KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 30



POV Reno


Kinara yang ku anggap selalu riang ternyata menyimpan luka begitu dalam. ketegaran dan keikhlasannya membuatku semakin kagum tapi tetap saja aku tidak bisa menjadi pria nya.


***


Seiring berjalannya waktu, satu persatu aku tahu permasalahan dalam keluarga besar mereka.


Saat itu ayah Azka sendiri yang mendatangi ku dan ketiga sahabat lainnya, meminta tolong agar bisa menjaga Azka dan Kinara dimana pun berada karena mereka adalah aset berharga keluarga mereka.


Ternyata bukan hal mudah menjadi pengawal pribadi Azka dan Kinara, bahkan seringkali kami bertengkar satu sama lain karena permasalahan sepele.


Beruntung aku dan dua sahabat lainnya hanya sebagai pengawal di saat-saat tertentu saja hingga kami semua lulus SMA.


Semenjak kelulusan, kami semua memang sibuk dengan urusan masing-masing, Aldo dan Ririn mengikuti pendidikan militer dan kepolisian, Beno lulus masuk di Oxford sesuai dengan cita-cita nya selama ini, Fikar mengambil jurusan kedokteran di universitas yang sama dengan Azka dan Kinara, begitu pun aku, yang masih menunggu tes masuk perguruan tinggi, aku mengambil jurusan olahraga sesuai dengan skill ku selama ini sebagai atlet basket.


Sahabat-sahabat cewek lainnya, Cici masuk ke pesantren, entah apa yang merasuki nya, cewek tengil dan paling cerewet bisa insyaf saat kelulusan. Ririn dan Nana, mereka kembali ke kota asal mereka dan memilih kuliah disana sembari bekerja paruh waktu membantu orang tua.


Dulu aku berniat setelah lulus SMA, ingin fokus menjalani usaha kos-kosan ibuku dan fokus kuliah hingga selesai. tapi nyatanya takdir hidup siapa yang tahu.


Justru setelah lulus aku satu-satunya yang diminta oleh tuan Anderson, orang tua Azka untuk menjadi bodyguard Azka dan Kinara kemanapun mereka berada. capek? jelas capek lah, pergi pagi jemput mereka di rumah orangtuanya, sampai di kampus juga masih harus nungguin mereka pulang, meskipun jam kelasku sudah selesai. belum lagi kalau ada jadwal mata kuliah yang bertabrakan dengan jadwal menjemput mereka. beruntung ada satu satpam yang mau ku ajak kerjasama menjadi pengantar jemput mereka. jadi di saat aku sedang dalam kondisi darurat karena dosen killer mau nggak mau aku harus meminta satpam yang menggantikan tugasku. beruntung Azka dan Kinara mau mengerti. tuan Anderson juga tak banyak berkomentar saat aku tidak menjemput mereka.


Hingga suatu ketika satu kebahagiaan dan kejadian memilukan tejadi bersamaan di waktu dan hari yang sama.


Keisya, adik kembar Kinara mengalami kecelakaan saat di perjalanan dari kota xx menuju ke kota J untuk menghadiri pernikahan kak Revan. aku tidak tahu menahu bagaimana awal mula terjadi.


Seorang sahabat baru ku sebutlah namanya Hanan, sedang kalut mendapatkan telepon dari tetangga depan rumahnya karena kecelakaan lalulintas di jalan xxx. bersamaan dengan itu aku juga mendapat bisikan dari anak buah kak Revan kalau Keisya mengalami kecelakaan di jalan xxx lokasi yang sama dengan tetangga Hanan. Hanan pergi lebih dulu. sedangkan aku baru menyusul setelah mendapatkan perintah dari kak Revan untuk kerumah sakit mendampingi Azka dan Kinara.


Keisya dinyatakan koma oleh dokter karena benturan keras pada kepalanya dan juga mungkin akibat trauma masa lalunya hingga membuat ia koma. aku dan Hanan serta bodyguard yang lainnya akhirnya di beri tugas baru menjaga nona muda Keisya dan juga keponakan tuan besar dan aku juga baru tahu kalau tetangga Hanan tak lain adalah sepupu Keisya bernama Arini.


Aku tak pernah berfikir jika ada permintaan konyol dari seorang ayah demi putrinya hanya karena wasiat dari orang yang telah meninggal. tuan besar Wibowo melamar ku hari itu setelah Keisya dinyatakan siuman dan bangun dari koma.


