
Hari ini Revan dan Lutfiah melangsungkan resepsi pernikahan di hotel setelah kemarin melaksanakan ijab qobul di rumah mertuanya.
Para kolega bisnis mereka hadir memberikan selamat pada kedua mempelai. bahkan tuan Wibowo dan Tante Ratih tak henti-hentinya tersenyum kepada para tamu yang hadir.
"Selamat ya tuan dapat menantu baru lagi" ucap ibu Fitri yang tidak lain adalah ibu dari Reno
"Alhamdulillah terimakasih banyak Bu Fitri sudah mau hadir, semoga nanti kita jadi berbesan juga ya"
"Ahha tuan bisa saja, kalau gitu kenapa nggak di langsungkan saja?" seru Bu Fitri tersenyum penuh arti
"Boleh-boleh, selesai acara kita diskusikan Bu Fitri kalau bisa hahaha"
"Ya boleh lah" percakapan mereka terhenti saat ada tamu yang hendak baik ke pelaminan memberikan selamat. Bu Fitri maju menyalami Tante Ratih kedua mempelai dan orang tua Lutfiah.
Azka dan Kinara yang duduk di pojok aula tempat berlangsungnya acara, sejak tadi juga tak henti-hentinya tersenyum pada para tamu yang bertegur sapa.
"Ini Kinara ya?" tanya salah satu wanita istri dari kolega bisnisnya
"Iya Bu saya Kinara, adiknya pak Revan"
"Wah sudah nikah rupanya, kok nggak ada di undang? hamil berapa bulan?"
"Sudah tujuh bulan Bu, Alhamdulillah anak kami kembar, Kami menikah di Jerman Bu di tempat asal saya" kini Azka yang menjawab dengan senyuman khasnya
"Wah, suaminya bule pantesan, saya juga pernah denger kalau anak perempuannya pak Wibowo udah nikah kirain itu hoax ternyata nikah beneran, selamat ya semoga baby dan ibunya lahir selamat"
"amiiin terimakasih Bu, silahkan dinikmati sajiannya" ucap Kinara menangkupkan kedua tangannya di dada
Setelah seseibu itu pergi, Kinara kembali duduk di kursinya sembari mengusap-usap perutnya.
"Masih sakit?" tanya Azka nampak khawatir
"Nggak terlalu sakit tapi kaki aku pegel, mana udah mulai bengkak "
"Kita istirahat aja di kamar ya"
"Iya bentar pegel banget mas kaki ku"
"Nanti di kamar mas pijitin"
Azka dengan hati-hati dan telaten memapah sang istri keluar dari aula dan berjalan menuju ke kamar hotel.
"Hei,bumil capek?" suara cempreng milik Reno menganggu gendang telinga Azka. ia menoleh ke belakang rupanya Reno berjalan berdua dengan Hanan di sampingnya.
"Mau kemana Lo?" tanya Azka
"Dari toilet mau keluar dulu bentar, ada ibu gue di depan parkiran" jawab Reno.
"Kalian kayak kembar Siam kemana-mana barengan mulu, jangan-jangan Lo geser ya ren?" tanya Azka memicingkan matanya
Plak
"Enak aja Lo ngomong, gue normal" sahut Reno tak terima
"Hahahah gitu aja marah, bye gue mau bobo cantik dulu daaah" ucap Azka yang sudah tiba di depan pintu kamar.
"Hati-hati Lo jangan nge-gas kasihan bini Lo hamil besar"
"Ck apaan sih ngeres banget otak Lo" ucap Azka
"Ya situ kali yang ngeres wleeek" sahut Reno berlari kecil sebelum mendapat pukulan dari Azka.
Hanan yang sejak tadi hanya menjadi pendengar diantara mereka, menundukkan kepalanya tanda memberikan hormat pada Kinara yang ia tahu kalau itu Keisya sang CEO tempat ia bekerja. bahkan sampai sekarang pun Hanan masih belum mengetahui tentang Kinara dan Keisya.
Kinara tersenyum membalas anggukan Hanan yang menunduk hormat padanya.
"Dia karyawan baru yang gantiin om Bambang sementara" ucap Kinara setelah Hanan berlalu
"Owh, jadi beneran dia kerja di kantor, kirain Reno cuma hoax"
"Nggak, karena kak Revan mendadak ngabarin kalau om Bambang minta cuti sementara karena istrinya mau melahirkan anak keduanya di kampung, setelah berusia tiga bulan nanti baru akan di bawa kembali ke sini katanya"
"Owh gitu, kenapa harus jauh di kampungnya kan disini udah banyak fasilitas layanan kesehatan lengkap"
"Maunya om Bambang dan istrinya gitu mas, mau lahiran disini tapi orang tua istrinya sudah sepuh dan nggak bisa perjalanan jauh jadi minta istriya lahiran di sana saja"
"Oh gitu"
Kinara berbaring diatas ranjang dengan kaki terjulur. Azka duduk dan mengambil salah kaki Istri nya lalu menaruhnya diatas pangkuan dan memijit perlahan-lahan.
Sementara itu di atas pelaminan terjadi kepanikan di raut wajah Revan setelah salah satu anak buah nya naik ke pelaminan dan membisikkan sesuatu padanya.
