
Hari ini sepulang menjemput ibu kandung Revan, Kinara dan Azka bertolak ke kampus untuk mengurus administrasi perkuliahan.
"Kita ke prodi ku dulu ya, soalnya udah janji sama temen" ucap Kinara
"Oke, mau aku temenin sampai selesai?"
"Nanti aku kabarin kalau selesai urusan, lagian kamu kan mau urus administrasi mas"
"Itu mah gampang, jadi aku panggil Keisya buat nemenin nggak? siapa tahu nanti aku lama"
"Terserah mas aja"
"Jangan terlalu dingin sama Keisya, dia adik kamu masih butuh dukungan moril meskipun sekarang kondisinya memang sudah jauh lebih baik"
"Emang aku gitu ya mas?"
"Ya nggak juga, mas ngerti kalian masih butuh waktu untuk saling dekat satu sama lain, kalau dari kacamata mas, jujur ya ,kamu terkadang masih canggung ya?"
Kinara menghela nafas sebelum menjawab, memang benar apa yang Azka katakan jika terkadang ia juga masih merasa canggung karena sejak kecil terpisah oleh jarak dan ketidaktahuan mereka jika mereka punya ikatan darah. bukan salah mereka bukan juga salah takdir, memang mungkin ada hikmah dari semua masalah yang menjerat mereka selama ini.
"Iya sih mas, terkadang aku masih canggung kalau bertemu Keisya, mungkin karena selama ini kami terpisah oleh jarak dan waktu, dan ketidaktahuan kami jika kami sedarah, mungkin hal itu yang buat aku kadang merasa canggung, walau jujur sebenarnya aku pingin banget bisa berbagi apapun dengannya, tapi kembali lagi statusku dan dia sudah berbeda, aku bersuami dan dia belum" ucap Kinara panjang lebar dengan wajah menunduk.
"Nggak papa, mulai sekarang cobalah untuk bersikap rileks dan santai, Keisya butuh kamu sebagai kakaknya"
"Iya mas, akan aku coba, oh ya kak Revan awal bulan depan nikah"
"Kok tiba-tiba?"
"Entahlah, dari dulu ayah memang begitu, Kak Revan aja nggak tahu, tiba-tiba udah deal aja ayah sama pakde Rowi"
"Ya sudahlah, sama aja kan kita juga gitu, bedanya kita nggak pernah kenal sebelumnya"
"Iih bisa aja kamu"
"Mas ada usul gimana kalau seminggu sekali kita ajak Keisya nginap di apartemen?"
Kinara menaikkan satu alisnya, mencoba meyakinkan pendengaran nya, "coba ulangi mas" pintanya
"Gimana kalau seminggu sekali kita aja Keisya nginap di apartemen" ucap Azka sedikit keras
"Nggak mau"
"Loh, tadi katanya mau nyoba buat Deket sama Keisya sekarang kok malah gitu?"
"Aku nggak nyaman aja kalau ada orang yang tinggal di rumah kita"
"Itu kan Keisya adik kembar mu bukan orang lain sayang"
"Tetep aja nggak nyaman"
"Nggak nyaman apa karena masih nggak enak hati karena canggung?"
"Hemm, gimana ya?" ucap Kinara bimbang
"Kalau nggak mau kita aja yang nginep disana seminggu sekali gimana?"
"Nggak mau"
"Loh kok?"
"Nggak tahu lah, pokoknya nggak nyaman aja mas, liat Alexa deketin kamu aja waktu syukuran, hatiku ketar ketir apalagi mau ngajak orang tinggal serumah"
"Astaghfirullah jangan samain Keisya dengan Alexa dong, Keisya itu adik kamu, saudara kembar mu, Alexa sepupu tiri aku dia juga udah bersuami Ra" agak geram Azka berbicara kali ini menghadapi mental orang hamil emang gini amat ya.
"Tetep aja aku nggak suka mas, aku nggak nyaman"
"Haduuuh gimana sih ngomong sama kamu biar enak gitu, ya udah gimana kalau tiga hari dalam seminggu kita ajak Keisya keliling hang out ke tempat kita hang out sama temen-temen biasanya" ide itu muncul juga akhirnya.
"Ck, aku hamil mas, apa kamu nggak mikir sih apa kata dokter Siska, kalau trimester pertama itu nggak boleh terlalu capek masih rentan resiko keguguran dan lain-lain paham anda??" sungut Kinara.
"Ya udah seminggu sekali aja pas weekend gimana?"
"Au ah terserah, aku tetep nggak mau mas juga tetep maksa"
"Ya udah deh maaf kalau gitu, apa mau kamu lah" ucap Azka mengalah
Mobil memasuki pelataran kampus, Azka memarkir mobil di tempat khusus parkiran untuk kendaraan roda empat.
