
"Ayah packing mau kemana?" tanya Keisya melihat ayahnya memasukkan beberapa helai baju kedalam koper.
"Mau ke kota nanti sore, besok gladi bersih peresmian pemimpin baru perusahaan" jawab sang ayah tanpa menoleh.
"Sendiri lagi dong, aku kerumah Bulik Sri aja ya"
"Iya, besok kamu berangkat ke Jogja sama siapa?"
"Di Anter mas Bagus katanya sekalian mau jenguk mertuanya, aku nebeng sekalian"
"Maaf ya ayah nggak bisa nganterin kamu tes sampai selesai, kalau tanggung jawab ayah sudah selesai semua, ayah bakal banyak luangin waktu buat kamu"
"Nggak papa, ayah sehat aja aku udah seneng"
"Besok selesai peresmian ayah bakal minta Hanan menemani kamu ke Jogja kalau udah masuk kuliah, nyariin kontrakan sekalian"
"Nggak perlu yah, aku udah minta mas Bagus buat nyariin kontrakan sekalian besok, trus mertuanya katanya sempat nawarin satu kamarnya yang kosong buat di tempati"
"Oh ya,? bagus nggak ada ngomong malahan tadi malam"
"Orang baru ngomong tadi pagi-pagi pas aku kesana ambil ikan"
"Oh ya udah, semoga lulus sesuai cita-cita kamu, ayah dukung apapun keinginan kamu selama itu positif"
"Terimakasih ayah"
***
"Mau kemana dim?" tanya Reno melihat sangat adik sudah berpakaian lengan panjang dan celana training serta memakai topi kebun.
"Ke kebunnya pak Juhadi mau panen melon" jawab Dimas santai
"Kamu buruh lepas harian?"tanya Reno terkejut
"Iya Buat nambahin tabungan, nggak enak kalau mau minta terus sama kamu dan ibu mas" kata Dimas
"Dim, mas nggak pernah merasa keberatan karena kamu tanggung jawab kami, bapak nggak ada tanggung jawabnya pindah ke aku sebagai anak tertua, Jangan ngaco deh" sahut Reno merasa tersinggung
"Iya mas, tapi kalau aku pengen mandiri apa ya salah? nggak kan? suatu saat mas udah berkeluarga masa iya aku masih ngerepotin kamu, anak istri kamu lebih butuh kamu, aku urusan kesekian" balas Dimas membuat Reno akhirnya menghela nafas berat.
"Ya udah lakukan apapun yang kamu mau, jangan kecapekan, terutama Arkan yang pernah mengalami gagal jantung waktu lahir, semua yang mas dan ibu lakukan buat kalian nantinya,"
"Iya mas aku tahu, maaf udah buat kamu khawatir"
"Bisa anter aku besok?"
"Kemana?"
"Nanti lah aku cerita, udah sana pergi keburu siang, bawain melon juga ya hehehe"
"Sip, assalamualaikum "
"Waalaikumsalam "
Arkan yang mendengar percakapan kakak dan adiknya dari dalam kamar terkejut saat Reno mengucapkan gagal jantung yang pernah ia alami sewaktu bayi.
Arkan terdiam, langkahnya terayun menuju ke tempat tidur, sejak kemarin sudah merasakan sedikit kurang enak badan, niatnya menemui pakliknya hari ini batal setelah mendengar dengan jelas ucapan Reno melarang ia dan Dimas bekerja terlalu berat.
Angannya kembali ke masa-masa dimana dulu ia selalu di larang untuk berbuat apapun dirumah oleh ibu bapak dan terutama Reno.
"Apa karena alasan itu aku nggak boleh ngapa-ngapain dari dulu? mau begini aja di larang apa-apa harus di atur? kenapa ibu nggak pernah cerita kalau aku pernah mengalami gagal jantung?" batin Arkan menerka-nerka.
Lelah menerka-nerka akhirnya Arkan tertidur pagi itu, hingga pukul satu siang ibunya membangunkan untuk makan siang dan sholat dhuhur.
