KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
159 Masalah baju bayi.



"Mas, papa kapan pulang?" tanya Kinara siang itu di ruang keluarga sembari menonton televisi


"Mendekati hpl rencananya mama duluan yang pulang,kak Sean dan papa nyusul" jawab Azka seraya mengusap perut sang istri. "kemarin dokter Siska ngomong apa waktu check up?"tanyanya lagi


"cuma di suruh banyakin olahraga ringan ikut senam hamil, dokter Siska rekomendasiin aku bidan Yunik yang ahli hipnoterapi itu loh biar bisa lahiran normal tanpa jahitan hihihi" jawab Kinara terkikik sendiri


"Oh ya, bagus dong, jadi mau di klinik atau di rumah sakit?"


"Dokter Siska nganjurin ke klinik mulai Minggu depan aku kontrol kesana di dampingi Dokter Siska, katanya bidan Yunik itu sepupunya"


"Kalau mas dimana-mana sama aja yang penting istri dan anak mas selamat dan sehat itu aja"


"Makin sayang deh, ke mall yuk cari baju bayi masih banyak loh yang kurang itu, sekalian ke butik ambil pesanan seragam buat acara tunangan Keisya"


"Ntar agak sorean ya, sekalian hiling-hiling di monas dulu hahaha"


"Hisss" Kinara cemberut karena Azka selalu aja menggoda nya.


Dua Minggu telah berlalu semenjak terakhir kali Reno datang kerumah memberikan keputusannya untuk menerima perjodohan, dan ayah yang mendengar itu merasa senang bahkan langsung menyiapkan acara pertunangan mereka dalam waktu dekat.


Sopir yang menjadi korban kecelakaan juga sudah pulang dan masih masa pemulihan di rumahnya, Arini sudah kembali ke desa di dampingi orang tuanya serta dokter Haris yang mendapatkan tugas khusus untuk penyembuhan trauma psikologis Arini pasca kecelakaan. bahkan tuan Wibowo menyiapkan rumah singgah khusus untuk di tempati dokter Haris sampai Arini benar-benar sembuh.


Keisya sudah kembali kerumah meski masih harus kontrol kerumah sakit untuk mengetahui kondisi luka dalamnya. luka-luka di sekujur tubuhnya juga sudah mengering dan Keisya sudah memantapkan diri untuk berhijab syar'i setelah pulang dari rumah sakit.


Keisya tinggal sementara di rumah Tante Ratih karena mbok Jum juga tinggal dengan mereka sekarang. sedangkan bik Asih dan suaminya masih tetap berada di desa karena meminta untuk pensiun dan ingin menghabiskan sisa umurnya di tempat asalnya. rumah lama mereka yang dulu juga sementara di renovasi atas usulan tuan Denias yang saat itu ikut mengantar Arini pulang karena ingin bertemu dengan keluarga besar di desa yang sudah puluhan tahun tidak bertemu.


Bu Fitri juga masih kerap mengunjungi Keisya setiap tiga kali dalam seminggu, semakin dekat dengan Keisya Bu Fitri rupanya semakin menyayangi Keisya dan berharap banyak dari rencana perjodohan itu mereka tetap bersama sampai akhir hayat.


Tak dapat di pungkiri Bu Fitri tahu betul bagaimana sang anak yang memang sudah sejak lama menyimpan perasaan pada Kinara dan memilih memendam sendiri tanpa mau menyakiti sahabatnya. bu Fitri hanya berdoa dan berharap semoga suatu saat Reno bisa membuka hatinya untuk Keisya. meski Bu Fitri menyadari kehendak Tuhan adalah hak prerogatif dan tidak satupun manusia bisa melawan bila Tuhan sudah menentukan sekuat apapun manusia itu menolak keadaan.


Kasus tersangka yang menabrak mobil yang di tumpangi Keisya juga sudah mendapatkan titik terang, tersangka juga merupakan korban dari lawan bisnisnya yang kalah dalam pemilihan pemenang tender milyaran. kini statusnya berubah menjadi korban utama yang menjadi sasaran tersangka. beruntung ia mendapatkan luka luar sedangkan ajudannya masih belum sadarkan diri dari koma hingga kini. tuan Denias akhirnya kembali lagi pada pekerjaan awalnya meski masih dibalik layar. berkat bantuan tuan Denias pula kepolisian bisa mengungkap kasus ini dalam waktu singkat.


Reno?


Semenjak ia memberikan keputusan pada ibunya malam itu, ia sudah mulai menutup diri dari semua sahabatnya kecuali jika ada hal-hal tertentu yang membuat mereka harus bertemu, tetapi untuk urusan pribadi kini Reno lebih menutup diri.


Bahkan Hanan sahabat barunya juga merasa heran dengan perubahan sikap Reno yang biasanya super usil dan ceria kemanapun berada, Hanan seolah mengenali orang asing yang menyamar atau menjelma di tubuh Reno.


Bahkan Reno juga sudah tidak lagi berkunjung ke dalam kamarnya saat mereka senggang atau sedang liburan akhir pekan. Reno lebih menyibukkan diri dengan kegiatannya di kampus dan sesekali menjadi sopir Kinara jika sewaktu-waktu dalam keadaan tertentu.


Pernah suatu kali Kinara bertanya padanya tapi Reno hanya menjawab seadanya " perasaan Lo deh, gue nggak berubah dari dulu tetep sama, gue cuma satu macam Ra nggak bermacam-macam kok, jangan kuatir" jawab Reno kala itu.


Hanan pun pernah iseng bertanya pada Azka suatu ketika saat mereka tanpa sengaja bertemu di perpustakaan, namun yang ia dapati juga jawaban yang sama. "Sama aja mas saya juga bingung Reno juga udah mulai berbeda". Hanan hanya mendengkus kesal karena rupanya bukan hanya dia yang merasakan perubahan Reno tapi sahabat lamanya juga begitu. ingin bertanya pada Kinara juga pasti jawabannya sama.


