
Di sudut rumah berdinding kayu yang sudah mulai rapuh, dengan atap Rumbia yang juga sudah tidak layak pakai, tubuh yang dulu kuat kini tengah terkulai lemah tak berdaya di atas dipan. seorang pria berumur 35 tahunan yang selama ini setia menemaninya dan merawatnya duduk tak jauh dari tempat pria itu terbaring.
"Apa bapak butuh sesuatu?" tanya pria itu lembut.
Orang mengenalnya Sobri, lelaki jangkung dengan tinggi 175cm memiliki kulit kuning Langsat, mata sedikit sayu, dengan wajah yang di penuhi cambang. meski usia sudah kepala tiga tapi jiwa mudanya masih menyala.
Ia kerap membantu warga perkampungan bekerja di sawah dan kebun, bukan hanya itu terkadang ia juga menjadi buruh harian yang mengangkut hasil panen warga kampung itu untuk di bawa ke luar kampung yang cukup jauh untuk di jual.
"Pak, apa bapak butuh sesuatu?" tanya Sobri
"Keisya..." lirih pria tua yang terbaring itu.
Sobri lagi-lagi mendesah mendengar nama itu terus menerus di sebut. ia memilih keluar kamar dan masuk ke kamar nya mengambil ponsel untuk menghubungi rekannya yang sebelumnya bertugas menjaga pria tua itu.
Sebelum keluar dari rumah Sobri menghampiri pak Jusman yang sedang membersihkan halaman dan menyampaikan jika ia akan keluar hingga sore. pak Jusman yang mendapat amanah hanya mengangguk mengiyakan saja. Sejujurnya ia merasa kasihan dengan pria tua yang selama ini mereka jaga, sudah hampir lima purnama mereka menjaga nya. perlahan ia menyadari sesuatu yang di alami pria itu.
Tak mau menunggu lama, pak Jusman bergegas masuk ke dalam rumah setelah Sobri keluar melewati pagar rumah.
"Keisya, maafkan papa"
Suara itu terdengar lagi, pak Jusman menghampiri nya dan memberinya minuman air mineral melalui sedotan plastik. sudah hampir dua purnama kondisi pria tua yang tak lain adalah Anthony itu semakin memburuk.
Setelah dirasa cukup, pak Jusman menaruh kembali air mineral ke atas nakas lalu keluar menuju ke kamar mandi yang terletak di belakang rumah untuk mengambil air wudlu dan setelahnya ia menenteng seember air untuk di gunakan wudlu oleh Anthony.
"Bapak saya wudlukan dulu ya, abis ini kita mengaji bareng, saya yang pimpin" ucap pak Jusman. Anthony hanya mengangguk saja, tubuhnya sudah tidak berdaya untuk sekedar bangun, bahkan untuk buang air pun ia harus di tuntun untuk ke kamar mandi yang letaknya di belakang rumah.
Ada sesak mendalam dalam hatinya, semenjak ia bersembunyi di kampung ini, begitu banyak pelajaran berharga yang ia dapatkan dari warga kampung. mereka begitu bersyukur dengan apa pun yang mereka miliki tetap kukuh menjaga silaturahmi dan taat pada agama meski sebagian besar warga kampung ini hidup dalam keterbatasan. tapi semangat hidup mereka mampu menularkan aura positif pada Anthony yang baru lima purnama tinggal di kampung mereka.
Pada awalnya Anthony begitu acuh dengan keadaan di sini, tapi warga kampung yang memang terkenal ramah meskipun dengan orang asing mampu mengusik hati kecil Anthony yang selama ini kaku.
Pernah suatu ketika Anthony tidak sengaja bertemu seorang anak kecil yang menangis di pematang sawah saat menjelang sore. Anthony mendekatinya dan bertanya perihal anak itu menangis.
"Aku kangen ibuk pak" ucap anak kecil itu saat Anthony bertanya kenapa ia menangis
"Ibuk kamu kemana?"
"Ibuk pergi jauh cari uang, nggak pulang-pulang"
"Lha bapak mu dimana?"
"Bapak di kubur, aku cuma sama nenek yang sakit"
Deg
Mendengar ucapan polos anak kecil itu membuat sudut hati Anthony mengingat satu nama, Keisya. anak yang ia curi dari saudara tirinya, anak dari wanita yang ia cintai seumur hidupnya, anak dari wanita yang pernah ia bunuh, anak dari wanita yang sudah menjadi istri rivalnya, anak itu yang ia sekap selama lima belas tahun lama nya, hanya karena ketakutan nya sendiri, anak yang tidak pernah bersalah padanya sejak kecil, tapi harus menjadi korban keegoisannya, anak yang kini tidak ia tahu dimana keberadaannya.
Air mata menetes begitu saja, mendengar tangisan pilu bocah kecil itu. tangisan rindu yang menyayat hatinya. Anthony meraih anak itu ke dalam pelukan nya, entah ada angin apa yang menggerakkan hatinya untuk memeluk bocah malang itu, ia membawa bocah itu pulang kerumahnya dan alangkah terkejutnya saat sudah tiba di rumah sang bocah rupanya sudah banyak orang yang sibuk menyiapkan upacara pemakaman. kain putih yang berdiri pada sebuah tiang di pinggir jalan tepat di depan rumah sang bocah menjadi pertanda jika sang penghuni rumah telah berpulang.
Sejak saat itu Anthony tersadar atas kesalahannya selama ini, karena sikap egoisnya ia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, obsesi dan ambisi telah menutup mata hatinya. cinta semu yang ia miliki pada wanita di masa lalunya telah membutakan akal sehatnya.
Ia telah banyak menyakiti orang yang tidak bersalah, bahkan mereka yang tidak tahu apapun tentangnya harus terlibat dengannya. dengan semua keegoisan nya.
