
"Untung aja baju kita seragam, warnanya juga sesuai dengan tema" ucap Arini sembari bergoyang-goyang di depan cermin yang ada di kamar pengantin. Keisya hanya menatap jengah pada adik sepupunya itu. ia sibuk berkirim pesan dengan sang kakak yang juga akan melangsungkan pernikahan akhir bulan ini.
"Mbak Khusnul udah lama ya di pinang Gus Hanif?" tanya Arini pada sang pengantin yang masih di rias
"Iya sudah sebelum ke Mesir malahan, tapi waktu itu mbak belum siap apalagi beasiswa juga nggak bisa di batalkan jadi ya mbak minta sabar aja menunggu" ucap sang pengantin tersenyum
"Seneng ya akhirnya jadi istri, kirain yang dulu itu cuma ghosip" sela Arini
"Sejak kapan kamu dengar?"
"Sebelum kelulusan Tsanawiyah udah lama lah mbak xixixi"
"Senengnya ghibah ae"
"Mbak, rombongan Gus Hanif sudah datang sampean udah siap?" tanya Hanan yang menyembulkan kepalanya di pintu kamar tapi tatapan matanya menatap lekat pada Keisya yang masih menunduk melihat layar ponsel
"Mbak e disini Gus, bukan di situ" goda Arini yang melihat tatapan mata Hanan menatap lekat kakak sepupu nya.
"E...eh...eh....in....iiyaa... mbak siap-siap ya nanti di jemput" ucap Hanan kikuk karena ketahuan Arini ia mencuri pandang pada Keisya.
"Kayaknya nggak lama lagi ada yang bakal nyusul mbak kikikikik" ucap Arini tertawa melihat Hanan yang salah tingkah.
"Ya semoga, lha kamu apa sudah siap Rin?" tanya mbak Khusnul
"Kok aku sih mbak, maksudnya apa?"
"Kalau kamu di lamar Hanan apa sudah siap?" tanya sang pengantin.
"Lah dalah, gek Yo opo Tah, emoh ah Hanan tukang krusok" seru Arini kesal menggunakan logat jawanya yang kental
"Hahaha kalian kan seumuran, sejak kecil main bareng, kalau berantem sampe tonjokan siapa tahu kalian jodoh" balas mbak Khusnul
"Emoh.. nggak level aku sama Hanan, aku udah punya gebetan mbak" elak Arini
"Nduk, sudah siap pengantin nya?" tanya ummi Tin di depan pintu kamar
"Siap ummi" jawab sang penata rias
"Ijab qobul mau di mulai, Khusnul siap-siap ya nanti ummi jemput, eh non Keisya nduk Rini, kalian yang jadi pengiringnya?"
"Nggeh umi" jawab Arini sopan.
"Ya sudah nduk Rini kan sudah hapal kalau gitu umi jemput nya di depan aja" ucap ummi Tin berlalu meninggalkan kamar.
"Mbak ijab kabul dimulai" ucap Arini merasa deg-degan.
"Mbak nanti pegang bunganya yang ini ya, mbak nya juga, kalau ekor gaunnya biar saya yang berjalan di belakang kalian, mbak Rini udah hafal kan?" tanya sang penata rias yang satunya lagi.
"Oke mbak Ajeng" ucap Arini. "Mbak sampean dari tadi sibuk Mulu sama hape, bentar lagi kita ngiringin pengantin ini loh" tegur Arini melihat Keisya hanya sibuk dengan ponselnya sejak mereka masuk ke dalam kamar pengantin.
"Ck, mau ngapain aku Rin, mau gerak bebas nggak bisa, nih lihat" jawab Keisya tegas menunjuk roknya yang memang sempit.
"Emang dasar orang kota" omel Arini seraya memberikan buket bunga pada Keisya.
Pemandu acara sudah terdengar sedang membuka sesi acara satu persatu sebelum akad nikah di mulai.
Keisya yang sejak tadi abai dengan keadaan di sekitarnya kini langsung mendongak saat mendengar suara merdu melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. matanya menatap Arini yang terlihat santai mendengar suara merdu itu.
Keisya mengedipkan kedua alisnya dengan kepala di gelengkan ke arah kanan bermaksud ingin tahu siapa yang sedang membaca Alquran.
