KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
80 Markas Baru Anthony



"Ini sudah jam berapa Rob?" tanya Anthony yang masih berjalan sembari menyisir rerumputan liar di depannya.


"Menjelang fajar tuan pukul 3.40 dini hari, tidak lama kita akan sampai di pemukiman warga" jawab Roby lugas.


"Apa kau membawa bekal untuk kita?"


"Nanti saya akan membeli perbekalan kita selama perjalanan di pasar subuh"


"Baiklah jangan sampai ada yang mengenal kita"


"Tenang tuan, tidak ada yang mengenali kita disini, karena hutan itu terkenal angker, warga tak akan berani masuk ke hutan itu, asal tuan tidak mengatakan pada warga saja."


"Polisi pasti masih mencari barang bukti kematian Vera Rob"


"Tenang saja tuan, polisi tak akan menemukan bukti apapun"


"Baguslah, kita harus cepat dan aku harus menyamar agar warga tidak menaruh curiga padaku"


"Baiklah tuan, aku sudah menyiapkan penyamaran anda"


"Bagus"


Anthony dan Roby menyusuri sungai kecil yang arusnya tidak deras, dengan langkah penuh hati-hati berbekal senter yang ia bawa.


Ada rasa takut menjalar yang Anthony rasakan saat melewati arus sungai, bayangan kematian Vera tiba-tiba saja hadir dalam benaknya. merasa seperti di perhatikan oleh seseorang, Anthony mempercepat langkahnya melewati arus sungai.


Roby tahu apa yang terjadi pada tuannya, dalam hati ia merasa kasihan sekaligus kecewa. sudah empat tahun ia bekerja pada Anthony, ia mengenal betul pribadi Anthony yang sesungguhnya.


"Maafkan aku tuan jika kali ini aku harus membuat mu sakit terlebih dahulu sebelum polisi yang membuatmu seperti di neraka. semoga dengan ini anda bisa bertaubat" batin Roby.


"Rob, coba lihat disana, seperti ada lampu penerangan apa kita sudah dekat dengan pemukiman?"


"Iya tuan kita hampir sampai, itu mungkin dari arah persawahan, biasa warga yang berjaga malam di sawah memakai lampu di dalam gubuk mereka"


"Oh begitu, ayo kita kesana"


"Jangan tuan, mereka akan curiga pada kita, sebaiknya kita jangan melewati persawahan, kita langsung potong jalan ke arah pasar"


"Apa itu tidak terlalu jauh?"


"Tidak tuan, kita lewat jalan ke arah Utara, jalan itu menuju ke arah pasar, meskipun kita harus melewati perkebunan warga"


"Baiklah"


Anthony dan Roby melanjutkan langkah sesuai dengan arah yang ditunjuk oleh Roby, meski Anthony merasa seperti diawasi ia tetap bisa menyembunyikan ketakutannya.


Roby memang sengaja membawa Anthony ke arah yang berlawanan dari pemukiman warga, sesuai dengan tugas yang di berikan oleh tuan_bos yang sebenarnya_.


"Kita sampai tuan, tunggu disini aku akan ke pasar membeli keperluan yang akan kita bawa selama perjalanan. jangan meninggalkan tempat ini agar tidak ada warga yang mencurigai anda tuan"


"Ya baiklah, jangan terlalu lama kita harus segera pergi dari sini"


Roby meninggalkan Anthony di sebuah bekas warung tak terpakai yang berada tak jauh dari pasar.


Dengan langkah lebar ia masuk ke dalam pasar yang mulai ramai dengan para pedagang yang akan membuka lapak mereka. Roby menemui beberapa anak buah lain dari bos _yang sebenarnya_ di dalam pasar. Sebagian dari mereka menyamar sebagai pedagang dari desa tetangga yang akan menjual hasil bumi mereka.


Di sebuah truk yang memuat bahan pokok beras Roby menemui mereka. setelah mendapatkan apa yang di inginkan Roby pergi meninggalkan mereka lalu masuk ke dalam pasar untuk membeli kebutuhan untuk Anthony di pengasingan nantinya.


setelah di rasa cukup, ia pergi meninggalkan pasar dan kembali menemui Anthony di tempat semula.


