KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 8



"Gimana keadaan Keisya Ra?" tanya mama Hanna setelah memastikan kedua cucunya tidur siang.


"Sudah di beri suntikan penenang sama dokter ma, Keisya nekat bunuh diri tadi subuh,beruntung Bu nyai segera datang dan merampas pisau lipat dari tangan Keisya" jawab Kinara


"Ini yang mama takut kan sebenarnya Ra, kondisi mental Keisya itu belum sembuh sepenuhnya, ayah kamu malah nekat jodoh-jodohin anak, sekarang malah begini jadinya, bukannya sembuh malah tambah parah kan kondisi Keisya" ujar mama kesal


"Ya begitulah ayah ma, terlalu banyak beban pikiran, jadinya begitu, dulu sebenarnya mas Azka sudah ngomong sama ayah, nggak perlu jodohin Keisya karena bagaimanapun saya dan Keisya dua orang yang berbeda karakter, tapi ayah tetap berat dengan amanah almarhum ibu, jadi ya begini. sebelum pertunangan ayah bilang bakalan legowo kalau pada akhirnya batal tapi saat sekarang sudah batal malah masuk rumah sakit lagi" tambah Kinara yang juga merasa kesal


"Ada kabar apa lagi dari Azka?"


"Mas Azka malah minta Hanan jadi bodyguard Keisya sekaligus guru spiritualnya, aneh banget"


"Hanan pegawai baru di kantor yang ahli lima bahasa itu? yang ahli bidang IT itu? yang hafidz Al-Qur'an 30 juz lulusan pesantren?"tanya mama Hanna penasaran


"Iya ma, aneh banget mas Azka, apa nggak ada opsi lain, kenapa harus Hanan, mana udah ku pindah divisi bareng mas Bambang, apa nggak keteteran nanti kerjaannya, mana ngurusin anak orang belum lagi kuliah, mana harus kerja di kantor, nggak mikir banget mas Azka" ucap Keisya kesal


"Mungkin Azka punya pemikiran sendiri, alasan sendiri maksud mama, nanti coba kamu tanyain deh, mama sendiri kadang bingung sama dia" ucap mama


"Mirip siapa sih ma?" seloroh papa Anderson yang berjalan melewati mereka.


"Anak papa kan" sahut mama Hanna


"Anak mama juga lah, kita kan bikinnya bareng" balas papa Anderson mengerling


"Iishh papa"


"Hahahahaha," Kinara tertawa terbahak-bahak melihat tingkah kedua mertuanya.


***


"Bagaimana hasilnya Ben?"


"Maaf tuan saya tidak menemukan Reno, kemarin pagi jam tujuh seharusnya jadwal keberangkatan nya ke Kalimantan, tapi saat anak buah saya ke bandara tidak menemukan keberadaan Reno" ucap Beni anak buah Azka yang memberikan laporan tentang pencariannya.


"Sudah ke rumah kos-kosan nya?"


"Sudah tapi Reno sudah sebulan tidak tinggal disana, dan menurut penjaga kos mereka tidak pernah bertemu dengan Reno selama itu sampai hari ini"


"Lalu ibunya?"


"Menurut keterangan penjaga rumah, ibunya masih di rumah sakit, sedangkan kedua adiknya sedang keluar kota mengikuti Pertandingan futsal"


"Di rumah sakit? kalian sudah memeriksa kesana?"


"Sudah tuan, masih ada nama pasien atas nama Bu Fitri"


Azka diam tidak percaya dengan laporan dari anak buahnya. sambungan telepon langsung ia putus begitu saja.


"Aneh, kemarin kesana katanya udah pulang, sekarang masih ada nama pasien atas nama Bu Fitri, kenapa Lo  harus melarikan diri Ren, gue butuh penjelasan Lo" batin Azka gelisah.


***


"Nak Azka, saya mau ke kebun dulu" pamit pakde Kardi pada Azka.


Setelah kedatangan pakde Kardi pagi tadi di pesantren, tak lama mereka langsung pulang begitu mendapatkan izin dari pak Kyai Rohmat untuk membawa Keisya pulang.


Sementara itu di rumah milik Gus Rohid, Hanan dan ibunya terlibat cekcok sejak kedatangan Hanan siang tadi bersama pak Kardi, Azka dan Keisya.


"Bu, dari awal aku sudah bilang, mbak Keisya itu tidak tahu apa-apa Bu, sore aku di telpon suruh jemput di taman kota, ya aku iyakan karena mbak Keisya nggak tahu arah. makanya aku jemput, malam habis isya baru berangkat pulang kesini naik taksi berhenti di jalan besar."


"Kenapa nggak langsung berhenti di depan rumah nan, kenapa harus di jalan besar, kamu pikir nggak jadi fitnah, ibu malu nan, kamu pulang tengah malam sama perempuan berduaan"


"Astaghfirullah Bu, aku Jalan jarak lima meter dari mbak Keisya Bu, bahkan aku nggak gandengan tangan atau apalah itu, sama sekali nggak Bu"


"Tetap saja jadi fitnah nan, ibu malu di katain tetangga, apalagi kamu jalan sama orang yang sudah mau menikah, kamu mau jadi perusak?"


"Astaghfirullah Bu, ibu lebih percaya omongan orang di bandingkan aku anak ibu sendiri?"


"Terserah ibu lah, aku sudah ngomong yang sejujurnya"


"Trus kenapa kamu balik lagi kesini sama pak Kardi dan orang bule, ada ponakannya juga, darimana kamu?"


"Lebih baik ibu tanya sama Abah, semalam Abah juga ada di pondok, tadi juga aku ketemu Abah di pondok, biar ibu nggak salah paham terus sama aku. Hanan nggak peduli omongan orang Bu, Hanan cuma bekerja menunaikan tugas dari atasan itu saja. apa itu salah?"


