KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
107 Kinara-Keisya



Malam ini Kinara menginap di rumah Keisya sesuai permintaan Azka. bukan tanpa alasan kenapa Azka mengajak Kinara menginap disini tidak lain karena merasa kasihan pada Keisya yang masih butuh dukungan mental agar bisa bangkit dari traumanya.


Meskipun Kinara sempat menolak mentah-mentah dan tidak terima namun apa daya tetap saja Kinara mengalah dengan keputusan Azka. di balik sikap ngototnya Azka karena ia ingin kedua kakak adik kembar itu bisa akur layaknya keluarga lain. di satu sisi Azka juga tak ingin kesalahan masa lalu orang tua Kinara terulang kembali pada anak-anak mereka nantinya.


Beberapa waktu lalu papa Anderson sempat mengajaknya berdiskusi tentang amanat dari almarhumah ibu mertuanya untuk mencarikan jodoh buat Keisya jika ia kembali.


Tapi setelah Azka pikir, sebaiknya itu tidak usah ia lakukan. jika para orang tua menginginkan biarlah mereka saja yang mengatur. ia tak mau Kinara marah karena cemburu seperti yang kemarin-kemarin.


Mengatasi orang hamil di usia baru menginjak 19 tahun bukanlah hal mudah bagi Azka. hampir setiap hari mereka berseteru hanya untuk hal kecil saja. emosi Kinara yang tidak stabil kadang juga membuatnya naik darah. Terlebih saat kondisi tengah malam tengah nyenyak bermimpi Kinara membangunkan dirinya hanya untuk membeli sesuatu yang aneh-aneh.


Beruntung mereka tinggal di rumah besar, ada mama Hanna yang setiap hari bisa melerai pertengkaran mereka. entah pagi siang ataupun malam. mama Hanna juga terkadang merasa jengah juga dengan anak dan menantunya yang selalu membuat keributan tapi ia juga bersyukur setidaknya mereka selalu membutuhkan satu sama lain dalam kondisi apapun.


"Ra, kenapa belum tidur?" tanya Azka seraya merangkul tubuh istrinya dari arah belakang


"Belum ngantuk"


"Tumben biasanya jam segini udah tutup mata"


"Entahlah perasaan ku nggak enak dari kemarin mas, apalagi pas pulang dari jenguk Karin kemarin"


"Lagian nggak ada masalah kan disana"


"Iya enggak ,tapi aku cuma ketemu asisten nya saja mas, bahkan Tante Amira dan Steffy bahkan om Andrew juga nggak ada disana"


"Apa kamu sempet nanya sama yang jaga Karin kemarin?" bukan apa-apa Azka bertanya seperti itu karena pada dasarnya ia juga tahu kemana Tante Amira pergi sekeluarga, hanya saja papa dan ayah mertuanya memang sudah mewanti-wanti agar Kinara tak tahu dulu apa yang telah terjadi.


"Nanya sih cuma jawab lagi sibuk di kantor karena ada rapat mendadak, trus Steffy baru dateng pas aku mau pulang, itupun aku ketemu di parkiran, bahkan Steffy juga nggak terlalu ngerespon aku mas"


"Nggak usah di ambil hati, mungkin memang mereka sedang ada kesibukan lain yang nggak bisa di tinggalkan jadi kelihatan terburu-buru"


"Kasihan Karin mas, dia udah nggak punya siapa-siapa di sini, sebenarnya dia anak orang kaya di desanya tapi setelah orang tuanya meninggal semua harta warisan nya di ambil alih oleh paman dan bibi nya. bahkan kematian orang tuanya saja masih jadi misteri."


"Masak sih? emang Karin cerita gitu ke kamu?"


"Iya kemarin pas aku jenguk, dia bingung mau tinggal dimana setelah ini, aku sempet nawarin dia tinggal di apartemen kita tapi nggak mau, trus katanya asisten nya Tante Amira, di minta buat tinggal sama mereka aja."


"Oh baguslah kalau Karin mau tinggal bareng Tante Amira, bisa kerja dapat gaji pula, biaya kuliah juga gratis"


"Tetep aja Karin nggak enak hati, dia pengen nya mandiri"


"Em, Ra , besok ikut ke rumah sakit yuk, lama banget kita nggak jenguk anak-anak disana"


"Boleh deh aku juga kangen mereka"


Bukan tanpa alasan ia mengajak istrinya kerumah sakit, semua itu karena permintaan tuan Denias, sampai hari ini baik tuan Denias masih menjaga jarak dengan Kinara, alasan mereka karena masih merasa bersalah karena telah berbohong pada Kinara tentang Keisya yang meninggal.


Mereka tahu Kinara memiliki jiwa seperti neneknya. lemah lembut, sabar dan selalu menerima tanpa pernah menuntut, hanya saja sedikit keras dan tegas jika ia merasa di rugikan meskipun oleh keluarga sendiri.


Tok tok tok


"Kak ada di dalam?" tanya Keisya di luar pintu kamar.


"Keisya tuh, bukain pintunya" ucap Kinara pada suaminya.


"Ntar, perbaikin jilbabnya emmuach" ucap Azka mencium perut Kinara yang sudah terlihat membuncit.


klek


"Eh dek ada apa?"


"Apa kak Kinar di dalam?" tanya Keisya


"Iya ada, kenapa ya?"


"Itu..ada ayah dateng sama kak Revan di bawah"


"Ooh iya bentar ya, kamu duluan ke bawah"


"I..iya kak" Keisya memegang dadanya saat Azka sudah menutup kembali daun pintu. hingga saat ini debat jantung itu semakin berdetak kala berhadapan langsung dengan suami dari kakak kembarnya.


