
Keisya sedang asyik melihat koleksi pakaian di butik, sudah dua Minggu ini ia ikut aktif mengecek kondisi butik bergantian dengan Kinara sesuai dengan jadwal yang sudah Kinara atur.
Awalnya memang Keisya masih keberatan dengan keputusan yang Kinara buat seolah-olah mengatur hidupnya. tapi pada akhirnya Keisya menyetujui dengan sebuah alasan kenakan.
"Aku mau ikut menjaga toko yang penting jangan larang aku main ular tangga sama pegawai kalau jam istirahat" ucapnya kala itu membuat Kinara tertawa.
"Kamu suka main ular tangga? ya Allah kei, kirain kamu mau minta apa, mbak itu sengaja minta kamu terlibat jagain butik ibu biar nggak bosan di rumah, kamu tahu sendiri kan mama papa sibuk setiap hari, aku dan mas Azka juga sibuk, trus kalau kamu lagi nggak ada jadwal ke dokter mau ngapain di rumah? semua pekerjaan udah ada bagian masing-masing yang bertugas, mbak mau kamu punya kesibukan mulai sekarang, biar nggak melow terus, setidaknya kalau kamu di butik nggak bosan karena di sana banyak anak-anak yang kerja, kamu juga bisa nerusin bakat menggambar mu disana di ruang kerjaku, atau di ruang kerja ibu, atau dimana pun kamu mau, sampai disini ngerti kan?" ucap Kinara saat itu. Keisya mencebik tapi ia tetap diam karena mulai memahami maksud dan tujuan Kinara mengajak nya bergabung di butik.
"Iya, ngerti, mbak memang paling ngertiin aku, kok tahu aku suka menggambar?" sahut Keisya yang terkejut mendengar saudara kembarnya menyebut hobinya selama ini.
"Tempat sampah isinya penuh kertas bekas coretan sketsa baju dan rumah yang kamu gambar tuh lihat yang di bawa bik Siti" tukas Kinara menunjuk bik Siti yang lewat membawa tumpukan sampah dalam kantongan kresek.
"Hehehe" Keisya tersenyum malu menyadari kesalahannya.
Dan sekarang sudah dua minggu berjalan ia ikut andil menjaga butik saat tidak ada jadwal ke dokter dan yayasan. Keisya tersenyum saat melihat salah satu kain yang sedang di potong oleh karyawan.
"Mbak ini model baju yang saya buat ya kayaknya" tanya Keisya pada salah satu pegawai, sembari memegang kertas yang sudah lusuh dan melihat sketsa baju yang ada di kertas.
"Iya Kata nyonya muda sih buatan nona, dan nyonya meminta saya membuat ini untuk salah satu pelanggan nya yang datang kemarin sore, katanya sih pelanggan nya senang dengan model baju ini" jawab pegawai tadi
"Wah, ini kan model abaya modern, padahal aku buat ini untuk seragam pengajian" gumamnya.
"Ini memang untuk seragam Bridesmaids nona, kebetulan anaknya kyai yang mau nikahan"Jawab pegawai yang mendengar ucapan Keisya.
"Hah? jadi ini buat seragam pengiring pengantin? kenapa nggak pesen kebaya modern aja kok malah model abaya begini sih" ucap Keisya protes
"Kan pelanggan memang mintanya begitu, karena santri yang di tunjuk sebagai pengiring pengantin nya nanti" sanggah pegawai
"Ouh, gitu ya udah nanti hasilnya aku lihat ya, ini payetnya jangan terlalu rame loh mbak, nggak bagus, karena santri yang jadi pengiringnya kalau bisa ini di buat lebih feminim dan kasih aksen bros di sebelah kanan, trus ini pakein outer aja kayaknya lebih bagus, mbak cari kain yang warnanya kalem ya, ini permintaannya warna apa?" tanya Keisya setelah menjelaskan sesuatu yang menurutnya harus.
"Biru muda nona, jadi ini di rubah? mumpung belum saya potong semua, baru satu ini nona" ucap sang pegawai.
"Iya mau aku rubah aja kayaknya bagus, ini gambarnya sebenarnya belum fix total, yang bagian ini di ilangin aja mbak, kita ganti outer aja pake bahan tille motif sesuai warna inner nya" ucap Keisya
"Kayaknya memang bagus begitu sih nona, kalau seperti ini memang kayak ibu-ibu, trus nanti kita kasi aksen kupu-kupu di outernya gimana?" usul pegawai bernama Uya.
"Sip, usul yang bagus mbak, nanti aku bicarakan sama mbak Kinar lebih detailnya, kalau bisa kainnya juga kita ganti yang nggak panas plus menyerap keringat, tempat acaranya di gedung kan?"Keisya setuju dengan usul mbak Uya
"Kurang tahu kalau itu nona, coba nanti nona tanya aja sama nyonya Kinar ya"
"Oke, ini kapan acaranya?"
