KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
139 Kembar Mayang



Setelah sarapan Kinara dan Azka langsung bergegas pergi kerumah sakit menjenguk Fikar. sejam yang lalu Reno sudah memberikan kabar jika Fikar sudah di pindahkan keruang perawatan.


Tersangka yang menabrak Fikar juga sudah di proses hari ini. beruntung tersangka sangat kooperatif dan mengakui kesalahannya. bahkan saat tahu jika korban yang di tabraknya adalah adik dari pegawainya di restoran dengan serta merta ia meminta pengacara nya untuk memberikan kompensasi besar untuk biaya perawatan Fikar. bukan hanya itu tersangka juga memberikan sejumlah modal usaha pada pak Jujun sebagai bentuk rasa bersalahnya. sejatinya ia tahu jika Fikri adalah pegawai yang rajin dan di kenal sangat jujur. bahkan saat pak Jujun menemui nya di kantor polisi ada rasa malu di hati tersangka melihat kebesaran hati pak Jujun menerima musibah bahkan dengan lugas memaafkan kesalahannya.


Sementara itu di desa tempat Keisya tinggal terjadi cekcok kecil antara Keisya dan anak Bulik Sri yang baru pulang dari pesantren, Keisya yang memang selalu tampil santai setiap hari hanya memakai jeans atau rok dengan kaus oblong kebesaran rambut di kuncir kuda, hari ini ia terpaksa harus menurut untuk di colek-colek wajanya oleh penata rias. terlebih lagi dengan baju kebaya yang ia kenakan.


"Rin, saya nggak suka pake baju ketat begini" Keisya mengeluh karena kebaya yang ia kenakan sangat ngepas di badan hingga menampakkan bentuk tubuhnya yang ramping tak berisi itu.


"Udah cocok mbak, ngga usah rewel sehari doang kok" Arini mendumel


"Kelihatan kurus aku Rin, mending pake baju kamu yang gamis itu aja kelihatan kalem, ini risih sumpah deh"


"Mbak tenang dulu nanti eyeliner nya belepotan loh ini mau di aplikasikan dulu, diem ya jangan goyang-goyang" ucap sang penata rias.


"Wes to mbak manut ae, lagian sisa masangin jilbab doang, gampang itu bisa di atur" ucap Arini lagi seraya membenarkan letak jilbabnya.


"Aiishh..mana roknya sempit nggak bisa jalan" keluh Keisya memperhatikan setelan kebaya dengan rok dari bahan batik tenun itu.


Arini hanya bisa menghela nafas panjang mendengar ocehan kakak sepupunya itu.


"Mbak itu cantik Lo pake setelan kebaya gini, auranya menguar, siap-siap aja jadi bahan tontonan tamu undangan xixixi" Arini berkelakar


"Ck, dah ah, selesai mbak?" tanya Keisya pada penata rias seraya membuka matanya perlahan-lahan


"Udah mbak, nah kalau gini kan tambah cantik emang dasarnya udah cantik ya..." ucap penata rias tersenyum senang karena hasil polesannya sempurna.


"Sekarang tinggal pake apa, jilbab kan?" tanya Keisya


"Iya sini giliran jilbab biar aku yang Makein, mbak Atun bisa siap-siap juga" ucap Arini mengambil jilbab berwarna senada dengan kebaya yang di kenakan Keisya.


Dengan cekatan jemari Arini memasangkan jilbab, Keisya hanya diam mematung sesuai perintah Arini.


"Kamu udah kayak ahli ya Makein jilbab, padahal aku sendiri masih belajar sampai sekarang, lebih mudah pake jilbab instan" ucap Keisya


"Nah dah jadi, kita berangkat jnaagn lupa tasnya mbak" ucap Arini tersenyum memperhatikan Keisya yang bertambah berkali lipat auranya. Meski tak di pungkiri kalau ia juga jadi primadona desa bahkan di pesantren dia punya julukan princess Sofia dari teman-teman seasrama nya.


"Ck ribet ah, Cepetan pergi biar cepat pulang" ucap Keisya


Arini berjalan mengekor di belakang Keisya keluar dari kamar sementara mbak Atun sang penata rias yang juga sudah sepaket dengan wo milik mas bagus kakaknya masih memakai jilbab.


"Mbak Atun nyusulin apa di tungguin?" tanah Arini


"Tunggu lah, tega amat sih neng"


"Ya udah di depan ya"


"Hem ya"


Kinara sudah tiba di depan pintu rumah namun langkahnya harus terhenti karena melihat banyaknya tamu undangan yang memarkirkan kendaraan mereka di depan rumah bahkan ada yang masih duduk-duduk santai di gazebo depan dan masih ada banyak lagi duduk santai sambil merokok di bawah pohon rambutan dan pohon mangga di samping rumah.


