
Sakit!
Saat melihatnya ada di sisimu. Meski ku tau hatimu pernah terluka karnanya.
Ingin ku balut luka itu dengan cinta yang ku miliki. Namun....
Akan kah hati dan senyum itu bisa ku miliki??
Selamat membaca..☺🥰
Jam istirahat telah tiba semua siswa berhamburan keluar kelas menuju tempat favorit mereka mengisi perut.
Kinara dan empat sahabatnya sudah lebih dulu keluar menuju ke taman belakang untuk mengisi perut.
"Ris kita ke mesen dulu..ajak Cici.
"Okehh beb.. Kalian ke belakang duluan ya." ucap Riska pada ketiga temannya yang lain.
Kinara, Nana, dan Ririn menuju ke taman belakang. Duduk di sebuah baruga kecil di samping pohon mangga besar.
Azka dan kawan-kawan menuju ke rooftop setelah mengisi perut mereka di warung lesehan yang ada di samping sekolah. Karna tadi kantin sangat ramai jadi mereka memutuskan untuk keluar sekolah melalui pintu pagar belakang menuju ke warung sebelah.
Dering ponsel Azka membuyarkan obrolan mereka. "gua angkat telpon dulu" ucapnya sembari menjauh dari teman-temannya.
"Gua cabut bentar bro" Azka pamitan setelah menerima panggilan telpon.
"Mau kemana lu, 20 menit lagi bu Rahma masuk" teriak Fikar tanpa ada jawaban dari Azka yang telah hilang.
" Hei tumbenan mereka nangkring di belakang, biasanya juga paling duluan di kantin." Beno melihat ke bawah tepatnya taman belakang tempat Cici dkk nongkrong.
"Mules ketemu mantan kali, di kelas aja cuek bebek ahahah" Sahut Aldo tanpa mengalihkan perhatian dari layar genggamnya.
"Segitunya mereka, gua rasa Rangga pindah kesini pasti ada alasannya" Fikar menambahi
"Ya kali mau balik, yang ono udah ade yang nikung udah sah kali" ucap Beno memasukkan kripik kentang ke dalam mulutnya.
"Eh gua denger Maminya si Rangga udah muallaf" bisik Aldo yang masih di dengar teman²nya
"Sok tau lu, dapat kabar darimana?" sahut Fikar
"Mami gua dateng ke acara syukuran rumah barunya Rangga, secara gua tetangga kompleks sebelah" jawab Aldo tanpa jeda
"Tunggu-tunggu itu artinya satu kompleks sama Azka dong" Beno ikut menimpali
"Anda Benar sekali!" tutup Aldo mengacungkan jempolnya di dahi Beno di sambut cengiran oleh Beno.
"cabut kuy kelas 10 menit lagi gua telpon Azka dulu" lanjut Aldo sembari memencet tombol panggil.
*
Kinara dan keempat temannya berjalan beriringan menuju ke kelas setelah selesai dengan ritual makan mereka.
"Nara lo di panggil Bu Rahma di ruangannya sekarang." ucap Sisil anak kelas XII Ipa 3 saat mereka berpapasan di koridor.
"Buat apa?"
"Kelas lo ada jam fisika kan?"
"Iya..."
"Udah sana samperin dari pada lu kena batunya.." ucap Sisil
"Ok..makasih Sisil."
"Aku kesana dulu kalian duluan aja" ucap Kinara pada keempat sahabat nya.
Kinara berbalik menuju ke ruangan Bu Rahma.
"Assalamualaikum Ibu manggil saya?" sapa Kinara saat tiba di ruang guru.
"Oh iya Kinara.. Tolong kamu gantikan saya hari ini karna saya harus menghadiri rapat di Kantor Dinas Pendidikan sekarang. Ini catatan yang harus di tulis dan lanjut kerjakan soal paket fisika yang saya berikan minggu lalu. Bukunya belum di kembaliin kan?"
"Baik Bu tapi buku paketnya udah saya kembalikan ke perpus." jawab Kinara
"Ya udah kamu ambil lagi di perpus izin sama kak Reza" titah Bu Rahma di iringi anggukan dari Kinara lalu melenggang keluar ruang guru menuju ke perpus.
"Tau gini gak usah di kembaliin berat banget" batin Kinara sembari memanggul buku paket di tangannya.
Sedang matanya fokus melihat anak tangga di bawahnya takut jikalau terjatuh dan buku terhambur.
"Sini gua bantuin" ucap seseorang menawarkan bantuan dari arah depan. Kinara mengenal betul pemilik suara itu meski ia tak melihat sosoknya karna tertutup tumpukan buku. Ia tertegun sejenak sebelum menjawab, mengumpulkan sedikit keberanian karna detak jantungnya yang tiba-tiba tak beraturan.