"Gus Hanan" jawab Arini dengan santainya. bibir Keisya sedikit menganga mendengar jawaban enteng Arini.
Setelah lantunan ayat suci tadi berakhir, ada debar aneh dalam diri Keisya, sebait doa ia ucapkan dalam hatinya tanpa sadar, "semoga sang pemilik suara ini yang jadi jodohku" doa di sudut hatinya yang terdalam.
"Saya terima nikah dan kawinnya Khusnul Khotimah binti Abdul Rohid Azzami dengan mahar tersebut tunai karena Allah taala"
"Sah?"
"Sah"
Alunan kata sah terdengar dari luar, sudah saatnya pengantin wanita keluar dari persembunyian.
Mbak Rasti sudah masuk ke dalam kamar pengantin sejak acara di mulai untuk melihat kesiapan pengantin dan pengiringnya.
"Beruntung aku masih punya simpanan dua pasang baju yang sama dengan gaun pengantin, ini make up-nya sudah bagus sempurna, oke, ayo ikuti gerakan saya Keisya, Rini. Ajeng, Gebi kalian tetap di posisi" Suara mbak Rasti begitu anggun mengiringi langkah pengantin keluar dari kamar.
Sampai di penghujung pintu yang membatasi ruang tengah dan ruang tamu kedua wanita paruh baya dari pihak keluarga mempelai pria dan wanita menyambut pengantin wanita dan menggandeng nya keluar.
Keisya dan Arini sudah berjalan di depan lebih dahulu. saat sudah keluar pintu utama rumah, mereka sangat terkejut dengan dekorasi bak hotel bintang sepuluh super duper mewah. karena mereka tadi masuk lewat pintu belakang jadi tak tahu dan tak melihat dekorasi nya bisa semenarik ini.
Mereka berjalan mengiringi pengantin yang berjalan tepat dibelakang mereka dengan anggun. semua mata tak lepas memandang para pengiring yang berjalan anggun bak bidadari. pemilik kedua mata coklat pun tak henti menatap salah satu pengiring dengan senyuman tipis terukir di bibirnya.
"Cantik" kata hatinya tanpa sadar.
Pengantin wanita sudah duduk di depan penghulu untuk proses serah terima mahar dan penyematan cincin nikah serta tanda tangan buku nikah.
Keisya dan Arini sudah duduk di kursi yang sudah di sediakan untuk keluarga mempelai.
"Mbak, tuh Gus Hanan dari tadi ngeliatin sampean terus loh" goda Arini pada Keisya yang sibuk mengipas.
"Biarin punya mata kok"
"Ciee...di lirik orang Sholeh cieee"
"Ck paan sih Rin, kenal aja nggak kok"
"Ah masak sih, nggak kenal tapi udah di terima kemarin rantang tonjo'an nya hahahah"
"Kamu lama-lama ngaco ya Rin, diam ah"
"Hussh pada bisikan opo sih ,diem nduk" tegur salah satu kerabat mempelai pria yang duduk di samping Arini
"Nggeh bude, ngapunten" ucap Arini sopan. Keisya hanya diam tak bereaksi sembari menikmati tiupan angin dari kipas yang ia goyangkan kiri kanan.
Prosesi sakral sudah selesai dan saatnya acara berganti dengan tausiyah walimah oleh kyai kondang yang sedang terkenal karena dakwahnya yang merakyat.
"Rin, aku mau kencing, kebelet ini, anterin ke kamar manten yuk, ada kamar mandinya kan" bisik Keisya di tengah acara.
"Ya udah yuk"
Mereka berdua beranjak pergi masuk ke dalam rumah.
"Rin tungguin ya" ucap Keisya saat mereka sudah ada di kamar pengantin.
Sesaat kemudian Arini tersenyum kala melihat Keisya sudah keluar dari kamar mandi. ia segera pergi untuk mengambil air minum di dapur.
Keisya membenarkan letak jilbabnya dan make up-nya di depan cermin tanpa ia sadari sepasang mata coklat tengah mengawasinya dari luar pintu yang terbuka lebar.
"Gus Hanan ngapain?" suara cempreng Arini terdengar. yang di panggil langsung salah tingkah dan segera berlalu. Arini tersenyum menang melihat tingkah Gus Hanan yang seperti maling.
"Hahahah yes yes berhasil xixixi" tawa Arini dalam hati.