
"Parah.... baru simulasi aja nilai gue cuma segitu" keluh Cici saat keluar dari ruang komputer
"Hahahaa.. makanya jangan kebanyakan mikirin liburan mulu" cibir Febi
"Ck...gak asik deh lo Feb, Eh Vera berapa nilai lo?" tanya Cici pada Vera yang baru saja keluar dari pintu ruang komputer
"Haiish nggak usah nanya lo pasti udah tau jawabannya..." jawab Vera dengan wajah kusut
"Ahahaa ada temen gue Feb.." seru Cici
"Ahahaa dasar aneh.." Febi tertawa lalu meninggalkan kedua teman beda kelasnya itu.
"Woii Ci... lo udah liat jadwal ujian praktek?" tanya Aldo yang baru saja tiba karna gilirannya sesi ke dua simulasi.
"Belon ada jadwal panjul" jawab Cici acuh
"Siapa bilang... coba lo ke mading sono" tukas Aldo
"Yoi...ntar deh"
"Jangan entar..entar nyesel lo" ucap Aldo
"Ck iya deh...dah sono masuk giliran lo tuh"
"Iye bawel.."cibir Aldo saat memasuki ruang komputer.
Cici dan Vera pun berlalu meninggalkan lab komputer menuju ke kantin.
Saat ini siswa kelas XII SMA Harapan memang sedang di sibukkan dengan segudang kegiatan menghadapi ujian nasional. apalagi Ujian kali ini tidak lagi seperti yang sebelumnya, Ujian nasional kali ini berbasis komputer (UNBK). sehingga di perlukan kesiapan yang matang bagi semua peserta ujian nasional.
"Loh Ra, lo udah selesai simulasi?" tanya Ririn yang berpapasan dengan Kinara di koridor sekolah
"Baru aja keluar, dah giliran lo tuh sesi dua" jawab Kinara
"Yoi, gue duluan" ucap Ririn berlalu
Kinara melanjutkan langkahnya sembari memainkan ponsel tanpa sengaja ia menabrak punggung seseorang yang berdiri di depannya.
bugh
"aaiish Ahh maaf pak maaf..." ucap Kinara menunduk tanpa melihat siapa yang berdiri di depannya.
"Nona muda.." ucap orang tersebut saat menoleh ke belakang melihat siapa yang menabrak nya.
Kinara mendongak untuk melihat siapa yang di tabrak nya.
"Loh mas Yusuf....Fatimah?" Kinara terkejut karna melihat Fatimah ada di sekolah
"Pagi Mbak Kinara, eh salah nona muda" sapa Fatimah membungkukkan badan nya sedikit untuk memberi hormat pada Kinara.
"Eh jangan gitu ah malu tau di liat banyak orang." ucap Kinara yang merasa tak enak karna sikap Fatimah.
"Kok mas Yusuf ada disini?" tanya nya kemudian
"Saya mengurus kepindahan Fatimah ke sekolah ini nona" jawab Yusuf
"Loh kok pindah sih, bukannya di pesantren juga lebih menyenangkan?" tanya Kinara dengan alis berkerut.
"Sebenarnya ini mau nya ibu, karna semenjak ibu sakit beliau selalu meminta Fatimah untuk pulang" Jawab Yusuf berterus terang.
"Terus Fikri dan Fahmi gimana?" tanya Kinara
"Mereka masih menetap di pesantren nona, karna Fatimah anak perempuan satu-satu nya makanya ibu nggak bisa jauh-jauhan sama Fatimah" Yusuf menjawab sambil tersenyum kikuk takut jika ucapannya menyakiti hati adiknya.
"Oh gitu ya udah besok kalau saya ada waktu kosong Insya Allah mau jenguk ibu juga" ucap Kinara menatap Fatimah " kamu bisa kan temani saya nanti berkunjung Fatimah?" tanya
"Bi.. bisa nona saya siap menemani kapanpun nona mau berkunjung ke rumah" jawab Fatimah kikuk
"Ya sudah saya duluan ya mas Yusuf, Fatimah mau ke perpustakaan dulu" Kinara berpamitan
"Iya nona, sebelumnya terimakasih" ucap Yusuf seraya menundukkan kepala sedikit di ikuti sang adik.
