KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
71 Kenyataan Baru



"Mas yakin itu Amira?" tanya pak Wibowo pada kakak iparnya.


"Iya, dia Amira adikku yang di nyatakan meninggal dan tak pernah di temukan jasadnya" tuan Denias menjawab santai


"Jadi selama ini Pak Santoso hanya tangan kanan Mr.Andrew?" lanjut tuan Anderson penasaran


"Ya benar"


Mereka semua terdiam mendengar jawaban tuan Denias.


"Kasus tabrak lari seorang anak sma tabg tewas di tempat apa itu perbuatan Anthony tuan?" Yusuf yang sedari tadi diam akhirnya bersuara juga.


"Ya, dan aku membuka kembali kasus itu setelah sekian lama buntu" jawab tuan Denias


"Apa mas yakin Amira bisa menghentikan Anthony, bahkan kita saja hingga hari ini belum mendapatkan petunjuk dimana dia bersembunyi, kondisi istri tuan Bagas juga kita tidak mengetahuinya" pak Wibowo berujar


"Serahkan semua pada Amira, dia sudah lebih dulu mengetahui dimana keberadaan Anthony daripada kita" dengan enteng tuan Denias berucap


"Hah?"


Semua melongo mendengar ucapan tuan Denias yang seperti teka-teki.


"Kau yakin?" tanya tuan Anderson tajam


"100% yakin. bukankah orang seperti Mr.Andrew lebih mudah menangkap musuh, baginya itu hanya masalah kecil jika hanya berurusan dengan Anthony" tuan Denias tersenyum menyeringai.


Tuan Anderson memicing, melihat gelagat aneh dari tuan Denias, merasa yakin akan satu hal yang tidak ia ketahui.


"Masih nggak percaya And?" tanya tuan Denias yang menyadari tatapan dari besannya.


"Sudah ku katakan dari awal jika Amira sudah menyelidiki kita sejak tiga tahun lalu, dan dia pernah bertemu Anthony 6 tahun lalu saat kematian bibi dari suaminya, apa kalian ingat konglomerat yang pernah bangkrut hingga triliunan hanya dalam satu malam? padahal selama itu ia di kenal pebisnis yang bersih dan jauh dari kata korupsi. dan asal kalian tahu yang terjadi padanya kala itu, terjadi juga pada kita saat ini, dan pelakunya hanya satu, Anthony!" ujar pak Denias panjang lebar.


"Asal kalian tahu suami Amira adalah bos mafia kelas atas yang tidak pernah terendus keberadaannya hingga kini" lanjutnya membuat semua yang ada dalam ruangan melongo mendengar penuturannya.


**


Sesuai janjinya, malam itu selesai melakukan tugasnya di rumah sakit, dokter Fritz yang merupakan sepupu jauh dari Azka datang kerumah tuan Anderson dan menginap disana.


Sejak sore menjelang maghrib Azka datang ee kamar mamanya, meminta maaf dan memeluk erat wanita yang telah melahirkannya itu.


Ia mengatakan jika Dokter Fritz akan datang dan menginap di rumah mereka.


"Gimana kabar anak istrimu Fiz?" tanya Mama Hanna. saat ini mereka sedang berkumpul di ruang keluarga menyaksikan acara televisi sembari di temani beberapa cemilan.


"Alhamdulillah mereka sehat semua tan, kemarin si bungsu merengek ngajakin main ke gunung tapi aku yang nggak bisa."


"Gimana kabar papamu?"


"Papa masih sehat tapi tidak sebugar dahulu, semenjak ibu meninggal, papa lebih banyak diam di rumah, paling hanya ke kebun beberapa kali dalam seminggu untuk ngecek kondisi tanamannya itu aja sih"


"Si kembar emang jauh ya rumahnya sama papa mu?"


"Sifa udah ikut suaminya ke jepang rencana mau pindah kewarganeraan disini tahun ini, kalau Afif masih ngabdi di pesantren secara dia kan mantunya kiyai tan, kalau jarak masih dekat karna masih satu kecamatan hanya beda desa aja".


