KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 53



"Mau kemana dim?" tanya Bu Fitri melihat sang anak sudah berpakaian rapi sepagi ini


"Mau ke rumah teman Bu, kebetulan mau beli perlengkapan untuk MOS nanti" jawab Dimas seraya memakai sepatu


"Emang sudah ada pemberitahuan? biasanya kalau sudah masuk sekolah baru ada dim" ujar Bu Fitri


"Tiap sekolah beda peraturan Bu, sekolah yang aku tempati kan madrasah bukan SMA negeri" balas Dimas meyakinkan ibunya


"Ya udah hati-hati, Arkan nggak kamu ajak?"


"Jangan tanya dia Bu, kita kan beda sekolah"


"Mau sampai kapan sih kalian selalu seperti ini? kalian bertiga anak ibu, kenapa selalu bersikap seolah kalian ini musuh?" ujar Bu Fitri sedih


"Nggak ada yang nganggap musuh Bu, dia aja yang selalu ibu dahulukan di banding kan yang lain, terutama mas Reno, apa-apa dia, sekarang kita begini juga karena dia, dan ibu tetap diam" sahut Arkan sarkas di depan pintu sembari berjalan keluar rumah dengan pakaian olahraga.


Bu Fitri diam sembari mengelus dada mendapatkan sikap anak tengahnya yang begitu menjaga jarak dengannya dan saudara nya yang lain. sedangkan Dimas diam-diam mengepalkan tangannya karena kesal dengan sikap angkuh Arkan yang selalu menyalahkan Reno dan ibunya.


"Aku pamit Bu, nanti masakin opor ayam kampung ya sama sayur tewel campur krecek, paling siangan aku udah pulang Bu" ucap Dimas membuat Bu Fitri sedikit mengeryit mendengar permintaan Dimas.


"Barusan kamu minta di masakin begituan, biasanya kalau ibu masak kamu nggak mau"ucap Bu Fitri


"Lagi pengen, oh ya sama pepes udang belimbing wuluh ya" tambah Dimas


"Iya iya dah sana pergi, hati-hati ibu nitip bawain pesenan ikan di tempatnya Bu Habibah ya kalau pulang"


"Oke Bu assalamualaikum"


"Waalaikumsalam "


Bu Fitri memandang kepergian dua anaknya dengan hati pilu, andai saja Reno ada disini, sudah setahun berlalu Reno memang tak pernah pulang meski di waktu lebaran.


Bu Fitri kembali ke dapur untuk memasak dan menyiapkan menu permintaan anaknya. isi bahan makanan di kulkas masih banyak hanya saja sayur tewel yang diminta Dimas harus memetik di kebun belakang rumah itupun jika ada yang masih muda.


Bu Fitri bergegas menutup semua pintu dan jendela rumah kayu yang di tempati nya. lalu keluar lewat pintu belakang yang tersambung dengan rumah barunya yang belum lama selesai di bangun, dari arah jalanan Desa rumah almarhum ibu dari Bu Fitri memang tampak biasa saja seperti rumah-rumah yang lain.


Tapi setelah Bu Fitri memutuskan untuk menetap di desa ia memutuskan untuk tidak merubah apapun dari bentuk rumah lama almarhum ibunya tetapi membangun satu rumah mewah tepat di belakang rumah ibunya karena tanah milik almarhum memang masih sangat luas. di sisi kiri dan kanan halaman rumah memang banyak pohon besar , dua pohon rambutan dan pohon jambu air di sisi kanan dan tiga pohon mangga yang lebat serta dua pohon beringin besar di depan pagar rumah serta tanaman perdu lainnya yang ada di sekeliling batas tanah milik almarhum.


Bu Fitri masuk ke dalam rumah berlantai dua itu lalu menutup semua pintu dan jendela. setelah itu bersiap-siap pergi ke kebun belakang untuk mencari buah nangka muda yang akan di jadikan sayur.


Tepat pukul satu Arkan pulang dengan membawa sebaskom ikan hasil tangkapannya di kolam, Bu Fitri langsung terkejut dan merasa aneh, selama hidup di desa tak pernah sekalipun Arkan mau pergi memancing atau mencari ikan di sungai apalagi bergabung dengan tetangga lain yang biasanya mencari lauk berupa ikan di pematang sawah.


