KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
135 Silaturahmi Ummi Tin



Pagi ini Keisya bangun dengan kondisi lebih baik, demam nya sudah turun meski masih sedikit lemah dan hidung yang berair serta bersin terus menerus tidak membuat semangatnya pudar.


Bik Asih dengan telaten membuatkan sarapan dan secangkir rebusan air jahe merah hangat dengan sedikit gula buatan Bulik Sri subuh tadi.


Setelah sarapan tuan Wibowo dan pak Kardi berencana untuk pergi melihat lahan yang akan di beli hari ini, proses jual beli dan pengalihan sertifikat hak milik akan di lakukan hari ini juga.


"Bik, saya dan Kardi pergi untuk meninjau lahan di depan jalan trans ya, titip Keisya kalau ada apa-apa langsung telepon, nanti Bagus juga akan pulang katanya"


"Iya tuan," bik asih berlalu keluar kamar


"Kei, ayah pergi dulu mau lihat tanah yang akan di beli, kalau sudah sehat kita akan langsung pergi ke pesantren kamu bisa sabar kan? kalau bete di rumah bisa ikut mbak Rasti ke kebun belakang atau ikut Umma ke masjid nanti sore ngajar anak TPA, ayah mau ke kota juga urus administrasi tanah, mau nitip apa?"


Keisya hanya mengangguk saja mendengar ucapan sang ayah. sesaat kemudian ia menangis lagi seperti anak kecil. tuan Wibowo lalu memeluk erat sang putri.


"Kei kangen sama kak Revan, kangen sama kak Kinar, tapi mereka masih marah sama aku yah" ucap Keisya di sela Isak tangisnya. mendadak nyeri yang dirasakan oleh tuan Wibowo mendengar ucapan sang anak yang sangat pilu. tuan Wibowo mengusap punggung sang anak yang menangis dalam dekapannya


Ada rasa yang tidak dapat ia utarakan. lagi-lagi penyesalan itu yang datang kembali andai saja kala itu ia bisa membawa Keisya kembali secepatnya.


"Mas ada tamu di depan, umi Tin sama anak nya" ucap Bulik Sri masuk ke dalam kamar Keisya.


"Oh iya tunggu sebentar, bik asih mana?"


"Lagi di kebun belakang metik sayur sama Rasti"


"Oh ya sudah, sini temenin dulu Keisya" bulik Sri menurut.


Tuan Wibowo keluar menemui sang tamu yang datang sepagi ini.


"Assalamualaikum umi Tin" ucap tuan Wibowo


"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh sehat pak?" umi Tin menyenggol sang anak untuk menyalami tuan Wibowo


"Alhamdulillah sehat Bu, pagi-pagi sudah berkunjung,Gus Rohid nggak ikut ummi?"


"Pagi-pagi tadi sudah ke kecamatan ngurus surat-surat untuk nikahan Khusnul tiga hari lagi, Abah titip salam"


"Oh iya waalaikumsalam sampaikan sama Gus kapan-kapan ada waktu saya datang berkunjung"


"Maksud kedatangan saya kesini untuk silaturahmi juga mengundang pak Wibowo untuk hadir di walimahnya Khusnul tiga hari lagi"


"Oh iya Insha Allah semoga umur panjang saya pasti datang, oh ya ini anaknya yang bungsu?"


"Oh iya pak, ini Hanan yang paling bungsu,"


"Kayaknya seumuran sama anak saya, berapa usianya dek?" tanya pak Wibowo pada Hanan


"20 tahun pak" jawab Hanan sopan


"Oh beda setahun sama anak saya, kuliah baru semester satu yang bungsu"


Derap langkah kaki terdengar, Keisya dan Bulik Sri keluar dari kamar hendak mengantar Keisya ke teras samping.


"Oh sini kei, ini ada ummi yang rumahnya di depan salim dulu" titah pak Wibowo


Keisya menuruti perintah sang ayah menyalami ummi Tin dan setelahnya duduk di samping sang ayah. Bulik Sri sudah ke dapur untuk membuat kan minuman untuk tamunya.


Keisya hanya sekilas memandang Hanan yang tengah memandangnya, biasa saja. batin Keisya. tapi tidak dengan Hanan entah kenapa ada desir aneh saat memandang mata hazel Keisya.


"Oh ini yang bungsu pak?" tanya ummi Tin memandang lekat Keisya yang tengah menatap layar ponselnya.


"Iya dia yang terakhir"


"Cantik mirip ibunya, oh ya Bu Amina apa nggak ikut pak, karena selama bapak disini saya nggak pernah lihat beliau"


Tuan Wibowo menghela nafas perlahan sebelum menjawab.


"Ibu su....."tuan Wibowo hendak menjawab tapi terhenti karena Bulik Sri sudah menjawabnya lebih dulu


"Mbak Amina sudah meninggal ummi 4 tahun lalu" jawaban spontan dari Bulik Sri yang datang membawa baki berisi teh hangat dan camilan.


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un maaf pak saya bener nggak tahu, turut berdukacita ya pak" ucap ummi Tin merasa bersalah.


"Nggak apa-apa ummi," jawab tuan Wibowo setenang mungkin.


"Kei, ayok katanya mau ke teras samping" ucap bulik Sri mengajak Keisya keluar.