"Bu aku cuma mau belajar memegang tanggung jawab, aku nggak berubah aku tetap sama, sekarang bukan lagi waktunya aku buat main-main Bu" ucap Reno siang itu saat berkunjung kerumah ibunya mengantarkan tiket pendaftaran peserta lomba basket untuk kedua adik kembarnya.


"Ren, sebelum semuanya terlambat ibu tanya sekali lagi, ibu harap kamu mau jujur, apa kamu terpaksa menerima karena berat dengan balas Budi kita pada keluarga mereka atau kamu memang.........." ucapan Bu Fitri di sela cepat oleh Reno


Bu Fitri terdiam, menghirup udara sebanyak-banyaknya, Bu Fitri memandang anaknya dengan mata berkaca-kaca, ia tahu betul Reno sama seperti almarhum ayahnya yang tegas dalam mengambil keputusan meskipun mungkin itu menyakiti diri sendiri. Reno kecilnya tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan setia kawan. meski terkadang sifat jahilnya dari almarhum ayahnya juga mewarnai kepribadian nya yang di kenal jutek dan cuek pada lawan jenis.


"Terimakasih nak, maafkan ibu nak, maafkan ibu" ucap Bu Fitri memegang kedua tangan anaknya.


"Nggak ada yang perlu di maafin Bu, Kinara benar Bu, mungkin ini sudah jalan takdir yang harus Reno terima entah itu akan berakhir sampai akhir hayat atau hanya sampai di persimpangan, Reno harus terima, sudah saatnya Reno berubah dan belajar bertanggung jawab, Reno iklhas Bu" ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Ibu sudah bicara dengan Keisya, dan dia menerima perjodohan ini, dia sama sekali tidak menolak nak bahkan Keisya tampaknya bahagia dengan perjodohan kalian" ucap Bu Fitri.


"Baguslah Bu jika Keisya menerima, aku bahkan belum sempat bertemu dengan-nya, aku hanya ingin bertemu jika kelak kami akan menikah Bu, bukan aku tak ingin, aku hanya ingin menjaganya hingga kami halal nantinya" ucapnya.." entah terjadi atau tidak pernikahan itu kelak" lanjutnya berucap dalam hati.


"Terimakasih nak, oh ya sore nanti ikut ibu kerumah Bu Ratih ibu mau mengunjungi Keisya juga sekalian membahas acara pertunangan kalian disana, apa Hanan sudah kamu beritahu?" tanya Bu Fitri.


deg


Reno terkejut dengan pertanyaan ibunya tentang Hanan, sudah dua Minggu ini ia menghindari Hanan semenjak malam terakhir ia membantu pria parlente itu mengerjakan proposal proyek dari perusahaan. karena jawaban hanan saat itu memang membuatnya bungkam dan tidak tahu harus berkata apalagi.


bahkan selama dua mingguan ini Hanan aktif menghubunginya namun dia selalu menghindar. entah kenapa jauh di dasar hatinya ia merasa Hanan adalah saingan, ia juga bingung dengan sikapnya sendiri. bahkan Hanan sendiri pun tak pernah mengatakan atau menceritakan tentang seorang wanita sekalipun kecuali orang tua dan kakak-kakak nya.


Terbersit rasa bersalah pada Hanan telah mendiamkan pria baik itu yang sudah menemani hari-hari nya di kampus ataupun dirumah kos. padahal Hanan tak ada sekalipun pernah menyinggungnya ataupun menyakiti nya secara nyata.


"Kenapa diam Ren, Hanan udah kamu beritahu nak?"


Reno menggeleng tegas, menatap ibunya yang juga menatapnya intens dengan alis bertaut.


"Aku nggak sempat ngomong ke Hanan Bu, bahkan aku juga jarang ketemu Hanan, dia sibuk ngerjain proyek besar juga sibuk ngurus nilai akademis nya karena pindah kampus" ujar Reno merasa bersalah


"Ya udah nggak apa-apa, besok sebelum acara kamu beritahu, jangan sampai sahabat kamu nggak ada yang tahu loh nak, pertunangan kalian rencananya akan di laksanakan tiga hari lagi tadi tuan Wibowo sudah menghubungi ibu"


"Iya Bu"


Sementara itu di mall Kinara dan Azka tak berhenti berdebat tentang baju bayi yang akan mereka beli untuk baby twins yang akan lahir sekitar dua bulan lagi.


"Nggak usah sebanyak ini sayang, nanti mereka bakalan gede nggak mungkin kecil terus, mendung beli yang ukurannya gede sekalian biar bisa lama make nya." ujar Azka sekali lagi.


"Ckck mas iih gitu, bayi itu butuh banyak baju ganti mas, apalagi mereka kembar, jadi harus punya stok banyak sekalian biar nggak ribet nantinya"


"Umur sebulan udah pada sempit bajunya sayang kalau beli yang ukuran pas gitu," ucap Azka kesal


"Issh kamu tuh mas, nyenengin aku bisa nggak sih? nanti kalau sempit beli lagi lah" Kinara berkilah


"Itu namanya pemborosan, kalau udah nggak kepake mau di apain lagi itu baju-baju nya? di buang? di sedekahin? sedekah lebih baik kalau ngasih baju baru bukan baju bekas" sanggah Azka.


Pelayan yang sejak tadi memperhatikan perdebatan mereka akhirnya duduk di kursi kecil diantara pakaian bayi yang terpajang rapi, menutup telinga dengan kedua tangannya dan mata terpejam. kesal? tentu saja. baru kali ini ia bertemu pelanggan orang kaya tapi banyak ngeyelan nya. huh.