"Kamu darimana Ar? ini kamu mancing?" tanya Bu Fitri heran


"Dapet dari rumah temen lagi panen ikan di kolamnya, tadi aku bantuin manen trus di bawain ini" jawab Arkan tersenyum harap.


"Ya udah, bilang sama temennya makasih banyak, kamu cepat mandi trus ganti baju, bau kolam tuh" titah Bu Fitri. Arkan tersenyum senang karena kali ini ibunya menghargai apa yang ia bawa.


Bu Fitri Kembali ke dapur membawa sebaskom ikan untuk di bersihkan di belakang rumah. sebagian ikan ia sisihkan untuk makanan kucing-kucing lokal peliharaannya. setiap jam makan siang mereka selalu pulang untuk makan dan istirahat hingga sore baru pergi lagi entah kemana dan kembali saat malam hari setelah semua orang tidur dan pagi setelah makan mereka juga akan pergi. begitu setiap hari tetapi Bu Fitri tetap senang karena bisa berbagi sebagian rezeki nya pada hewan.


"Bu sudah selesai?" tanya Arkan setelah selesai mandi


"Belum masih sedikit, kenapa?"


"Di goreng aja Bu kayak biasanya ya," pinta Arkan


"Iya, nggak ada yang lain?"


"Nggak, nanti aku sendiri yang goreng, sekalian belajar bantu ibu masak" ujar Arkan membuat Bu Fitri tersenyum hangat padanya.


"Boleh, ya udah sini bersihkan ikan yang sudah di sisik pakai air" titah Bu Fitri.


Arkan akhirnya turun tangan membantu ibunya membersihkan ikan yang sudah di sisik dan dibuang kotorannya.


"Bu, aku mau pelihara kambing boleh nggak?" tanya Arkan di sela kesibukannya membersihkan ikan


"Pelihara kambing?" tanya Bu Fitri terkejut menatap anaknya dengan wajah serius.


"Iya kambing Bu, pengen aja lihat temen-temen tiap sore bantuin bapaknya cari rumput sekalian nyari ikan di sawah, kalau pas lebaran idul Adha kambing nya bisa di jual. kayak si Ferdi itu bu, dari SD dia udah nabung buat biaya kuliahnya nanti" terang Arkan berapi-api


"Boleh aja asal kamu bertanggungjawab dengan keputusan kamu, ibu nggak melarang Ar, kamu mau berusaha dan belajar mandiri saja ibu sudah senang, emang kapan mau beli kambing? udah nyiapin kandangnya belum? mau diletakkan dimana nanti nya, trus jam pulang sekolah sekarang sore loh Ar, kamu mau nyari rumput dimana kalau pulang sore?"


"Iya ya Bu, aku nggak kepikiran kandang sama yang lain," ucap Arkan malu


"Ya udah kamu kerumah paklik kamu dulu tanya aja sekalian minta tolong buat ngajarin kamu pelihara kambing, kan dia punya usaha jual beli kambing juga, kalau kamu mau pelihara sapi juga boleh loh Ar" usul Bu Fitri


"Beneran Bu? nggak ngerepotin?"


"Nggak, kenapa ngerepotin, kan kamu yang mau, ibu mah cuma modalin aja"ucap Bu Fitri


"Assalamualaikum Bu" suara Dimas dari pintu depan terdengar.


"Waalaikumsalam" Jawab Arkan dan ibunya bersamaan.


"Bu Fitri tetap melanjutkan aktifitasnya karena sudah tahu kalau Dimas pulang pasti langsung ke kamar, begitu juga Arkan tetap membantu ibunya membersihkan ikan.


Tanpa mereka sadari, seseorang berdiri di belakang dengan air mata terus menetes. kerinduan nya yang membuncah tak dapat lagi ia bendung. ia berjalan ke arah ibu dan adiknya yang sedang berbincang sembari membersihkan ikan.