"Apa ini benar aku jatuh cinta sama kak Azka? ah tidak ini tidak boleh" batin Keisya mencelos.


Tak lama kianra dan Azka menyusul turun ke bawah menemui ayah dan kaka Revan.


"Hem calo manten masih keluyuran aja, lama kita nggak ketemu ya kak" ucap Kinara pada Revan


"Biarin, kapan lagi bisa meluk kakak gue satu-satunya"


"Iya tapi sekarang status nya beda dek, kamu udah jadi istri orang"


"Ishh kakak deh, lagian mas Azka juga nggak marah kok, iya kan mas?" ucap Kinara cemberut seraya menatap pada sang suami yang memasang muka datar.


Tuan Wibowo hanya bisa tersenyum saja dalam hati, meskipun sebenarnya ini salah karena mereka bukan muhrim yang sesungguhnya. ingin rasanya ia menegur tapi lidahnya tak kuasa jika Kinara yang meminta.


"Ayah kok tumben baru dateng lagi ke sini?" tanya Kinara pada sang ayah


"Ayah kangen kalian, ayah rindu kita ngumpul lagi, setelah ibu nggak ada kita udah jarang banget bisa kumpul nak" ucap tuan Wibowo sendu.


Kinar menghela nafas berat mendengar penuturan ayahnya. memang benar apa yang ayah katakan semenjak ibu tidak ada mereka sudah jarang sekali berkumpul. semua sibuk dengan pekerjaan dan larut dalam kesedihan berkepanjangan.


Kinara tahu ayahnya begitu kesepian setelah ibunya tiada. itulah mengapa saat tahu Revan menemukan ibu kandungnya, ada keinginan dalam hati Kinara agar sang ayah menikah kembali.


"Ayah kenapa nggak ajak Tante Ratih dan mbak Mala kesini juga.?" tanya Kinara sengaja memancing respon sang ayah.


"Kan tahu sendiri kalau Tante Ratih belum stabil nak, gimana mau ajak kesini?"


"Tapi nanti kalau Tante Ratih udah sembuh dan sehat lagi ayah mau kan menghalalkan?"


Deg


"Astaghfirullah adek ini apaan sih?" tanya Revan yang terkejut mendengar ucapan absurd Kinara. Azka dan Keisya hanya tersenyum saja mendengar ucapan Kinara. sedang kan tuan Wibowo tampaknya malu-malu mendengar penuturan sang anak.


"Ra, nggak boleh gitu ah, malu tuh ayah kamu godain mulu" tegur Azka.


"Biar keluarga kita lengkap lagi mas, ada mbak Vivi yang bentar lagi sah jadi mantunya ayah, ada Keisya, ada mbak Mala terus ada Tante Ratih pengganti nya ibu, jadi lengkap deh" ucap Kinara senang meski hatinya perih saat mengatakan hal itu.


"Kamu ini nak, ada-ada saja, ayah ini sudah tua udah nggak kepikiran untuk cari gantinya ibu, ayah udah janji setia sampai mati" ucap tuan Wibowo.


"Keisya gimana ikut ujian susulan paket c kemarin?" tanya Revan pada adik kembarnya.


"Alhamdulillah lancar kak, soalnya juga mudah kok, karena mbak Rena udah sering ngajarin di rumah" jawab Keisya tersenyum.


"Baguslah, nanti mau kuliah dimana?"


"Aku mau sekolah di pesantren kak"


Semua yang ada di ruangan itu terkejut mendengar ucapan Keisya. Rena yang baru saja datang membawa nampan akhirnya ikut menimpali.


"Maaf tuan, sebenarnya non Keisya udah lama tertarik belajar agama. bahkan sering denger dakwah online kyai-kyai yang terkenal itu" ujar Rena.


Tuan Wibowo manggut-manggut mendengar ucapan Rena, ia merasa senang jika Keisya sudah mulai belajar agama.


"Keisya yakin mau mondok di pesantren nak?" tanya Tuan Wibowo hati-hati


"Iya ayah" ucap Keisya mantap sekilas melirik Azka yang duduk di seberang sedang berbincang dengan sang istri.


"Kalau kamu udah yakin nanti ayah ajak kamu ke pondok pesantren tempat teman ayah"


"Beneran ayah?" tanya Keisya berbinar.


"Serius, tapi nanti ya setelah nenek kalian kembali kesini"


"Nenek?" sahut Kinara-Keisya bersamaan.


"Iya nenek kalian akan kembali rencananya dua bulan lagi" ucap Tuan Wibowo


"Yes akhirnya ketemu nenek, udah lama banget nggak lihat nenek" ucap Kinara girang. sedangkan Keisya nampaknya masih bingung dengan ucapan sang ayah.


"Nenek Widya namanya nak, ucap tuan Wibowo pada Keisya, dia orang tua dari almarhumah ibu kalian" ucap tuan Wibowo pada Keisya.


"Nanti kalau nenek datang, ayah harap kalian bisa menerima keadaan nenek ya nak, nenek meskipun sudah sepuh tapi masih kuat kemanapun, hanya saja daya ingatnya sudah menurun karena faktor usia" ujar tuan Wibowo pada kedua putri kembarnya.


"Ayah kok tumben kesini malam, mau nginep kan?"


"Iya mau nginep, kakak mu baru saja selesai donor darah siang tadi ini juga baru di bolehin pulang sama dokter"ujar tuan Wibowo


"Hem pantesan agak pucat, udah makan kak atau butuh mbak Vi yang masakin biar nggak pucet lagi?" goda Kinara.


"Hahahaha" mereka semua tertawa bersama kecuali Keisya yang sejak tadi berusaha menata detak jantungnya.