
"Pa, siapa yang nawarin rumah kontrakan sama papa?" tanya Sean yang datang ke ruang kerja papa nya.
"Yang jelas kakek tua nggak sengaja ketemu di perempatan jalan" Jawab papa
"Trus kenapa papa nggak nge-cek langsung aja ke lokasi waktu itu malah nyuruh aku yang kesana" Sean mendumel
"Ya kamu kan tahu sendiri papa harus meeting dadakan makanya papa minta kamu ke sana."
"Papa tahu alamat rumah kakek itu?"
"Papa lupa nanya karna buru-buru"
"Tadi pagi Sean mampir dulu di rumahnya pak RT, katanya semalam anaknya pak rt liat penampakan seperti pemilik rumah itu padahal orangnya udah meninggal 14 tahun lalu. pak rt ngijinin Azka nginap dirumah nya untuk beberapa malam sampai dapat kontrakan baru."
"Assalamualaikum tuan" Yusuf datang menghampiri kedua bos besarnya.
"Waalaikumsalam Suf, sudah dapat?"
"Maaf tuan sampai saat ini saya belum menemukan keberadaan kakek itu,saya sudah menyusuri semua lokasi bahkan sampai di panti jompo pun saya tidak menemukan tanda-tanda keberadaannya."
"Anaknya pak rt semalam usul sama Azka kalau mau minta bantuan temen detektif nya buat nyari kakek itu." Ujar Sean
Pak Anderson mengeryit heran
"Maksudnya dia punya teman seorang detektif?"tanya nya kemudian.
"Iya pa"
"Ya udahlah, sebenarnya ini masalah nggak terlalu penting juga, kamu cari kontrakan lain yang dekat dengan kantor dan sekolah Suf"
"Maaf tuan, itu rumah di seberang jalan depan kantor mau di sewakan"
"Maksud kamu rumah lama milik anggota dewan itu?"
"Iya tuan"
"Baiklah itu saja. kamu atur saja bagaimana baik nya yang penting Azka aman"
"Baik tuan"
🍂🍂
"Hmm liburan kemana ya?"Cici bergumam sendiri seraya mengetuk meja dengan pulpen.
"Liburan mulu di pikir, Bulan depan udah mulai sinkronisasi kata bu Anti" sahut Riska yang duduk di sampingnya.
"Aishh..pengen cepat lulus terus kuliah abis itu nikah deh xixixi" Cici bermonolog
pletak
"Lo mau kasi makan apa anak lo kalo nggak kerja?" Nana ikut menyahut
"Ishh kebiasaan deh lo Na main pukul mulu" Cici mengomel karna Nana memukul dahi nya.
"Ye..lagian ujian aja belon udah mikir kesan sini"
"Biarin..bete tau, andai aja adek gue masih hidup kan gue ada temen di rumah huuft" mata nya kini berembun mengingat almarhum adik satu-satu nya yang meninggal satu jam setelah lahir.
Nana dan Riska saling pandang lalu merangkul Cici bersamaan.
"Kan ada kita-kita yang selalu setia dalam suka duka"
"Cup cup udah jangan sedih"
"Hem"
"Hem"
Ketiga menoleh dan memutar bola mata jengah.
"Lagi reunian Mbak?" sindir Ririn
"Seneng deh pagi-pagi dapat vitamin mata, Beb mana tisu hiks hiks" Aldo yang sok ikutan sedih
"Iiihh lebay deh beb" Ririn menoyor pundak Aldo.
"Looh looh bu lurah pagi-pagi mukanya kusut" Ucap Riska yang melihat Kinara masuk ke kelas dengan wajah yang sulit di artikan.
"Husst" Aldo dan Ririn serempak menyenggol lengan Riska.
"Oops maap, urusan dalam negeri" Riska berbicara pelan saat Kinara hanya melewati mereka berlima.
"Ra, lo di panggil ke ruang guru" teriak Sisil dari depan pintu kelas.