"Ngapain tidur pagi?" tanya ibunya dengan wajah sedikit kesal
"Maaf Bu, tadi baring-baring nunggu temen datang malah ketiduran" jawab Arkan beralasan.
"Ibu udah bilang kan, jangan pernah tidur pagi kalau hari libur, mending keluar cari angin atau ikut Dimas ke kebun panen melon" ucap Bu Fitri mengomel.
"Bu, jangan di marahin lah, namanya juga ketiduran, lagian Arkan mungkin semalam bergadang karena mau tes masuk SMA negeri favorit besok" Reno datang membela Arkan membuat Arkan tiba-tiba merasa sedih.
Bu Fitri berlalu meninggalkan kedua anaknya dengan Omelan yang panjang pendek masih terdengar oleh mereka berdua.
"Cepat bangun trus sholat, abis itu makan, jangan lupa minum vitamin" ucap Reno pada Arkan lalu pergi meninggalkan adiknya yang masih terbengong-bengong di dalam kamar.
Reno pergi membawa sekardus oleh-oleh dari Kalimantan untuk di berikan pada bibik Sukaesih.
"Mau kemana mas? ini melon sama semangka di bawain pak Juhadi" kata Dimas saat mereka bertemu di perempatan jalan
"Lah mau ke rumah bibik, bawa pulang aja, aku ada keperluan mungkin sore baru pulang" balas Reno
"Oke, tanya bibik ya, aku nagih janjinya" ucap Dimas
"Ya" jawab Reno melambai dan meneruskan langkahnya.
Tiba dirumah Dimas kaget melihat Arkan menangis di dalam kamarnya, tapi ia memilih diam tidak menggubris meskipun sedikit penasaran karena baru kali ini saudara kembar nya itu menangis tergugu.
"Ngapunten Mbah, njenengan semerep ibu Kulo mboten?" tanya Dimas sopan
(Maaf mbah, lihat ibu saya tidak?")
"Lagek tas metu Karo mak'e Ira Iki mau, nggowo tonjo'an, la po ra weroh Kon?" jawab neneknya Ira
(Baru saja keluar sama mamaknya Ira, bawa nasi hantaran, apa kamu nggak lihat?")
"Mboten Mbah, Kulo nembe wangsol ke kebonan Mbah" kata Dimas.
(Tidak Mbah, saya baru pulang dari kebun)
"Oalah, mengko lak bali, ijek repot neng rewangan le, kene maem nek omah lak ibukmu ra masak" tawar neneknya Ira
"Oalah, nanti juga pulang, masih repot di hajatan nak, sini makan dirumah kalau ibu mu tidak masak)
"Nggeh, matursuwun mbah, Kulo kinten ibu dugi teng pundi mboten bali, Monggo Mbah"
(Iya,Terimakasih mbah, saya kira ibu pergi kemana tidak pulang-pulang, permisi Mbah)
"Iyo -iyo" (Iya-iya)
Dimas Kembali ke dalam rumah membersihkan diri lalu sholat kemudian makan siang.
Setelah makan ia menghampiri Arkan di kamar, ingin memastikan jika saudara kembarnya itu baik-baik saja.
"Ar, Lo udah makan siang?" tanya Dimas begitu melihat Arkan tengah berbaring memeluk bantal guling.
"Udah, kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa, Lo sehat kan?" tanya Dimas memegang dahi Arkan
"Gue baik-baik aja, singkirkan tangan Lo, gue nggak kenapa-kenapa" ucap Arkan sarkas tanpa mau merubah posisinya
"Tapi Lo pucat Ar, badan Lo juga panas, Lo beneran udah makan?" tanya Dimas memastikan
"Ck, gue bilang udah ya udah, gue baik-baik aja nggak usah lebay" ucap Arkan membuat dimas langsung kesal
"Gue nggak lebai, cuma khawatir aja, apa salah? terserah deh gue nggak mau lagi ngurusin Lo" ucap sinis Dimas dan berlalu meninggalkan Arkan yang juga tengah kesal entah karena apa.
