KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 19



Hari ini kakak iparku datang kerumah sendiri tanpa di dampingi oleh kak Revan. mama Hanna dan papa Anderson sedang pergi ke rumah nenek Handoko, dan mbak Kinar sedang membawa kedua anak mereka jalan-jalan sedangkan mas Azka sibuk merenovasi rumah barunya yang berjarak lima rumah dari sini.


Hari ini aku tidak punya jadwal konsultasi apapun dan pergi kemana pun, hanya berdiam dirumah bersama mbak Reni dan bik Siti. dan aku juga membantu kesibukan mereka agar tidak jenuh.


Dan beruntung mbak Vivi datang di saat yang tepat, aku butuh teman setelah semua pekerjaan rumah beres. kalau bukan di depan televisi ya mengutak-atik ponsel mencari hal-hal baru yang belum aku tahu sebelumnya.


"Kok nggak ngabarin mbak kalau mau datang?" tanyaku saat membuka pintu rumah


"Nggak ada rencana, karena tanggal merah kampus libur jadi mbak kesini aja sekalian jengukin kamu, nih makanan kesukaan kamu" mbak Vivi menyerahkan paper bag berisi box makanan.


"Ini mbak yang buat? ini apaan?" tanyaku seraya mencium aroma dari box


"Bubur kacang ijo sama kue lapis legit"


"Wah enaknya, kita makan bareng-bareng ya mbak, tapi kok bawa cuma dua box sedang sih, yang lain nggak kebagian nanti"


"Hahahha udah ada di bawa mas Revan di mobil tenang aja"


"Oh..kak Revan ikut?"


"Iya, masih singgah di rumah baru Azka, katanya sekalian mau melihat renovasi rumah nya, Kinara mana?"


"Jalan-jalan sama si kembar ke taman kayaknya kalau nggak ke mall"


"Sendirian?"


"Nggak, bareng suster Ema dan supir"


Aku melangkah ke dapur membawa dua box tadi dan memindahkan isinya ke wadah. lalu membawa kembali ke depan.


"Masa hari libur nggak jalan-jalan gitu mbak?"


"Nggak, mau ngapain mending dirumah aja, bosan mau jalan karena tiap hari juga jalan di luar rumah hehehe"


"Ooh, aku mau ke tempat ayah akhir pekan depan mbak, di ajak mbak Kinara sama mas Azka katanya ayah kangen sama cucunya"


"Oh iya Azka juga udah ngomong kok, semalam mampir kerumah pulang dari kerja, rencana kita semua bakalan kesana barengan tapi nunggu Tante Hanna sama om Anderson pulang dari rumah eyang Handoko katanya"


"Oh gitu, bakalan rame dong liburannya"


"Hahaha kamu itu Kei"


Sesaat kami sama-sama terdiam dengan kegiatan masing-masing menikmati bubur kacang ijo buatan mbak Vivi. sampai suatu hal muncul di benakku yang selama ini sudah ku simpan rapat-rapat.


"Mbak, pernah denger kabar dari mas Reno?" tanya ku tiba-tiba membuat mbak Vivi terkejut.


"Re ... Reno? emang dia pulang?" tanya mbak Vivi membalik pertanyaan ku.


"Nggak mbak, aku nanya mbak pernah dapat kabar apa gitu dari mas Reno?" tanya ku namun hanya gelengan kepala mbak Vivi yang ku dapat sebagai jawaban.


"Kenapa masih mikirin orang yang nggak mikirin kamu sama sekali Kei?, sudahlah, Reno mungkin saja sudah bahagia dengan kehidupannya sendiri, doakan saja, nggak usah berharap, kalian bukan jodoh" terang mbak Vivi membuatku tiba-tiba tidak berselera lagi menelan sisa bubur kacang ijo.


Aku menunduk menyembunyikan tangisku, ini sudah yang kesekian kalinya orang mengatakan agar aku melepas kepergian mas Reno yang sudah nyata menggoreskan luka bukan hanya padaku tapi juga pada keluarga ku dan keluarga nya.


"Maaf Kei, mbak nggak bermaksud seperti itu...." ucap mbak Vivi tiba-tiba merasa bersalah mungkin karena melihat ku diam dan menunduk.


"Nggak papa mbak, aku cuma masih sedih aja, kenapa dia nggak mau ngasih alasan saat mutusin membatalkan pernikahan kami, aku cuma butuh penjelasan mbak" ucap ku sedih


Mbak Vivi menghirup napas berat lalu tersenyum dan menggeser letak duduknya tepat di samping ku.