Anak lelaki yang sudah lama ia rindukan tiba-tiba langsung memeluknya dengan erat tanpa sepatah kata pun terucap hanya Isak tangis nya saja yang terdengar. Arkan terkejut begitu melihat siapa yang tiba-tiba memeluk ibunya. tetapi ia hanya bisa diam tanpa sepatah kata.


Bu Fitri masih belum menyadari jika yang memeluknya adalah Reno.


"Kamu ngapain sih dim meluk-meluk, tumbenan, tangan ibu kotor ini bau amis" ucap Bu Fitri sedikit kesal karena merasa terganggu.


"Aku disini Bu, lagi minum" teriak Arkan di dapur.


"Hah?". bu Fitri langsung menoleh pada Arkan di sampingnya yang terdiam dengan tangan masih sibuk membersihkan ikan-ikan hasil tangkapan.


Gegas Bu Fitri membersihkan tangannya dan memberikan alat pembersih ikan pada Arkan. lalu menoleh ke belakang.


"Reno.." ucap Bu Fitri sendu lalu memeluk anak semata wayangnya dari pernikahan dengan almarhum suami pertamanya.


Diam-diam Arkan menangis tanpa mau menoleh, begitupun dengan Dimas yang tersenyum haru melihat ibu dan kakaknya bisa berkumpul lagi. sejak dua hari lalu ia memang sudah mewanti-wanti Reno untuk tidak memberitahu pada ibu jika ia akan pulang.


sejak subuh Dimas memang sudah mempersiapkan diri untuk menjemput Reno lebih cepat dan menunggu di terminal pasar kecamatan, karena jarak rumah mereka dan kecamatan sekitar 15 kilo, dan Dimas sengaja menyewa mobil milik teman sekelasnya di madrasah untuk menjemput Reno sekalian untuk membeli peralatan untuk MOS nanti.


"Kenapa nggak ngomong kalau mau pulang nak? ibu bisa siapin masakan buat kamu hikss..." ucap Bu Fitri terisak.


"Kan tadi udah Dimas bilang Bu, masakin opor ayam kampung, pepes udang belimbing wuluh,sama sayur tewel campur krecek, masak ibu nggak ngeh" sahut Dimas di pintu dapur dengan tersenyum jahil.


"Ja...jadi...pantas aja ibu curiga, itukan makanan kesukaan mas mu, kenapa nggak ngomong dim?" cecar Bu Fitri kesal.


"Kejutaaaan" jawab Dimas melucu, tetapi matanya memandang saudara kembarnya yang daritadi diam saja seolah tidak peduli jika kakak mereka datang.


Bu Fitri mengajak Reno masuk ke dalam rumah baru mereka. sedangkan Dimas menghampiri kakak kembarnya itu dengan perasaan kesal.


"Mau sampai kapan Lo terus nyalahin mas Reno? saudara datang harusnya Lo sambut bukan cuma diam sok nggak kenal, ingat kita lahir dari rahim yang sama" ucap dimas kesal membuat Arkan langsung menghentikan aktivitasnya membersihkan ikan. Dimas langsung berlalu meninggalkan Arkan yang hendak berucap. ia tahu apa yang akan Arkan ucapkan.


Arkan hanya memandang Dimas dengan perasaan tak menentu, sejak kecil ia merasa rendah diri dan di bedakan dari dua saudara yang lain oleh bapak dan ibunya, bahkan saat bapaknya meninggal hanya Reno dan Dimas saja yang selalu diminta ibu mereka untuk membantu. setiap kali Arkan ingin turut membantu ibunya selalu di larang oleh Dimas dan Reno, begitu juga bapaknya.


"Aku memang ceroboh dan tidak pernah benar melakukan apapun wajar jika bapak dan ibu lebih menyayangi kalian, mendengar ibu mau membantu ku mandiri saja aku sudah senang, maaf mas Reno untuk kali ini aku tak lagi mau merepotkan kalian, aku akan berusaha sendiri, sesalah apapun kamu, ibu selalu memberi kamu ruang, sedangkan aku apapun harus belajar dan memulai semuanya sendiri" batin Arkan sedih.