"Ck, apaan Sil?" tanya Kinara
"Mana gue tahu..dah sono di tungguin pak Edwin"
"Ck" Kinara mencebik lalu beranjak ke ruang guru.
"Perang dunia ke sepuluh" Aldo bermonolog
"Hush urusan dalam negeri" tegur Nana
Kinara berjalan pelan dan menyapa beberapa teman yang berpapasan di koridor.
Saat Kinara masuk ke ruang guru, Ia hanya mendapati Edwin di sana.
"Maaf pak, bapak manggil saya?" tanya Kinara
"Oh Kinar, panggil nama aja lah lagian ini cuma kita berdua belum ada guru lain datang"
"Ehehe tetap saja bapak di sini kan juga guru"
"Ya udahlah terserah kamu"
"Ada apa pak?"
"Ini lembar jawaban yang sudah saya koreksi kamu bagikan."
"Oh iya baik pak" Kinara mengambil tumpukan kertas itu dan saat hendak melangkah Edwin menghentikan langkahnya.
"Apa kamu ada waktu Ra?" tanya Edwin
Kinara menoleh "Untuk?" tanya nya
"Aku mau ngajak kamu dinner" ucap Edwin
"Hmm maaf aku nggak bisa"
"Kenapa? apa karna laki-laki itu?"
"Maksudnya?" Tanya Kinara terkejut
"Udahlah, kalau kamu nggak bisa sekarang lain kali bisa kan?"tanya Edwin sekali lagi
"Maaf nggak bisa" Ucap Kinara lalu segera memutar langkah keluar dari ruang guru.
"Masih ada kesempatan untuk merebut hatimu Ra, sebelum janur kuning melengkung" batin Edwin memandang punggung Kinara yang hilang di balik pintu.
Kinara masuk dan membagikan hasil Ujian Semester teman-temannya.
"Yeeeeii gue dapet 95" Teriak salah seorang siswa
"Gue 100 santai aja kali" teman lain menyahut
"Sombhhong" Ejek yang lain
"Ra lo dapet berapa?"tanya Riska, Kinara hanya mengedikkan bahunya.
"Udah pasti 100" sahut Cici
"Mana gue liat" Ucap Nana merebut hasil ujian Kinara
"What?" Pekik Nana melihat hasil ujian Kinara
"Apaan sih Na?" Ririn ikut penasaran lalu beralih posisi ke samping Nana
"Ini apaan?" Tanya Cici bingung melihat banyaknya coretan koreksi di lembar jawaban Kinara
"Bodo amat lah, bete gue" ucap Kinara lesu lalu duduk di kursinya
"Iishh ini nggak bisa di biarin, siapa sih yang ngoreksi?" Omel Riska
"Udah pasti si Edwin monster ambisius, obsesius , songongus blablabla..."Sahut Cici.
"Bener tuh, kalo bu Triana nggak mungkin kayak gini caranya ngoreksi" Beno ikut menimpali pasalnya dia juga penasaran dengan banyaknya coretan di lembar jawaban Kinara.
"Ada udang di balik tepung... enak mas, maknyus mas..." Aldo bernyanyi sambil bergoyang.
"Akkhhh...sakit ogeb" Sungut Aldo, pasalnya Azka memukul pantatnya terlalu keras.
"Joget sana tengah lapangan biar rame" ucap Azka
"Boleh.. hayuklah tapi lo yang main kendang sambil duduk terus di depan lo ada kotak amal, buat nadahin saweran" balas Aldo
"Sama aja lo nyuruh gue ngemis. ****** lo" sahut Azka.
"Nggak sekalian aja bikin topeng monyet Do" sahut Ferdi
"Bhwaaaaahaha cocok deh lo Do" Ucap Hilman menyahut
"Bacot lo pada... ntar gue bikin topeng monyet beneran mampus lo" Sungut Aldo tak terima
"Lo cocoknya bikin grup tari daripada pencak silat" sahut yang lain
"Lanjooooot taaareek seees" Aldo asik berjoget sambil bernyanyi ria tanpa peduli nyinyiran teman sekelasnya yang pada geser semua. maklum setiap minggu kosong setelah semester memang seperti itulah keadaan mereka di kelas.