"Kei, mbak ngerti perasaan kamu, logika nya aja, kalau emang dia laki-laki pemberani pasti bakalan datang temui kamu dan ayah untuk meminta maaf, tapi kenyataannya sampai hari ini tidak kan? ini sudah lebih dua bulan berlalu Kei, bahkan sampai hari ini apa ada dia ngasih kamu kabar sekali aja? nggak kan? jadi untuk apa kamu berharap dia kembali ngasih penjelasan? hidup kamu masih panjang Kei, Jangan bandingkan dengan orang lain, kamu berhak bahagia meski tanpa dia. masih banyak laki-laki di luar sana yang mungkin saja salah satu dari mereka sudah Tuhan pilihkan untuk kamu, move on dong" ucap mbak Vivi panjang lebar membuat ku merasa seperti di siram air di tengah gurun pasir yang panas.


"Apa salah mbak kalau aku minta penjelasan dari mas Reno?"tanyaku


"Kamu udah tahu jawabannya kan, jadi untuk apa kamu bertahan mengharapkan dia akan tahu apa yang kamu rasakan, boleh mbak tanya satu hal?" mbak Vivi menatap mu lekat.


"Apa?" tanyaku penasaran


"Apa kamu mulai mencintai Reno?" tanya mbak Vivi yang membuatku bungkam.


Aku baru tersadar akan satu hal, apalah aku mulai mencintai mas Reno setelah dia memutuskan untuk pergi? aku bimbang dengan perasaan ku sendiri. apakah ini aku?


"Kei, mbak nggak minta kamu menjawab, mbak udah bisa menebaknya, cintai dia dengan doa, langitkan doamu untuk kebaikan nya dan kebaikan mu juga, jika kalian berjodoh suatu saat Tuhan akan mempertemukan kalian, jika tidak, maka cukup kamu berhenti saat kamu sudah merasa lelah, jika suatu saat akan ada orang yang menunggumu di ujung jalan, maka terimalah dia sebagai penunjuk jalan mu yang akan menemani mu hingga kau sampai di tempat tujuan. kamu pasti bisa" ucap mbak Vivi menenangkan ku.


"Makasih mbak"aku langsung menghambur ke dalam pelukannya dan menangis tergugu.


***


"Mas, kamu yakin nggak cinta sama mantan tunangan mu?" tanya wanita berumur empat puluhan yang masih terlihat cantik sembari memangku seorang gadis kecil berumur tujuh tahun


"Entahlah Tan, aku masih merasa bersalah sama dia"


"Nggak kangen?"


"Hem"


"Tuh senyum, maaf loh Ren Tante pernah lihat isi pesan di ponsel mu, isinya cuma pesan dari dia aja, apa nggak pernah kamu hapus?"


"Hah, Tante buka hape ku?"


"Nggak usah terkejut gitu, maaf gara-gara kamu sering lupa nggak bawa hape ya iseng aja Tante buka, lagian hape semahal itu kamu anggurin terus di rumah. malah hape tulalit yang kamu bawa kemana-mana" ucap Tante Meri


"Ya nggak papa sih Tan, soalnya hape jadul aja yang banyak nomor penting, mau ganti malas"


"Kalau pesan nggak pernah di hapus berbulan-bulan berarti penting juga dong mas Ren, ya nggak Ci kikikik"


"Ah Tante bisa aja"


"Tante juga pernah muda Ren, jangan sampai kamu suatu saat menyesal, dan jika saat itu tiba dan kamu ingin kembali tapi sudah nggak bisa gimana Coba?"


"Au ah Tan, malah ngawur kesana kemari sih"


"Hahaha" Tante Meri tertawa melihat wajah Reno yang memerah.


"Ma, om Leno unya acal ya?" tanya gadis kecil cantik itu pada mamanya yang di sambut tawa Reno terbahak-bahak.


"Bbahhahahaaa" Reno tertawa


"Iya om Reno punya pacar, cantik banget kayak princess nya mama" sahut Tante Meri mencubit gemas pipi gembul sang anak.


"Om aku au cari oleh kan?"


"Hahahaha, astaghfirullah Tante mending bawa masuk deh, lama-lama aku kena virus cedalnya Angel" sahut Reno


"Sengaja emang bikin kamu tertawa daripada murung mulu kerjaannya pulang kerumah" timpal Tante Meri.


"Mama ini udah tua masih suka isengin mas Reno, nggak malu sama umur" celoteh Arzan yang melewati mereka bertiga di teras.


"Mau kemana kamu Zan?" tanya Reno


"Mau jemput mas Gito di depan terminal, nggak usah ikut, aku nggak nawarin" jawab Arzan asal ceplos


"Anjai Lo, pergi Sono" usir Reno tersenyum kesal.