Sesuai janjinya sore hari Reno kembali kerumah membawa dua ekor kambing etawa dan ia ikat di salah satu gubuk di belakang rumah. gubuk lama bekas almarhum nenek menyimpan hasil kebun dan sawah. gubuk itu sengaja di kosongkan olehnya sejak subuh tadi dan memindahkan barang-barang ke dapur rumah nenek tanpa sepengetahuan kedua adiknya.
Semalam ibunya bercerita jika Arkan ingin memelihara kambing seperti teman-teman sekolahnya, Reno tergugah dan langsung menemui bibik Sukaesih dan membeli kambingnya sepasang demi menyenangkan hati adiknya.
Reno tersenyum melihat hasil kerjanya hari ini membuahkan hasil, bisa menyenangkan hati ibu dan kedua adiknya adalah hal terindah dalam hidupnya.
Reno masuk ke dalam rumah dan berpapasan dengan Dimas yang nampak panik.
"Kenapa Dim?" tanya Reno heran
"Telpon ibu cepat sekarang suruh pulang, aku mau pinjam mobilnya pak RT dulu, Arkan panas tinggi" ucap Dimas berlari keluar rumah menuju kerumah pak RT yang berjarak sekitar dua rumah.
Reno berlari ke kamar Arkan dan betapa terkejutnya saat melihat Arkan hendak turun dari ranjang dan berakhir pingsan di lantai.
Reno membuka jendela kamar dan meneriaki mbak mini yang sedang menapis beras di samping rumahnya
"Mbah tolong Mbah, tolong panggilkan ibu saya, adik ku Arkan sakit" teriak Reno dua kali membuat wanita paruh baya yang masih segar bugar itu berlari dan meninggalkan tapisan berasnya di tanah.
"Astaghfirullah... kameeet....pak erteeeee..... gionooo...tulooong ono wong pingsan" teriak mbah mini berlari keluar dan membuat para tetangga ikut keluar rumah mengikuti langkah Mbah mini.
Bersamaan dengan Mbah mini tiba di rumah Dimas dan pak RT juga turun dari mobil. dan langsung meringsek masuk ke dalam rumah kayu itu.
Reno menggendong Arkan keluar rumah dan meminta Mbah Mini menjaga rumah sementara ibu mereka masih di panggil oleh salah satu warga karena sedang sibuk membantu tetangga yang sedang hajatan.
Reno, Dimas dan pak RT membawa Arkan ke puskemas terdekat dan satu-satunya yang ada di desa mereka. beruntung ada dokter yang tinggal di rumah samping puskesmas sehingga memudahkan Arkan mendapatkan penanganan langsung.
"Adik saya kenapa dok?" tanya Reno saat dokter selesai memeriksa Arkan dan memasangkan jarum infus
"tekanan darahnya turun, detak jantungnya tidak stabil, apa ada sesuatu yang terjadi sebelumnya yang pasien alami?"
"Tadi pagi baik-baik saja dok saya juga baru pulang dari rumah saudara langsung lihat dia pingsan di kamar, dim sini lo" jawab Reno lalu memanggil Dimas
"Bisa jadi ada sesuatu yang membuatnya kaget atau shock berlebihan"
Reno dan Dimas saling memandang, lalu Dimas menjawab dengan lugas, " Tadi siang saya pulang dari kebun sempat lihat dia nangis di kamar, trus waktu di periksa badannya emang anget dok" kata Reno.
"Oh iya-iya, apa sebelumnya pasien pernah punya penyakit bawaan?".
"Gagal jantung waktu bayi dok, tapi Alhamdulillah sembuh tanpa operasi atas izin Allah,tapi tetap saja kami masih terus khawatir dengan kondisinya"
"Saya resepkan obat ya nanti kalian tebus di apotik di depan kalau misal obatnya habis bisa tebus di apotik kecamatan, kalau kondisinya sampai besok belum ada perubahan, saya akan berikan rujukan ke rumah sakit di Surabaya"
"Baik dok, terimakasih"
"Sama-sama"