"Iishh kalian ini biasa aja kali..nggak usah pake nunduk gitu, aku nya malu, nggak enak tuh di liatin banyak orang padahal bukan artis loh" ucap Kinara di iringi candaan
"Biar bagaimana pun saya bekerja pada nona" ucap Yusuf sopan
"Bukan lah.. sama papa dan ayah bukan sama aku" Kinara mengibaskan tangan masih dengan nada tak terima jika di sanjung. "Ya udah aku duluan dah telat nih, semoga betah ya Fat, bye " Kinara memutar langkah lebih cepat karna tak mau lagi melihat adegan Yusuf dan adiknya yang seperti tadi.
Saat Kinara berlalu Yusuf dan Fatimah tetap menunduk hormat pada Kinara sebentar. dan itu menjadi perhatian para siswa siswi yang mondar mandir di koridor.
"Emang Kinara anak sultan ya sampe di hormati gitu?" tanya Naila yang tak sengaja melihat adegan Yusuf dan Fatimah tadi saat melewati koridor.
"Ck lo nggak tau apa bego sih? nama belakang Kinara siapa coba?" tanya balik Rosa
"Saraswati Wibowo" jawab Naila
"Lo inget pas perpisahan kakak kelas kita dulu, pemilik yayasan ini kan datang, lo ingat pembicara waktu itu namanya Wibowo?" Rosa balik bertanya
"Hem nggak inget soalnya gue kan jatah menari daerah waktu itu tempat gue di belakang panggung" Naila menjawab
"Hemm sekolah ini yang punya bokapnya Kinara"
"Hah?" Naila melongo
"Lo masih nggak percaya?" tanya Rosa dan Naila hanya menggeleng
"Liat aja nanti pas perpisahan kalau masih nggak percaya" ucap Rosa kemudian
"Tapi penampilan nya biasa aja kayak anak lain" Naila berdalih
"Justru itu istimewanya Kinara dia anak orang kaya banyak harta tapi nggak sombong apalagi mau hamburin uang, supel, ramah nggak pernah keluyuran,kerjanya cuman belajar, sholat, belajar, sholat itu mulu" Rosa berujar panjang lebar.
"Wow it's amazing news today" Naila bergumam
"Biasa aja kelleeeeees" ujar Rosa yang semakin mempercepat langkahnya.
Memang benar tidak banyak siswa yang tahu siapa Kinara sebenarnya, di balik penampilan nya yang biasa saja, sederhana, supel dan tidak ada satupun barang bermerk melekat di tubuhnya justru menjadi daya tarik tersendiri bagi orang yang benar-benar mengenalnya lebih dekat.
Selama ini Kinara memang di kenal pribadi yang kalem dan nggak neko-neko dan ini juga yang membuat Azka menjatuhkan hatinya pada Kinara. meski tak jarang mereka bertengkar hanya untuk hal-hal kecil sampai membuat mereka saling diam, acuh dan bahkan menghindar satu sama lain.
Bahkan sampai hari ini pun kedua nya masih terlibat perang batin. setelah tragedi terkunci nya Kinara di toilet sekolah hubungan keduanya mulai membaik meski masih canggung bahkan Azka sesekali pulang kerumah papa nya hanya untuk mengobati rasa rindu nya pada Kinara meski istri nya itu tak menyadari.
Azka kini sudah menempati rumah kontrakan yang berada tepat di depan kantor pusat milik papa nya. ia tinggal tidak hanya berdua melainkan bersama ke empat sahabatnya Reno, Aldo, Beno dan Fikar.
Sesuai dengan perintah papa dan ayah mertuanya, Kini Azka setiap jam empat subuh selalu ke kantor memakai seragam cleaning service, pergi ke sekolah pukul tujuh pagi dan pergi bekerja di kafe setiap pulang sekolah. ia tidak hanya sendiri menjalankan misi itu tetapi juga di bantu oleh ketiga sahabatnya kecuali Aldo yang memang punya tugas khusus menjemput istri sang majikan mudanya.
Hingga suatu hari tragedi salah paham itu terjadi di kafe tempat Azka bekerja paruh waktu.
