
Reno masih sibuk di kampus mempersiapkan segala sesuatu untuk turnamen basket yang akan terlaksana beberapa Minggu lagi, kali ini sudah di undur dari rencana awal karena beberapa hal.
Reno masih bergeming di kursinya saat teman panitia yang lain sudah keluar ruangan beberapa saat lalu setelah rapat selesai.
Hari ini rencananya Reno akan menemui Hanan yang sudah beberapa kali gagal ia temui.
"Ren, Lo nggak pulang?" tanya seorang teman yang muncul di depan pintu
"Bentar, Lo mau nebeng lagi?" tanya balik Reno
"Hari ini nggak, karena motor gue udah sehat, mau gue traktir di cafe De'Est bisa nggak Lo?"
"Sekarang?"
"Iyalah mumpung belum terlalu sore, baru juga jam setengah empat sore"
"Okelah hayuk, tumben Lo mau traktir gue?"
"Itung-itung ucapan terimakasih gue karena Lo udah kasi gue tumpangan selama tiga hari"
"hahaha nggak segitunya juga kali, tapi terimakasih udah mau traktir gue"
"Sama -sama bro, eh gue denger katanya Lo mau tunangan sama anaknya direktur ya?" tanya cowok berambut keriting itu. Reno menoleh sejenak lalu melanjutkan langkahnya.
"Tau darimana Lo?" tanya Reno penasaran karena memang ia tidak pernah menceritakan perihal urusan pribadi pada siapapun kecuali Azka dan kinara
"Kakak gue karyawan di divisi pemasaran dapat undangan pertunangan anaknya direktur utama di situ jelas tertera Reno Adriansyah, itu nama Lo kan ya?"
Reno berbalik menatap teman se-organisasinya itu dengan tersenyum.
"Iya itu gue, sekarang gue undang lo secara langsung, besok datang ke alamat yang tertera di undangan, Jangan telat ya" Reno menepuk pundak temannya.
"Wah hebat bener Lo bisa jadi menantu keluarga kaya" seru temannya, Reno hanya nyengir saja tanpa mau berucap lebih.
Mereka melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan cafe De'Est.
Jika biasanya mendekati hari pertunangan orang akan sibuk mempersiapkan ini itu, kali ini tidak bagi Reno, besok adalah hari pertunangan dirinya dan Keisya justru Reno masih sibuk di luar rumah bahkan setelah bertemu Keisya di kediaman Tante Ratih kemarin siang, Reno tetap tidak mau repot menyibukkan diri mengurus segala hal karena sudah ada sang ibu yang sudah mempersiapkan segalanya.
Reno hanya harus diam dan menerima segalanya dalam artian terima beres tanpa sibuk bertele-tele.
"Ting, gue mau nanya" tanya Reno setelah menyesap kopinya. pria yang di panggil "Ting" singkatan dari kriting itu mendongak.
"apa Ren?"
"Jatuh cinta setelah menikah itu beneran ada ya?" tanya Reno tanpa melihat lawan bicaranya. kriting yang tadiny terlihat santai tiba-tiba saja mulutnya menganga mendengar pertanyaan aneh temannya.
"Aneh Lo, kenapa nanya gue, kan gue belom nikah Ren, tanya tuh temen Lo yang bule, gue denger dia juga udah nikah di jodohin"
"Azka maksud Lo?"
"Nggak tau namanya, ya yang biasa kemana-mana selalu sama Lo siapa"
"Dia beruntung Ting, dia nikah sama cinta pertamanya"
"Ha? nggak ngerti gue"
"Istrinya anak ekonomi bisnis itu emang cinta pertamanya, mereka memang udah di jodohin sejak kecil".
kriting yang mendengar hanya mengangguk saja, entah mengerti atau tidak.
"Trus hubungan Lo nanya gitu ke gue tadi apa, Lo di jodohin juga?"
"Hem, seperti itulah"
"Ya gimana ya ren, soalnya gue nggak pernah dan belom pernah dan semoga aja nggak terjadi ada di posisi Lo gitu, kalau jaman nenek gue dulu sih iya bisa kali, buktinya sampai akhir hayat awet sampai bercicit-cicit banyak" tukas kriting sembari mencomot kentang goreng.
"Emang gitu ya?" tanya Reno lagi. kriting hanya mengangguk saja karena mulutnya sudah penuh dengan kentang goreng.
"Emang Lo kenapa sih, besok mau tunangan kok malah murung gitu gue liat" tanya kriting setelah menenggak habis es teh di gelasnya.
"Gue nggak tahu isi hati gue sendiri Ting"
"Lo gimana sih? bukannya Lo pacaran sama calon tunangan Lo?"
"Nggak lah, kan udah gue bilang di jodohkan"
"Oh iya gue lupa, kalau menurut gue.. maaf nih ya dari pertanyaan Lo tadi gue simpulin kalau....Lo terpaksa?" tanya kriting dengan wajah was-was bukan karena takut tapi lebih menjaga perasaan Reno jika pria itu tersinggung.
