KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 14



Hari ini pada akhirnya aku menjadi penghuni baru di rumah mertua mbak Kinara sesuai kesepakatan om Denias dan mas Azka kakak iparku serta pakde Kardi sewaktu masih di desa.


Sungguh ini bukan hal mudah untukku menjalani kehidupan baru dengan orang yang belum terlalu aku kenal dekat selain mas Azka dan mbak Kinar, tentu saja rasa sungkan itu tetap ada, tapi sebisa mungkin aku mencoba untuk bersikap biasa.


Setelah menempuh perjalanan selama dua hari dua malam akhirnya kami sampai di tempat tujuan saat waktu sudah menjelang dini hari. perjalanan melelahkan tentu saja, karena om Denias lebih memilih memakai kendaraan roda empat daripada pesawat dengan alasan agar bisa istirahat sambil refresh otak katanya.


Alasan yang masuk akal juga menurutku, karena selama perjalanan aku bisa menikmati indahnya lukisan dunia ciptaan Allah SWT yang tiada bandingannya. sedikit me-refresh hati yang sempat awut-awutan beberapa waktu lalu.


Setelah mas Reno membatalkan pernikahan kami sore itu, saat aku pulang kerumah Bulik Sri malam itu di antar mas Hanan memang masih bisa menahan diri. tapi esoknya setelah paklik Kardi mengantar ku ke pondok aku benar-benar merasa tidak berarti lagi mengingat semua perlakuan ku pada mas Reno, begitupun sebaliknya. aku berusaha keras menerimanya sebagai calon suami pilihan orang tua selama hampir empat bulan ini, sama halnya seperti mbak Kinar dan mas Azka yang dulu juga menikah karena pilihan orang tua, aku pun ingin seperti itu yang bisa berakhir bahagia.


Aku merasa nasibku tidak seberuntung mbak Kinar, Tuhan seolah tidak adil pada hidupku, padahal aku dan mbak Kinara saudara kembar, tapi nasib hidup kami sungguh berbeda sekali. aku iri, kesal, benci semua perasaan kecewaku bercampur jadi satu. terlebih lagi ada salah satu santri di pondok yang mengatakan aku gagal menikah karena pernah stres hingga calon suami ku membatalkan pernikahan kami. entah dari mana santri itu mendapat berita seperti itu, padahal sejak aku kembali ke pondok, tidak sekalipun aku bercerita pada siapapun perihal masalah pribadiku termasuk pada Arini sepupuku.


Aku berkali-kali nekat bunuh diri bahkan di hadapan Bu nyai Afifah dan pada akhirnya aku dibawa kembali pulang ke rumah Bulik Sri oleh mas Azka dan mas Hanan yang rela datang ke pondok untuk menjemput ku. mereka yang bukan siapa-siapa untuk ku sampai rela menjemput ku pulang padahal ada keluarga yang membutuhkan kehadirannya.


Hingga sampai di rumah Bulik Sri pun aku masih nekat melakukan aksi bunuh diri karena benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan semua masalah yang ku hadapi, tuhan benar-benar tidak adil pada hidupku. kakakku lebih baik sedangkan aku begitu buruk.


Ternyata aksi nekat ku justru membuat mereka yang menolongku semakin merasa simpati dan kasihan dengan kondisi psikis ku. hingga seorang dokter yang di bawa oleh om Denias merubah sudut pandang ku pada satu hal yang aku lupa selama ini.


"Kamu tahu kenapa Azka dan om Denias ada di sini bahkan Azka sampai nekat bawa kamu pulang kesini?" tanya dokter bernama Fritz yang ternyata masih keluarga dari mertua mbak Kinara.


"Nggak, paling mereka sedang berkunjung saja pak dokter" jawabku sekenanya.


"Karena mereka peduli sama kamu, mereka sayang sama kamu, apa kamu tahu kalau ayah dan saudara mu disana juga sedang menunggu kedatangan mu?"


"Mereka nggak peduli, karena mereka sibuk kerja pak dok"


"Nggak, raga mereka kerja tapi hati dan pikiran mereka kerja untuk kamu, setiap saat mereka merindukan mu, menantikan kamu pulang, mereka juga tahu apa yang kamu alami, mereka juga berusaha mencari kedamaian dari permasalahan kamu, kamu nggak sendirian Kei, mereka semua sayang sama kamu, mereka mau kamu kembali, mereka mau kamu bahagia dengan cara mu yang benar, bukan menambah luka batin mereka dengan cara mu mengakhiri hidup. itu nggak etis dan itu di larang Allah swt."


"Jangan dengarkan omongan negatif orang lain, kamu hidup bukan dari hasil kerja mereka, biarkan saja mereka berucap sesuka hati karena suatu saat mereka juga yang akan menuai balasan perbuatan mereka sendiri"


"Aku nggak sanggup pak dok, kenapa hidupku lebih sulit sedangkan mbak Kinar hidupnya bahagia, tuhan nggak adil"


"Siapa yang bilang hidup Kinara lebih bahagia daripada kamu?"


"Kenyataan yang aku lihat seperti itu kan pak dokter"


"Hahaha, kamu hanya melihat dari mata kamu saja, kamu nggak pernah ngerasain apa yang mereka rasakan, masalah hidup orang lain itu berbeda-beda Kei, nggak semua harus sesuai keinginan kamu"


"Apa salah kalau aku juga mau seperti mbak Kinar pak, dia bisa bahagia menerima perjodohan, seharusnya aku juga begitu, karena kami ini kembar"


"Ya ya ya , jadi mau kamu apa sekarang?"


"Aku juga mau bahagia dengan cara yang sama, tapi kenapa justru seperti ini?"


"Kei, ini sebenarnya bukan hak aku mau cerita, tapi kamu harus tahu satu hal, kalau Kinara dan Azka sebelumnya tidak pernah bahagia dengan keputusan orang tua menikah kan mereka sedangkan mereka masih berseragam sekolah, kamu nggak melalui apa yang mereka sudah lalui, hidup mereka justru lebih berbahaya demi membuat kamu kembali, Kinara rela mengorbankan kebebasannya demi selalu menghindari anak buah almarhum Anthony yang mengincar Kinara. bukan hanya itu, hidup ayah kamu selalu di liputi rasa bersalah setelah kehilangan mu, selama lima belas tahun ayah dan ibumu hidup dalam kesedihan, dan apa kamu tahu kalau mereka terpaksa berbohong pada Kinara jika kamu meninggal, hanya demi menyelamatkan kamu, hanya demi tidak inginnya kedua orang tua mu kehilangan anaknya lagi." terang pak dokter panjang lebar, membuat dadaku di liputi sesak, ternyata banyak hal yang tidak aku tahu sama sekali dari saudara kembar ku.


"Lalu aku harus bagaimana sekarang pak dokter?"


"Sholat, menghadap pada yang Maha Kuasa agar kamu di beri jodoh yang lebih baik lagi, jangan memaksakan kehendak oke?"


"Baik dok"