuat Andin salah tingkah seketika
"Emm... itu...anu....."
"Kamu bisa nunggu aku di cafe biasanya kan? ada yang perlu aku omongin ke kamu sekarang" kata Reno dingin lalu beranjak berdiri dan meninggalkan Andin yang terkejut
"Se..sekarang mas?"
"Iya, kamu duluan, aku masih mau mandi dulu" sahut Reno dari dalam.
Andin langsung pergi dengan tersenyum malu-malu menuruni undakan teras. selama dua tahun ini hubungan mereka memang lebih inten meski tak ada status.
Reno memang sering mengajak Andin berjalan-jalan jika ada waktu luang atau saat libur. mereka banyak menghabiskan waktu bersama sekedar hang out dan belanja.
Bukan Reno tak tahu bagaimana perasaan Andin padanya, tapi ia juga tak bisa menghapus nama Keisya yang sudah lama bersemayam dalam hatinya.
Pada awalnya Reno membantu Andin keluar dari jerat dunia malam. saat tanpa sengaja Reno bertemu dengannya di salah satu club' saat temannya mengajak bersenang-senang merayakan ulang tahun.
Reno melihat Andin di seret ke sebuah kamar oleh seorang pria hidung belang, Andin yang meronta meminta pertolongan tak kuasa menahan rasa sakit saat pria tua itu menarik rambut nya secara paksa dan membawanya ke dalam sebuah kamar.
Reno yang saat itu melintas terkejut melihat Andin mengayunkan tangan meminta pertolongan.
Tanpa pikir panjang, Reno langsung ikut menerobos ke dalam kamar dan menendang bagian vital pria hidung belang itu. Andin berdiri dan bersembunyi di belakang punggung Reno.
Dengan keberaniannya Reno menantang pria tua itu dengan meminta secarik kertas kwitansi dan memanggil petugas dan pemilik club'.
"Dia gadis yang sudah saya bayar mahal, jangan macam-macam kamu anak ingusan" bentak pria bertubuh tambun itu
"Cih, coba saja kalau berani, mau adu otot atau uang?" tantang Reno
"Berani nya kamu...." teriak pria tua itu hendak menyerang Reno
Bugh ..
pria itu jatuh karena Reno langsung menendang kakinya.
Saat petugas dan pemilik club' datang, Reno langsung meminta selembar kwitansi dan menuliskan angka 150 juta sebagai tanda pembebasan Andin untuk tidak lagi bekerja di club' malam itu.
Sejak saat itu, Andin merasa memiliki hutang budi besar pada Reno. seminggu setelah kejadian di club', Reno memberikan sejumlah uang pada Andin untuk membuka usaha kecil-kecilan.
Sejak saat itulah Andin dan Reno semakin dekat, karena Reno tak putus asa memberikan semangat dan mengajari Andin untuk memulai usaha kecil-kecilan.
Awal mulanya Andin hanya diberikan gerobak kecil untuk berjualan minuman dingin dan gorengan di depan kontrakannya. namun hal itu tidak berjalan lancar karena Andin di usir oleh pemilik kontrakan karena sering membawa laki-laki ke rumah kontrakan. padahal laki-laki itu hanya Reno yang datang di sela jadwal kuliah.
Andin terpaksa pindah ke kontrakan yang lain, berkat usul Reno, Andin akhirnya pindah di dekat kampus dan mulai membuka usahanya kembali berjualan gorengan dan minuman dingin. membuat gorengan adalah kebiasaannya sejak kecil saat membantu ibunya berjualan. setelah ibu dan ayahnya meninggal karena kecelakaan, Andin dan sang kakak akhirnya merantau ke ibu kota dan mencari pekerjaan. kehidupan yang sangat sulit membuat Andin tumbuh menjadi gadis yang pekerja keras tetapi galak dengan siapapun terutama laki-laki karena rasa traumanya pernah di khianati.
Perlahan namun pasti perasaan kagum dan hutang budi itu berubah menjadi cinta. Reno tahu jika Andin memiliki perasaan khusus padanya karena terlalu sering mereka bersama.
Namun Reno mencoba untuk tetap bersikap biasa saja tanpa memberikan respon apapun atas sikap perhatian Andin padanya.
Disinilah Andin menunggu dengan hati gundah karena baru pertama kali sejak terakhir kalinya mereka makan bersama beberapa bulan lalu.
"Maaf bikin kamu lama menunggu, angel merengek mau ikut"
"Kenapa nggak di ajak sekalian mas?"
"Nggak bisa, ada mas Gugun kok dirumah yang bisa jagain, oh ya kamu udah pesen makanan?"
