
Jenazah Anthony di bawa ke rumah lama tuan Wibowo, rumah yang pernah jadi saksi sejarah pernikahan Azka dan Kinara. rumah yang sudah mereka tinggalkan sejak Kinara resmi menjadi istri Azka. rumah kedua sejak tragedi kehilangan Kinara lima belas tahun lalu.
Kerumunan para pelayat telah datang dan memenuhi rumah suka hingga ke pelataran rumah tetangga.
Nyonya Amira dan suami serta anaknya Steffy dan Darren sudah ada di rumah duka sejak Roby menghubungi nya setelah sholat subuh.
Keluarga besar tuan Wibowo dan tuan Denias sudah berkumpul meski sebagian masih dalam perjalanan.
Jenazah di letakkan di atas kasur yang ada di ruang tamu agar para pelayat yang datang bisa langsung mendoakan almarhum.
Kinara terduduk lesu di salah satu sudut ruang keluarga yang bersebelahan dengan ruang tamu yang luas. ia masih sesenggukan meski sudah tidak sehisteris tadi. Azka masih setia mendampinginya. tidak di pungkiri dalam hatinya juga merasa sedih atas apa yang menimpa jenazah semasa hidup. meski ia pernah menorehkan luka yang sangat menyakitkan, tapi di sisa hidupnya ia bisa menyadari semua kekeliruan itu.
Keisya masih terduduk lesu di samping tubuh jenazah orang yang selama ini merawatnya, orang yang tidak pernah mengenalkannya pada dunia. orang yang selalu egois dan tidak pernah peka dengan perasaannya, orang yang selalu mendikte bahwa orang luar itu menakutkan hingga membuat kondisi psikologis nya hampir terganggu.
Kilasan memori tentang perlawanan yang pernah ia lakukan dulu pada Anthony melintas di benaknya membuat hatinya serasa nyeri. antara benci, sayang, dan hormat pada Almarhum menyatu bagaikan benang kusut yang tidak dapat di urai.
Sebenci apapun ia pada perilaku almarhum, tetap saja dalam hatinya tersimpan rasa sayang sebagai orang tua yang selalu merawatnya selama ini.
Tuan Wibowo sibuk menyalami para pelayat yang datang dan menghibur Keisya yang mereka pikir adalah Kinara.
Para kolega bisnis mereka juga banyak yang datang meski sebagian kecil tidak hadir karena masih menyimpan dendam pada Anthony yang pernah melakukan kesalahan pada bisnis mereka.
Tuan Wibowo dan tuan Denias menyadari hal itu, mereka mengerti bahwa tidak mudah memaafkan kesalahan seseorang yang sudah fatal meski orang tersebut telah tiada. semua kembali kepada pribadi masing-masing. namun meski begitu tuan Denias dan tuan Wibowo tetaplah dipandang sebagai pebisnis yang bersih dan transparan Dimata lawan bisnisnya.
Nyonya Amira masih tergugu di sudut ruang tamu, bude Tuti dan bude Yuyun duduk bersamanya seraya menguatkannya untuk baik-baik saja.
Ustadz Rohmat selaku orang yang paling di segani di kompleks ini sangatlah terkejut mendengar kematian salah satu kerabat penghuni rumah besar nan megah yang ada di kompleks nya.
Ustadz Rohmat yang tak lain adalah orang tua Yusuf asisten tuan Anderson, sangat terkejut saat tahu ternyata jenazah yang meninggal adalah orang yang selama ini di cerita kan sang anak padanya.
Beliau pun langsung turun tangan untuk ikut mengurus jenazah untuk di makamkan bersama petugas yang sudah di tunjuk oleh tuan Denias untuk memandikan dan mengkafani jenazah.
Tuan Andrew dan Dareen ikut bergabung dengan para pelayat yang lain. sedangkan Steffy duduk bersila di salah satu kamar yang ada di lantai dua membuka lembar demi lembar album foto lama keluarga ibunya. benar-benar nih anak ya!!
"Seharusnya aku yang di hukum karena sudah membuatnya menjadi seorang psikopat mbak, seharusnya aku yang di hukum oleh Tuhan, karena aku ibu menderita, karena aku mba Amina meninggal, karena aku Kinara dan Keisya terpisah selama puluhan tahun hanya karena mencariku Anthony menjadi manusia setengah iblis yang tega membunuh seorang anak tidak berdosa dan menyisakan trauma mendalam untuk keluarganya, karena demi aku Anthony seperti itu mbak, harusnya aku yang di hukum Tuhan bukan dia hiks hiks hiks" ucap nyonya Amira tersedu-sedu.
"Amira" sebuah panggilan yang tegas terdengar dari hadapannya, nyonya Amira mendongak dan melihat suaminya dengan wajah sedih.
"Mira, sudahlah semua sudah menjadi suratan takdir, tugasmu sudah selesai, jangan pernah sisakan penyesalan itu lagi, semua sudah kembali pada kodrat nya. kita manusia hanya bisa pasrah dengan semua ketentuan Nya." tutur tuan Andrew lembut menepuk pipi sang istri.
"Dengar apa kata suami mu Ra, sudahlah jangan menyalahkan diri sendiri" ujar bude Tuti menimpali ucapan sepupu iparnya.
"Mbak semua saya titip Amira ya, saya mau ikut mensholatkan jenazah dulu" ujar tuan Andrew pada bude Tuti dan bude Yuyun.
"Silahkan kami akan disini menyiapkan makanan untuk pelayat" jawab bude Yuyun.
Rombongan pelayat ikut ke masjid yang ada di kompleks untuk ikut mensholatkan jenazah. hany Azka saja yang tidak ikut karena khawatir dengan kondisi sang istri yang masih lemah.
Keisya pingsan melihat jenazah Anthony diberangkat kan ke masjid untuk di sholatkan. Rena yang sejak tadi setia mendampinginya juga ikut kelimpungan saat melihat tubuh nona mudanya jatuh pingsan. beruntung masih ada beberapa pelayat perempuan yang membantunya mengangkat tubuh keisya ke dalam kamar tamu agar tidak repot menaiki tangga yang lumayan panjang menjuntai dari atas ke bawah.
Kondisi shock berat yang di alami Keisya membuat Rena semakin bingung hingga terpaksa ia menghubungi orang yang selama ini ia hindari.
Dokter Wawan langsung kembali ke rumah setelah mendapatkan telepon dari Rena karena kondisi Keisya yang masih belum sadarkan diri.
"Dia masih shock berat, belum lagi kondisi psikologis nya belum sembuh total, tolong kamu temani dia jangan tinggalkan kemanapun kecuali ada yang membantu mu menjaganya"
"Baik tuan"
"Sudah ku bilang jangan panggil tuan jika kita berdua, panggil aku dokter saja untuk saat ini, panggilan mas simpan saja untuk masa depan kita" ucap dokter Wawan sengaja menggoda Rena yang langsung terlihat mengerucutkan bibirnya. pemandangan yang asik bagi dokter Wawan melihat tingkah sang pujaan hati yang selama ini ia incar.
"Baiklah saya pergi dulu ke pemakaman, kabari saja saat ada apa-apa,", ucap dokter Wawan seraya mengerling genit pada Rena yang semakin di buat gerah oleh sikap ganjennya."
"Papa..." suara lirih terdengar dari bibir Keisya yang sudah tersadar. Rena langsung menghampiri nya dan memberinya segelas air putih.
"Papa jangan pergi.....hiks hikss" Keisya mulai meracau lagi dengan tangis yang begitu pilu.