"Yah, setidaknya papamu masih ada yang merawat, kamu masih belum akur dengan mereka?"


"Entahlah tan, bahkan semenjak kematian ibu mereka seolah masih menjaga jarak denganku. aku tak tahu alasan mereka. Sifa masih bisa ku ajak bicara meski terkesan dingin, tapi Afif masih saja seperti dulu. berulang kali aku mencoba mengakrabkan diri dengannya tapi dia masih saja tak menganggap kehadiranku".


"Sabar ya, semua pasti indah pada waktunya, biarkan saja mereka saat ini dengan apa yang mereka yakini, tapi percayalah semua akan kembali pada waktunya. Seandainya dulu kakek mu John tidak berlaku buruk pada papa dan ibumu, tapi sudahlah semua sudah terjadi, hingga akhir hayatnya kakekmu baru menyadari kesalahan fatalnya pada orang tuamu dan nenek Kris serta keluarganya."


"Biarlah tan semua sudah terjadi, mungkin ini ujian untuk keluargaku, ya udah tan aku balik ke kamar dulu mau istirahat, Azka juga belum pulang dari masjid"


"Sejak keluar dari rumah sakit emang lebih suka lama-lama di masjid dan makin rajin ikut pengajian apalagi kalau ada kyi kondang yang lagi viral itu, pokoknya udah nggak peduli biar hujan tetap di libas" kata mama Hanna


"Baguslah berarti kejadian kemarin emang bisa jadi titik balik kondisi psikologinya, semoga segera membaik" ucap dokter Fritz


"Amiiin tante juga berharap begitu Fiz, tante nggak tega kalau liat Kinara di ajak ribut terus sama Azka biarpun hal sepele sekalipun, tante kadang nggak ngerti jalan pikiran anak sendiri" ujarnya sedih


"Yang sabar tan, Insha Allah semua akan indah pada waktunya"


"Eits sejak kapan kamu bisa ngomong Insha Allah?"


"Eheheehe udah hampir setahun tan, hehe" dokter Fritz malu mendengar pertanyaan tante nya.


"Hah, serius kamu Fiz? kamu udah muallaf beneran?"


"Emm.. sebenarnya sejak tiga tahun lalu sih tan sebelum aku ngelamar Indah"


"What?? beneran kamu Fiz, kok nggak ngomong sih kalau kamu muallaf?"


" Ya gimana ya.....soalnya kakek John waktu itu lagi kritis jadi aku belum berani hehe"


"Hem, gitu, baguslah tante bangga sama kamu"


"Tan, itu ponselnya nyala dari tadi" dokter Fritz memberi kode


"Oh, iya nggak liat soalnya di silent, y udah kamu istirahat aja gih"


Dokter Fritz berlalu menuju ke kamar tamu sedangkan Mama Hanna sibuk berbicara serius di telepon.


"Haduh jadi bener wanita itu Amira, ya Allah alhamdulillah, tapi gimana aku harus ngomong sama Kinara ya, soal Keisya kemarin dia masih belum mau cerita, trus kalo aku harus cerita soal Amira gimana reaksinya nanti" batin mama Hanna gelisah.


"Ya Allah berikan hamba jalan keluar dari masalah ini"


"Ma ngapain kok bolak balik kayak layangan putus?" tanya Azka yang baru saja pupang dari masjid.


"Eh..eh kamu udah pulang?" tanya mama Hanna gugup


"Ah, eng,, enggak kenapa-napa kok, ya udah mama siapin makan malam dulu ya,"


"Aku udah kenyang makan nasi kotak dari jamaah yang lagi syukuran aqiqah anaknya tadi, ni aku bawain oleh-oleh juga dari sana kata mereka namanya,....berkat".


"Wah kebetulan papa mu belum pulang bisa mama panasin lauknya hihi, makasih sayang" ucap mama gembira meraih kresek dari tangan sang anak. Azka hanya geleng kepala melihat tingkah mamanya yang berlari menjauh ke arah dapur.