"Belum mas, nunggu kamu dulu" kata Andin malu-malu"
"Ya udah aku pesen aja kayak biasanya ya"
"iya mas"
Sikap Reno kali itu tidak seperti biasanya, meski Andin menyadari namun ia tetap cuek dan mencoba mencari perhatian Reno.
"Aku udah selesai mas, habis ini kita mau kemana lagi?" tanya Andin saat makanan nya telah habis
"Nggak kemana-mana, aku mau cepat pulang karena Tante Meri mu bikin pesenan kue untuk tetangga mau ulang tahun anaknya"
"Oh.." kata Andin kecewa
"Maaf ya"
"oh ya ndin, aku boleh ngomong sesuatu kan?"
"Boleh aja" kata Andin bersemu merah
"Maaf kalau misalnya ucapan ku menyakiti kamu ndin, tapi izinkan aku ngomong sampai selesai"
"Mau ngomong apa sih mas, kok... kayak serius gini"
"Maaf ndin, bisa nggak mulai hari ini kamu jangan lagi datang kerumah Tante Meri?"
Deg
Andin langsung mendongak seketika menatap wajah Reno lekat-lekat.
"Maksudnya mas?"
"Maaf ndin, om Danu dan Tante Meri pernah dapat teguran dari pak RT karena kamu sering datang kerumah, maaf ndin" kata Reno membuat Andin seketika bungkam dengan raut wajah tak terbaca.
"Ndin, maaf aku di tegur om Danu"
"Iya mas nggak papa, aku memang perempuan nakal yang berani datang kerumah laki-laki yang bukan muhrim ku" ucap Andin membuat Reno merasa bersalah.
"Maaf ndin, aku nggak ada ngomong kayak gitu, tapi di tempat Tante Meri memang punya tradisi dan kebiasaan yang sudah mereka lakukan sejak dahulu dan turun temurun, bagi mereka tidak pantas seorang gadis datang berkunjung kerumah laki-laki tanpa di dampingi muhrim nya atau ada kepentingan sendiri" ujar Reno
"Iya mas, aku ngerti kok, maaf karena aku sudah lancang bertamu kerumah sampai pemilik rumah kena teguran aparat setempat"
"Maaf ndin"
"Iya nggak papa mas, aku sadar diri kok"
"Maaf ya"
"Iya nggak papa"
"Ntar ya hape bunyi"
Reno menjawab panggilan telpon luar negeri dari salah satu sahabat nya.
"Gue nggak bisa, ada kerjaan, Lo aja deh kesana, gue beneran nggak bisa Ben"
"Astaghfirullah, apa urusannya sama Kinara? dia udah punya suami, anaknya udah dua, gila lu ngatain gue gagal move on"
"Status yang mana? ah lo mah ngaco Mulu, nggak ada beneran, gue masih jomblo dari dulu nggak pernah pacaran"
"Terserah Lo deh, yang jelas gue nggak bisa datang, kerjaan gue disini padat banget, nanti gue kabarin kalau pas ada liburan"
"Ah bodo amat lah, gue masih punya jadwal manggung ya asal Lo tahu"
"Iya kabarin aja kalau udh nyampe Jakarta Lo"
"Ck, Lo mah itu Mulu yang di tanya, seharusnya gue yang nanyain Lo udah dapat cewek bule belom?"
"Anjir, gue masih ori gais, cewek yang gue taksir masih kuliah belom niat nikah, wanita karir hahahahaa"
"Eh Seriusan gue, nggak bohong, suatu saat Lo bakalan tahu"
"Ya anak asli Jakarta lah, udah ah, bye"
Satu kalimat terakhir sebelum percakapan Reno di telpon membuat Andin sedikit tersentil. entah gadis mana yang Reno sukai, apakah gadis yang ada di buku diary yang pernah ia temukan tiga setengah tahun lalu?
Andin segera meraih tas selempangnya, lalu beranjak pergi.
"Mau kemana ndin?"
"Pulang mas, nanti di cari kakak, aku duluan ya" ucap Andin tanpa menoleh.
Reno terdiam, ia tahu telah melukai perasaan Andin, tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa selain jujur dengan keadaan sebenarnya.
Reno mengakui kalau Andin memang gadis yang baik dan cantik, juga pekerja keras, hanya saja satu kekurangan nya, judes pada siapapun terutama laki-laki.
hati tak dapat di terka, meski saat ini hanya ada satu nama bertahta di hatinya, tapi takdir tak akan ada yang tahu kedepannya.