
"Kei, gimana udah enakan?" tanya Kinara pagi ini setelah sarapan. sejak kemarin memang ia tidak sempat melihat keadaan Keisya sang adik karena kondisinya juga drop sejak dari rumah sakit.
"Iya kak udah enakan" jawab Keisya seperlunya.
"Ini kakak bawain makanan kesukaan kamu, ini mbak Rena yang buatin, katanya kamu nggak mau makan dari kemarin"
Wajah keisya mendadak sendu mendengar ucapan sang kakak kembar.
"Simpan aja nanti aku makan" jawabnya singkat
"Kakak suapin ya?"
"Nggak usah, simpan aja di meja"
"Kei, kamu harus makan biar cepat sembuh"
"Nggak usah sok peduli deh, keluar sana" ucap Keisya ketus
Deg
"Kei..." ucap Kinara lirih hatinya terasa sakit saat mendengar penolakan Keisya bahkan ucapannya pun sangat menyakitkan.
"Udah pergi aja, ngga usah pedulikan aku, karena aku nggak berguna"
"Astaghfirullah kei, kamu marah?" tanya Keisya hati-hati berusaha menahan buncahan di dadanya.
"Ck, Pergi" usir Keisya dengan lantang dan mendorong kursi yang Kinara duduki dengan kasar hingga membuat Kinara terjatuh.
"Astaghfirullah nona" teriak Rena yang baru saja hendak masuk dan melihat kejadian itu. Rena membantu Kinara untuk bangkit dan memapahnya namun kram di perut Kinara membuat langkah Kinara terhenti.
"Sakit mbak" Kinara mengucap dengan lirih sembari memegang perutnya.
"Tolong, tolong..mbok Jum siapapun di luar tolongin" teriak Rena histeris membuat semua yang berada di luar masuk ke dalam
"Ada apa ini?" tanya Azka saat menyadari Kinara sudah tidak sadarkan diri lagi dan mengangkat Kinara.
"Bawa kerumah sakit tuan, cepat sebelum terlambat, " titah Rena mengikuti langkah Azka di depannya. mbok Jum tergopoh-gopoh berjalan menghampiri para asisten yang sedang bekerja.
"Kenapa ribut-ribut?"
"Nggak tahu mbok, non Kinara di bawa kerumah sakit"
"Astaghfirullah kenapa lagi?"
"Nggak tahu"
"Tadi bawain sarapan buat non Keisya tapi nggak tahu kenapa Rena teriak minta tolong."
"Keisya?" mbok Jum terkejut dan berlari menuju ke kamar Keisya. benar saja saat tiba terlihat Keisya sedang memegang pisau buah dengan tatapan nyalang ke semua arah.
"Astaghfirullah non, non sadar non tolooong, mas Revan tolong, tuan tolong semuanya" teriak mbok Jum di ambang pintu dengan wajah ketakutan dan tubuh gemetar.
Para asisten yang masih berkerumun di ruang tamu segera berlari ke arah pintu kamar yang Keisya tempati.
"Astaghfirullah, non istighfar non" suara bik Asih memeluk mbok Jum dan memintanya untuk minggir. bik Asih segera menghampiri Keisya yang masih gemetar memegang pisau buah dan mengarahkan ke sembarang arah dengan air mata masih menetes di kedua pipinya.
Bik Asih tahu, kondisi psikologis Keisya terganggu lagi, dengan langkah perlahan namun pasti bik asih mengambil kemoceng yang tergantung di sisi pintu dan melemparkan tepat di lengan Keisya yang memegang pisau. saat pisau terjatuh salah satu asisten langsung berlari masuk dan mengambil pisau itu lalu membawanya ke dapur.
Bik Asih memeluk Keisya yang masih tergugu dan mengusap lembut rambutnya seraya melantunkan doa. para asisten yang lain sudah kembali ke aktivitas masing-masing yang sempat tertunda tadi atas arahan mbok Jum.
