
"cit cit cit cit" suara burung menghiasai indahnya suasana pagi di pedesaan yang asri dan menghijau.
Sesekali burung itu mengepakkan sayapnya karena siraman air dari sebuah selang kecil yang ada di tangan seorang pria sepuh.
"Selamat pagi assalamualaikum kumang" sapa lelaki tua yang tak lain adalah tuan Wibowo.
Seperti inilah aktivitas paginya selama tinggal di desa. kakek sepuh dengan empat belas orang cucu itu selalu menyambut paginya berbicara dengan Kemang burung kesayangannya yang ia tolong beberapa tahun lalu saat ia mengambil pancingan di pematang sawah.
Burung yang jatuh dari ketinggian pohon itu tergeletak di atas atap balai-balai tempat beliau biasa bercengkrama dengan warga setempat beristirahat setelah lelah membajak sawah.
"Tuan, ada telepon dari nyonya muda" ucap seorang ajudannya
"Loud speaker saja" ucapnya meminta sang ajudan mengeraskan suara panggilan.
"Assalamualaikum akung... "teriak cucu perempuannya. Ponsel ikut bergetar seiring suara menggelegar dari sang cucu menyapa.
Tuan Wibowo tertawa riang mendengar teriakan cucu yang amat ia rindukan itu.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh cucu akung, apa kabar hahah" jawabnya dengan suara tertahan.
"Kabar baik, kakek lagi ngapain? jangan di jawab pasti lagi mandiin Kemang iya kan iya kan?? Hayo ngaku" ucap sang cucu
"hahahaha kamu memang cucu kakek yang paling peka hahaha"
"Khalila gitu loh hahaha"
Keduanya tertawa bersamaan, tak lama suara Kinara terdengar menegur sang anak.
"Halo ayah, kami sementara di perjalanan, ayah jangan kemana-mana," ucap kinara mengambil alih ponsel dari tangan anak bungsunya.
"Iya ayah dirumah, kalian bawa mobil berapa? jangan bilang lima mobil" tanya tuan Wibowo
"Hehe kali ini nggak lima tapi nambah tujuh karena pada pulang liburan semua yah, selama dua bulan mau tinggal di desa katanya" ucap Kinara
"Oh ya? Bagus dong, rumah kakek jadi rame lagi, tiga belas cucuku ada semua disini"
"Hahaha" mereka tertawa bersama.
",Ya udah yah, matiin dulu, nanti ketemu dirumah assalamualaikum"
"Hati-hati di jalan waalaikumsalam"
Tuan Wibowo melanjutkan aktifitasnya setelah sambungan telepon terputus.
"Tuan mau saya siapkan sesuatu untuk menyambut mereka?" tanya sang asisten
"Hehe tidak usah, nanti juga mereka bawa bekal sampai rumah ini penuh, bersihkan saja kamar-kamar mereka, oh ya apa yang saya minta semalam sudah kamu laksanakan?" tanya tuan Wibowo
"Sudah tuan, saya sudah membayar penuh gaji mereka untuk merawat makam Bu Andin dan keluarga nya, dan saya sudah pastikan tidak ada yang tahu" ucap Sanga asisten.
"Ya ya ya, terimakasih kerja keras kamu selama ini sudah lebih dari cukup, kamu mau pulang ketemu anak istri mu nggak? Atau kamu jemput mereka di stasiun?" tanya tuan Wibowo memberikan penawaran
"Maksudnya tuan?" tanya Sang asisten tak mengerti
"Hehe setelah anak-anak sampai di sini, kamu saya kasi waktu istirahat selama dua bulan, pulanglah kerumah anak istri dan orang tua mu, kasihan mereka, sudah lama ingin bertemu dengan mu" jawab tuan Wibowo
"Beb... benarkah tuan?"tanya sang asisten tak percaya
"Iya, cepatlah bersiap setelah kamu rapikan kamar untuk anak-anak"
"Baik tuan , terimakasih, terimakasih banyak" ucap sang asisten menyalami tuan Wibowo.
Tujuh puluh lima tahun bukan waktu yang sebentar, pahit manis kehidupannya selama ini sudah berhasil ia lalui dengan banyaknya batu terjal yang menghalangi langkahnya.
Kematian istrinya berpuluh-puluh tahun lalu adalah timbal balik dari semua ujian hidup yang ia rasakan, kehilangan seorang anak selama lima belas tahun, mengobati mental , fisik dan psikisnya bukanlah hal mudah.