"Jemput adik ku sekarang juga, dan kalau bisa bawa Reno juga Aldo yang jago bela diri, lokasinya tidak jauh dari sini kan?"
"Siap tuan, saya sudah mengirim salah satu anak buah kesana sekarang"
"Mas ada apa?" tanya Vivi yang melihat kegusaran suaminya setelah anak buahnya pergi.
"Keisya kecelakaan, kamu yang tenang ya selesai acara kita kesana, anak buahku sudah ke tempat kejadian"
"Baiklah" ucap Vivi akhirnya karena tidak mau membuat Revan semakin cemas jika ia banyak bicara lagi. apalagi acara masih ada satu jam lagi baru akan selesai"
**
"Ren aku pergi dulu ya,ada temen ku kecelakaan di tol tidak jauh dari sini" ucap Hanan dengan raut khawatir
"Oh iya nanti gue susulin Lo share lokasi aja"..
"oke"
Hanan berlari kearah motornya terparkir dan tanpa buang waktu ia melaju meninggalkan pelataran hotel menuju ke tempat kejadian.
sepuluh menit kemudian ia telah sampai di tol tempat sang teman kecelakaan, sudah ada satu orang yang menarik perhatiannya saat ia masuk di kerumunan orang.
"Bukannya ini anak buah pak Revan" batinnya
"Mas, bisa bawa mobil?" tanya salah satu bodyguard yang ditugaskan Revan untuk menjemput sang adik dari pesantren.
"Saya tuan?" tanya Hanan bingung
"Iya kamu, bisa kan?" nona muda dan sepupunya terluka harus cepat di bawa kerumah sakit Citra Husada sekarang"
"Ku..kunci mobilnya mana tuan?"
"Itu mobil kantor saya disana ayo cepat, her, kamu urusin disini ya saya bawa nona muda dan lainnya kerumah sakit" ucap salah satu bodyguard itu
"Siap"
Hanan masuk ke dalam mobil yang ia tunjukkan oleh pria berseragam hitam tadi tanpa bertanya terlebih dahulu, ia sangat familiar dengan mobil yang akan ia kemudikan namun tidak bermain bertanya karena kondisi darurat.
Setelah semua masuk ke dalam mobil seorang bodyguard duduk di kursi depan menunjukkan arah pada Hanan.
"Astaghfirullah tuan, motor saya gimana nasibnya saya lupa" tanya Hanan setelah mobil melaju cukup jauh
"Itu urusan nanti, keselamatan nona muda lebih penting, nanti saya ganti kalau motor mas hilang"
"Lah baiklah tuan, tapi saya tadi mau lihat teman saya yang katanya kecelakaan juga di sini"
"Teman kamu yang mana, penumpang nya cewek semua, teman saya yang satu sopirnya sudah di bawa sama mobil di depan sana" ucapnya menunjuk mobil hitam yang berjalan tak jauh dari mobil yang mereka naiki.
"Teman saya cewek"
"Udah fokus aja nyetir nanti di bahas"
Hanan memilih diam meski hatinya tak karuan memikirkan nasib Arini yang belum ia temukan. tapi alamat yang tadi di ucapkan Arini di telepon adalah benar arah jalan tol.
Setelah sampai dirumah sakit Hanan tidak sempat lagi melihat korban yang di bopong oleh perawat memasuki ruang IGD. tangannya sibuk memencet tombol panggil pada satu nama yakni Arini. tapi ponselnya tidak terjawab.
"Mas" teriak bodyguard yang tadi
"Iya tuan" Hanan berlari kecil menghampiri pria berseragam hitam itu di depan pintu IGD.
"Ini tas milik temannya nona muda, ponselnya berdering terus"
"Arini?" ucap Hanan saat melihat tas yang di sodorkan oleh pria itu.
"Loh tuan kenal sama pemilik nya?"
"I..ini tas punya temen saya tuan, yang tadi sempat nelpon katanya kecelakaan di tol, dia luka-luka tapi sepupunya luka parah" jelas Hanan
"Setelah itu?"
"Setelah itu saya tidak tahu tuan karena ponselnya mati"
"Berarti mas bukan orang lain, tunggu bukannya mas karyawan baru di kantor?"
"I...iya saya karyawan baru di kantor ksw group"
"Oh pantas mas, ya sudah mas bisa jaga di sini sembari kita menunggu tuan besar dan keluarga datang" ucap pria itu menepuk pundak Hanan.
"Tapi...motor saya gimana tuan saya mau kembali ke hotel, teman saya udah nungguin disana"
"Astaghfirullah oh iya maaf, sebentar ya saya hubungi teman yang di TKP"
Hanan bernafas lega, tapi otaknya terus berfikir siapa yang bersama dengan Arini, kenapa bisa Arini kenal dengan bodyguard yang ia tahu anak buah bosnya, lalu yang mereka sebut nona muda siapa?.
Pertanyaan itu timbul tenggelam dalam benak Hanan. hingga akhirnya Hanan memilih duduk di atas kursi tunggu depan pintu IGD. pria berseragam hitam tadi juga tengah duduk menunggu sembari menghubungi entah siapa.