Karena rumah hajatan tepat di depan rumah dan hanya terhalang jalan desa sehingga para tamu yang datang sengaja memarkirkan kendaraan mereka di rumah tetangga yang lain, Keisya melihat rumah samping kiri dan kanannya yang halamannya juga sudah terisi penuh dengan kendaraan terparkir semrawut tanpa ada yang mengatur.


"Rin, emang kalau di desa hajatan gini ya?" tanah Keisya pada Arini yang berdiri di sampingnya


"Tuh mobi motor sepeda parkirnya sembarangan di rumah orang" tunjuk Keisya dengan dagunya.


"Namanya juga di desa mbak, tuh lihat jalan desa aja separuh sudah di pake tenda karena halaman aja nggak cukup kalau buat masang tenda sebesar itu. yang punya hajatan orang penting di desa anaknya kiyai sepuh disini dulu, jadi maklumlah kalau tamunya juga banyak" Jelas Arini


"Aku malu mau keluar Rin, mba Atun mana?"


"Aku disini mba, ayo kesana saya duluan ya karena mas Bagus sudah nelpon ini saya harus nata pelaminan dan cek konsumsi" ucap mbak Atun berjalan melewati kedua gadis itu.


"Ngikut mbak" seru Arini mengikuti langkah mabuk Atun


"Rin, pintu rumah di kunci dulu lah" Keisya menahannya karena mengingat amanah Bulik Sri kalau rumah harus di kunci sat mereka pergi.


"Oh iya lupa, ya udah mbak Atun duluan lah, aku ngunci rumah sek"


Arini kembali masuk ke dalam rumah mengecek pintu dan jendela sudah terkunci atau belum. setelah yakin semua terkunci ia bergegas ke depan.


"Ayok mbak tak kunci rumahnya" ucap Arini seraya mengunci pintu depan.


Keisya berdiri tegak melihat ke semua arah


semakin banyaknya tamu undangan yang hadir matanya sibuk menelisik setiap rumah tetangga yang di sini kiri kanan jalan yang halamannya sudah layaknya lobi parkir.


"Ayok mbak, kita jalan kesana tadi di amanahin mas bagus jaga catering" ajak Arini menggandeng lengan Keisya.


Mereka berdua berjalan ke luar halaman, sejak keluar dari rumah banyak yang menatap mereka berdua tanpa berkedip terutama para pemuda desa ataupun pemuda tamu undangan dari luar desa.


"Rin, aku malu Rin, pulang yuk" bisik Keisya yang berjalan lambat karena rok yang ia kenakan memang sempit dan menyesuaikan dengan bentuk tubuh nya yang tinggi semampai.


"Udah sampe mau pulang malu-maluin mbak"


"Nggak nyaman ih"


"Udah ah nggak usah malu" ucap Arini seraya menelisik ke dalam mencari seseorang. posisi mereka berdiri tepat di depan pintu masuk penerima tamu jadi memudahkan Arini mencari sosok mbak Rasti kakak iparnya sang pemilik wedding organizer yang di sewa Gus Rohid.


"Mbak Ras" panggilnya melambai pada orang yang sedang mengatur jalan para tamu untuk naik ke pelaminan.


"Ngapain sih manggil mbak Rasti segala" tanya Keisya


"Diem dulu lah, tadi mas Bagus minta aku buat jaga bagian catering, makanya aku manggil mbak Rasti buat mastiin" jawab Arini.


Rasti yang tahu adik iparnya tengah melambai ke arahnya langsung bergegas untuk menemui di pintu penerima tamu.


Dengan ekspresi wajah tegang mbak Rasti menghampiri mereka.


"Haduh beruntung kalian datang cepet, yang bawa kembar Mayang kurang dua orang, yang di amanahin kena musibah di jalan barusan kalian bisa gantiin kan?"


"What?" Arini dan Keisya terkejut dengan ekspresi berbeda, Keisya yang tahu tentang adat istiadat terkejut karena mendengar sebutan kembar mayang yang ia pikirkan adalah orang. sedangkan Arini terkejut karena lagi dan lagi ia harus mengangkat pelepah pisang dengan banyak rumbai itu sendirian hingga prosesi adat selesai.


Mbak Rasti menatap kedua anak gadis di depannya dengan harap cemas.


"Mau ya pliss bantuin mbak" ucap mbak Rasti memohon menangkupkan kedua tangannya di depan adik iparnya.