"Maaf tuan, tadi aku bertemu warga yang sedang kesusahan mengangkat dagangannya jadi aku sedikit membantu mereka dahulu,"


Anthony yang mendengar ucapan Roby terdiam seketika, ada raut tak suka di wajah Anthony namun ia tepis seketika, entah kenapa mendengar ucapan Roby barusan seperti mengingatkan ia pada seseorang di masa lalunya.


Seseorang yang sudah membuat dunia nya jungkir balik dan larut dalam kebencian mendalam. sekaligus seseorang yang pernah membuat hidupnya pernah berwarna meski sesaat.


"Rob, apa kau sudah menikah?" tanya Anthony sembari mengunyah makanan masuk ke dalam mulutnya.


Anthony terdiam, lagi-lagi ia merasakan sesuatu yang menyentuh hatinya mendengar ucapan Roby.


"Apa kau punya seorang adik?"


"Aku punya saudara kembar tuan, tapi dia sudah menikah dan hidup terpisah dari kami di luar pulau."


"Jadi hanya kau sendiri saat ini yang belum menikah dan mengurus orang tuamu?"


"Aku masih punya adik angkat yang mengurusi orang tuaku di rumah tuan"


"Adik angkat?"


"Ya, orang tuaku menemukan seorang bayi lima belas tahun lalu di depan rumah majikan tempat bapak bekerja di kota. bayi itu kemudian di bawa bapak kepada majikannya, namun majikan itu menolak untuk mengasuh karena anak itu tidak jelas asal usulnya. akhirnya bapak memutuskan untuk mengasuhnya saja hingga sekarang"


"Siapa gerangan majika bapak mu?"


"Aku tak tahu pasti tuan, hanya saja bapak pernah menyebut namanya kalau tidak salah tuan Bagus Wiraatmadja seorang pebisnis textil di kota"


Deg


Anthony terkejut mendengar sebuah nama yang tak asing di telinganya, nama marga yang yang ada pada nama belakangnya. ada bayangan masa lalu yang tiba-tiba melintas begitu saja di benaknya. namun ia menepis.


"Ada apa tuan?"


"Ahh ti..tidak apa-apa, ayo kita lanjutkan perjalanan, apa masih jauh?"


"Masih ada dua hari dua malam tuan kita baru sampai di kampung halamanku. dari sini kita akan menaiki bis menuju ke terminal kota. kita akan lebih banyak transit di perjalanan nanti tuan."


"Tak apalah yang penting aku bisa bersembunyi sementara waktu".


*****


"Bagaimana rencanamu tuan Edwin?"


"Sudah berjalan, untuk sementara waktu kita akan membawanya ke pengasingan semoga disana dia akan belajar banyak dan segera bertaubat sebelum kita membawanya ke jeruji besi"


"Bagus juga, ada baiknya dia di berikan sanksi sosial terlebih dahulu agar bisa menyadari letak kesalahannya selama ini"


"Ya semoga saja tuan Denias, ku dengar Amira semalam menemui keponakan kembarnya?"


"Ya benar tapi entahlah, aku tidak mendapat kabar darinya sejak semalam, semoga semua baik-baik saja seperti harapan kita"


"Maafkan aku jika terlambat bertindak"


"Tidak apa-apa tuan, semua butuh waktu tidak harus kita paksakan sesuai keinginan kita."


"Sudah sejak lama sejak kematian bibi Liliana aku mulai curiga dengan Anthony, sejak saat itu akan mulai mencari tahu tentang Anthony dan dan masa lalu Amira, awalnya aku kecewa saat tahu semua keterkaitan antara mereka. namun Amira bisa meyakinkan aku bahwa ia tak ada andil di dalam nya untuk apa yang Anthony lakukan pada perusahaan papa saat itu".


"Sudahlah semua sudah berlalu, ambil saja pelajaran sebagai penopang kita di masa depan. aku sudah memaafkan semuanya. Insha Allah ibu akan kami bawa kembali ke tanah air segera setelah ini".


"Aku ingin menemuinya tuan"


"Itu harus karena anda menantu yang tak kasat mata, wajib datang dan sungkem pada ibu"


"Hahahaha hahahaha "


"Kita akan lihat dua hari lagi, tunggu saja kabar dari Roby di sana"


"Ya ya ya, aku juga sudah tak sabar bagaimana Anthony tiba di markas barunya"


"Semoga saja ada kabar baik"


"Amiiin"