
"Mbak aku mau ke tempat ayah semingguan disana boleh kan?" tanya Keisya.
Semalam Keisya menginap di rumah Kinara, karena mama Hanna dan papa Anderson sudah pergi ke Jerman kemarin.
"Terserah kamu, lagian emang seharusnya kamu tinggal sama ayah bukan sama keluarga suamiku, kamu itu masih tanggung jawab ayah" jawab Kinara lugas.
"Ya, kondisi waktu itu kan nggak seperti yang kita mau mbak, maaf kalau gara-gara aku mbak dan keluarga terbebani" ucap Keisya lirih
"Kei, kamu sudah sembuh sekarang kamu bebas mau milih tinggal sama siapa tapi bukan lagi sama keluarga suami ku, mereka bukan mahram kamu ngerti?" kata Kinara
"Iya, mas Hanan juga pernah ngomong gitu, sebaiknya aku tinggal sama ayah di desa karena aku masih tanggung jawabnya" tambah Keisya.
"Ya udah, intinya kamu berhak mutusin mau tinggal dimana, mbak nggak punya hak melarang kamu atau nyuruh kamu ini itu Kei, kamu sudah dewasa, kamu harus bisa mutusin apa yang terbaik untuk kamu sendiri bukan mbak" nasihat Kinara
"Iya, besok pagi rencana aku mau berangkat bareng mas Hanan naik pesawat"
"Oke, udah siap-siap emangnya?"
"Belum sih, baru sedikit yang aku siapin"
"Ya udah kalau gitu kamu fokus rawat ayah aja ya disana, kasihan ayah sendiri, di minta tinggal di rumah sini juga ayah nggak mau, malah rumah utama mau di jual katanya"
"Rumah utama mau di jual? beneran mbak?"
"Iya, ayah kemarin nelpon katanya mending di jual aja itu rumah daripada kosong kayak rumah hantu, kak Revan sudah punya rumah sendiri, ibu Ratih sama mbak Mala juga sudah punya rumah, saya juga udah ada rumah, siapa lagi mau nempatin? rumah pemberian ibu juga sudah di sewakan ke orang lain sama om Denias, kamu juga sudah dapat jatah dari ayah di kawasan elit, trus siapa lagi yang mau nempatin, meskipun disitu banyak kenangan selama ibu masih hidup tapi tetap aja nggak ada yang rawat Kei," jelas Kinara
"Lah bukannya Tante Amira sama anak-anak nya sudah menetap disini?"
"Tante Amira nggak mau nempatin rumah itu, banyak hal soal ibu yang bikin Tante Amira merasa bersalah terus, makanya om Andrew beliin rumah baru di kawasan yang sama dengan rumah kamu dari ayah" terang Kinara
Keisya tampak mendesah berkali-kali, nafasnya tetap teratur tapi raut wajahnya sangat suram.
"Mbak, bisa anter aku ziarah makam ibu nanti sore?" tanya Keisya tiba-tiba
Kinara mengeryit, tapi sejurus kemudian tersenyum lebar, meninggalkan cucian piring tetap di tempatnya dan menghambur memeluk Keisya yang masih duduk di kursinya.
"Oke setelah semua kerjaan rumah selesai, kita ke sana sama si kembar oke?" ucap Kinara memandang lekat jiplakan wajahnya. Keisya tersenyum dan ikut memeluk Kinara.
Pukul sepuluh pagi setelah semua pekerjaan rumah selesai, Kinara benar-benar menepati janjinya untuk mengajak Keisya dan kedua anak kembarnya ziarah ke makam almarhumah ibu mereka.
Di temani dua orang baby sitter dan seorang sopir juga bodyguard, Kinara dan Keisya masuk ke dalam area makam, sedangkan kedua anaknya menunggu di luar pagar batas bersama baby sitter dan supir.
****
"Bang, rumah kok sepi?" tanya Azka saat pulang kerumah sepulang dari mengecek bahan bangunan di toko untuk cafe baru yang di bangun nya.
