KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
63 Penyesalan dan rasa bersalah



"Seperti inikah calon suamiku?" ucap lembut Lutfiah namun penuh penegasan. membuat Revan seketika bungkam dan perlahan menurunkan tangannya dengan sedikit kasar.


"Kak lebih baik kita keluar, biar bu dosen aja yang tangani adik lo" ucap Aldo menepuk pundak Revan.


Lutfiah mendekati Kinara setelah Revan dan Aldo keluar dari kamar. dengan lembut ia memeluk Kinara, mengusap punggung dan kepala Kinara penuh kasih membiarkannya menumpahkan semua tangisnya di pundak Lutfiah.


"Menangislah sepuasmu, mbak akan tetap ada disini sampai kamu sendiri yang suruh mba pergi." ucap Lutfiah lembut sembari membelai lembut kepala Kinara.


Sementara itu di kediaman tuan Anderson, Azka yang baru beberapa jam tiba di rumah merasa gelisah tak menentu. sejam lalu trio pengacau sudah pamit undur diri meninggalkan rumah dan kembali ke habibat masing-masing.


Hari sudah sore tapi Kinara juga belum pulang, tak seperti biasanya Kinara telat pulang hingga sesore ini. Mama Hanna sejak beberapa hari memang mengurung diri di kamar dan keluar saat akan sarapan, makan siang dan makan malam saja. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu masih sangat terpukul dengan ulah Azka yang nekat mengakhiri hidupnya.


Entah karena alasan apa ia tak pernah membesuk Azka di rumah sakit, ia hanya meminta Rena atau asisten lain untuk mengantarkan makanan dan melaporkan kondisi Azka padanya selepas dari rumah sakit.


Barulah saat Azka pulang kerumah beliau mau keluar dari kamar dan menyambut kepulanagn putra keduanya.


"Ma, Kinara mana kok tumben belum pulang?" tanya Azka yang tiba-tiba sudah masuk ke dalam kamar utama.


Mama Hanna terdiam sejenak mencoba menyiapkan jawaban yang tepat pada sang anak. bary beberapa saat sebelum Azka masuk ke kamar, ia mendapat kabar dari sang suami tentang kondisi Kinara.


"Diaa ada di rumah si kembar, tadi pagi udah pamit sama mama mau kesana pulang sekolah. mungkin nginep kali makanya nggak pulang, udah mama telpon sih tapi nggak di angkat mungkin nggak denger" Jelas sang mama berusaha menutupi kondisii Kinara sebenarnya.


"Ck, ya udah aku susulin kesana lah"


"Nggak!" ucap mama cepat


"Kenapa sih ma?"


"Kamu ingat apa kata dokter Hanum dan dokter Arif, kamu nggak bisa keluar kemana-mana tanpa pendamping!"


"Ck, kan mama bisa, biar di anter pak Puji ma!"


"Kamu mau tumbalin nyawa mama dan papa karna sikap egoismu itu Azka?"


"Apa kamu nggak ingat kalau kita dalam bahaya huh?"


Azka membeku mendengar ucapan sang mama. jelas ia tak akan mau dan tak kan pernah Rela jika ada hal buruk yang terjadi pada kedua orang tuanya. Azka memilih diam dan keluar dari kamar mama menuju ke teras rumah.


Mama terhempas kelantai setelah berucap demikian. ia tahu ini akan menyakiti hati anaknya tapi tak ada pilihan lain untuk membuatnya berhenti berbuat nekat tanpa pikir panjang.


"Mbak Ren, Kinara ada ngabarin mbak nggak?" tanya Azka begitu ia sampai di teras.


"Waduh saya nggak tahu den, daritadi saya nggak pegang hp, Nona muda juga jarang nelpon saya kalau nggak penting-penting amat, lagian ngapain juga mau nelpon saya den?!" ucap Rena ceplas ceplos dengan cengiran khasnya.


"Ya udah lanjutin aja kerjanya mbak"


"Wokeeh"


Azka kembali ke dalam kamar dengan hati gelisah, setelah hampir 7 bulan menikah baru kali ini ia merasa gelisah seperti ini tidak seperti sebelum-sebelumnya. meski mereka jarang bertemu dan berinteraksi secara intens tidak sedikitpun Azka merasa sekhawatir saat ini.


"Apa gue telpon aja ya" batinnya bergejolak


"Aargh kenapa jadi gini sih!" Azka mondar mandir di dalam kamar antara hendak menelepon Kinara atau tidak.


"Ah Aldo aja dah, kan kemana-mana sama dia" batinnya girang, sejurus kemudian ia mengubungi sahabat rasa musuh nya itu.😃😃


tut tut tut


nomor yang anda tuju tidak menjawab silakan tinggalkan pesan atau tekan satu untuk meninggalkan pesan.


"Aiishh kemana lagi nih anak, telpon nggak di jawab!" gerutu Azka.


Tak berselang lama ponselnya kembali berdering.


"Napa Ben?"


"cuma mw ngabarin lo kalau gue udah ketemu si Udin kemarin sore di kafe, "


"Trus?"


"Ya elah lo amnesia ya, ini soal pak Londo ogeb!"


"Emang kenapa tuh orang?"


"Etdah lo baru berapa hari sih di rumah sakit udah amnesia aja lo."


"Ck iya gue tahu maksud lo, kesimpulan lo apa?"


"Hah..pak Londo itu ternyata masih hidup. yang mati 14 tahun lalu itu adiknye"


"Maksud lo?"


"Nggak ada siaran ulang, selesai ujian si Udin mau ngajakin lo ketemu di kafe"


Azka membuang pandangan ke sembarang arah matanya menelisik setiap sudut kamar yang jarang ia tempati semenjak menikah. matanya tak sengaja menangkap sebuah buku di balik bantal yang biasa Kinara pakai.