"Ekhem gak usah aku bisa kok" jawabnya pelan berusaha menolak.
Namun sang lawan bicara tak menanggapi karna langsung meraih buku paket di tangan Kinara.
"Kalo gini udah ringan kan?" ucap Rangga tersenyum. Lagi-lagi senyum itu mampu membuat lidah Kinara kelu, jantungnya semakin berdebar tak karuan. Senyum yang sudah lama tak di lihatnya.
"Makasih Rangga" Ucapnya tersenyum yang ia buat sebaik mungkin lalu berjalan mendahului Rangga.
Azka memarkirkan mobilnya setelah ia sampai di sekolah" untung masih 3 menit lagi". Gumamnya lalu berjalan menuju ke kelas. Matanya menyipit kala melihat dua orang yang berjalan sejajar tak jauh dari tempatnya. Ia segera mempercepat langkahnya menuju ke kelas.
"Saras gue gak terlambat kan?" tanyanya pada Kinara saat sampai di depan kelas. Kinara langsung terhenti sejenak menatap Azka dengan wajah bingung.
"Kamu nanya ke aku ma---em Azka?" tanya Kinara
"Kan lu yang di depan gua jelas gua nanya lu lah" sanggah Azka datar
"Owh masuk gih ada tugas" titah Kinara.
Azka ikut membagikan buku paket pada teman sekelasnya. Begitu juga Rangga. Kinara menghela nafas panjang melihat kedua cowok yang ada di depannya saat ini. Ia bersikap seolah tak terjadi apa-apa meski hati nya tak bisa berbohong dengan situasi yang ia hadapi.
Kinara segera mengambil absen untuk mengabsen teman sekelasnya. Setelahnya ia berdiri di depan kelas menjelaskan materi yang di berikan oleh Bu Rahma.
Azka sesekali menatap Kinara yang sedang menulis materi di papan tulis. Pemilik Mata biru itu tak berkedip sekalipun saat Kinara menjelaskan materi. Bahkan ia tak peduli dengan Rangga yang duduk di sampingnya.
Tuukk
"Auhh..sakit njir..paan sih lo?" ucap Azka memegang kepalanya yang terkena pukulan mistar milik Aldo.
"Nulis bukan melototin aja"ejek Aldo tersenyum smirk
"Serah..." timpal Azka
"Gua pinjem catatan lo ya.."tambah nya
"Wani piro...?" goda Aldo memainkan ibu jari dan jari telunjuknya.
"Hari gini gak ada yang murah kena imbas corona.. Mau nggak?"
"Males..gue pinjem Nara aja..!"
"Cakep.."
"Aldo Feriawan Herbowo, Azka Einsley Anderson." suara Kinara yang lantang memanggil mereka.
"Asshiiap Bu." Ucap Aldo mengangkat tangan hormat. "Galak juga ternyata" batin Azka.
Kinara datang menghampiri mereka berdua membawa ponsel lalu memotret Aldo dan Azka beserta buku catatan mereka. Setelah itu ia mengirim hasil jepretannya kepada Bu Rahma.
Aldo dan Azka hanya diam tak berkutik menyadari kesalahan mereka.
"Saya hanya menjalankan amanah dari Bu Rahma jadi kalau masih keberatan silahkan menghadap beliau besok di ruangannya. Aldo kamu udah tahu kan learning contract fisika di awal pertemuan?"
"Iy..iya gua tau.."
"Teruskan kepada siswa baru agar di mengerti. Paham?"
"Asshiiaap!"
Satu kelas sudah faham betul bagaimana tegasnya Bu Rahma ketika mengajar. Di kelas mereka hanya Kinara yang menjadi kepercayaan beliau saat berhalangan masuk mengajar.
Tidak seperti guru lain, saat tidak masuk pun tetap masih ada tugas di berikan. Alasan beliau selalu memberi tugas saat mangkir adalah mengajarkan mereka tetap disiplin belajar meski tak ada guru masuk mengajar.
"Nih lo bisa pinjem catatan gue Azka." ucap Rangga. Azka menoleh tak suka.
"Gak usah terimakasih." tolak Azka datar
"Ya udah." Rangga berusaha menetralkan suasana dengan teman sebangkunya itu.
------------------
"Pulang bareng ya Ra.."ajak Ririn saat mereka mengemasi peralatan belajar dan memasukkan ke dalam tas.
"Gak deh kamu duluan aja Rin.. Aku mau mampir ke gramed dulu cari referensi buat tugas biologi besok."
"Oh ya udah gua duluan ya..suami lu ikut kan?"Bisik Ririn.