"Hai, sorry nunggu lama, gue ke rumah jamaah dulu yang lagi syukuran aqiqah anaknya. lo udah makan malem?" tanya Azka pada sepupu jauhnya yang duduk di sisi ranjang sembari membaca buku.


"Biasa aja bro, lo banyak berubah sekarang. baguslah jadi pekerjaan gue udah sedikit ringan"


"Bayaran lo juga bakal di kurangin " sahut Azka


"Aset gue banyak biar nggak lo bayar juga gue nggak masalah"


"Sombhhhongg lo..." ejek Azka


"Jadi ada apa lo manggil gue kesini? btw kayak punya ikatan batin aja, tadi pagi gue udah rencana mau kesini sekalian nginep nyatanya sore lo nelpon gue duluan hahaaa" dokter Fritz berkelakar


"Pede amat lo "


" Jadi apa yang bisa gue bantu, buku harian yang gue minta buat lo isi gimana?"


Azka menghembuskan nafas berat lalu menutup matanya sejenak. " kata pak kyai aku harus lebih banyak ikhtiar dan mendekatkan diri pada sang khalik supaya bisa sembuh karna semua yang ada di dunia ini tak lepas dari campur tangan Allah, gue harus benar-benar belajar ikhlas, tapi susah buat ngelupain mimpi buruk itu, dan itu yang bikin aku selalu ribut sama Kinara untuk hal sepele sekalipun, gue berusaha tapi tetap nggak bisa selalu aja bayangan buruk itu datang terus dan terus" ucapnya panjang lebar.


"Yang bikin lo terpancing apa sih?"


"Gue nggak tahu, sejak kejadian dia menghilang semalaman papa nekat sewa bodyguard buat kami, dan payahnya papa malah nyewa sahabat gue. sejak saat itu hubungan kami mulai renggang di tambah anak buah Anthony mulai mata-matain gue jadi gue milih tinggal di apartemen, belum lagi masalah Alexa waktu itu yang bikin papa naik pitam, sejak saat itu hubungan gue sama Kinar semakin berjarak, sampai pada puncaknya papa nyariin rumah kontrakan buat gue sama anak-anak buat ngilangin jejak dari anak buah Anthony. gue tahu jauh sebelum ada gue diantara mereka, mereka lebih dulu kenal baik sama Kinara bahkan mereka satu sekolah dari tk sampai sekarang. tapi saat gue sering liat Kinara bareng sama Aldo bahkan sering banget mereka ngabisin waktu bareng, bikin gue panik, gue marah, gue nggak terima gue langsung teringat almarhum Rafka, gue takut kehilangan. dan saat gue tahu ada guru baru di sekolah yang ternyata kakak kelas Kinara di sekolah gue juga nggak terima setelah gue tahu kalau dia juga nyimpen rasa sama Kinara, gue bener-bener nggak terima"


"Gue sering mimpiin Rafka akhir-akhir ini, gue masih belum ikhlas Rafka pergi dengan cara tragis, gue belum tenang kalo belum ngebales kematian Rafka, hikkss hikkss gue nggak sanggup begini terus om" akhirnya pemilik tubuh tinggi sempurna itu luruh juga. tak dapat di pungkiri di balik wajah tampan rupawan ada sekian banyak luka tersimpan di sana, luka dalam yang membuatnya beberapa kali nekat ingin mengakhiri hidupnya, trauma itu masih melekat erat di jiwanya.


Untuk beberapa saat dokter Fritz membiarkan Azka menangis menumpahkan segala perasaannya sembari memikirkan rencana yang bagus untuk mengobati trauma mental yang dialami Azka.


Selang dua jam Azka mulai tenang, Dokter Fritz memberinya obat lalu setelahnya ia biarkan Azka tertidur hingga pagi menjelang. setelah memastikan Azka tertidur ia segera keluar kamar menemui mama Hanna.


"Tan, belum tidur?" tanya nya saat hendak ke dapur mengambil air putih


"Belum masih nunggu pamanmu pulang, sepertinya bakal nggak pulang lagi ini udah jam sebelas malam."


" Tan, boleh izin nggak?"


