KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
111 Penyesalan Tuan Denias



Kinara sudah sadar namun masih merasa lemah, beruntung kondisi janin yang di kandung nya masih bisa di selamat kan. mama Hanna yang setia menemaninya sejak semalam begitu senang mendengar calon cucunya baik-baik saja.


Tak berbeda dengan Azka, dia juga sudah lebih baik setelah semalam pingsan. Dokter Fritz sudah menanganinya.


"Apa yang Lo rasain?" tanya dokter Fritz


"Nggak ada sih" jawab Azka pelan


"Lo kemarin kena serangan panik berlebihan bisa jadi itu juga pengaruh trauma masa kecil Lo, Lo kemarin makan nggak?"


"Nggak sempet makan siang sampe malam"


"Ck, udah tau kondisi fisik Lo begini kenapa juga sih selalu telat makan,"


"Abisnya...Lo kan tau sendiri jawabannya om bule"


" Ini obat Lo, selama Lo masih harus di rawat ya jadi tanggung jawab gue disini"


"Kinara gimana?"


"Alhamdulillah udah baikan, calon anak Lo juga hebat dia tetap bertahan, semoga nanti bisa jadi orang yang tahan banting dan tahan uji" ucap dokter Fritz tersenyum membuat senyum Azka pun langsung mengembang seraya mengucapkan syukur.


"Mulai hari ini Lo jadi tanggung jawab gue, om udah ngasih tanggung jawab sampai Lo benar-benar sembuh." ujar dokter Fritz menghela nafas berat


"Kondisi trauma Lo belum bisa sembuh secara total, terkadang masih ada hal-hal yang nggak bisa Lo hindari nah disitu bisa ganggu kondisi psikis Lo kayak kemarin" lanjut dokter Fritz menatap langit-langit


"Maafin gue om, gue belum bisa lupa bagaimana Rafka meninggal secara tragis karena ulah Anthony, jujur aja kemarin gue udah nggak tahan waktu om Denias minta datang kerumah sakit, bayangan Rafka di banting sampai meninggal masih terus melintas,"


"Makanya kemarin gue halangi Lo buat masuk ke ruang ICU, karena gue nggak mau Lo ngotorin tangan Lo ngerti?"


"Maaf om, sampai di rumah juga gue nggak konsen ngerjain tugas kuliah, gue sempet minum pil yang Lo kasih melebihi dosis hehe" ucap Azka seraya tersenyum malu.


"Astaghfirullah...pantesan, dan Lo minum dalam kondisi perut kosong?"


Kali ini Azka mengangguk mendengar cecaran Omelan dari dokter Fritz.


"Astaghfirullah, Lo mau bunuh diri, itu dosis tinggi anj*r, Azka.....huh" geram Dokter Fritz


"Maafin lah om ... " ucap Azka menghiba dengan menangkupkan kedua tangannya.


"Kenapa nggak langsung nelpon gue, mulai besok obat Lo gue ganti dengan dosis yang rendah, kalau ada apa-apa ntar gue lagi yang di salahin." ucap dokter Fritz kesal.


"Hehehe maapkeun hamba..."


"Serah Lo deh, kalau bosan hidup mati aja"


"Abis Lo ngeselin jadi orang ,udah deh gue mau kerja"


Di kantor Eins Corp, tuan Anderson terlibat perdebatan dengan tuan Denias. tuan Anderson yang memang sudah geram sejak beberapa Minggu lalu kini akhirnya marah tak ada habisnya.


"Saya sudah minta dari awal, jika kedatangan Anthony jangan lagi libatkan anak istriku dan keluargaku, sudah cukup Anthony menjadi boomerang untuk anak istriku Denis, bertahun-tahun aku melihat anak dan istriku depresi berat,aku tidak mau membuka kembali kenangan menyakitkan itu"


"Sejak awal pun aku sudah meminta adikmu Amira dan suaminya untuk menangani Anthony, karena aku tak mau mengotori tanganku, sudah cukup keluargaku menderita hingga aku kehilangan putra ku"


"Selama ini aku mengikuti apa kemauan mu Denis, tapi pernah kah kau berpikir apa yang Kinara rasakan, bahkan ia tahu dengan jelas jika Anthony yang membunuh ibunya, apa kau tidak mengerti bagaimana tertekannya kedua keponakan mu itu, lalu apa bedanya dengan kami Denis?, kami pun masih trauma hingga detik ini, biarkan Anthony mendapatkan konsekuensi dari perbuatannya, aku sudah tidak mau ikut campur, kau urus saja saudara tirimu yang psikopat itu, aku tak mau berurusan lagi, aku lebih mementingkan kondisi psikologis anak istri ku di bandingkan egomu"


"Apa kau pikir trauma yang kami rasakan bisa kau beli dan kau ganti dengan yang baru layak nya kau membeli sebuah baju? tidak akan pernah Denis" geram tuan Anderson


"Maafkan aku Jim, ku pikir dengan kalian bertemu Anthony, kalian bisa lebih legowo melihat kondisinya saat ini memprihatinkan, maafkan aku yang sudah gegabah mengambil keputusan tanpa memikirkan perasaan kalian" ucap tuan Denias memelas karena merasa bersalah.