"Nerima takdir ya..." Kriting mengangguk-angguk meski merasa tidak pas dengan jawaban yang Reno berikan. Kriting lebih memilih diam pada akhirnya entah akan berkomentar apa sepertinya tidak merubah apapun, hanya berharap semoga Reno bahagia.
"Loh Ren di sini Lo?" suara bas yang tidak asing terdengar dari arah pintu masuk, karena meja mereka memang tepat bersebelahan dengan pintu masuk cafe.
"Eh Ka, ngapain Lo di sini? Kinara mana?" tanya Reno seraya menggigit kentang goreng namun Azka justru mengabaikannya.
"Hai, Lo si Kriting kan, anak Matematika yang pernah juara internasional itu?" tanya Azka pada Kriting
"Yup, 100% anda benar, ternyata gue terkenal juga ya hihihi " jawab Kriting terkikik. Reno mencebik mendengar jawaban Kriting.
"Wah, seneng akhirnya bisa ketemu Lo"
"Gue juga seneng ketemu Lo, kenalin gue nama gue Suprianto biasa di panggil Kriting karena gen rambut gue beda dari yang lain."
"Hahahahaha Lo pintar ngelawak juga" Azka tertawa mendengar ucapan Kriting.
"Ehem" Reno berdehem karena merasa di abaikan sejak tadi.
"Sakit Lo?" tanya Kriting
"Ck, Lagi Pms" sahut Reno, " Lo ngapain disini Ka?" menoleh pada Azka yang berbicara dengan pelayan.
"Bungkus aja semua ya, tolong di pisahin dua menu tadi" Azka berbicara dengan pelayan, lalu berbalik menatap Reno, "Lagi ada instruksi darurat jadi gue kesini, Lo ngapain H-1 masih di luar, harusnya Lo dirumah perawatan" cibir Azka
Reno mendengkus sebal. Jawaban paling tidak ingin ia dengarkan.
"Serah gue lah yang jadi tersangka gue bukan Lo" timpal Reno
"Jadi kamu udah tahu kalau dia mau tunangan mas bule......siapa namanya" tanya Kriting pada Azka
"Panggil Azka aja Ting, calon tunangannya adik ipar gue, saudara kembar istri gue Ting" jawab Azka
"What the........"..." eits tunggu jangan iklan dulu dong,.......jadi istri Lo kembar? si cewek CEO itu kan? yang terkenal jadi donatur tetap di kampus ini?" Tanya Kriting terkejut.
"Iya semua benar"
"What the...." ...."Ren bakal bini Lo orang cantik men, adiknya CEO...wah beruntung banget Lo....kalau gue udah nggak pake pikir panjang langsung nikahin aja, perbaiki keturunan gais kikikikik" kriting terkikik
Plak
"Somplak" cibir Reno setelah menghadiahi tepukan keras di dahi Kriting.
"Ye...gue ngomong fakta, biar muka Lo cerah-cerah dikit lah" sahut kriting. Reno hanya memutar bola mata jengah. teman se-organisasinya ini selain jago matematika juga jago silat, basket, dan ngelawak tentunya.
"Gue doain dapet jodoh bule, biar Tahu rasa Lo" cibir Reno
"Alhamdulillah semoga di segerakan, si Catty bakal jadi jodoh gue ya Allah amiiin"
"Catty, emang kucing? hahaha" Reno tertawa.
"Hei, gue duluan, pesanan gue udah datang, pulang duluan ya, Ren jangan kemaleman kalau pulang, besok Lo harus ngapalin doa sepuluh bait hahaha" Azka menepuk pundak Reno lalu pergi meninggalkan kedua temannya.
"temen Lo tipe setia ya ren kayaknya hehehe" ucap kriting saat Azka sudah pergi
"Iya beruntung banget Kinara dapat suami dia, udah sabar, dewasa dan tanggung jawab banget sama keluarga, mandiri juga"
"Wah pantes ciri-ciri di sayang mertua namanya itu, gue sering lihat dia di warung makan sebrang kampus juga loh"
"Dia yang kelola warung, itu warung makan cabang tempat dia kerja sebelumnya, karena bosnya percaya sama dia akhirnya di bukalah warung makan cabang trus Azka di amanahin buat kelola, bagi hasil gitu lah ceritanya "
"Wow salut gue, Lo juga cowok mandiri Ren"
"Ahaha nggak lah, itu hanya usaha ibu gue, dajgue cuma nerusin doang" ucap Reno merendah
"Tapi lumayan banget hidup Lo tiap hari ganti merek mobil"
"Hahaha itu mobilnya Azka. gue jadi sopir pribadinya Ting"
"Ha?"...
..........>>
Bersambung...