KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
126 Pergi



Selesai sholat Maghrib dan makan malam Revan langsung bergegas ke rumah sakit karena Azka harus pulang menemani sang istri yang ia tinggalkan kan sore tadi.


Papa Anderson masih berbincang dengan besannya dan dokter Wawan seputar keinginan niat tuan Wibowo yang harus pergi membawa Keisya secepatnya ke pondok pesantren.


"Apa tidak sebaiknya di tunda mas, kondisi Keisya masih belum meyakinkan untuk bisa tinggal di pesantren" ucap dokter Wawan


"Percayalah insha Allah semua ada jalannya" sahut papa Anderson


"Sebenarnya ini pilihan yang berat, tapi apa boleh buat, itu juga keinginan Keisya yang pernah ia ungkapkan" ujar tuan Wibowo


"Nggak ada salahnya kita coba" sahut tuan Anderson.


Tak lama Revan datang ke ruang rawat dengan wajah mendung, tapi tetap ia paksakan untuk tersenyum di depan ayahnya.


"Ayah udah baikan?"


"Udah, besok bisa pulang"


"Van, bagaimana Keisya?" tanya tuan Anderson


"Dia ada di rumah sama Mala dan ibu, aku tidak menemuinya lagi, biarkan dulu dia memikirkan letak kesalahannya" ucap Revan dengan nada tak suka.


"Maklumi, dia adikmu, kamu tahu bagaimana kondisi psikologis nya kan, jadi jangan paksakan dia untuk melakukan sesuatu yang ia sendiri belum sanggup untuk memahami secara logis" ucap tuan Anderson lagi


"Iya om, tadi Mala juga minta aku untuk tidak menemuinya dahulu agar kondisi nya lebih baik, jadi apa yang ayah putuskan, nekat pergi besok atau di tunda sampai acara pernikahan ku?" ujar Revan


"Besok ayah langsung pergi, sampai kan ke Mala untuk menyiapkan keperluan nya Keisya besok sore" ucap tuan Wibowo


"Baik ayah, eh om Wawan Rena dimana kok aku nggak lihat tadi waktu jemput Keisya?" tanya Revan pada dokter Wawan yang asyik bermain ponsel


"Loh kok nanya gue sih, ya kan kalian yang ketemu tadi, emang mas nggak ngajak Rena?" tanya dokter Wawan pada tuan Wibowo


"Rena langsung pergi setelah meluapkan emosi nya pada Keisya, mungkin dia sudah terlanjur kesal, pasalnya Keisya meminta pendapat Rena dan Rena memberikan pengertian tapi Keisya justru malah menyalahkan Rena" sahut tuan Anderson memberi penjelasan


"Loh, om tahu dari mana?" tanya Revan


"Azka yang cerita tadi sebelum dia pulang, sekarang Rena nggak tahu pergi kemana, bahkan bik Asih dan mbok Jum juga bilang Rena belum pulang kerumah sejak pergi sore tadi"ucap tuan Anderson membuat ketiga orang beda usia di ruangan itu mendadak terkejut.


"Tenang saja, anak buah ku sedang mencari Rena, tunggu saja kabar dari Azka, oh ya kalau saya boleh usul nih, gimana kalau Rena juga ikut di pondok sama Keisya?"lanjut tuan Anderson


"Sepertinya tidak mungkin" sahut tuan Wibowo


"Kenapa?" tanya sang besan


"Aku melihat sorot mata penuh kekecewaan juga ketakutan di mata Rena saat dia menampar Keisya tadi, aku yakin dia juga mungkin pernah punya trauma yang kita tidak pernah tahu, lebih baik aku mencari orang lain saja, biarkan Rena bersama bik Asih saja di sini." papar tuan Wibowo penuh sesal.


"Ehem, ayah nggak coba ngasih peluang buat adik ayah yang sudah duda ini kan?" ucap Revan Sengaja menyindir dokter Wawan.


"Nyinyir aja Lo, belagu" sahut dokter Wawan merasa tersindir


"Merasa Lo?"