"Sih, mau ku buatin apa ini?" tanya mbok Jum
"Ambilkan aku air putih aja mba yu"
"Yo wes tunggu ya?"
Mbok Jum berlalu ke dapur dan beberapa menit kemudian kembali ke kamar dengan segelas air putih. bik asih menerimanya dan membacakan doa sebentar lalu memberikan pada Keisya untuk di minum. beruntung Keisya tidak menolaknya ia habiskan hingga tandas air yang sudah di doakan bik Asih.
Melihat Keisya sudah mulai tenang bik asih membimbingnya ke kamar mandi untuk berwudhu. mbok Jum sudah keluar sejak tadi karena masih ada pekerjaan yang belum ia selesaikan.
"Non mau sholat? bibik belum sholat Dhuha tadi bolehkan bibik numpang sholat disini?"
Keisya mendongak sebelum menjawab dengan satu anggukan ia mengiyakan permintaan bik Asih. Keisya terdiam melihat bik asih melaksanakan sholat dua raka'at. hatinya tiba-tiba sedih teringat lagi apa yang ia lakukan tadi pada kakaknya.
Keisya menangis lagi mengingat sikap kasarnya pada Kinara, entah kenapa ada rasa tak suka saat Kinara tadi tengah membawakan nya sarapan. mengingat kasak kusuk pelayat yang kemarin berbicara di sampingnya membuat hati Keisya marah. segitu tidak berarti nya kah dia di keluarga nya sendiri? hingga dengan tega mereka menggunjingnya bahkan menghina almarhum Anthony.
Flashback
"Eh Bu denger-dennger istrinya dulu meninggal karena di bunuh"
"Masa sih?"
"Loh malah aku pernah denger cerita dari saudara ku di kota sebelah katanya dulu istrinya sakit gara-gara salah satu anak kembarnya hilang"
"Yang bener Bu, emangnya Kinara punya kembaran?"
"Iya Bu, bahkan dulu saudara ku pernah datang pada acara ulang tahun pertama anak kembarnya"
"Kasihan sekali ya, pantas saja Kinara itu di sayang banget kemanapun di kawal, jadi begitu toh ceritanya"
"Katanya sih di culik sama saudara nya sendiri, tapi bukan saudara kandung, bapaknya almarhum Bu Amina kan punya dua istri, nha menurut cerita yang beredar yang nyulik itu saudara tirinya Bu Amina,"
"Astaghfirullah teganya ya Bu, bener-bener jahat tuh orang masak keponakannya sendiri di culik meskipun keponakan tiri"
"Namanya juga orang psikopat bu, yang nyulik itu katanya punya gangguan jiwa"
"Yang bener Bu, ckckck pantas saja Kinara kemanapun di kawal, jadi ratu satu-satunya setelah kembaran nya hilang"
"Yah semoga saja cepat ketemu kembarannya kasihan saya lihat pak Wibowo"
"Iya semoga saja ya, dan semoga kembarannya nggak ketularan penyakit jiwa dari penculik nya"
"Hush jangan ngomong gitu Bu, doakan yang baik lah semoga saja bisa kembali dengan selamat"
Flashback off.
Bik Asih menghampiri Keisya setelah selesai sholat, memperlakukan Keisya seperti anaknya sendiri.
"Kalau non udah siap cerita bibik akan menjadi pendengar, untuk saat ini istirahat dulu ya, di minum obatnya dulu" ucap bik asih.
Sementara itu di rumah sakit Kinara sedang mendapatkan perawatan khusus karena mendapat guncangan mendadak sebab kursi yang di dudukinya tadi di dorong oleh Keisya dan membuatnya terjatuh dengan posisi miring dan tangannya menahan lantai agar kepalanya tidak terbentur tapi tetap saja perutnya terasa kram.
"Gimana dok?" tanya Azka panik
"Alhamdulillah bayinya tidak apa-apa, hanya saja tangan kanan Kinara sepertinya terkilir saya sarankan kalau bisa di urut ya tuan" ucap dokter Siska.