Saat ia kembali kerumah yang ia tempati, ia mendapati pak Jusman yang selalu bekerja di rumah itu tengah mengaji. suara nya lembut mampu menggetarkan hatinya yang selama ini kering. sejak saat itu Anthony perlahan berubah melalui pak Jusman ia belajar agama, belajar mengenal siapa Tuhannya, dengan sabar pak Jusman yang memang seorang alumni pondok pesantren terbesar di Jawa Timur itu membantu Anthony belajar sholat, mengaji mulai dari nol.
Sobri masuk ke dalam kebun bersama seorang warga yang hendak memanen hasil kebunnya.
"Mas Sobri mau nelpon ya?" tanya pria tua yang membawa cangkul di pundaknya
"Iya pak, mau nelpon keluarga di kota, udah lama nggak nelpon ke sana, kangen anak istri."
"Kayaknya belum lama mas Sobri pulang ke kota, udah kangen lagi"
"Yah gini lah pak namanya jauh anak istri. hehehe"
"Ya udah silakan naik di atas pohon sana, biar dapet sinyal"
"Haha makasih banyak pak" Sobri meneruskan langkahnya menuju ke sebuah pohon mangga besar yang berada di tengah kebun tak jauh dari tempat bapak tadi mencangkul tanah.
Sobri naik ke atas dahan pohon yang lumayan tinggi untuk mencari sinyal dengan menggoyangkan perlahan ponselnya. tak lama ia mendapat kan panggilan telepon dari orang yang memang hendak ia hubungi.
"Kebetulan doang gue kepikiran Lo, makanya gue nelpon, kayaknya Lo juga gitu ya hahaha" sahut Robi dari sana
"Gimana nih, bos sakit parah, kasihan gue Rob, coba Lo tanya big bos" ucap Sobri mengungkapkan kegundahannya.
"Ini juga yang bakalan gue sampein ke Lo, tadi pagi big bos nelpon gue kalau kondisinya udah nggak memungkinkan bawa aja keluar dari kampung, udah disiapin rumah sakit sama big bos" Ujar Robi dari seberang
"Jadi bisa gue bawa keluar sekarang?" tanya Sobri sedikit berteriak karena tiba-tiba sinyal hilang
"Paling lambat besok pagi Lo udah harus keluar dari kampung itu, kasihan juga lagian dia udah menyesali semuanya." Suara Robi terdengar putus-putus namun masih dapat ia fahami maksudnya
"Oke gue siap otewe" teriaknya lagi.. "Sial" umpatnya kemudian karena tiba-tiba panggilan terputus begitu saja.
"Kenapa mas?" teriak pak Kardi yang sedang mencangkul tanah
"Nggak ada sinyal pak, mau hujan kayaknya" teriak Sobri lagi sembari menapaki dahan perlahan-lahan untuk turun
"Nanti malam saya harus ke kota pak, itu om saya sakitnya udah parah" ucap Sobri saat sudah berada di bawah pohon mangga
"Kenapa nggak di bawa ke Pustu aja mas?"
"Komplikasi pak , makanya saya nelpon ke kota katanya harus dibawa pulang aja supaya dapat perawat intensif apalagi dia punya riwayat jantung"
"Ya udah nanti saya temani bicara sama ketua RT, kita bisa pinjam perahunya untuk menyebrang ke kota sebelah." usul pak Kardi
"Oke pak makasih, nanti bapak ikut juga ya mengantar, disana sudah ada keluarga yang akan menjemput kok"
"Loh memangnya mau di bawa kemana?"
"Ke kota J pak"
"Jauh amat ya, baiklah nanti saya temani bertemu pak RT setelah ini"
"Makasih pak Kardi, kalau gitu saya pulang dulu" ucap Sobri berlaku meninggalkan pak Kardi
"Siap mas, eh bawa ini ubinya buat ganjel perut" ucap pak Kardi
"Nggak usah pak makasih banyak kalau di bawakan yang udah Mateng hehehe"
"Ahh mas Sobri bisa aja, bilang dong kalau mau di masakin juga hahah"
"Hehehe saya tunggu di rumah pak sebelum Maghrib."
"Oke sip mas"
**
Sesuai janjinya sebelum Maghrib pak Kardi sudah pergi ke rumah yang Sobri tempati. ia datang bersama dengan pak RT setelah sebelumnya berkunjung kerumah beliau dengan maksud meminjam perahu.
"Loh kirain saya mau di ajak ke rumah pak RT" ujar Sobri saat menerima tamunya.
"Tanggung lah mas karena samping rumah sekalian saya ajak saja pak RT" ucap pak Kardi.
"Om nya sakit apa mas Sobri?" tanya pak RT
"Komplikasi pak RT, malam ini harus saya bawa ke rumah sakit kota seberang karena keluarga besok pagi sudah sampai di kota seberang untuk menjemput"
"Kalau begitu saya suruh Dikin untuk menyiapkan perahunya, kalian bisa bersiap-siap setelah sholat Maghrib kita akan pergi". Usul pak RT.
"Baik pak RT"
.***
Seperti itulah nasib Anthony saat ini, kekayaan yang ia banggakan, segala kemewahan yang ia tawarkan dan tabiat liciknya selama ini telah menjadi boomerang baginya.
Sesungguhnya takdir seseorang tak pernah ada yang tahu, ibarat roda yang terus berputar naik turun.
Dari Anthony kita belajar agar jangan pernah membesarkan ambisi untuk mencapai sesuatu. hingga mampu menutup akal sehat kita. Anthony sudah mendapatkan pelajaran hidup berharga di sisa hidupnya. penyesalan tiada tara yang akan ia bawa hingga ajal menjemput.