"Eh katak berbulu, emang duda disini siapa kalau bukan gue anjay?" sahut dokter Wibowo kesal karena ucapan keponakan nya itu.


Tuan Wibowo dan besannya tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku Revan dan dokter Wawan yang selalu saja beradu argumen saat bertemu.


****


Mala menghampiri Keisya yang masih terbaring di atas kasur dengan tubuh tertutup selimut hingga leher.


Mala sudah memeriksa kondisi Keisya setengah jam yang lalu, karena sejak datang Keisya tak pernah keluar kamar.


"Anak ini panas tinggi dan demam" batin Mala setelah memastikan kondisi Keisya yang tengah menggigil dan tubuh panas tinggi.


Mala langsung menelpon Revan dan menyampaikan keadaan Keisya.


"Nanti bik Asih akan datang kerumah diantar sopir, kau tunggu saja, berikan ia makanan dan obat penurun panas dulu" ucap Revan di seberang telpon.


"Iya kak" ucap Mala.


Mala memandang nanar tubuh Keisya yang mengigil, rasa iba menelusup ke relung hatinya. ingatannya kembali pada masa dimana ia dan bapak serta ibu sambungnya pernah hidup dalam kesusahan sebelum mereka bertemu almarhum Rio kakak angkatnya.


"Aku juga pernah ada di posisi mu dek" batin Mala seraya menaruh kompres di dahi Keisya. Meski Mala tak tahu lebih jauh tentang masalah keluarga kakak angkatnya, tapi sedikit banyak ia tahu hubungan antara Kinara-Keisya dan Revan.


Menurut cerita yang pernah ia dengar langsung dari Revan jika Keisya memang sejak kecil terpisah dari orang tua karena di culik, dan saat kembali di temukan kondisinya memang sedikit terganggu atau depresi berat.


Keisya menggeliat saat menyadari ada sesuatu yang menempel di dahinya.


"Ka..kak" ucapnya parau


"Tenang ya kamu aman disini, kak Revan di rumah sakit jagain ayah" ucap Mala lembut


"Ka..kak..ma..na" tanya Keisya parau


"Kak Revan di rumah sakit dek" ucap Mala.


"Ki..nar" ucap Keisya lagi


Mala menghembuskan nafas kasar, rupanya yang di tanyakan oleh Keisya adalah kakak kembarnya. Mala tak tahu harus memberikan alasan apa. hingga ucapan itu keluar begitu saja dari mulutnya.


"Kak Kinara sedang sakit, ada di rumahnya belum bisa jengukin kamu,"


Pucat sudah wajah keisya saat mendengar ucapan Mala, tangis Keisya pecah. ia tergugu membuat Mala kebingungan untuk menenangkannya.


Hanya pelukan dan tepukan ringan di punggung dan rambut Keisya yang bisa Mala lakukan untuk memenangkan Keisya. Mala akui meski pernah merawat ibu sambungnya yang mengalami depresi berat tapi untuk kondisi Keisya, Mala masih tak tahu harus bagaimana karena kondisi psikis orang yang sudah tua dan anak remaja memang berbeda untuk menangani nya.


***


Azka yang baru saja sampai di rumah setelah dari rumah sakit, tidak langsung menemui Kinara melainkan membersihkan diri di kamar tamu terlebih dahulu.


"Mbak Reni, istriku sudah makan malam?"


"Sudah tadi di suapin nyonya den" tanya Azka pada mbak Reni yang membawakan handuk dan baju ganti untuk Azka.


"Mbak Reni kenal baik sama Rena nggak?" tanya Azka yang duduk selonjoran di lantai kamar


"Enggak" ucap mbak Reni geleng-geleng kepala hendak berlalu tapi pertanyaan Azka membuat nya berhenti


"Oh ya sudah kirain mbak kenal baik,"


"Justru saya baru tahu Rena pas non Keisya datang kesini pertama kali waktu itu"


"Oh kirain udah kenal baik,"


"Nggak den".