"Izin? mau ambil air izin segala kamu ini"


"Tante sih liatnya aku pegang teko, aku mau izin bawa Azka jenguk papa boleh?"


"Heum? ke atas gunung? yang bener aja kamu Fiz!!!"


"Beneran, ini rencana dadakan sih tapi setelah di pikir-pikir nggak ada salahnya Azka aku ajak kesana, itung-itung refreshing abis ujian"


"Bener juga sih, terserah dia nya aja mau apa nggak, tante mah nggak mau ngelarang asal semua itu baik buat Azka supaya bisa cepat sembuh"


"Jadi tante setuju?"


"Ya, silakan aja tapi syaratnya ajak Kinara, terus kalo bisa papa kamu ajak ke mari sesekali, sudah puluhan tahun tante nggak ketemu papa kamu, sejak menikah malahan"


"Ahhaa bisa aja tante, okelah kalau gitu aku setuju, btw tante ada masalah?"


"Tante pribadi nggak ada masalah, masih masalah yang kamu tahu aja selama ini"


"Emang ada yang sulit ya Tan?"


"Gimana ya Fiz, tante baru aja dapet kabar dari pamanmu kalau adik kembar ibunya Kinara ternyata masih hidup dan sekarang udah ada di negara ini"


"Ya baguslah tan, tinggal ngomong aja kan ke Kinara"


"Nggak semudah itu, Kinara itu bukan tipe wanita frontal yang gampang cerita ini itu kalau ada masalah, dia lebih senang memendam sendiri tanpa mau berbagi dengan yang lain, tante bingung gimana harus ngomong sama Kinar apalagi soal adik kembarnya yang masih hidup dia juga baru tahu kenyataannya, dan sempat mengamuk karna merasa di bohongi"


"Merasa di bohongi?"


"Hem, lima belas tahun lalu adik kembarmya hilang tanpa jejak, dan kami sepakat memberitahu pada Kinar jika Keisya meninggal karna kami khawatir akan kondisinya jika tahu adik kembarnya menghilang. setahun setelahnya Amina ibu dari Kinara berniat menjodohkan Azka dan Kinara, awalnya aku tak setuju karna ku pikir aku tak mau memaksakan jodoh untuk anak. entah apa alasan Amina memaksa kami menjodohkan Kinara dan Azka, akhirnya pamanmu menyetujui setelah kejadian tragis yang kami alami setelah kembali ke Jerman. aku baru tahu alasan pamanmu mendojohkan mereka saat akan kembali ke Indonesia beberapa bulan lalu sebelum mereka menikah, karena ternyata Anthony yang menculik Keisya dan menyekapnya selama lima belas tahun, Anthony hanya tahu jika semua aset orang tua Kinara atas nama Keisya, namun Anthony tak tahu jika Keisya itu kembar."


"Rumit kayak benang kusut tan"


"Ya entahlah mungkin sudah seperti ini jalan takdir kami Fiz"


"Aku akan bantu bicara sama Kinara tan, tapi kalau boleh tahu apa Keisya tahu dia punya kembaran?"


"Tahu, tapi kondisi Keisya sekarang belum stabil karna dia juga punya tekanan mental bahkan mungkin lebih parah dari yang di alami Azka."


"Hemm, siapa yang mengobatinya selama ini?"


"Dokter Rahma"


"Aku turut prihatin tante, aku bakal fokus dulu sama Azka dan Kinara supaya hubungan mereka membaik lagi, trauma Azka juga sembuh"


"Hem, semoga saja Fiz, tapi Kinara juga nggak tahu soal penyakit Azka, aku baru memberitahukannya sore tadi, entah bagaimana dia akan bersikap nantinya, tante cuma nggak mau nambah beban"


" ya udahlah tan, tenangin diri aja dulu, aku mau ke kamar"


"Hem, jangan lupa obatnya Azka ya,"


"Tenang aja tan"


Mereka tak menyadari jika sedari tadi Kinara mendengar semua pembicaraan mereka di balik tembok pembatas ruang keluarga dan ruang makan.