"Semuanya pergi ke makam tuan, katanya besok pagi nona muda mau ke desa ya?" tanya bik sang satpam
"Oh ya? saya malah belum denger kalau Keisya mau pulang kampung bang" kata Azka sedikit terkejut.
"Tadi nyonya yang bilang, makanya mau nyekar dulu ke makam" ucap bang Cecep satpam yang menjaga rumah Azka.
"Oh gitu, Abang udah sarapan?" tanya Azka
"Hehe belum sempet, tadi buru-buru ke pasar trus ngecek gudang"
"Mau saya yang siapin tuan, tadi nyonya pesen katanya kalau tuan pulang suruh nyiapin aja di meja"
"Nggak usah lah bang, biar aku ambil sendiri aja, Abang jaga aja di sini"
"Oh gitu, ya udah atuh"
"Saya masuk dulu bang"
"Iya tuan silahkan".
Azka berjalan masuk ke dalam rumah, langkah kakinya menapaki setiap inci lantai marmer itu dengan santai. bahkan saat ponselnya berdering ia tetap saja abai beberapa saat.
"Apaan sih gun?" tanya Azka setelah beberapa saat diam dan tidak merespon panggilan dari Gugun.
"Heh, pak direktur muda, ini gambar desain cafe yang Lo gambar kemarin dimana di simpan?" tanya Gugun di seberang telepon dengan kesal terdengar dari nada bicaranya.
"Di tas Lo sembeb" jawab Azka kesal
"Kagak ada anjir"
"Astaga... nyari yang bener Lo mah, kemarin pulang kampus Lo mampir kemana?"
"Gue langsung pulang ya, Lo aja naro nggak bener"
"Astaga.... Mata Lo di pake Gun, yang bilang "simpen disitu aja" kemarin siapa coba?"
"Eh gue ngomong gitu ya?"
"Nggak, terserah lah, nyari sendiri aja, yang penting udah gue masukin ke dalam tas Lo, dan Lo juga lihat , okee"
Tut
Azka menyimpan kembali ponselnya di atas meja, lalu berjalan ke arah dapur untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan.
Azka memang mengajak kriting juga Gugun untuk bekerjasama membangun dan mengembangkan bisnis cafenya, kriting yang pandai dalam pemasaran dan periklanan sedangkan Gugun lebih suka mendesain bangunan dan ruangan yang bakal menjadi cafe nantinya agar pelanggan merasa nyaman.
Perihal Reno ia sudah melupakan sejenak untuk tidak mencari tahu apapun lagi di depan sang istri, tapi diam-diam Azka juga tengah memberikan tugas pada salah satu anak buahnya untuk mencari keberadaan Reno saat ini tanpa sepengetahuan Kinara.
bukan tanpa alasan, Azka hanya tidak ingin persahabatan mereka harus berakhir karena permasalahan seperti ini meski tak bisa di bilang sepele, Azka masih ingin persahabatan mereka tetap terjalin tanpa ada dendam.
Jika ia di posisi Azka, tetap saja ia akan bertidak dan melakukan hal yang sama, tapi keadaan ia dan Kinara dulu benar-benar berbeda dengan Keisya dan Reno sepuluh bulan yang lalu tepat sebulan sebelum kelahiran si kembar.
Bahkan Azka terkadang sesekali mencoba membobol informasi apapun dari Reno berkat bantuan salah seorang temannya di kampus tapi tetap saja selalu gagal. bukan Azka tak tahu jika Reno juga memang ahli bidang IT. tapi ini benar-benar bukan Reno yang lari dari masalah.
Azka tahu betul karakter Reno yang sangat bertanggung jawab bukan hanya pada keluarganya sendiri tapi pada sahabat-sahabat mereka juga Reno di kenal dengan sosok yang tegas dan bertanggung jawab atas segala sesuatu.
Azka mengisi perutnya yang keroncongan hanya dengan nasi dan sambal serta lalapan yang tersedia di atas meja bekas sarapan istrinya tadi pagi. bukannya ia tak tahu menu kesukaannya yang sudah susah payah di masak oleh Kinara sejak subuh, tapi melihat menu makanan sang istri justru malah membuatnya ngiler.