
Tak kenal maka tak sayang, seperti itulah kata pepatah. sama halnya dengan hidup baru Reno saat ini di tempat yang jauh dari keluarga. hidup baru, teman baru, keluarga baru.
"Om mau ke proyek?" tanya Azka pada pak Danu ayah Arzan.
"Iya, kamu mau ikut?"
"Kalau boleh om, nambah pengalaman kerja"
"Ini proyek jalan tol, emang kamu pernah kerja berat?"
"Kalau proyek seperti ini belum, om kan tahu selama ini tugasku cuma jaga kosan hehe"
"Bukannya kamu harus pergi ke kampus, ini kan hari pertama mu kuliah disini Ren"
"Masuk jam satu siang sampai jam lima sore kok om"
"Oh ya udah kalau mau ikut ke proyek ayo aja, yang penting jangan bosan, kalau bosan bisa pulang aja dirumah, lagian Arzan juga pulang sekolah dirumah"
"Iya om, berangkat sekarang?"
"Tunggu bekal dari tante dulu baru kita pergi"
"Oh ya udah, aku siapin buku kuliah sekalian nanti langsung ke kampus"
"Iya baguslah biar hemat bensin hahahahaha"
"Boleh tuh om hahaha"
"Pa, aku berangkat ya, mas Reno" pamit Arzan pada Reno dan pak Danu.
"Iya hati-hati "
"iya assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Reno menatap Arzan hingga menghilang di balik pagar, melihat Arzan mengingat kan ia pada kedua adik kembarnya. sedih. itu yang Reno rasakan kali ini. meski raga tak bisa bersama tapi doa dari hati yang tetap menyatukan mereka.
Reno sempat mengirimkan pesan pada Dimas setelah di izin kan pulang dari puskesmas. namun sampai hari ini tidak satupun balasan pesan ia terima dari Dimas. entah dimana Dimas membawa ibu dan Arkan pergi meninggalkan rumah mereka. dan nasib kos-kosan yang sudah sebulan lebih ia tinggalkan juga entah bagaimana kabarnya karena semua sudah ia amanah kan pada Dimas dan ibunya juga keempat anak buahnya di kos.
Reno menyadari sikapnya ini adalah satu kesalahan, tapi ia tidak punya pilihan lain jika tetap berada di sana setelah memutuskan pertunangannya dengan Keisya.
Dan entah bagaimana kabar Keisya, apakah ia baik-baik saja. rasa bersalah itu masih menghantui hati dan pikirannya, ia tahu betul bagaimana keluarga Azka dan Kinara dan sejak awal ia sudah yakin jika Azka dan kak Revan pasti akan mencari nya untuk mempertanggung jawabkan kesalahannya.
"Maafin gue kak Revan , maafin gue Azka, Kinara" batin Reno sedih.
"Ngelamun, ayo berangkat nanti telat, yang lain udah pada di lokasi," tegur pak Danu menepuk pundak Reno
"aoh iya om, ambil tas dulu sama baju ganti sebentar, udah aku siapin kok semalam"
"oh ya udah"
****
"Kenapa mas Hanan mau jadi bodyguard ku?" tanya Keisya saat mereka sedang menunggu tuan Denias di lobi kantor polisi.
"Namanya juga amanah nona, saya kan kerja sama tuan besar" jawab Hanan sopan
"Jangan panggil nona, panggil Keisya aja, kita kan cuma beda setahun aja mas" sahut Keisya tak suka di panggil nona
"Oh ii..iya maaf, soalnya agak kurang sopan aja kalau manggil nama" balas Hanan sedikit sungkan
"Nggak usah sungkan, saya bukan orang besar kok, saya cuma orang biasa juga sama kayak mas Hanan" balas Keisya
"Tetap saja kan nona berdarah ningrat"tukas Hanan
"Di bilang jangan panggil nona" ucap Keisya kesal
"I...iya Keisya"
"Siapa yang minta mas Hanan jadi bodyguard ku?"
"Mas Azka yang memintanya Kei, kenapa emang?" tanya Hanan
"Ya nggak papa, cuma mau tau aja, ternyata dia peduli juga" jawab Keisya
"Maksud kamu apa?"
"Maaf ,nggak papa, mas Azka itu baik, wajar ya kalau mbak Kinar sesayang itu sama suaminya"
"Tapi kenapa hidup aku justru berbeda, aku dan mbak Kinara kan kembar kenapa justru hidupku lebih sulit daripada dia?"
Hanan terdiam mendengar penuturan Keisya yang mengawali isi hatinya.
"Mbak tahu nggak daun tunas yang baru?"
"Maksudnya?"
"Contoh nya daun coklat, maksudnya pohon coklat, mereka bersemi dalam waktu hanya berbeda jam, tapi tidak gugur secara bersamaan, ada yang gugur karena di pangkas atau di tebang, ada juga gugur karena memang sudah menguning, dan ada kalanya daun muda di pangkas saat baru semi dan menyisakan daun yang sudah berwarna hijau tua." jelas Hanan
"Aku nggak ngerti maksud mas Hanan gimana, yang real lah nggak usah pakai analogi begitu, pusing aku"
"Hidup manusia itu berbeda, tidak ada satu manusia pun yang menanggung dosa dan kesalahan orang lain, artinya meskipun kamu sama mbak Kinara adalah saudara kembar tetap saja kalian dua orang yang berbeda karakter. kalau misal mbak Kinara suka makan mi pangsit tidak suka bakso , tapi kamu suka makan bakso dan nggak suka pangsit, jelas berbeda kan?" jelas Hanan
"Iya-iya, bener aku suka makanan western tapi mbak Kinara suka makan makanan asli Indonesia, aku pernah lihat itu, tapi bukan berarti aku benci makanan Indonesia, aku hanya belum terbiasa aja, karena sejak kecil papa Anthony selalu memberikan aku makanan western. aku lebih suka roti daripada nasi. kalau mbak Kinara memang suka nasi dan nggak pernah aku lihat dia sarapan roti. " ucap Keisya mengangguk paham dengan penjelasan Hanan.