Azka menautkan kedua alisnya dan berjalan kearah tempat tidur. di sibaknya bantal itu dan mendapati sebuah buku harian berwarna biru muda.


"Ini punya Kinar" batinnya seraya membolak balik buku itu. sepersekian detik ia membuka buku harian dan mulai membacanya.


Sementara itu di apartemen milik Revan, pak Wibowo menangis pilu, pria separuh abad itu tengah menatap foto keluarga nya.


"Maafkan aku Amina, aku tak bisa memberi kebahagiaan untuk mu dan anak kita, beruntung kita mengasuh Revan yang sangat peduli dan sayang pada anak-anak kita. aku tak tahu harus dengan apa aku membalas semua pengorbanan Revan pada kita. meski ia bukan anak kandung kita tapi aku sangat bahagia dan bersyukur bisa mengasuh dan membesarkannya.


"Aku menyesal tak bisa membawa Keisya kembali padamu saat itu, aku menyesal telah membuat kebohongan besar pada Kinara, dan aku menyesal memaksanya menuruti kemauanku atas wasiatmu, aku tak yakin bisa menjaganya di saat aku harus menjalani beragam terapi demi bertahan untuk mereka.


"Aku sangat menyesal sudah menyakiti anak-anak kita, aku menyesal Amina. aku tak akan pernah bisa tenang jika tak membalaskan kematian mu dan kepergian Keisya karna ulah Anthony.


"Aku tahu kau pun tak ingin aku menyakiti siapapun, hanya ini yang bisa ku lakukan untuk menebus rasa bersalah dan penyesalan ku selama ini, maafkan aku Amina, tunggu aku disana, Aku mencintaimu".


Revan baru saja tiba di apartemen untuk melihat kondisi ayahnya, langkahnya terhenti tepat di ruang tengah saat mendengar tangisan pilu ayahnya yang membuatnya semakin merasa bersalah.


"Maafkan Revan yah, belum bisa memberi kalian kebahagiaan, hutang jasaku pada kalian begitu banyak, aku tahu kalian tak ingin menyakitiku, aku tahu lebih dari yang kalian tahu, maafkan aku yang belum bisa membalas jasa kalian padaku dan ibuku" batin Revan sedih


Revan mengusap air matanya lalu menghampiri sang ayah yang masih tergugu dalam tangisnya.


"Yah, aku pulang!" ucapnya seraya mencium punggung tangan sang ayah.


"Ba..bagaimana adikmu?" tanya sang ayah tanpa menoleh pada Revan


"Dia bersama calon menantumu, Insha Allah dia baik-baik saja. tadi aku meminta Aldo untuk mengantar pulang kerumah mertuanya saja sekalian juga aku minta Lutfiah menginap disana".


"Bagaimana Keisya?"


"Keisya...." Revan berhenti sejenak mengatur nafasnya. ada rasa tak tega jika harus mengatakan ini pada sang ayah.


"Katakan lah" ucap sang ayah pelan tapi penuh penegasan.


Revan menarik nafasnya pelan " Keisya drop yah" ucap Revan menunduk membuat sang ayah semakin histeris. Revan memeluk sang ayah, berbagi kesedihan dan penyesalan. isak tangis mereka pun tak bisa di bendung.


"Ayah menyesal" ucap ayah tergugu di sela isak tangisnya.


"Maafin Revan yah, jalan Tuhan lebih indah dari rencana kita yah, yakinlah ada pelangi setelah hujan, kita akan menemui mereka bersama-sama, Revan faham dengan sifat Kinara, dia nggak akan mungkin sanggup untuk membenci kita,"


"Ayah belum siap bertemu adik-adikmu"


"Biar Revan yang yakinin mereka yah, biarkan Revan yang mengurus mereka"


"Apa kau yakin mereka mau memaafkan ayah?"


"Yakin, percayalah ayah aku faham siapa adikku, beri mereka sedikit waktu"


"Terimaksih nak, ayah bangga padamu"


"Terimakasih juga untuk segala nya yang sudah ayah berikan padaku"


Revan menuntun sang ayah menuju ke kamarnya, setelah memastikan pria paruh baya itu meminum obatnya, Revan bergegas meninggalkan kamar sang ayah.


Revan memasuki kamar yang ia tempati, merebahkan tubuhnya di atas kasur seraya menatap langit-langit kamar. sepersekian detik kemudian ia menyambar ponsel di saku celana nya dan menghubungi seseorang.


"Aku minta hasilnya malam ini juga"


"Apa kau yakin mereka ada di tengah hutan?"


"Apa kau bilang, dia keluar dan menuju ke kota maksudmu kearah sini?"


"Baiklah tetap awasi mereka, dan ingat serahkan padaku semua dokumen aset dan saham yang sudah berhasil kau ambil"


"Perketat pengawasan mu jangan sampai lengah"


"Apa test DNA yang aku minta sudah ada?"


"Baiklah serahkan padaku besok"


"Dia ayah biologisku"


"Baiklah selamat malam"


tut


Revan mengakhiri panggilannya. menutup rapat kedua matanya. sungguh hari ini apa yabg ia khawatirkan nyatanya terjadi juga. soal jati dirinya, keluarganya dan semua hal yang melekat padanya seolah saling terkait satu sama lain dengan satu orang yang sama. Tuan Anderson, Om Denias, tuan Bagas bahkan orang tua dan kedua adik kembarnya.


Entah mengapa seolah takdir sedang mempermainkannya. kenyataan pahit saat ia tahu jika orang tua yang ia anggap sebagai orang tua kandung nyatanya bukanlah keluarga kandungnya. Begitu besar kasih sayang yang mereka berikan padanya membuatnya merasa harus menebus dan membalas semua jasa mereka terhadapnya selama ini.