Mengorbankan banyak hal demi membawa kembali sang anak dalam pelukannya, menyembunyikan identitas, hingga memaksakan anak menikah di usia dini dengan alasan wasiat.
Kini semua itu terbayar lunas dengan kehadiran ketiga belas dari empat belas cucunya yang terlahir ke dunia. Hanya satu keinginan nya kini. Ingin berakhir dan meninggalkan dunia ini menyusul sang istri dan cucunya di dampingi ketiga anak dan ketiga belas cucunya yang hidup.
Tuan Wibowo masuk ke dalam rumah dengan tersenyum menatap frame besar di ruang keluarga. Kesemua anak dan cucunya. Sorot Matanya beralih pada satu foto wanita muda jaman dulu yang masih nampak cantik dan semakin cantik baginya. almarhumah Amina Wiraatmadja.
"Terimakasih sudah mewarnai hidup ku sayang, tunggu aku sebentar lagi, kita akan bersama selamanya" batinnya tersenyum.
****
"Pa, siapa yang merawat rumah mama? selama ini kan kita nggak pernah pulang?" tanya Dira gadis kecil berusia sembilan tahun itu pada sang ayah yang berdiri keheranan di sisi makam sang istri dan keluarganya.
"mungkin perawat makam nak, udah kita berdoa sekarang buat mama, katanya Dira mau ngobrol sama mama?" jawab Reno masih dengan rasa keheranan.
"Iya pa" jawab anak kecil itu polos
Keduanya khusuk membacakan doa di atas makam Andini dan kedua orangtuanya, kakak, serta Bulik Atun yang juga sudah berpulang tiga bulan lalu.
tanpa mereka sadari di sudut luar makam, seseorang mengabadikan momen mereka dan langsung pergi setelah mendapatkan beberapa foto yang ia inginkan.
"Pa, kita kerumah Tante Puput?" tanya Dira memegang lengan sang ayah setelah mereka selesai berdoa
"Iya kita kesana dulu, Tante Puput katanya tadi lagi masak gulai kesukaan kamu, ayo ke sana" jawab Reno menggandeng tangan mungil sang anak.
"Pa, kapan aku punya mama baru? Temen aku Carol punya mama baru loh, karena mama nya meninggal sama kayak mama aku" tanya gadis cilik itu membuat langkah Reno terhenti
"Maafkan papa nak, mungkin seumur hidup papa tidak akan menikah lagi, hanya ibumu satu-satunya wanita yang membuat papa seperti ini, cukup kamu dan papa saja, kelak saat kau menikah papa hanya berharap kamu mendapatkan laki-laki yang menyayangi mu sama seperti kami" batin Reno sedih. Sedetik kemudian rona wajahnya berubah.
"Kamu mau punya mama baru? Emang kamu punya pilihan?" tanya Reno
"Hem... Nggak punya" jawabnya menggeleng.
"Ya udah, nggak usah, cukup ada kamu dan papa, kan ada mama Cintya, mama Kania, nenek, Tante Puput" ucap Reno
"Nggak mau, mereka kan punya anak juga, aku maunya yang mau tinggal sama aku, ngurusin aku," jawab gadis itu dengan wajah cemberut
"Sama aja nak, mau tinggal atau tidak mereka juga mama kamu"
"tapi mereka nggak bisa ngurusin papa, nyiapin baju papa, nyiapin makan papa" katanya merajuk.
Reno berhenti sejenak, merasa tak percaya dengan ucapan sang anak yang tidak sejalan dengan usianya saat ini. Sedewasa ini kamu nak? Batin Reno melirik dira yang tengah merajuk di sisinya.
"Ya udah gini aja, Dira yang nyari mama baru yang pas buat papa dan Dira. Harus Dira sendiri yang cari bukan papa, gimana?" tawarnya.
Anak kecil itu nampak berfikir lalu sesaat kemudian tersenyum dan mengangkat kedua jempol nya ke hadapan sang ayah.
"Setuju"
"Kalau nggak dapat sampai kamu dewasa gimana?" tanya Reno menjebak
"Tuhan itu adil ayah. udah pasti aku dapat, tunggu tanggal mainnya" ucap Dira tersenyum menang.
"oke siapa takut" tantang Reno tersenyum lalu menggendong sang anak keluar dari pemakaman.
End.