Hanan berlalu meninggalkan ibunya di dapur dengan sejuta omelan yang tak ada berhenti nya. di depan pintu tengah penghubung antara ruang tamu dan ruang keluarga, Hanan berpapasan dengan Gus Rohid, abah nya.


"Nan, wudlu dulu le, sebentar lagi ashar," ucap Gus Rohid menepuk pundak putra bungsu nya.


"Nggeh bah," ucap Hanan patuh.


Gus Rohid memandang anak bungsunya dengan perasaan tak dapat di jabarkan.


"kalau memang jodohmu semoga saja suatu saat ada jalan le" batin Gus Rohid


"Bu nanti bikinin pepes teri belimbing wuluh ya, sekalian sama ikan dari Empang tadi di masak terserah mau di buat apa" ucap Gus Rohid pada istrinya yang masih terdengar mengomel.


"Nggeh bah,"


Gus Rohid kembali ke teras samping setelah memberi titah pada istrinya. duduk di kursi sembari menimbang sesuatu.


"Duh Gusti Allah paringi petunjuk, mugo lak jodohmu le, mbesok Ono dalan" doa Gus Rohid dalam hati.


****


"Nduk, makan dulu ya, ini Bulik masak ikan kesukaan mu" rayu Bulik Sri pada Keisya yang sejak datang terus melamun


Keisya hanya menggeleng dengan tatapan kosong membuat Bulik Sri merasa teriris, air matanya mengalir tiba-tiba.


"Oalah nduk, kasihan Mak mu wes Ra enek, uripmu Soro Ket cilik, Saiki gede malah tambah ngene Iki hiks hiks" ucap Bulik Sri menghapus air matanya.


"Bu, Wes Keisya bene aku seng ndulang, njenengan siram riyen, mpun sonten" ucap Rasti memasuki kamar Keisya melihat mertuanya menangis. (Bu, sudah Keisya biar saya yang suapin, ibu mandi saja dulu sudah sore).


"Aku Ra tego Ras, mbene bocah iki uripe wes susah Ket cilik, Saiki malah ngeneki" (Saya nggak tega Ras, anak ini hidupnya susah sejak kecil, sekarang malah seperti ini).


"Wes buk, mugo Gusti Allah maringi sehat jasmani lan rohani, wes seng tenang buk," (Sudah buk, semoga Allah memberikan kesehatan jasmani dan rohani, sudah yang tenang).


"Bu, ada Gus Hanan sama Gus Rohid" panggil Bagus suami Rasti di depan pintu kamar Keisya.


"Iyo"


Bulik Sri keluar kamar masih dengan sesekali mengusap air mata di pipinya.


"Samping dangu Gus?"


"Belum lama kok Bulik, tadi dari mushola langsung kesini" jawab Gus Hanan sopan


"Oh ada perlu apa ya Gus, bapaknya Bagus masih di kebun sama keponakannya"


"Oh panen Bulik?" tanya Gus Rohid


"Mboten Gus, namong nilik'i sayuran sekedap"


"Kon ngomong o le" tegur Gus Hanan pada putra nya.


"Jadi gini Bulik, maaf kalau sekiranya saya lancang, saya juga minta maaf atas nama ummi karena sempat datang marah-marah kemarin lusa, ada satu hal yang mau saya luruskan sebenarnya tapi karena keadaan jadi saya nggak bisa bicara saat itu" ucap Gus Hanan


"Oh iya nggak apa-apa Gus, saya maklum, jadi apa yang mau di luruskan, jujur saya sendiri sampai sekarang belum berani mau nanya ini itu sama keponakan saya perihal kepulangannya tengah malam waktu itu di antar Gus Hanan, ya karena kondisinya sedang tidak bagus" balas Bulik Sri.


"Jadi maaf Bulik, sebenarnya waktu itu saya sedang perjalanan kembali ke kota xx, saat tiba di perbatasan nona Keisya nelpon dan minta suruh jemput di taman kota, saya nggak menyanggupi pada awalnya tapi nona Keisya mengancam saya, jadi saya pikir memang kondisi nona sedang kalut dan nggak mungkin seorang santri ada di luar pondok sesore itu, saya langsung mengiyakan saja dan saya minta nona Keisya menunggu di masjid dekat taman, supaya lebih mudah saya jemput, pas Maghrib saya tiba disana dan setelah sholat saya memesan taksi langganan untuk nona Keisya, tapi saya berfikir kalau nona belum faham arah jalan bagiamana jika saya pergi menggunakan motor, dan akhirnya saya minta teman saya untuk membawa motor saya dan di titip kerumahnya saja dan saya naik taksi bersama nona, dan jujur saja saya nggak duduk di sampingnya nona muda, saya justru duduk di samping sopir, dan nona muda duduk di bangku penumpang belakang. ba'da isya kami berangkat. sebenarnya supir taksi mau mengantar kami sampai depan rumah tapi saat memasuki gapura desa, dapat telpon dari anak pertamanya kalau istrinya akan melahirkan terpaksa kami di turunkan di jalan besar dan nggak masuk ke lorong"  terang Gus Hanan panjang lebar.


"Oh jadi gitu ceritanya, iya iya saya mengerti Gus terimakasih sudah menjelaskan jadi nggak akan ada kesalahpahaman lagi, soal omongan ummi memang benar Gus ada beberapa tetangga yang memang juga sempat mencecar saya dengan pertanyaan aneh, tapi saya jelaskan pelan-pelan soal status Gus Hanan di keluarga mas Hadi, meskipun nggak semua menerima omongan saya, yang penting saya sudah jelaskan" ujar Bulik Sri membuat Gus Rohid dan putranya merasa lega