Kinara keluar dari mobil dan langsung berjalan ke arah prodi di ikuti Azka yang mengekor di belakangnya.
"Eh Rangga?" panggil Kinara pada sosok yang berdiri membelakangi nya tak jauh dari tempatnya berjalan. sang empunya nama langsung menoleh ketika mendengar namanya di sebut. matanya awas begitu melihat siapa yang memanggil nya, mantan terindah yang namanya masih bersemayam di hati.
"E..eh Ra, apa kabar?" tanya Rangga sedikit canggung karena ada Azka yang tengah mengawasinya
"O..oh baguslah, aku lagi urus administrasi pendaftaran, soalnya ini hari terakhir "
"Ambil beasiswa ya?"
"Hem, iya sih, baru mau urus juga ini sekalian, kamu mau ngapain?"
"Mau ke prodi udah janjian sama temen"
"O..oh, kamu kemarin bebas tes masuk ya, wah selamat ya Ra"
"Makasih Angga, kamu ambil jurusan apa?"
"Pendidikan Matematika"
"Wah kamu beneran mau jadi guru ya, bener-bener nggak patah semangat"
"E .eh iya makasih Ra" mendapat pujian seperti itu Rangga merasa sedikit rendah diri. terlebih lagi Kinara sempat memanggilnya dengan sebutan yang paling ia sukai sejak dulu.
"Ehmm, jadi ke prodi nggak nih?" ucap Azka yang merasa jengah sejak tadi di abaikan oleh istri dan mantan rivalnya. Kinara yang merasakan gelagat aneh merasa bersalah dan langsung menggandeng lengan Azka agar menjauh dari Rangga.
"Sayang itu bukan nya Keisya disana?" tanya Azka yang melihat sosok Keisya di salah satu lorong kampus sedang berjalan beriringan dengan Rena.
"Mana sih?" tanya Kinara penasaran.
"Itu disana, bukannya itu prodi Ekonomi?"
"Lah iya itu mereka, yuk samperin" ajak Kinara menarik lengan Azka.
"Pelan dong sayang, kasihan baby kita"
"Hehe maaf, soalnya kalau ketemu mbak Rena itu bawaannya seru jadi aku seneng aja mas"
"Iya, tapi ingat dong kamu lagi hamil" ucap Azka memeluk leher Kinara dan mencium pucuk kepala nya yang tertutup hijab membuat beberapa pasang mata yang melintasi mereka sedikit ngeri tapi penasaran karena paras mereka gagah dan cantik. sama-sama nilai plus.
"Malu ih kamu tuh ya"
"Biarin istri sendiri kok"
"Wah manten lawas rasa baru nongol juga akhir nya, apa kabar bro?" panggil Reno dari arah depan.
"Woii...gimana sehat?" ucap Azka seraya bertos ria dengan Reno.
"Ceile, Ra suami Lo tambah ganteng setelah belah duren, hati-hati sama pelakor loh"
Plak
"Jaga tuh mulut" ucap Azka sebal
"Biarin aja, kalau dianya juga mau gampang kok semua aset gue tarik atas nama gue gampang kan??"
"Hahahahahahahahahha auto jadi gembel Lo Ka," Reni tertawa kencang mendengar ucapan Kinara yang begitu menohok bagi Azka.
Apa-apaan istri nya ini??
"Ck, ganggu aja Lo, sana kembali ke habibat Lo jadi gue voli"
"Eits ngikut Dong gue kan udah kelar, sekalian mau jagain kalian siapa tahu ada cecan atau cogan yang curi pandang sama kalian hahahahahah"
"Asem tenan bocah Iki" umpat Kinara pada Reno. Kinara geleng kepala kalau sudah berhadapan dengan sahabatnya yang satu ini suka sekali provokasi.
"Dahlah diem Lo, orang hamil jangan di ganggu tambah keluar nanti uratnya!"
"Loh kakak?" panggil Keisya yang tidak sengaja lewat di depannya.
"Eh kei, ...."Kinara memeluk Keisya, suasana tiba-tiba jadi hening.
"Kakak ngapain disini?".
"Janjian sama temen sekaligus mau nemenin mas Azka urus administrasi masuk"
"Oh gitu, aku temenin mbak Rena juga urus administrasi"
"Oh mbak Rena kuliah juga disini?"
"Iya ambil jurusan psikologi"
"Oh baguslah"
Obrolan terhenti, Keisya menatap Azka sekilas dengan perasaan gundah, ada desiran rindu di sudut hatinya pada sosok suami sang kakak kembarnya itu. semakin lama perasaan itu semakin kuat. namun Keisya tetap memilih diam.
Reno yang sedari tadi memperhatikan Keisya merasa sedikit aneh melihat tingkah Keisya yang berbeda saat menatap Azka. "Waduh ada dua hati satu pria ini namanya ckckck" batin Reno geleng-geleng kepala.