"Ihh paan sih..udah sono pulang!" Kilah Kinara dengan wajah bersemu merah.
"Kinar pulang bareng yuk..aku antar" tanya Rangga yang sudah berdiri di sampingnya.
"Eh enggak lain kali aja ya..aku mau ke gramed dulu." tolak Kinara
"Oh ya udah aku tem..."Belum selesai Rangga berbicara Azka datang dari belakang merangkul Kinara.
"Kinara pulang bareng gue. Iya kan beb?" Ucap Azka tiba-tiba langsung merangkul pundak Kinara.
"I...iya.." jawab Kinara gugup memegang dadanya berharap jantungnya berhenti saja saat itu daripada di hadapkan 2 orang yang ada di depannya saat ini satu mantan dan satu masa depan.
"Daah Rangga." ucap Azka melambaikan tangan sambil tersenyum penuh kemenangan.
Rangga mendengus kesal pasalnya ia memutuskan pindah di sekolah ini berharap bisa berbaikan lagi dengan Kinara nyatanya tidak semudah itu. Ia menyadari ada luka yang pernah ia berikan pada gadis itu meski itu bukan kehendaknya. Ia cukup sadar diri siapa dirinya dulu. Perbedaanlah yang pada akhirnya membuat hubungan mereka berakhir. Penyesalan memang selalu datang di menit akhir, ia tidak ada saat Kinara butuh dirinya.
😥😥😥
Sampai di parkiran Azka segera membuka pintu mobil untuk Kinara. Semua pasang mata yang berada di halaman sekolah memperhatikan mereka.
"Itu kan si Kinar siswi teladan kan ya?"
"Itu kakel yang baru pindah dari Jerman kan?"
"Gantengnya gak ketulungan.."
"Idiih siswi teladan kok caper sih..
"Enggak sesuai sama jilbabnya naik mobil berdua sama cowok lagi bukan muhrim"
"Enggak banget deh..cocokan ma gua daripada si Kinar."
"Aduh kok so sweet banget ya mereka.. Seandainya mereka pasangan.."
Blablablaaaaaa
Seperti itulah komentar yang Kinara dan Azka dengar. Namun Azka tetap cuek. Toh mereka berdua udah sah pikir Azka. Lain hal dengan Kinara ia sedikit risih mendengar sebutan siswi teladan yang melekat pada dirinya selama 3 tahun berturut-turut. Meski selama ini ia tak pernah berbangga dengan gelar yang dimilikinya.
Azka segera melajukan mobilnya keluar halaman sekolah.
"Ra kita langsung pulang atau kamu ada keperluan dulu?"
"Ke gramed aku mau nyari buku buat referensi tugas biologi besok trus ke perpus kota ngembaliin buku yang aku pinjem minggu lalu."
"Ya udah aku antar kamu."
Setelah percakapan singkat itu mereka tak ada yang berbicara. Kinara hanya diam memandang lalu lintas yang mulai macet dari balik kaca mobil.
Setelah sampai di tempat tujuan Kinara langsung keluar dari mobil lalu masuk ke toko buku. Azka menunggu di dalam mobil sambil mendengarkan musik melalui earphone yang tersambung ke ponselnya.
Setelah 30 menit Kinara selesai.
Ia segera menuju mobil dan melihat Azka memejamkan mata dengan earphone terpasang di kedua telinganya.
"Mas..." panggilnya menggoyang lengan Azka lembut.
"Udah selesai? Maaf aku enggak tahu kamu datang."
"Kita langsung pulang aja. "
"Gak jadi ke perpus kota?"
"Masih bisa besok lagian belum jatuh tempo pengembalian. "
"Ya udah." Azka segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sepanjang jalan mereka saling diam tak ada yang memulai percakapan. Mood mereka kali ini benar-benar dalam mode buruk. Melihat Kinara jalan beriringan dengan Rangga membuat hatinya sedikit panas. Apa Azka cemburu? Entahlah Azka sendiri tak bisa memahami perasaanya.
Lalu Kinara?? bersitatap dengan Rangga membuatnya mengingat luka masa lalu yang sudah ia lupakan apalagi di hadapkan dengan sikap Azka tadi yang sedikit lebay menurutnya, "Aku gak mau mati muda karna kalian" seperti itulah yang terlintas di benak Kinara saat ini.
Sampai mobil memasuki halaman rumah keduanya masih duduk dalam diam dan belum mau beranjak keluar dari mobil. Barulah saat Pak Puji mengetuk jendela kaca mobil mereka keluar masih dengan tampang yang hanya hati mereka saja yang tahu.
💔💔
To be continue...