"Oh iya ayo Bulik" Keisya beranjak meninggalkan ruang tamu. Hanan merasa berdebar kala mencium wangi parfum Keisya yang berjalan melewatinya tapi sedapat mungkin ia tenang.


"Kemana suaminya, bukannya kemarin aku lihat di kampus dia sama suaminya kata Reno" batin Hanan namun tak dapat ia pungkiri ada debar aneh saat matanya tadi sempat bersitatap dengan Keisya.


Pukul delapan pagi ummi Tin dan Hanan pamit karena sudah banyak orang rewang yang datang kerumah.


"Yu Sri, saya pamit ya, saya tunggu di rumah loh" ucap ummi Tin pada Bulik Sri yang duduk menyiangi rumput liar.


"Enggeh umi, nunggu pengasuh nya Keisya pulang dari kebun belakang, saya kerumah" ucap Bulik Sri.


"Oh iya nggak apa-apa, Monggo assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Tanpa mereka semua sadari sosok Hanan dan Keisya saling menatap lalu membuang muka secara bersamaan pula. debar jantung Hanan semakin bertalu saat meninggalkan pekarangan rumah pak Kardi. ada senyum tipis terbit di bibirnya yang hanya ia saja yang tahu.


"Kei, ayah pamit dulu ya nak, mungkin dua tiga hari lagi ayah pulang" pamit tuan Wibowo pada Keisya.


"Pak e Bagus melu sisan mas?" tanya Bulik Sri pada tuan Wibowo (Bapaknya bagus mau ikut juga mas?)


"Enggak, engko awan wes bali, aku seng ape neng kota ngurus sertifikat tanah sisan, paling lambat acara walimah e Khusnul wes bali" (tidak, nanti siang sudah pulang, saya yang mau ke kota urus sertifikat tanah sekalian, paling lambat acara pernikahan Khusnul sudah pulang)


"Oh Yo wes ati-ati mas, salam buat keluarga"


"Iyo, kei ayah pergi ya nak, baik-baik di rumah atau mau ikut Bulik Sri ke rumah depan juga sekalian nggak papa dari pada dirumah suntuk"


"Iya ayah"


"Mas Jo ayo jalan" ucap pak Wibowo pada supir barunya, keponakan dari suami bik Asih pak Maman.


Mobil melaju keluar halaman dan perlahan menghilang di ujung jalan pertigaan.


Hanan yang sudah sampai dirumah langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, menutup matanya dengan salah satu lengannya untuk meredakan debar jantungnya yang kian bertalu. mengingat wajah ayu dan senyum manis Keisya pada nya saat pamit pulang tadi.


"Arrgh" batin Hanan dalam hati mengumpati diri sendiri.


"Nan, susul abahmu di kantor kecamatan katanya motornya mogok, hape mu mana to ngger di telpon Abah dari tadi nggak di jawab" ucap ummi Tin yang masuk ke dalam kamar Hanan.


"Lah kan tadi sebelum berangkat udah Hanan bilangin motor nya mau di bawa ke bengkel dulu, biar pake mobil aja Abah ngeyel sih" gerutu Hanan bangkit dari tidurnya.


"Abah mu lagi mumet jadi mikir yang simpel ae biar cepat sampai di kecamatan" sela ummi Tin


"Ya udah tak jemput sekarang, mending aku yang nunggu dari pada Abah nunggu kelamaan"


"Ya udah sana, jangan lupa bawain oleh-oleh hehe"


"Bu..." tegur Hanan yang tahu apa maksud ummi nya tentang oleh-oleh.


"Iya-iya di rumah banyak makanan nanti mubazir" sela ummi Tin seraya berlalu pergi.


Hanan segera bersiap untuk menjemput abahmya di kantor KUA kecamatan.


Sementara itu di kediaman tuan Anderson, mama Hanna dan papa sudah bersiap pergi ke Jerman siang ini. karena urusan sangat mendesak mau tidak mau ia harus turun tangan untuk perusahaan yang ada di Jerman.


"Papa mama pamit ya nak, kalian yang akur di rumah jangan berantem Mulu kasihan calon cucu papa" ucap tuan Anderson pada Azka dan Kinara.


"Tenang aja pa, ada bodyguard baru 24 jam kok" ucap Azka melirik Reno yang duduk selonjoran di sofa. yang di lirik hanya cuek bebek tak peduli menikmati sebungkus kacang kulit dengan merk seekor burung terbang.


"Kamu tuh bisa nggak sih usilnya di kurangin dikit" omel mama Hanna.


"Nggak bisa, udah dari sononya sih, kan anak papa"


Ctak


sebelum ada tragedi memalukan lagi mama Hanna langsung menarik tangan sang suami setelah menyentil dahi sang anak.


"Kebiasaan anak sama papa nya sama aja, ayok buruan, Reno kopernya udah masuk bagasi semua kan?" tanya mama Hanna


"Udah ma, ayo berangkat" ucap Reno melangkah namun sebelum itu ia masih sempat menyentil dahi Azka sedikit lebih keras.


"An...." ucap Azka tertahan


"Mau ngumpat lagi heh?" tegur Kinara dengan tatapan menghunus


"Hehehe" Azka hanya garuk kepala merasa malu.