"Sudahlah aku tak mau lagi berdebat, minta maaflah pada Kinara-Keisya juga Azka, mereka korban keegoisan Anthony, mereka yang lebih menderita di usia mereka yang masih sangat muda, aku tidak ingin masalah ini bisa mempengaruhi kondisi psikis mereka, terlebih lagi Kinara yang sedang hamil" ucap tuan Anderson pelan.


Tuan Denias memilih pergi tanpa sepatah katapun, ia masih menyesali tindakan gegabah nya tanpa memikirkan bagaimana perasaan mereka yang pernah tersakiti karena ulah Anthony yang psikopat.


Tuan Denias pergi kerumah sakit menemui Kinara dan Azka untuk meminta maaf, selama ini memang ia belum sempat meminta maaf pada Kinara karena kebohongan yang selama ini ia buat untuk menutupi kebenaran jika Keisya masih hidup, begitu juga dengan adiknya Amira yang ternyata masih hidup.


Sesampainya di rumah sakit, tuan Denias tidak langsung menemui Kinara melainkan menemui dokter Wawan, adik iparnya untuk mengetahui kondisi Kinara.


"Kinara masih shock mas, kita semua nggak tahu kan kalau selama ini dia tahu siapa yang membunuh mbak Amina, bahkan Kinara lebih memilih diam sekian lama tanpa pernah mau berbagi dengan kita, fisiknya bisa saja kuat tapi batin nya?" cecar Dokter Wawan


"Maafkan aku karena lalai"tuan Wibowo menunduk merasa bersalah


"Semua sudah terlambat mas, mereka semua korban keegoisan kita, mereka semua korban kekejaman Anthony, luka fisik bisa sembuh tapi luka batin tidak akan pernah bisa tertukar dengan apapun" ucap dokter Wawan yang juga merasa kecewa dengan sikap kakak iparnya.


"Belum lagi mas Bowo dan Revan, mereka lebih tertekan selama ini mas, pernah kah sampean mikirin apa yang mereka rasakan selama ini?"


"Mengetahui kenyataan bahwa dirinya anak biologis dari pria yang sudah menghancurkan keluarganya, apa mas pikir itu mudah? tidak mudah bagi Revan untuk memaafkan mas, mereka semua butuh waktu, Kinara-Keisya, Azka dan keluarga nya, juga keluarga kita, semua sudah menjadi korban psikopat Anthony yang gila, dan kesalahan itu berawal dari adikmu Amira, dia yang harus bertanggungjawab atas semua kekacauan di keluarga kita mas, jujur saja aku sudah tak mau berurusan lagi dengan Anthony, aku muak, pergilah temui Kinara dan Azka minta maaf pada mereka, beruntung janin Kinara masih bertahan, jika tidak mas yang harus bertanggungjawab atas itu" ucap sarkas dokter Wawan.


Tuan Denias hanya menunduk menyembunyikan air matanya, ia benar-benar lalai tanpa pernah memikirkan perasaan keluarganya, ia hanya mengingat pesan almarhum bapaknya untuk bisa legowo menerima kesalahan Anthony.


Selama ini ia selalu melakukan apapun tanpa pernah memikirkan perasaan keluarganya yang ikut terluka karena ulah Anthony selama bertahun-tahun.


Sesal memang selalu ada di belakang, di saat semua yang terjadi tidak sesuai dengan ekspektasi kita yang tinggi.


Dari yang terjadi pada Kinara dan Azka semalam membuatnya sadar jika perasaan orang lain lebih penting di bandingkan ego nya sendiri.


Tuan Denias gegas menemui Kinara setelah mendengar omelan adik iparnya itu, rupanya apa yang ia pikirkan tidak terjadi, Kinara justru mau membuka kisah kelam Kematian ibunya saat itu pada tuan Denias dimana ia harus menyaksikan bagaimana sang ibu menghembuskan nafas terakhirnya.


Tuan Denias merasa lega karena Kinara memiliki jiwa Sam seperti ibu dan neneknya, sebenci apapun ia pada seseorang, hanya butuh waktu saja untuk bisa menerima. menjauh mungkin lebih baik, jika bertemu semakin membuka lebar luka lama yang sudah tertutup rapat.