Hanan tersenyum, ternyata tidak sulit untuk menaklukkan Keisya, dia lebih banyak bicara jika memahami satu atau dua hal, dan ini satu kemajuan lagi setelah beberapa waktu lalu Keisya seperti mayat hidup.Rupanya ruqyah yang di lakukan ayahnya memberikan dampak positif untuk Keisya.
"Sekarang sudah faham kan, kamu dan Kinara dua orang yang berbeda, kalian punya jalan hidup yang berbeda pula,itu namanya takdir. Artinya sudah ketentuan dari sang pencipta Allah swt"
"Berarti aku dan Kinara punya nasib yang berbeda meskipun kami kembar, gitu kan maksudnya?"
"Ya jelas, coba ingat ke belakang, dulu kamu hidup di luar negeri, sedangkan Kinara hidup di tanah air dengan keluarga kalian yang lengkap"
"Iya sih mas, aku dari kecil hidup sama nanny dan papa Anthony, bahkan aku nggak pernah lihat dunia luar, karena papa selalu bilang kalau keluar rumah banyak orang jahat, tapi ternyata dia yang sudah jahat ke aku" ungkap Keisya dengan hati teriris mengingat bagaimana perlakuan Anthony dulu padanya.
"Ya sudah, semua yang sudah terjadi jadikan pelajaran berharga untuk kamu supaya menjadi pribadi yang lebih baik lagi, Jangan tiru perlakuan buruk yang kamu terima pada orang lain. Cukup kamu saja yang merasakan"
"Iya mas, itu yang selalu bik asih bilang ke aku selama ini, ngomong-ngomong ummi Tin marah sama aku ya, kok mukanya kayak nggak bersahabat gitu pas kita pamitan kemarin pagi."
"Saya minta maaf atas nama ummi ya Kei, cuma salah faham aja waktu kita pulang malam itu, ternyata banyak yang menggunjing dan cerita nggak baik soal kamu dan aku, dan ummi kena getahnya makanya ummi marah-marah pas datang pagi kerumah Bulik Sri"
"Oh jadi itu masalahnya, maaf mas udah melibatkan sampean"
"udah nggak papa hidup di desa memang begitu lah keadaan nya sedikit banyak tetap jadi bahan ghibah"
"Hahaha iya sih"
"Boleh nanya Kei?"
"Boleh, nanya apa?"
"Sebenarnya kamu sama Reno ada masalah apa? saya lihat selama ini kalian baik-baik saja kenapa tiba-tiba batal menikah?"
"Dia yang mutusin untuk membatalkan pernikahan kami, padahal aku sudah berusaha keras untuk menerima keadaan, tapi sepertinya dia memang belum sanggup dan belum siap untuk menikah, dia terpaksa menerima perjodohan karena permintaan ayah, dan karena balas budi, dia nggak suka sama aku"
"Dan pada akhirnya kamu merasa tertekan dan belum menerima keputusan nya kan, sampai kamu nekat mau bunuh diri berkali-kali"
"Aku malu mas, bagaimana cara ku menghadapi ejekan orang kalau pernikahan ku di batalkan, jadi untuk apa aku hidup, sejak kecil aku seperti di penjara dan sekarang harus menghadapi cibiran orang karena pernikahan ku batal, aku nggak sanggup mas"
"Tapi nggak harus nekat melakukan hal bodoh seperti itu lagi Kei, itu nggak baik, Allah itu tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuan hamba itu sendiri. kalau kamu di uji sejak kecil hingga sekarang itu artinya Allah swt sudah menyiapkan takdir baik untuk kamu nantinya, ingat ini, apa yang manusia anggap baik di mata mereka belum tentu baik di mata Allah, jadi Allah swt lebih tahu apa yang terbaik untuk hambanya"
"Iya mas terimakasih nasihat nya, aku sadar sekarang kalau masih banyak yang sayang sama aku bahkan rela meninggalkan rumah demi menolongku, semoga saja mas Reno akan dapat jodoh yang lebih baik dari aku nanti nya"
"Nah gitu dong, doakan yang baik-baik buat orang yang sudah menorehkan luka pada kita, agar kebaikannya juga bisa nular ke kita juga"
"Ngomong-ngomong mas Hanan udah ketemu mas Reno belum? udah dapat kabar dari dia?"
"Kami sudah lama nggak ketemu Kei,
"Bukannya mas Hanan tinggal di kosannya?"
"Iya tapi sudah lebih sebulan, eh hampir dua bulanan lah kayaknya dia nggak tinggal di rumah kos lagi, dan denger-denger rumah kos sudah di beli orang, bukan milik Reno lagi"
"Yang bener mas?"
"Iya, untuk apa aku bohong"
"Terus mas Reno selama ini ada dimana?"
"Mungkin tinggal sama ibunya"
"Masak sih?"
Keisya termenung mendengar ucapan Hanan soal Reno yang sudah lama menghilang dan tidak tinggal di rumah kos. Keisya mendesah berat, ia menyimpulkan jika memang Reno sudah merencanakan hal ini dalam waktu lama.