"Alhamdulillah, apa masih harus di rawat inap?"
"Iya saya masih harus memastikan kondisi janinnya lagi, dan tolong kondisi mentalnya di jaga jangan sampai stress berlebihan"
"Baik dokter terimakasih"
Setelah dokter Siska pergi, Azka menoleh ke arah Rena yang sejak tadi duduk menepi di kursi tunggu yang tidak jauh darinya. Azka menghampiri asisten Keisya tersebut.
"Mbak Rena, bisa ceritakan apa yang terjadi tadi?"
glek
Rena diam sesaat ada ketakutan dalam hatinya saat menatap sorot mata Azka yang penuh penekanan.
"Emm maaf tuan...saya...."
"bicara yang jelas mbak, jangan takut"
"Maaf tuan, tadi saat saya datang saya lihat non Keisya mendorong kursi yang di duduki nona muda dengan keras hingga nona muda jatuh dan saya langsung menolong nya untuk bangun tapi nona muda merasakan kram di perut nya makanya saya teriak minta tolong karena non Keisya sedang berusaha mengambil pisau buah di atas meja, saya takut kalau di celakai seperti dulu lagi"
"Astaghfirullah, ada apa dengan Keisya lagi mbak?"
"Kondisi kejiwaan nya memang belum sembuh total tuan, mungkin kematian tuan Anthony memberikan dampak buruk pada kondisi psikologis nya. "
"Astaghfirullah kenapa ada saja masalah gara-gara dia padahal sudah mati" umpat Azka mengusap kasar wajahnya.
"Maaf tuan, boleh saya bicara hal penting selagi belum ada tuan besar datang kemari"
"Apa lagi mbak?" tanya Azka sedikit kesal.
"Non Keisya sepertinya harus di jauhkan dari apapun yang bisa membuat trauma psikologis nya kambuh, terlebih lagi sepertinya non Keisya sedang mengalami masa pubertas"
"Apa.? pub... pubertas?"
"Iya tuan, maksud mbak apa?"
"Ini hanya praduga saya saja tuan, karena jujur sejak pertama kali tuan datang kerumah waktu itu sikap non Keisya memang sudah lebih banyak berubah dan sering meminta saya untuk mengantarnya kerumah tuan, tapi saya menolak dengan alasan di larang oleh tuan Denis, sebenarnya saya menolak karena menjaga perasaan nona muda"
"Saya nggak ngerti mbak maksudnya apa?"
"Non Keisya sepertinya tertarik dengan anda tuan, maaf ini hanya praduga saya saja, saya pikir sebelum semuanya terlambat ada baiknya saya mengatakan ini sekarang"
"Astaghfirullah" batin Azka dalam hati. sebenarnya ia membenarkan juga apa yang di ucapkan mba Rena tentang Keisya. sebagai laki-laki ia menyadari tatapan memuja itu dari sorot mata Keisya sejak awal mereka bertemu tapi Azka memilih acuh karena ia hanya mencintai Kinara yang memang sejak kecil menjadi cinta pertamanya.
Beberapa kali Azka mendengkus kasar berusaha menata perasaannya yang gundah. setelah meminta mbak Rena pulang lebih dulu Azka kembali ke ruang rawat Kinara.
"Sayang maaf tadi nganter mbak Rena dulu ke luar nyari taksi."
"Iya,"
"Mana yang sakit sayang?"
"Udah enakan kok, mungkin efek terkejut"
"Ya udah istirahat dulu, mau makan apa?"
" Nggak pengen apa-apa sih, tumbenan ya mas?" ucap Kinara seraya tersenyum.
"Iish kamu tuh"
Azka hendak menanyakan perihal kejadian yang menimpa istrinya tadi tapi ia urungkan melihat kondisi Kinara masih lemah dan tak mau membuat nya tambah banyak pikiran.