"Bulan depan nona, ini udah tengah bulan, acaranya kalau nggak salah pertengahan bulan juga"
"Masih cukup waktu mbak, ya udah kerja yang lain dulu aja mbak, ini desain mau aku rubah dulu"
"Baik nona"
Keisya kembali ke ruang kerja Kinara yang sudah dua Minggu ini ia tempati. semenjak bertemu dengan dokter Fritz seminggu yang lalu memang ia sudah memutuskan satu hal dalam hidupnya, melakukan apapun hal baik yang ia inginkan selagi masih di beri kesempatan oleh Tuhan.
Jika di bulan-bulan awal pertemuannya dengan dokter Fritz hampir setiap jam, kini setelah tiga bulan berlalu, ia hanya bertemu dokter Fritz seminggu sekali untuk memberikan laporan catatan harian yang ia tulis setiap hari.
Kinara tak pernah absen mengawasi setiap kegiatannya dari pagi hingga malam hari dan tak pernah sekalipun Kinara marah padanya jika ia melakukan satu kesalahan.
drrrt drrrt
Ponselnya bergetar, ada nomor tak di kenal sedang melakukan panggilan. Keisya diam sebentar hingga ponselnya berhenti tapi sedetik kemudian ponselnya kembali bergetar. Keisya langsung menjawabnya.
"Assalamualaikum dengan butik Amina, ada yang bisa kami bantu?" ucap Keisya mengira yang memanggil adalah pelanggan butik
", Waalaikumsalam, dengan nak Keisya?"
"Iya saya, maaf dengan siapa?"
"Kenalin saya Meri, Tante nya Reno di Kalimantan"
"Halo...halo"
"Iya halo" ucap Keisya setelah terdiam beberapa saat
"Masih denger Tante kan nak Keisya?"
"Iya, masih" ucap Keisya gugup bukan main
"Maaf kalau Tante lancang, Tante cuma mau ngabarin kalau Reno sekarang tinggal sama Tante di pedalaman Kalimantan, ya nggak pedalaman amat sih masih kota juga, kami tinggal di sebuah desa di Kalimantan, nak Reno nggak tahu kalau Tante hubungi kamu, jadi maaf ya jangan marah, ini nomor pribadi Tante bisa kamu simpan, Reno sekarang sedang sakit dia mengigau terus manggil nama kamu, Tante kasihan makanya Tante telpon kamu, jangan marah ya" ucap suara di seberang panjang lebar.
"Halo ..halo nak Keisya dengar suara Tante kan?"
"I...iya Tante, masih, salam buat mas Reno ya,semoga cepat sembuh"
Tut
Sambungan telpon ia putus begitu saja setelah mendengar ucapan panjang lebar wanita di sebrang telpon.
degup jantung Keisya berpacu lebih cepat, ia segera mencari tas berisi obat-obatan yang sudah di rekomendasikan oleh dokter Fritz.
Brak .. brak...prank...
Benda-benda di atas meja terjatuh karena Keisya tak sanggup menopang lagi tubuhnya salah satu tangannya mencari pegangan agar tubuhnya tetap seimbang.
"Assala.... astaghfirullah nona, tolong" panggil salah satu pegawai laki-laki yang mengenakan seragam office boy.
"Kenapa Jak? astaghfirullah nona, bantu angkat di sofa Jak" teriak mbak Dian yang kebetulan lewat di depan pintu.
"Mbak ambilin obat di tas ku" ucap Keisya terbata saat tengah di bopong oleh kedua pegawai butik.
"Tenang ya nona, Jak kamu telpon nyonya muda sekarang" ucap mbak Dian
"Iya" ucap pegawai yang bernama Jaka.
Keisya meminum obat yang sudah di berikan oleh mbak Dian, pegawai yang mengangkat tubuhnya saat oleng tadi.
"Nona istirahat dulu ya, ini udah waktunya makan siang, sebentar lagi nyonya muda datang"
"Iya".
****
"Ma, kenapa kamu harus nekat nelpon Keisya? kalau keluarga nya tahu Reno tinggal sama kita bisa jadi papa juga kena nantinya ma, papa nggak mau ada masalah, meskipun kita juga nggak kenal keluarga Keisya" ucap pak Danu pada sang istri
"Mama kasihan pa, dari semalam Reno mengigau terus manggil Keisya, udah tenang aja, nanti mama yang tanggung jawab kalau ada apa-apa janji deh"
"Beneran ma?"
"Iya percaya deh sama mama, mbak Fitri juga nggak bisa di hubungi soalnya, katanya Arzan mereka juga pindah ke desa di pelosok jaringan internet disana masih susah"
"Huh, semoga saja nggak ada yang terjadi setelah hari ini, papa kasihan sama Reno tapi mau di apa itu kemauan dia juga"
"Ya udah sana papa jagain Reno, angel udah waktunya tidur gantian"
"Iya iya".
Di dalam kamar Reno bermandikan keringat dalam keadaan tengah tertidur, dua selimut tebal sudah menutupi seluruh bagian tubuhnya sejak semalam hingga siang ini kondisi tubuhnya belum ada perubahan.
"Kei...sya,...Kei" igau nya dalam tidur
"Ren, bangun nak, sudah siang waktunya makan trus minum obat" ucap pak Danu memegang kening Reno yang berkeringat. suhu tubuhnya masih panas dan Reno masih merasakan kedinginan pada seluruh tubuhnya.