"Oh No..BIG NO Tuan!" refleks mbak Reni menolak pertanyaan Azka dengan suara lantang.


"Nggak usah nge-gas kali mbak" ucap Azka yang terkejut dengan penolakan mbak Reni yang secara spontanitas.


"Saya takut tuan, masalahnya kan itu orang depresi berat, saya takut di apa-apain kalau lagi kumat, beneran deh tuan"


"Ya udah kalau nggak mau, tetap jadi asisten mama aja ya, tapi mau sampai kapan? mbak Reni sekarang umurnya udah berapa?"


"Satu tahun di atas tuan sama nona muda, kan saya sekarang udah semester tujuh sementara ajukan proposal penelitian"


"Loh kok cepet harusnya kan mbak Reni baru semester lima"


"Ya kan saya dulu masuk TK di cepetin masuk SD juga di cepetin"


"Oh gitu ya udah deh, siapin saya makan malam"


"Oke sip den"


Setelah mbak Reni berlalu Azka mendapatkan telpon dari orang suruhannya yang ia tugaskan untuk mencari jejak Rena yang pergi entah kemana setelah insiden tampar menampar sore tadi.


"Bagiamana Jo?"


"Apa, pulang kampung?"


"Siapa yang susulin dia di stasiun?"


"Baguslah kalau gitu, bawa dia kembali tanpa cacat, kalau bisa bawa kerumah Dokter Wawan saja"


"Udah nggak usah banyak nanya"


"Oke kerja bagus, nanti saya transfer upahnya"


Setelah sambungan telepon terputus Azka langsung menghubungi sang papa dan menyampaikan keberadaan Rena saat ini.


"Biar dokter Wawan aja yang ngurus mbak Rena kayaknya lebih cocok pa, di jadiin istri aja sekalian hahaha" ucap Azka pada sang ayah di telepon. entah bagaimana reaksi dokter Wawan saat tahu ulah Azka kali ini.


Azka langsung masuk ke kamar mandi setelah sambungan telepon nya terputus.


sementara itu di rumah sakit tuan Anderson, Revan dan tuan Wibowo tidak henti-hentinya menggoda dokter Wawan karena rencana absurd Azka yang akan membawa mbak Rena ke rumah pribadi dokter Wawan untuk menjadi asisten disana. karena selama ini dokter Wawan memang hidup sendiri setelah di tinggalkan oleh almarhum sang istri yang meninggal beberapa tahun lalu karena kanker kelenjar getah bening stadium akhir.


***


Malam berganti pagi, tuan Wibowo sudah dalam perjalanan pulang kerumah ibu kandung Revan untuk menjemput Keisya.


"Ayah, apa ini nggak terlalu berlebihan jika kita membawa Keisya semakin jauh dari keluarga?"


tanya Revan sedih


"Insha Allah akan ada jalannya nak, berdoa saja, ayah juga menuruti keinginan Keisya yang ingin belajar agama di pesantren, kali ini ayah tidak mau egois memaksakan kehendak, cukup Kinara saja yang merasakan sakitnya karena ego kami tapi tidak dengan Keisya. ayah ingin membayar waktu yang terbuang selama lima belas tahun itu dengan nya, ayah ingin memberikan kasih sayang penuh padanya, jika kau izinkan ayah juga akan memenuhi keinginan Kinara untuk menikah lagi" ucap tuan Wibowo panjang lebar.


"Ayah serius?"


"Iya ayah serius akan menikah lagi jika kalian mengizinkan"


"Tentu saja, itu yang kami inginkan yah, di hari tua ayah ada yang bisa merawat dan membesamai ayah hingga akhir hayat" ucap Revan haru.


"Baiklah jika kau sudah mengizinkan, tapi untuk calon silakan kalian yang pilih ayah tidak mau memaksakan kehendak jika kalian tidak merasa nyaman" ucap tuan Wibowo


"Hem, baiklah nanti aku bicara dengan Kinara"


"Oh ya Van, untuk rencana mu mencarikan arsitek sepertinya tidak perlu, karena adik iparmu rupanya punya banyak sketsa perumahan hasil karyanya sendiri"


"Azka?"