*Flashback sehari sebelumnya
Kinara yang sedang asik membaca buku di perpustakaan tidak menyadari kedatangam sesorang yang sudah duduk manis di sampingnya. sampai pada saat ia selesai membaca dan hendak menyimpan buku pada rak tanpa sengaja tangannya bersentuhan dengan pundak pria di sampingnya.
"Oh ma..maaf pak Edwin" ucap Kinara yang sudah menyadari siapa yang duduk di sampingnya
"Iya nggak papa, serius amat sih baca bukunya sampe nggak nyadap gitu, aku dari tadi duduk di sini" ucap Edwi
"Aku mau ngasih undangan ini, datang ya!" ucap Edwin seraya memberikan sebuah undangan
Kinara membuka dan membacanya.
"Insya Allah ya kalau nggak ada halangan aku usahain untuk datang" ujar Kinara kemudian lalu pamit meninggalkan Edwin yang tersenyum smirk.
"Semoga berhasil apapun akan aku lakukan untuk menaklukkan hati mu Kinar"batin Edwin.
**
Sehari setelah pertemuan Kinara dan Edwin di perpustakaan.
Azka sudah sibuk dengan kegiatan nya di kafe sejak pagi berhubung hari ini akhir pekan ia memilih lebih cepat masuk kerja setelah pulang dari kantor ayahnya pagi tadi.
Berhubung kafe hari ini di booking untuk acara ulang tahun salah seorang anak petinggi di negara ini. Azka sudah sibuk menghias kafe bersama 2 orang rekannya sesuai permintaan pelanggan.
"Akhirnya selesai juga" ucap Bima berkacak pinggang seraya memperhatikan semua hiasan yang sudah ia pasang bersama Azka dan Irma.
"Dah yuk istirahat dulu, 30 menit lagi di mulai nih" Ajak Azka pada kedua rekannya.
Selang 30 menit kemudian sang pelanggan yang sudah mem-booking kafe datang bersama reman dan keluarga nya.
Azka sempat terkejut saat keluar hendak menyajikan minuman, rupanya pelanggan itu tak lain adalah Edwin yang sudah memporak-porandakan hati nya beberapa waktu lalu. namun Azka lebih memilih diam tanpa berkomentar ataupun menyapa.
"Hei, mana cewek yang mau kamu kenalin ke mama?" tanya seorang wanita paruh baya yang nampak anggun dengan balutan gamis syar'i yang melekat di tubuhnya.
"Sebentar ma, sabar dikit mungkin lagi di jalan" ucap Edwin.
Azka masih bisa mendengar samar-samar percakapan dua orang beda usia itu. tapi ia tetap bersikap profesional.
Tak lama kemudian tamu istimewa yang di tunggu telah tiba.
Edwin sungguh terpukau dengan penampilan gadis yang baru saja memasuki kafe.
"Aku nggak salah jatuh cinta sama kamu, bukan hanya wajah tapi hati kamu juga cantik" batin Edwin masih menatap lekat pada gadis cantik idaman nya itu.
"Ehm.." Edwin berdehem mencoba menghilangkan kecanggungan.
"Assalamualaikum pak Edwin, maaf saya terlambat" ucap gadis itu yang tak lain adalah Kinara.
"Iya nggak papa, yang penting kamu dateng biar telat sejam aku rela nunggu kok hehe" ucap Edwin seraya menggaruk tengkuknya.
"Ayo sini aku kenalin sama keluarga aku" ajak Edwin kemudian, Kinara mengikuti langkah Edwin tanpa ia sadari ada sepasang mata yang menatap nya nyalang penuh amarah.
"Mam," panggil Edwin pada ibunya.
"Oh, ini siapa?" tanya mama nya
"Kenalin ini Kinara ma, gadis yang selalu aku ceritain ke mama" ujar Edwin bahagia.
"Ooh jadi gadis ini, kenalin saya Hanum mama nya Edwin," ucap bu Hanum
"Iya tante saya Kinara"
"Sepertinya aku pernah melihat gadis ini tapi dimana ya?" batin ibu Hanum yang menatap lekat Kinara saat menyalami gadis itu.
prannk
Sontak semua menoleh ke arah sumber suara. Kinara langsung berlari hendak menolong pelayan tersebut. namun langkah nya terhneti saat menyadari siapa pelayan itu.