Sebenarnya sejak beberapa hari aku sudah tahu ini akan terjadi karena aku memang sudah sempat tanpa sengaja mencuri dengar pembicaraan tuan Wibowo dan ibu ku jika mereka ingin menjodohkan aku dengan Keisya.


Dengan beberapa pertimbangan hasil diskusi ku dengan ibu dan Azka, pada akhirnya aku memilih menerima saja permintaan tuan besar sebagai wujud rasa terimakasih ku pada beliau dan almarhum istrinya yang sudah banyak berjasa pada ku dan ibu.


Singkat cerita setelah hari pertunangan pun aku tetap berat menjalani hidup dalam keterpaksaan, berkali-kali aku mencoba untuk menerima, tapi tetap saja tak bisa. terlebih sikap Keisya yang sedikit agresif menurut ku membuat ku semakin jengah.


Hampir setiap tiga atau empat kali dalam seminggu Keisya mengirimkan pesan dan melakukan panggilan telepon dari pesantren meski hanya dua kali aku menengok nya disana karena permintaan Kinara selebihnya aku hanya meminta Hanan mewakili ku untuk mengunjungi Keisya sekedar membawakan kebutuhannya saja dari Kinara.


Berkali-kali pula Azka menegur sikap dingin ku, dan aku memang menyadari nya, setelah hari pertunangan itu memang rencana pernikahan kami akan di percepat tiga bulan kemudian itu yang membuatku merasa tertekan.


Aku belum merasa siap secara mental untuk menjadi kepala rumah tangga tapi harus di hadapkan dengan pilihan rumit karena balas Budi. berkali-kali aku memciba memberanikan diri berbicara pada Keisya untuk mengakhiri pertunangan kami tapi selalu gagal karena aku merasa gugup.


Hingga akhirnya di bulan mendekati pernikahan kami, saat semua hal sudah siap dari A-Z, aku memantapkan diri menjenguk Keisya dan mengajaknya jalan-jalan ke taman kota dan berakhir makan di cafe. saat itulah aku mengutarakan maksud ku untuk membatalkan pernikahan kami.


Shock?


Ya, aku melihat raut wajah tak percaya pada Keisya, aku tak pernah melihat hal itu sebelumya, hal pertama dalam hidupku melihat seorang wanita menangis selain ibuku karena kesalahan yang ku buat.


Entah kenapa setelah mengucapkan keinginan ku untuk membatalkan pernikahan kami, ada segenggam penyesalan saat melihat air mata itu mengalir dari wajah ayu Keisya. ada yang menusuk di sudut hatiku, tapi aku tak bisa untuk menangis, aku hanya terdiam menatap wajahnya lalu menunduk karena tak ingin melihatnya menangis.


Keisya masih sempat memeluk ku sebentar sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan cafe. aku masih melihatnya berdiri di depan parkiran menelpon seseorang, tapi aku hanya diam menatap nya tanpa mau menahannya pergi.


Dua jam setelah kepergiannya aku merasa bersalah dan langsung mencarinya di tiap sudut tempat yang kami kunjungi tadi. karena aku teringat pesan Arini saat menjemput Keisya di pondok, jika Keisya tidak tahu arah dan belum mengenal seluk beluk kota ini.


Berkali-kali aku menghubungi nya tapi dia tetap mengabaikan panggilan ku hingga pada saat aku benar-benar merasa menyerah Keisya akhirnya menjawab panggilan dan mengatakan jika ia di masjid tak jauh dari taman kota.


Entah kenapa ada rasa nyeri saat nama Hanan ia sebutkan saat kami berbicara di telepon. tanpa aba-aba aku langsung memastikan keadaan nya meskipun sedikit menjauh dan menjaga jarak.


Sampai malam setelah sholat Maghrib aku pergi meninggalkan Keisya bersama Hanan di masjid. aku yakin jika Hanan orang yang mampu menjaga marwah wanita.


Aku tak tahu kenapa aku menangis saat meninggalkan kota tempat Keisya tinggal, tak ada air mata ataupun penyesalan saat aku mengatakan ingin mengakhiri rencana pernikahan kami, tapi saat aku melihat nya menangis di depan masjid membuatku merasa menyesal telah menorehkan luka padanya, aku tak pernah ingat selama beberapa bulan ini jika Keisya berbeda dengan Kinara, Keisya hidup dalam kesakitan selama puluhan tahun dan kini aku lah yang menambahkan rasa sakit itu padanya.