"Kayak anak baru aja lo Ci, udah tau otaknya geser ke kiri masih aja lo nanya" jawab Ririn
"Ye situ kan bini nye, sempat lo salah kasi obat makanya nggak geser ke kanan"
"Bwhaahaaaa barusan omongan lo nyambung Ci... hahahaha"
"Eh mereka kenapa pada diem-dieman?" bisik Cici pada Ririn
"Urusan dalam negeri, bukan urusan gue" jawab Ririn acuh
"Ck lo mah nggak asik,"
"Sampe berantem kayak gitu kemarin-kemarin nggak mungkin lo nggak tahu"
"Biarpun gue tahu, trus apa hak gue ikut campur, yang penting para lelaki udah akur"
"Bener juga sih"
"Daripada ngurusin mereka mending lo urusin tuh musuh bebuyutan lo"
"Males banget, bengek gue liat mukanya"
"Sok,-sok an ntar cinta beneran lo tau rasa"
"No, sampai kapanpun Dzulfikar tetap musuh gue"
"Preet!"
"Si Kinar kemana kok ngilang gitu aja?" Cici yang menyadari teman sebangku nya raib tiba-tiba.
"Barusan keluar, lo aja yang nggak nyadar kebanyakan nyebutin nama musuh lo dalam hati"
"Ck paan sih, nggak asik deh lo Rin"Ucap Cici cemberut, Ririn hanya menjulurkan lidahnya,
"Riska sayaang.. Nana cantiiik ngantin yuuk"
"Lagi bokek..." ucap Nana malas
"Ris, ayo dong gue laper"Rayu Cici
"Gue udah sarapan sembeb.." Jawab Riska cuek
"Lo kan tahu Riska anak mami, pagi-pagi lo ajak ngantin mana mau lah" cerocos Ririn
"Ck lo aja deh" usulnya pada Ririn
"Ah demi sahabat baik gue dari orok, hayuklah gue temenin doang" ucap Ririn.
"Ahh gitu dong.. emang baik lo"balas Cici
Merek berdua keluar dari kelas berjalan menyusuri koridor dan sesekali berhenti untuk meledek teman-temannya atau adik kelas mereka.
"Eh gue dengar kak Hamka kuliah ke luar negeri" Ucap Ririn
"Berita lama kali," balas Cici
"Lo udah tahu?"
"Hem" Cici mengangguk
"Lo baik-baik aja kan?"
"Emang gue kenapa?"
"Ya siapa tahu lo sakit hati gitu di tinggalin"
"Emang gue apa nya dia?"
"Beneran?"
"Bener gue nggak papa, ngapain juga mikirin orang yang belum tentu mikirin kita, buang waktu aja"
"Kirain lo masih getol ngejar-ngejar dia, apa lagi pas lo tahu dia anaknya teman bokap lo"
"Itu kan dulu, anggep aja gue lagi masa pubertas, maklumin aja lah"
"Permisi, ini pesanan nya mbak" Seorang pelayan kantin menyuguhkan pesanan mereka.
"Makasih mas Yuda" ucap Ririn
"Mbak, mbak emang gue Mbak lo?" Omel Cici yang di sambut tatapan aneh sang pelayan
"Husst Ci" tegur Ririn
"Maafin temen saya ya mas Yuda, maklum lagi patah hati" lanjutnya
"Ishh patah hati apaan sih?" Cici sewot
"Ck bisa diem nggak sih lo" Tegur Ririn
"Nggak papa Mbak, mudah-mudahan cepet sembuh patah hati nya mbak" ucap mas Yuda tersenyum ramah lalu meninggalkan mereka.
"Kenapa sih lo tiap ketemu mas Yuda bawaan nya jengkel mulu, emang dia salah apa?" oceh Ririn
"Ck nggak tau, males banget gue liat mukanya yang sok jaim, kayak robot ekskavator" ucap Cici di sela membumbui bakso pesanannya.