"M..mas.." ucapnya perlahan.
Azka masih menunduk mengumpulkan pecahan gelas yang jatuh dari nampan yang ia bawa.
"Biar aku bantu" Kinara menawarkan diri namun lengannya di tahan oleh Azka
"Nggak perlu" ucapnya dingin seraya mengibaskan lengan Kinara sedikit keras.
"Udah nggak papa sini aku bantu" Kinara bersikeras
"Aku bilang jangan ya jangan Kinar" Azka sedikit mengeraskan suara nya dan mampu menarik perhatian seisi kafe. Edwin pun yang menyadari hal itu ikut merasa jengah pasalnya ia tahu jika pelayan itu adalah kekasih Kinara di sekolah.
Kinara tertegun sejenak, ia tak menyangka Azka akan membentaknya saat ini. akhirnya ia memilih untuk diam dan membiarkan Azka membersihkan sisa pecahan gelas.
"Akkh.." Azka meringis saat tanpa sengaja salah satu tangannya teriris pecahan gelas.
"Mas tangan kamu... "Kinara sontak meraih tangan Azka
"Nggak perlu repot Kinar itu udah resiko nya jadi pelayan" ucap sarkas Edwin yang tiba-tiba sudah memegang erat lengannya
"Maksud kamu apa Ed?" tanya Kinara yang merasa tersinggung karna Edwin meremehkan Azka.
"Edwin, mama nggak pernah ngajarin kamu seperti itu" tegur bu Hanum yang sudah ikut bergabung karna melihat ada darah, ia berinisiatif menolong karna memang profesinya sebagai seorang dokter.
"Tapi ma" Edwin berusaha menyela
"Mari saya bantu obati tangan nya mas" tawar bu Hanum tanpa menghiraukan rengekan sang anak.
Bu Hanum membuka tas nya dan mengambil obat merah, plester dan alkohol untuk membersihkan luka. dengan telaten bu Hanum mengobati tangan Azka.
"Sudah, jangan lupa untuk di ganti plesternya ya mas" ujar Bu Hanum
"Baik bu, terima kasih banyak" Azka berucap seraya menunduk.
"Sama-sama"
"Sepertinya aku juga pernah melihat anak laki-laki ini tapi dimana ya?" batin bu Hanum penasaran.
"Edwin mama mau pulang karna ada jadwal operasi besok pagi, jadi malam ini mama mau istirahat" ucap Bu Hanum tanpa menoleh pada anaknya.
"Tapi ma" Edwin masih merengek
"Nggak ada tapi-tapian" ucap bu Hanum tegas. Edwin sudah faham jika ibunya sudah memutuskan pantang untuk di lawan. akhirnya Edwin meninggalkan kafe dan berpamitan pada teman dan keluarganya yang lain.
Azka kembali ke dapur setelah insiden tadi dan tidak menghiraukan Kinara yang masih berdiri mematung memandang kepergian nya.
Kinara memilih keluar kafe dan menunggu Aldo menjemputnya kembali. ia duduk di teras kafe yang agak sepi karna hanya beberapa meja saja yang terisi.
Setengah jam ia menunggu Aldo namun tak kunjung datang. sampai akhirnya lengan kekar seseorang menariknya keluar dari kafe.
"Lepasin mas!" ucap Kinara. Azka berhenti lalu menatap nyalang dan mengibaskan lengan Kinara yang ia genggam.
"Ini yang kamu bilang menghargai pernikahan kita?" ucap Azka sedikit keras " Seenaknya kamu keluar menemui laki-laki yang jelas bukan suami mu atau keluarga mu?" Azka semakin emosi..
"Dengerin dulu penjelasan aku mas, ini nggak seperti yang kamu pikir" ucap Kinara. ia masih berusaha menahan genangan air mata yang hendak jatuh.
"Bullshit" ucap Azka sarkasme lalu meninggalkan Kinara sendiri di tempat parkir.
tak lama Aldo datang menjemputnya dan mendapati Kinara dengan airmata yang sudah membasahi pipi nya.
Rupanya adegan tadi tak luput juga dari perhatian seseorang."
Flashback off*