"Iya"


"Si anak lembek itu bisa nggambar?"


"Loh justru ayah itu awalnya nggak percaya tapi dia nunjukin semua hasil rancangan desain interior dan eksterior rumah yang ia buat, dan kamu tahu, luar biasa hasil coretan tangannya, ayah sampai kagum dengan kemampuannya"


"Benarkah?"


"Tuan kita sudah sampai" ucap pak sopir menghentikan acara obrolan tuan besarnya.


"Baiklah mas Gun, ayah kita turun sepertinya keisya sudah siap itu kopernya sudah di depan"


"Ya udah kita masuk dulu ayah mau pamitan sama ibumu sebelum pergi"


"Hem, ya udah" ucap Revan yang mencium gelagat aneh dari sang ayah.


Revan dan sang ayah langsung masuk ke dalam rumah dan melihat kondisi Keisya yang sudah lebih baik.


Keisya duduk selonjoran di depan televisi bersama Mala dan ibu Ratih sembari menikmati sinema anak-anak yang sangat di gemari semua kalangan, dua bocah gundul yang selalu ceria.


Pukul dua siang tuan Wibowo dan Keisya pergi meninggalkan kota menuju ke suatu tempat yang jauh untuk membuka lembaran hidup yang baru dengan semangat dan niat yang baik.


Revan hanya mengantar hingga gerbang kompleks, tak ada iringan apapun untuk melepas kepergian ayah dan adiknya.


Mala dan ibu Ratih mengusap punggung Revan memberikan kekuatan agar ia tak terlalu larut dalam kesedihan.


Tuan Wibowo hanya pergi di temani bik Asih dan suaminya yang bertugas sebagai sopir pribadi mereka. sedangkan Rena sudah aman di rumah pribadi milik dokter Wawan.


Tuan Anderson dan mama Hanna hanya menelpon saja saat tuan Wibowo hendak pergi karena permintaan Mala melarang tuan Anderson dan keluarga datang kerumah untuk mengantar kepergian besan mereka.


Bukan tanpa alasan karena semalam ada satu hal yang membuat Mala mengambil keputusan itu meskipun berat karena selain depresi berat yang di alami Keisya rupanya ada sisi lain yang membuat Keisya seperti psikopat, ada dendam membara dalam hati Keisya yang masih menjadi teka-teki untuk Mala.


Tengah malam saat Keisya sudah pulas Mala nekat keluar rumah hanya di temani oleh asisten yang merawat ibu Ratih dan duduk di pos satpam untuk menelpon Revan dan menceritakan banyak hal tentang Keisya yang baru saja ia ketahui.


Dengan berat hati Revan akhirnya menerima saran dari Mala demi kebaikan semua orang. bahkan diam-diam rupanya Revan meminta salah satu teman baiknya yang seorang psikolog untuk ikut mobil sang ayah tanpa di ketahui oleh tuan Wibowo. Revan juga menugaskan beberapa orang bodyguard untuk mengawal ayah dan adiknya serta mengawasi tingkah laku Keisya dan melaporkan padanya setiap waktu tentunya semua itu ia lakukan secara diam-diam.


Tak lama setelah mereka masuk ke dalam rumah ada sebuah mobil mewah memasuki halaman rumah ibu Ratih.


"Kau....." ucap Revan terkejut


End???


belum Tamat ya, masih ada season dua tentang kehidupan baru seorang Keisya dalam menemukan jati dirinya. season ini masih ada beberapa puluh bab lagi sampai anak Kinara dan Azka lahir hehehehe... tungguin part-part selanjutnya ya..


jujur ini bab terpanjang yang aku tulis selama ini dalam waktu satu jam. kayak gimana tuh pegelnya jari mba othor hahahaha


Santuy guys.. ini pun masih lanjut nulis novel yang lainnya kok hehehe.


Thanks udah jadi pembaca setia karyaku. karena kalian aku bisa begini dan sampai di titik ini. love u all.