Ririn mengeryit heran mendengar kalimat yang terlontar dari sahabat sejak dalam kandungan itu. pasalnya baru kali ini ia melihat Cici sebal dengan orang yang tak jelas dimana letak kesalahannya.
"Jangan gitu, siapa tahu dia jodoh lo" nasihat Ririn.
"Amit-amit jangan sampai deh"
"Kita nyari Kinar abis ini ya, tiba-tiba perasaan gue nggak enak" ucap Ririn di sela menyeruput teh hangat nya. Cici mengacungkan jempolnya karna mulutnya penuh dengan bola-bola bakso.
Sementara itu di perpustakaan Kinara masih sibuk membolak-balik buku yang sejak tadi belum ia baca.
Sejak pertengkarannya dengan Azka membuat mood nya berubah tak menentu. Ada rasa aneh saat Azka tak berada di sampingnya,
Tidak ada lagi pertengkaran kecil saat akan berangkat ke sekolah seperti beberapa waktu lalu.
Flashback sebulan lalu
"Ra cepetan, tugas kimia belum aku kerja" Panggil Azka yang sudah berada di anak tangga paling bawah.
"Bentar, sabar dulu, masih pake jilbab"teriak Kinara dari dalam kamar.
"Lelet" teriak Azka
"Ck, bisa sabar nggak sih?" Gerutu Kinara yang masih sibuk mengaitkan peniti di jilbab nya. setelah selesai ia langsung menyambar tas dan berlari menuruni anak tangga.
"Buruaan gue nggak bisa nyatat ntar" Azka semakin mengoceh membuat Kinara jengah.
"Makanya sebelum pergi kerja, tugas sekolah selesaiin dulu"
"Kerja juga buat lo" Azka semakin kesal
"Emang gue nyuruh?"
"Nggak" Jawab Azka dongkol sembari berjalan keluar menuju gerbang tempat dimana Aldo sedang menunggu mereka dan Kinara menyusul masuk ke mobil.
"Wah bentar buku tugas kimia gue ketinggalan Do" Ucap Kinara tiba-tiba saat Aldo sudah akan menjalankan mobil.
"Mau lo apa sih Kinar?" bentak Azka tiba-tiba
"Ya maap gue lupa, nggak usah nyolot napa" sungut Kinara
"Kebiasaan"
"Sama lo juga"
Aldo hanya geleng kepala melihat tingkah kedua bos nya yang setiap hari adu mulut sampai diem-dieman nggak jelas bahkan tak jarang Azka tinggal di apartemen untuk menghindari Kinara
Flashback off
Semua hal tentang Azka terangkai satu persatu di benak Kinara, dari sejak mereka bertemu pertama kali sampai pertengkaran mereka terakhir setelah pulang dari teater.
"Arrgh kenapa sih ke inget dia mulu" gerutunya dalam hati. Kinara menelungkup kan kepalanya di atas meja.
"Kinar lo kenapa?" sapa Febi yang datang duduk di sampingnya.
"Ngantuk" jawabnya singkat
"Barusan, nggak biasanya deh"
"Ck, diem ahh gue bete"
"Bete?" tanya Febi meyakinkan pendengarannya
"Ck apaan sih Feb, ganggu aja" Kinara manyun lalu beranjak pergi meninggalkan Febi yang terheran-heran melihat tingkah nya.
"Tuh anak salah makan kali ya?" batin Febi bingung melihat Kinara yang sudah menghilang di balik pintu.
Kinara berjalan lesu menuju ke toilet wanita dan masuk ke dalam tanpa melihat kondisi dan situasi toilet.
klek
Kinara mengunci pintu toilet dari dalam.
hayoooo apa yang akan terjadi selanjutnya???
silakan tinggalin jejak dulu ya biar Mbak othor semangat nulis.
bye selamat malam sabtu 🙏🙏🙏